Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Raffan Marah


__ADS_3

Pagi hari Raffan sebenarnya sudah langsung ingin mengajak istrinya untuk pulang tapi Deefa malah mengatakan agak siangan sedikit, wanita itu merasa tidak enak jika pulang pagi-pagi sekali sedangkan selepas sholat subuh ibu mertuanya sudah sibuk memasak untuk sarapan mereka, akan sangat tidak sopan jika mereka pulang pagi hari di saat sang ibu tengah memasak untuk mereka, sampai akhirnya Deefa kini ikut sibuk di dapur membantu sang ibu mertua.


"Kamu sudah ngomong sama Raffan, Deef?"


Sang Ibu membuka percakapan dengan pertanyaan yang membuat aliran darah Deefa berdesir mengalir cepat, dia pikir Ibu mertuanya itu tidak mungkin membahas apa yang mereka sempat mereka bicarakan kemarin sore, setidaknya tidak hari ini juga mempertanyakan hal itu kan? karena terlalu cepat seakan tidak memberikan Deefa waktu, yah meskipun semalam Deefa sudah membicarakan hal itu dengan Raffan, kemarin dan pagi ini masih lumayan cepat.


"Deef," tegur Ibu kepada menantunya yang tidak memberikan jawaban atas pertanyaan darinya.


"Kamu belum bicara?" tebak sang Ibu melihat pada menantu yang memang dia sendiri yang memilihkan untuk anaknya.


Seorang wanita yang sejak pertama kali dia lihat sudah langsung mencuri hatinya hingga tanpa persetujuan anaknya sudah langsung saja menjodohkan bahkan dia dan suaminya langsung menikahkan wanita itu dengan putra satu-satunya yang susah sekali diatur.


"Sudah, Deefa sudah ngomong sama Raffan."


Raffan yang tiba-tiba muncul di dapur membuat ibu serta istrinya menoleh padanya, pria itu sudah berdiri di dekat pintu entah sejak kapan, baru atau sudah lama berada di tempat itu dan mendengarkan apa yang ibunya katakan pada sang istri.


"Baguslah kalau begitu, jadi kalian bisa secepatnya periksa ke dokter," kata sang ibu terus terang.


Sedangkan Deefa malah merasa tak enak dan khawatir kalau akan ada pertengkaran antara ibu dan anak karena dirinya, sejak semalam pun dia terus berusaha untuk mendinginkan suaminya yang masih saja memperlihatkan emosi, dan sekarang pria itu malah mendengar sendiri ucapan ibunya, lalu setelah ini apa yang harus Deefa lakukan?


"Ibu boleh saja meminta kami untuk periksa ke dokter, sangat wajar dan Raffan juga sangat mengerti kalau ibu sudah tidak sabar untuk menggendong cucu, tapi yang sangat keterlaluan adalah ketika ibu membandingkan istri Raffan yang artinya dia menantu ibu bahkan menantu pilihan ibu sendiri dengan wanita lain? apa baik seperti itu? apa menurut ibu itu tidak menyakiti perasaan istri Raffan? semua itu kehendak Allah Bu, Asanah hamil duluan itu sudah ketentuan dari Allah, Raffan sama Deefa juga mau cepat punya anak tapi kalau Allah belum mau kasih kita bisa apa? menyalahkan Deefa? nggak kayak gitu caranya."


Raffan berkata tegas, dia yang semalam menahan emosi karena istrinya yang memintanya untuk bersabar pun akhirnya tidak lagi bisa diam, dia marah pada sang Ibu yang dari perkataannya itu jelas menyakiti hati istrinya, sungguh sebagai suami dia tidak suka ada orang yang menyakiti istrinya dengan sengaja ataupun tanpa sengaja sekalipun itu adalah ibunya sendiri, sebab menurut Raffan ibunya itu cukup keterlaluan membandingkan Deefa dengan sepupunya, tanpa sadar malah menyudutkan menantunya sendiri.


"Mas," Deefa berjalan mendekat pada suaminya, mengelus tangannya lembut agar Raffan tidak meneruskan perkataannya yang nantinya malah membuat keadaan memanas.


