Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Kita Berakhir!


__ADS_3

Raffan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, melesat bagaikan angin yang tidak ingin dihalangi oleh apapun.


Pikirannya kacau semua yang tidak dia inginkan berkutat didalam otak kepalanya, semua yang tidak dia mau pikirkan malah makin tidak bisa mengendalikan emosi yang kini seakan terus menuntut dirinya agar bisa meluapkan dengan cara apapun.


Di balik helm yang menutupi seluruh kepala dan sebagian wajah, rahangnya yang tegas terus mengetat mengeras dengan refleks akibat rasa kecewa dan murka yang membaur menjadi satu dan seolah mengaliri darahnya dan menyebar ke setiap bagian tubuhnya hingga bagian paling kecil sekalipun dan itu makin membuatnya mengencangkan laju kendaraan yang berputar semakin cepat, cepat dan benar-benar cepat bahkan banyak kendaraan yang berteriak mengumpat memaki karena apa yang dia lakukan sungguh membahayakannya tidak hanya dirinya saja melainkan juga orang lain.


Andai mati sekalipun pria itu tidak peduli, namun sayangnya takdir berkata lain, dia seorang pembalap dan tentu sudah sangat lihai mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi, mampu dengan baik menghindar dan memainkan kedua tangannya di stang motor yang dia cengkeram dengan sangat dan semakin erat beruntung dia memakai sarung tangan jika tidak mungkin perubahan kulit tangannya akan terlihat dengan jelas.


Deefa keluar berlari kencang akan tetapi dia terlambat, pengejarannya menjadi sia-sia kala dia bertanya pada penjaga rumah mertuanya tentang suaminya.


"Mas Raffan sudah pergi Mbak."


Jawaban itu membuat bahu Deefa menurun, lunglai dengan napas yang cepat, dia merasa sudah cukup cepat menyusul suaminya akan tetapi pria itu ternyata malah lebih cepat lagi darinya, tentu saja karena dia naik motor terlebih lagi dalam keadaan emosi.


Deefa yakin suaminya sudah salah paham dengan kedatangan dirinya ke rumah sang mertua, dari cara suaminya melihat dan juga apa yang pria itu ucapkan.


"Mas Raffan."


Bibirnya bergerak menyebut nama sang suami.


Wanita itu merasakan jantungnya berdebar cepat tak terkendali, sungguh dia benar-benar tidak sanggup untuk mengendalikan debar jantungnya sendiri sekalipun mencoba untuk menarik napas dan melakukan relaksasi agar bisa sedikit tenang, namun yang dia lakukan terasa sangat percuma, jantungnya tidak mau menurut.


Deefa memesan taksi untuk membawanya pulang ke rumah, sekalipun dia tahu suaminya tidak berada di rumah.


Wanita itu berpikir untuk membiarkan suaminya sendiri lebih dulu, membiarkannya tenang baru kemudian saat sang suami pulang dia akan berbicara menjelaskan apa yang terjadi.


Sepanjang perjalanan dia tidak berhenti untuk tidak meremas semua jari-jarinya, rasa cemasnya terus mengganggu meksipun sejak tadi dia sudah berusaha untuk membaca doa-doa agar bisa membantu dia menjadi lebih tenang.


Deefa masuk ke dalam rumah yang entah kenapa malah terasa sangat asing, dia baru pergi hanya beberapa jam saja akan tetapi setelah kembali dia seperti berada di rumah orang lain, bukan rumah yang dia tinggali bersama dengan Raffan, suaminya.


Matanya bergerak mengitari seluruh sudut rumah serta ruangan, melihat dengan hati yang tak karuan merasa aneh yang kian mengusik.


"Astaghfirullahaladzim."


Lalu melangkah menyusuri ruangan demi ruangan dan berakhir di dapur.


"Mas Raffan sebentar lagi pulang, aku harus masak," katanya setelah melihat sayuran yang tadi pagi dia beli berada di samping kompor yang memang tadi dia tinggalkan begitu saja.


Tangannya mulai mengambil baskom-baskom kecil untuk menampung sayuran yang sudah dia iris lalu selanjutkan akan dia cuci dengan bersih sebelum memasaknya.


Deefa kembali bergerak gelisah saat suaminya belum juga pulang.


Ini sudah jam 10 malam dan pria yang dia tunggu tidak kunjung menunjukkan wajah.


Sudah bolak-balik mengintip dari jendela ketika dari kejauhan dia mendengar suara kendaraan, berharap suaminya yang datang tapi ternyata hanya kendaraan orang lain yang melintas.


Matanya menunjukkan kecemasan yang kembali menguasai diri dengan giginya yang menggigit bibir bagian dalam, tubuhnya bahkan mendadak terasa sangat dingin seolah dia disiram oleh seember air es beserta dengan bongkahan-bongkahan es.


