
Manusia tidak pernah tahu takdir ke depan seperti apa, takdir apa yang sudah tuhan tetapkan untuk seluruh penghuni bumi, bahkan satu lembar daun yang jatuh ke tanah pun dan terhempas oleh angin pun sudah memiliki takdir dari sang pemilik semesta.
Segala takdir sudah dipersiapkan bagi siapapun yang menghuni alam semesta terutama tentang umur manusia harus sampai kapan mengisi raga.
Hayati berlari memasuki ruangan dimana suaminya ditempatkan, suaminya yang beberapa jam lalu pingsan namun sekarang dokter malah sudah menyatakan bahwa suaminya itu sudah tidak bernyawa, meninggal dunia membiarkan dia sendirian.
Wanita itu memeluk dan menangis menumpahkan air mata yang tak mampu terbendung lagi, air mata yang turun dengan sangat deras mewakili perasaan hatinya saat ini, sungguh dia tidak bisa menerima tapi takdir sudah menentukan jalan untuk suaminya.
Suami yang akhir-akhir ini tidak pernah dia dengarkan, suami yang selalu dia bantah dan suami yang pergi dengan membawa kekecewaan atas sikapnya, sudah sepantasnya dia merasa bersalah berdosa karena bahkan dia tidak diberi kesempatan untuk meminta maaf atas kelalaiannya sebagai seorang istri.
Dia masih belum bisa menghubungi Raffan, belum tahu anaknya itu berada dimana saat ini menambah tangisannya menjadi semakin menjadi dan kencang di ruangan yang hanya ada dirinya dan jasad sang suami.
"Mau kemana Gam?" tanya Gerry pada Agam yang terlihat berjalan cepat bahkan setengah berlari.
"Ayahnya Raffan meninggal," sahut Agam menjawab tanpa menghentikan langkahnya.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un." Gerry sangat terkejut mendengar berita yang baru saja Agam berikan, ini adalah berita duka yang tentu saja sangat menyedihkan bagi siapapun yang ditinggalkan.
"Lo tahu dari mana?" tanya Gerry menunjukkan raut wajah yang sedih karena biar bagaimanapun dia juga mengenal sosok ustad Imran, Ayah dari temannya.
"Ibunya Raffan tadi telepon, oh iya Lo tahu Raffan pergi kemana nggak? dia ada kasih tahu atau apa gitu?"
Gerry tercenung heran kenapa Agam malah menanyakan Raffan, memangnya Raffan tidak ada saat Ayahnya meninggal?
Pertanyaan malah melintas di dalam kepala Gerry.
"Memangnya Raffan nggak ada?" malah bertanya kembali tentang keberadaan Raffan.
"Nggak ada, itu tadi ibunya telepon gue juga tanyain dia," aku Agam seraya menghembuskan napas panjang.
"Kan bisa di telepon," usul Gerry.
"Kalau nomornya bisa dihubungi gue nggak bakal tanya sama elo, Ger. ini Raffan di telepon nggak aktif-aktif udah berkali-kali gue coba tapi tegap aja nggak tersambung," jelas Agam merasa makin pusing memikirkan temannya itu.
Di saat Ayahnya pergi malah Raffan tidak ada, bahkan tidak tahu, teman-temannya tidak ada satupun yang tahu Raffan pergi kemana.
"Kalau Deefa?" tanya Gerry, dia tahu Agam mengenal istri dari temannya itu bahkan pernah menjadi guru di TPA milik Ayahnya Agam.
Agam menggeleng lemah, "sama aja, nggak aktif juga," jawabnya.
Gerry membuang napas kasar, tidak habis pikir kenapa disaat seperti ini tidak ada yang tahu keberadaan Raffan, menurutnya terlalu tidak masuk akal seorang Raffan pergi sampai tidak mengaktifkan handphone juga tidak memberitahu orang tuanya, karena biasanya mau pergi kemanapun Raffan akan mengatakan pada temannya meskipun pergi mendadak, temannya itu akan menyempatkan waktu untuk mengirim pesan melalui grup WhatsApp yang mereka buat.
"Gue mau ke rumah Raffan, Lo ikut nggak?" tawar Agam pada sang teman.
"Ikut lah," jawab Gerry cepat.
"Ya udah ayo," katanya seraya kembali menggerakkan kaki melangkah cepat menuju mobil diikuti oleh Gerry.