"Aku lagi ngomong sama Ibu," tegas Raffan menatap sang istri, dan itu artinya dia meminta pada istrinya untuk tidak ikut campur apa lagi sampai meminta dia untuk diam, sungguh saat ini yang dia lakukan hanyalah membela istrinya.


Sang Ibu menatap putranya yang menampilkan wajah tegang sarat akan rasa marah melalui sorot matanya.


"Ada apa ini?" Ustad Imran yang mendengar perkataan Raffan pun mendatangi dapur dan menatap istri serta anaknya bergantian.


"Ayah tanya saja sama Ibu," kata Raffan tegas lalu menarik Deefa untuk ikut bersamanya ke dalam kamar.


Ustadz Raffan menatap pada istrinya yang terdiam seperti tanpa nyawa, dia begitu terkejut ketika Raffan memarahinya seperti tadi.


"Ganti baju kamu, kita pulang sekarang!" ujar Raffan pada sang istri.


"Tapi Mas.."


"Apa lagi? masih mau disini?!" Raffan malah melampiaskan emosinya yang belum selesai kepada istrinya.


"Seharusnya Mas Raffan tidak berbicara seperti tadi terhadap Ibu, Mas Raffan bisa bicara baik-baik," jelas Deefa menyalahkan sikap suaminya yang langsung berbicara kerasa pada Ibunya sendiri.


"Ibu salah, terus aku harus gimana? harus lembut-lembut gitu? ibu bukan anak kecil yang harus di lembutin saat melakukan kesalahan," sentak Raffan dengan rahang mengeras.


Raut wajah yang biasanya terlihat begitu santai dan tenang sekarang memperlihatkan kemarahan yang tampak sangat jelas.


"Kamu kecewa dan sakit hati sama apa yang ibu ucapkan, aku tahu itu Deefa!" bentak Raffan dengan suara meninggi, dia sekarang gemas dengan istrinya yang terlalu sabar atau mungkin malah bodoh.


Deefa menggelengkan kepala seraya mendekat pada sang suami yang tengah dikuasai oleh emosi, "Deefa sudah memaafkan ibu, jadi Mas Raffan tidak perlu lagi membahasnya atau memarahi ibu, Deefa tidak suka lihat Mas Raffan marahin ibu," tutur Deefa lalu memeluk suaminya berharap pelukannya itu mampu meredam kemarahan yang tengah menguasai sang suami.


"Tidak baik bertengkar dengan orang tua Mas," lirih Deefa mengelus punggung suaminya.

__ADS_1


Raffan menghela napas lalu perlahan tangannya mengelus kepala sang istri yang tertutup oleh kerudung, ternyata pelukan dari istrinya itu mampu mengurangi emosi yang tadi menguasai hatinya, dia menjadi lebih tenang sekarang terlihat dari napasnya yang mulai teratur tidak lagi memburu seperti tadi.


Deefa mengurai pelukannya lalu mengangkat wajah guna menatap sang suami, "Mas minta maaf sama Ibu ya," pinta Deefa dengan tatapan teduhnya.


"Tapi setelah itu kita pulang," pinta Raffan, sungguh dia jadi tidak betah berlama-lama di rumah orang tuanya sendiri.


Deefa mengangguk mengiyakan permintaan suaminya, menurutnya memang lebih baik mereka pulang saja setelah apa yang terjadi sebab mungkin suasananya pasti tidak akan lagi sama seperti yang kemarin.


"Ibu hanya meminta mereka untuk periksa ke dokter Yah, apa salah?" Hayati berbicara pada suaminya yang meminta penjelasan kenapa Raffan bisa marah seperti tadi.



Raffan memang keras kepala, nakal dan banyak lagi tingkahnya yang membuat kedua orang tuanya geleng kepala bahkan sampai mengelus dada dan beristighfar setiap saat, tapi yang tadi adalah kemarahan Raffan untuk membela istrinya bukan karena dia tengah berulah, ustadz Raffan bisa dengan jelas melihat dari raut wajah sang anak yang sangat berbeda dari yang dulu.