Makanan yang dia masak sudah benar-benar menjadi dingin dan tentunya harus dia hangatkan lagi agar nikmat untuk di makan, sampai akhirnya diapun melangkah ke dapur.


"Mas Raffan sebentar lagi pulang dia pasti lapar," katanya berbicara sendiri seraya mulai menghangatkan makanan yang dia masak.


Dia berpikir suaminya akan segera pulang dalam keadaan lapar jadi dia menghangatkannya sekarang agar pria itu bisa langsung makan dan tidak perlu menunggu lagi nantinya.


Raungan mesin kendaraan begitu membahana mengiringi langit gelap bertabur bintang.

__ADS_1


Kebisingan terus terdengar akibat suara motor yang sengaja dimainkan, telinga siapapun yang tidak terbiasa dengan suara itu akan langsung berdengung lalu memaki dengan sadis si pemilik kendaraan yang sudah berada di harus star.


Raffan menjadi salah satu orang yang akan bersiap melakukan balapan, bersiap di garis star untuk mengejar kemenangan.


Pria itu benar-benar melampiaskan kemarahannya dengan cara seperti ini disaksikan oleh teman-temannya yang sudah mencoba melarang, mengingatkan untuk berhenti akan tetapi semua yang dikatakan oleh temannya dimentahkan begitu saja, perkataan temannya tidak ada yang masuk satupun ke dalam telinga hanya sekedar lewat lalu pergi tanpa meninggalkan jejak.


Di saat seperti ini tidak akan ada yang bisa berbicara dengan Raffan, suara mereka akan kalah dengan emosi yang bercokol di dalam pikiran serta hatinya.


Raffan sangat marah bahkan tadi sempat meninju wajah Agam yang berusaha untuk menariknya pergi.


Pria itu bukannya berhenti malah makin menjadi, itu terbukti saat dia kembali menerima tantangan kembali untuk yang ketiga kalinya malam ini.


Menasehati orang yang sedang emosi apalagi yang dinasehati adalah Raffan yang mereka tahu sendiri pria itu juga kesulitan dalam mengatur dan mengendalikan emosinya, sampai mulut berbusa pun tidak akan didengarkan.


Raffan menggila tak peduli dengan apa yang dia lakukan saat ini, yang dia inginkan memuaskan diri meluapkan emosi sebelum dia pulang ke rumah dan melihat wajah istrinya.


Mengingat wanita yang dia nikahi membuat rahangnya mengetat, kecewa karena menganggap wanita itu tidak mendengarkan dirinya tidak mengindahkan peringatan yang dia ucapkan bahkan dengan ketegasan yang sempurna.


Sebagai suami dia merasa tidak dianggap dan dia benci itu.


"Nggak bisa dibilangin Gam," tukas Rio yang berdiri di samping Agam.


"Kayaknya tuh anak banyak bangat masalahnya," celetuk Gumay menghela napas sambil kedua matanya menatap Raffan yang sudah melaju dengan motornya guna mencapai garis finis.


****


Deefa berlari saat mendengar suara kendaraan yang masuk ke dalam halaman lalu berhenti di samping rumah, bukan di dalam garasi melainkan di luarnya.


"Mas Raffan aku.."


Raffan menendang pintu agar tertutup membuat Deefa terjengkit kaget.


"Deefa bisa jelas.."


"Aku bilang tutup mulut mu!" hardik Raffan.


Brak!


Melempar helm yang tidak tahu kenapa malah dia bawa masuk.


Kedua kalinya tubuh Deefa menjengkit, kaget tak terkira dengan matanya yang tidak berkedip.


Setelah melemparkan helm yang kini teronggok di dekat sofa, Raffan pun kembali melangkah.


"Mas Raffan pasti belum makan, Deefa sudah masak.."


Dalam sekejap Deefa menghentikan perkataannya saat sang suami menghentikan langkah lalu memutar tubuh dan menatap dengan tajam.


Tatapan tajam dan nyalang Raffan berikan untuk istrinya membuat hati Deefa terasa sakit melihat tatapan yang tidak seperti biasanya.


Tatapan pria itu seperti tengah berhadapan dengan musuhnya, tatapan yang sewaktu-waktu siap untuk menghancurkan juga membunuh sekaligus.


Melihat Raffan yang masih sangat marah terlintas di dalam pikirannya untuk mengajak suaminya makan lebih dulu, mengisi perut yang kosong baru setelahnya akan berbicara.


Raffan maju selangkah demi selangkah mendekat pada wanita yang bahkan tidak berani untuk bergerak, tubuhnya seakan kaku layaknya patung.

__ADS_1


Tubuh Deefa tersentak saat Raffan dengan kasarnya mencengkeram lalu menarik tangannya.