"Kasih tahu yang lain," pinta Agam membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya, sedangkan Gerry melakukan apa yang Agam minta, mengirim pesan di grup mengabarkan berita duka.
__ADS_1
****
Raffan dan Deefa tengah menghirup udara sore hari malam yang sangat menenangkan bagi mereka juga menikmati keindahan pemandangan perkampungan yang jarak rumah dengan rumah yang lainnya lumayan jauh.
"Disini rasanya lebih menyenangkan, aku jadi berpikiran untuk tinggal disini selamanya," celoteh Raffan sambil matanya melihat keadaan sekitar tempat mereka duduk.
Sekarang keduanya tengah duduk di bale bangku yang dulu di buat oleh Ayahnya Deefa di bawah pohon tak jauh dari rumah, rasanya tempat itu memang sangat tepat karena jika siang hari akan lebih teduh dibanding tempat yang lainnya karena ada pohon yang melindunginya dari sinar matahari.
"Disini masih sulit untuk mendapatkan pekerjaan Mas," kata Deefa, mungkin maksudnya suaminya yang pandai di otomotif akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya itu.
"Kan bisa jadi petani, toh sawah Bapak juga lebar," ucap Raffan sambil terkekeh, "kamu kan juga jadi bisa ketemu dan rawat Emak," menambahkan setelah menghentikan kekehan.
Saat Raffan terkekeh Deefa merasa suaminya itu mungkin hanya sekedar bercanda saja, tapi saat berikutnya dia malah mendapati wajah sang suami yang menjadi sangat serius dengan kedua netranya yang kembali menikmati panorama yang disuguhkan dihadapannya.
"Mas Raffan sedang kenapa?" dan akhirnya Deefa memberanikan diri untuk bertanya, mengeluarkan rasa penasaran yang memang sudah semakin mengganggu bahkan saat kemarin malam suaminya mengajak pulang ke kampung halamannya.
"Nggak apa-apa, kenapa memangnya?" Raffan melihat sang istri dengan alis yang bertaut menunjukkan ekspresi sewajarnya orang bertanya.
"Sejak kemarin Mas Raffan terus membicarakan hal yang artiannya sama, seolah itu memang benar-benar ada di dalam hati Mas Raffan, benar-benar Mas inginkan," tutur Deefa memaparkan tentang sikap suaminya yang sangat berbeda.
"Aku hanya sedang memikirkan masa depan Deef."
Deefa jadi tak mengerti kenapa sekarang suaminya malah membahas masa depan, masa depan yang mereka sendiri pun tidak tahu seperti apa nantinya.
"Siapa sih?!" tanya Raffan sangat terganggu ketika ada lampu dari kendaraan bermotor yang menyorot pada mereka membuat mata silau.
"Assalamualaikum Deefa!"
"Wa'alaikumsalam," sahut Deefa, "Salimah Mas," kata Deefa memberitahu suaminya.
Wanita yang tadi turun dari motor lalu berjalan sangat cepat memperlihatkan wajah yang panik bercampur sedih membuat Deefa dan Raffan saling pandang tak mengerti.
Tadi memang Deefa dan Raffan sempat mengunjungi pesantren bertemu dengan Kiyai Burhan, Umi Salamah serta Salimah dan yang ada di pesantren untuk melepas kerinduan mereka seraya masing-masing saling bercerita tentang apa yang mereka alami.
"Raffan!" Salimah memanggil Raffan yang berdiri di samping Deefa yang memberi tatapan pertanyaan.
"Ayah kamu.." suara Salimah seperti tidak keluar, tercekat di tenggorokan membuatnya kesulitan bicara.
Dari ekspresi wajahnya Deefa dan Raffan bisa melihat dengan sangat jelas ada yang ingin wanita itu sampaikan, sesuatu yang penting hingga membuat tangannya bahkan bergetar hebat.
"Kenapa Sal?" Deefa mulai tidak sabar menunggu hingga mengajukan pertanyaan seraya menyentuh bahu temannya agar temannya tenang dan bisa mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Ustad Im.. Ayah.." benar-benar sangat kesulitan berkata seakan lidahnya menjadi kelu.
"Salimah!" Deefa bersuara sedikit keras.
"Ustad Imran, mertua kamu.."