"Sebenarnya tidak salah kalau ibu melakukannya tidak dengan membandingkan satu wanita dengan wanita lain, masing-masing mereka sudah punya takdir sendiri, Deefa yang lebih dulu menikah tapi kemudian Asanah yang lebih dulu hamil itu kehendak Allah, benar yang Raffan katakan," jelas Ustadz Imran kepada istrinya yang seperti tidak menyesal dengan apa yang sudah dia katakan kepada menantu mereka.



"Ibu ini ngerti agama tapi kenapa seperti orang yang tidak beragama!" ucap Ustadz Imran menggelengkan kepala.


Istinya yang dulu sangat baik dan santun perilakunya malah perlahan berubah setelah mempunyai menantu, padahal dulu wanita itulah yang sangat semangat untuk menjodohkan Raffan dengan Deefa, tapi kenapa sekarang hanya perihal Deefa yang belum juga hamil malah menjadi seperti ini, bagaimana kalau sampai Deefa tidak bisa hamil? apa wanita itu akan meminta Raffan untuk menikah lagi?


"Bukankah kita juga dulu sangat lama baru diberikan anak oleh Allah? apakah mertua Ibu menuntut? tidak, kedua orang tua Ayah tidak menuntut apapun pada kita terutama Ibu!" tegas ustadz Imran terhadap sang istri.




"Astaghfirullahaladzim."



Ustadz Raffan menghela napas berat mendengar penuturan dari istrinya, tidak ada yang salah dengan keinginan sang istri tapi semuanya itu kan bergantung pada Allah, mereka hanya memiliki satu anak pun itu sudah ketentuan dari sang pemilik semesta.



Saat Ustad Imran tengah mengurut dahinya terdengar suara ketukan pada pintu lalu di susul dengan suara milik sang anak.



"Yah, Raffan boleh masuk?"



Ustadz Imran pun berjalan menuju pintu lalu membukanya yang langsung menampakkan wajah sang anak yang sudah memakai jaket, dia tahu setelah apa yang terjadi anaknya itu pasti akan memilih untuk mengajak istrinya pulang.



"Raffan mau bicara sama Ibu," kata Raffan pada sang Ayah yang mengangguk lalu membiarkannya masuk ke dalam kamar.


__ADS_1


Di dekat tangga Deefa hanya berdiri dan memperhatikan ketika suaminya masuk ke dalam kamar milik mertuanya, sekitar 15 menit kemudian Raffan keluar dan langsung menuju padanya.



"Kita pulang sekarang," ajak Raffan menggandeng tangan istrinya.



Deefa pun mengikuti langkah sang suami dengan raut bingung, "aku belum pamit sama Ibu dan Ayah," tutur Deefa menatap pintu kamar yang tertutup.



Raffan menghela napas, baru saja dia ingin berkata tapi pintu kamar sudah terbuka dengan sosok sang Ayah dan di belakangnya ada Ibunya yang bahkan tidak menatap mereka.



Deefa pun gegas berpamitan pada sang mertua.



"Deefa pulang ya Yah," kata Deefa pada sang mertua seraya mengecup punggung tangannya.



Deefa juga melakukan hal yang sama pada Ibu mertuanya, tapi wanita itu bahkan memalingkan wajah tak menatap pada sang menantu dan Raffan melihat apa yang dilakukan oleh ibunya itu.



Raffan sudah menunjukkan wajah marahnya tapi kemudian Deefa dengan cepat mengelus-elus lengannya guna meredam kemarahan yang kembali datang.



Keduanya melangkah menuju pintu depan dengan diantar oleh sang Ayah.



"Hati-hati di jalan," kata sang Ayah dengan suara yang lembut dan perhatian.



Rasanya semenjak Raffan menikah Ustadz Imran menjadi sangat perhatian pada anak dan menantunya itu, tentu saja karena diapun menyadari semenjak Deefa hadir banyak sekali perubahan yang Raffan tunjukkan, yah meskipun perubahannya masih minim tapi tetap saja anaknya jadi lebih rajin sholat di masjid.



Raffan mengangguk.


"Assalamualaikum." ucap Raffan dan Deefa bersamaan.


"Wa'alaikumsalam," jawab Ustad Imran menatap kepergian mobil yang membawa anak serta menantunya, setelah itu dia masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu.



\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2