"Aku bilang jangan mengatakan apapun! kamu tuli?!" membentak dengan raut wajah murka.


"Ah aku lupa, kamu ini memang tuli karena setiap yang aku katakan tidak ada satupun yang kamu dengar," decih Raffan tersenyum remeh.


Bibir Deefa bergetar ingin menangis tapi sekuat tenaga dia tahan dia malah memberikan senyuman yang terlihat menyebalkan di mata suaminya.


"Deefa akan buatkan teh." bicara dengan nada lembut dan tenang


"Kamu mengejekku?"


Raffan malah tidak terima menganggap wanita di depannya tengah mengejek padahal istrinya itu hanya sedang berusaha untuk melunakkan hatinya yang sedang sangat keras.


Deefa menggeleng dengan tangannya yang mengelus dada sang suami yang sedang naik turun akibat napas yang menjadi cepat karena pengaruh emosi.


Raffan tertawa sinis, menatap sepasang netra yang juga tengah menatapnya.


Keduanya saling membalas tatapan dengan maksud yang berbeda.


Deefa berusaha untuk menenangkan dengan tatapan sendunya sedangkan Raffan dengan kemarahan yang tidak juga mau surut.


Raffan merasa Deefa tengah menantangnya sampai akhirnya pria itu menarik kasar Deefa untuk masuk ke kamar yang sempat menjadi kamar Deefa, mendorongnya hingga jatuh terhempas ke atas tempat tidur lalu menindihnya dengan gerakan beringas.


Deefa memejamkan kedua mata, sudah terbayang suaminya akan kembali melakukan hal kasar terhadapnya namun dia tidak berniat untuk menghentikan dia berharap setelah ini suaminya bisa lebih tenang dan bisa di ajak bicara.


Biarkan saja suaminya melakukan apa pada tubuhnya karena dia memang istrinya dan pria itu berhak atas dirinya.


Kedua tangan Deefa merangkul leher sang suami menyalurkan rasa tak nyaman yang mendera di tubuhnya akibat perlakukan pria di atasnya yang mulai bergerak tak terkendali.


Raffan menatap wajah Deefa yang ada di bawahnya saat dia sudah mencapai apa yang dia inginkan, menatap sendu dan penuh sayang, tangannya bahkan bergerak untuk mengelus rambut sang istri yang berantakan karena perbuatannya.


Deefa merasakan tangan sang suami yang lembut dan tidak ada kekuatan seperti saat pulang tadi, sekejap merasa tenang sampai dia merasakan suaminya bangkit dari tubuhnya barulah Deefa membuka mata dan mendapati sang suami tengah memakai kembali pakaiannya.


Setelah selesai memakai pakaian, Raffan menatap istri yang memberikan senyum untuknya, melangkah mendekati sang istri lalu memakaikan selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya bahkan menutupi sampai batas leher lalu mengambil pakaian milik istrinya dan dia gunakan untuk menutupi bagian kepala, menutupi rambut yang terlihat jelas oleh matanya.


Deefa bingung tak mengerti dengan tindakan sang suami, bukankah mereka suami istri? tapi kenapa Raffan bertingkah seolah mereka ini bukan pasangan sah yang tidak boleh melihat tubuh satu sama lain.


"Dengarkan aku bicara karena aku tidak akan mengulanginya lagi."


Bibir Raffan bergerak mengeluarkan suara sedangkan Deefa mengerjap tak mengerti dengan kondisi tubuh yang tertutup sempurna meski hanya dengan selimut dan pakaiannya sendiri hanya menyisakan bagian wajah.


"Mulai hari ini aku, Raffan Alawi menceraikan kamu, Adeefa Ranaya." Raffan beranjak menuju pintu.


Bibir Deefa bergetar dengan jantung yang memompa cepat membuat darah mengalir tak terkendali, dia seperti tersambar petir ribuan volt, menghanguskan jiwa dan raganya.


Pria itu berkata dengan sangat tegas tanpa ada keraguan sama sekali, meski di dalam batinnya merasa sangat berat dan tidak sanggup namun dia tidak ingin Deefa terus menganggap remeh dirinya, menganggap dia tidak tegas dan lemah.


Dia ini suami yang ingin didengarkan oleh istrinya, dia melarang untuk kebaikan tapi istrinya sudah sangat keterlaluan.


"Mas." suaranya terdengar parau, bergetar dan lirih tidak kuasa menahan derai air mata yang langsung keluar tanpa kendali.


Raffan berhenti di depan pintu, "kita berakhir!" katanya lalu pergi dengan cepat tidak lagi mau menoleh meski dia mendengar tangisan dari istri, tidak, bukan lagi istri tapi mantan istri.


****

__ADS_1


__ADS_2