"Ayah kenapa?!" Raffan yang sejak tadi diam akhirnya bersuara ketika mendengar nama sang Ayah disebut.
__ADS_1
"Ustad Imran meninggal." akhirnya seorang pria yang Deefa tahu adalah sepupunya Salimah lah yang memberikan jawaban.
Raffan membuka membelalak dengan tubuh yang dalam sekejap mematung, diam tak bergerak membeku seketika mendengar kabar yang baru disampaikan, berita yang membuat jantungnya berdebaran dengan hebat, berita yang rasanya sangat sulit untuk dia percaya.
"Sal?" Deefa menatap pada Salimah seolah tengah memastikan.
Salimah mengangguk dengan wajah yang juga bersedih, biar bagaimanapun dia juga mengenal ustad Imran, karena berteman dengan Abah nya.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," ucap Deefa yang seketika mengeluarkan air mata kesedihan serta kehilangan.
Mertuanya itu memperlakukan dia dengan sangat baik, sudah sewajarnya dia bersedih dan kehilangan.
"Mas." Deefa melihat pada suaminya yang berdiri dengan pandangan kosong.
"Mas!" kembali memanggil sambil menyentuh lengan sang suami membuat suaminya bergerak menyadarkan diri dari keterkejutan yang sungguh teramat mengejutkan dirinya.
Raffan memberi respon, "kita pulang," katanya lalu melangkah cepat ke dalam rumah.
"Hati-hati ya Deef, aku pulang, assalamu'alaikum." setelah memberi kabar Salimah pun langsung pulang kembali ke rumahnya.
Sudah pukul 9 malam ketika Raffan dan Deefa sudah kembali berada dijalanan dengan mobil yang membawa mereka menuju Jakarta, tidak ada pembicaraan antara keduanya membuat mobil menjadi sangat hening hanya ada suara mesin mobil yang terdengar mengiringi perjalanan mereka.
Deefa terus berdoa meminta perjalanan yang mereka tempuh malam ini berjalan dengan baik tanpa ada apapun yang terjadi agar mereka bisa sampai dengan selamat.
Raut wajah Raffan menjadi semakin tegang mengingat apa yang Salimah katakan membuat cengkeramannya pada kemudi mobil menjadi sangat erat diiringi dengan deru napas yang sangat berat.
Sejak kemarin Raffan sudah merasakan mendung di dalam hatinya lalu sekarang mendung itu datang membawa badai, tidak tanggung-tanggung badai itu langsung membuat hatinya remuk dan berantakan.
Deefa tahu suaminya sedang berada pada titik terburuk dalam hidup, kehilangan orang yang sangat disayangi sudah pernah dia rasakan dan itu benar-benar sangat menyakitkan membuat dia tidak bersuara ataupun memberikan protes ketika laju kendaraan terasa makin kencang, karena jika dia lakukan itu malah akan merusak konsentrasi suaminya yang memang pasti sudah terbagi.
Mulut Deefa terus merapal kan doa-doa keselamatan bagi mereka.
"Kamu tidur saja," kata Raffan yang akhirnya bersuara setelah setengah perjalanan.
Sebenarnya dia mengatakan itu agar Deefa tidak melihat dan semakin ketakutan dengan caranya membawa mobil.
"Tapi Mas, Deefa tidak ngantuk.."
"Tidur Deefa!" seru Raffan membentak sang istri yang langsung membungkam mulutnya tidak lagi bersuara.
Deefa pun membenarkan posisinya agar bisa memejamkan matanya untuk tidur menurut pada perkataan suaminya, dia akan berusaha untuk tidur sekalipun mungkin nanti dia tidak akan pernah bisa tidur dalam keadaan hati yang gelisah.
Raffan melirik pada istrinya yang sudah memejamkan matanya, melihat dengan rasa bersalah karena dia sudah dengan sengaja membentaknya, lalu sebentar kemudian dia menginjak pedal gas semakin dalam untuk menambah kecepatan, beruntung dia seorang pebalap liar yang tentu tetap bisa mengendalikan mobilnya dengan sangat baik.
Dia ingin cepat sampai ke tujuan, dia ingin melihat Ayahnya untuk yang terakhir kali, tidak mau sampai terlambat yang akhirnya menambah beban penyesalan dan rasa bersalah yang mendalam.
\*\*\*\*
__ADS_1