
"Mas pergi dari rumah naik mobil, tapi kenapa bisa jatuh dari motor?" melontarkan pertanyaan saat suaminya sejak tadi hanya diam membisu.
"Ada yang Deefa tidak tahu?" tambah Deefa lagi dengan tatapan kecewa yang membuat Raffan malah menjadi takut menghadapinya.
Dia tahu dengan jelas istrinya adalah wanita yang tahu tentang agama, wanita Sholehah yang tidak akan marah tanpa alasan kepada suaminya dan jelas sekarang dia sadar kalau dia berbuat salah.
Raffan susah payah menelan Saliva nya yang seperti mendadak menjadi bongkahan padat hingga menyulitkannya untuk melewati kerongkongannya, membuatnya juga tidak bisa berkedip memandangi sosok wanita berkerudung cokelat di depannya.
Sebenarnya Deefa tidak tega melihat kondisi suaminya tapi dia menahan perasaan itu sekuat tenaga hanya ingin menunggu sampai sang suami berkata jujur padanya, mengatakan sendiri apa yang terjadi tanpa harus dia memaksa.
"Aku haus, boleh minum dulu nggak?" tanya Raffan dengan suara seperti anak kucing yang baru lahir, mengeong meminta minum kepada induknya.
"Deefa ambil dulu," kata Deefa lalu beranjak dari ruangan itu menuju dapur, tak lama diapun kembali dengan segelas air putih ditangannya, memberikannya kepada sang suami yang sekarang malah terlihat ragu untuk menerimanya.
"Takut Deefa racun?" tanya Deefa membuat Raffan malah gugup tidak menyangka istrinya bisa mengajukan pertanyaan seperti itu, padahal saat ini dia hanya tengah mengulur waktu saja.
Raffan menggeleng dengan cermat lalu menerima uluran gelas dari tangan sang istri, dan kembali melakukan gerakan lambat untuk meminum air di dalam gelas.
Deefa menarik napas melihat apa yang sedang suaminya itu lakukan, seandainya saja dia seorang istri yang durhaka kemungkinan Deefa sudah mendorong gelas itu agar air segera masuk ke dalam mulut Raffan.
"Mas." mencoba menegur dengan halus agar Raffan segera menyelesaikan minumnya, jika memang mau dihabiskan maka cepat habiskan tapi jika tidak mau dihabiskan yasudah cepat letakkan gelas itu di atas meja jangan menguji kesabaran seorang istri.
Raffan pun segera meletakkan gelas yang bahkan air nya seperti tidak berkurang sedikitpun.
"Aku balapan," aku Raffan membuat Deefa menghela napas.
"Pakai taruhan," sambung Raffan lagi.
__ADS_1
"Jangan marah," pinta Raffan dengan suara memelas dan tatapan memohon benar-benar bukan seperti Raffan yang biasanya.
Bukan Raffan Alawi anak dari ustad Imran dan ustadzah Hayati yang dengan orang tuanya pun akan selalu memberikan perlawanan ketika sudah melakukan kesalahan.
"Deefa kecewa Mas," kata Deefa dengan suara pelan yang tidak seperti biasanya.
Kekecewaan tampak jelas di wajahnya kala mendengar pengakuan sang suami, tadinya dia berharap kecelakaan itu terjadi karena Raffan hendak mengantar temannya tapi malah seperti ini yang dia dengar, di tambah dengan taruhan yang Raffan akui.
"Mas sudah membohongi Deefa, pamit pergi karena ada urusan penting tapi ternyata urusan penting itu balapan di tambah dengan taruhan dosa membohongi istri masih juga di tambah dengan dosa lainnya, Mas tentu sudah tahu semua yang Mas lakukan hingga seperti ini itu dosa Allah tidak suka," tegas Deefa menatap nanar sang suami yang sekarang menunduk tak berani menatap padanya.
"Maaf, aku salah," ucap Raffan meminta maaf dan mengakui kesalahan.
Deefa tidak menjawab diam melihat suaminya membuat sang suami menjadi salah tingkah hingga akhirnya tak sengaja membuat kakinya yang tadi habis di urut malah menyenggol kaki meja.
"Auuuuu, sakit," teriak Raffan merasakan kakinya langsung kembali berdenyut menyalurkan rasa sakit yang membuatnya meringis.
"Deefa kamu marah? ini suaminya lagi kesakitan bukan di bantuin kok malah ditinggal," cerocos Raffan tidak menyangka dengan yang dia lihat, bahkan Deefa terus melenggang meninggalkannya tanpa menoleh sedikitpun.
"Deefa!" serunya kencang tidak terima diabaikan.
"Bilangnya nggak marah, bilangnya kecewa doang tapi suaminya lagi sakit malah nggak mau urus, ngesel.."
Raffan tidak melanjutkan perkataannya saat dia melihat Deefa sudah kembali dengan membawa handuk beserta air di dalam baskom kecil.
"Ini yang Deefa tidak suka dari kamu, prasangka jelek selalu mendominasi isi kepala kamu Mas," cetus Deefa duduk di samping pria yang tidak lagi mengoceh.
Mulut Raffan kali ini menjadi bungkam tak berani bersuara apalagi mengeluarkan ocehan tidak pentingnya di saat sang istri mulai mengangkat kaki kanannya yang sakit lalu mulai mengompresnya.
__ADS_1
Raffan menatap wajah teduh wanita yang sedang fokus mengompres kakinya hingga rasa sakit yang dia rasa sedikit berkurang, "aku minta maaf," kata Raffan lagi kali ini dengan rasa penyesalan yang mendalam.
"Deefa maafkan, tapi kalau sampai Mas mengulangi lagi.."
Deefa menggantung perkataannya membuat Raffan menyipitkan mata, ada rasa tidak enak yang dalam sekejap menyerbu hatinya.
"Apa? kamu mau lakuin apa kalau aku lakuin kesalahan kayak gini lagi?" Raffan tampak penasaran dan tidak sabar ketika istrinya kini malah diam.
Deefa menghela napas lalu meletakkan handuk yang tadi dia pakai mengompres pergelangan kaki sang suami, "berdoa pada Allah agar.."
"Agar aku di kasih teguran yang lebih dari ini? tega banget kamu, jangan-jangan aku jatuh dari motor juga karena kamu ngadu sama Allah."
Belum juga Deefa menyelesaikan ucapannya, suami berandal nya ini malah sudah memotong lalu melontarkan tudingan yang tidak masuk di akal, jelas-jelas seorang Adeefa Ranaya tidak akan begitu kejamnya mendoakan keburukan untuk suaminya sendiri meskipun suaminya itu sangat menguji kesabarannya, selama masih bisa dia kendalikan rasanya sangat mustahil Deefa melakukan itu.
"Astaghfirullahaladzim, tahu nggak apa yang Mas katakan baru saja sama saja fitnah bagi Deefa, Deefa tidak pernah berpikiran seperti itu bahkan saat Mas tidak mau mengakui Deefa sebagai istri sekalipun tidak ada doa buruk yang Deefa panjatkan pada Allah, Deefa hanya berdoa dan meminta pada Allah agar Mas Raffan bisa menjadi lebih baik dan selalu selamat dimana pun Mas berada," tegas Deefa merasa kecewanya malah semakin bertambah padahal kecewa akibat dibohongi masih ada.
Raffan tidak berkutik tentu yang istrinya itu katakan adalah kebenaran, wanita yang dia nikahi itu tidak akan pernah mendoakan dirinya yang buruk-buruk, sungguh pada saat ini dia merasa menjadi suami yang dzolim pada istrinya sendiri apalagi sekarang Deefa kini beranjak pergi meninggalkannya tanpa berkata sepatah pun, membiarkan dia di ruang tamu sendirian bahkan ketika dia menunggu Deefa tak juga kunjung kembali.
"Deefa, kamu kemana? tidur? terus aku gimana? aku juga mau tidur ini," ujar Raffan sedikit berteriak karena tadi dia mendengar derap langkah istrinya yang menaiki tangga sampai akhirnya tidak kembali lagi.
Tidak ada jawaban yang terdengar membuat Raffan mau tidak mau berusaha untuk bangun dari duduknya, melangkah hati-hati menuju tangga.
"Mulut Lo sih Raf, kadang-kadang kalau ngomong itu nggak pake takeran, asal nyap-nyap tanpa mikirin perasaan orang," omelnya mencerca diri sendiri.
Terkadang kita memang kesulitan untuk mengendalikan ucapan terhadap orang lain, lalu baru tersadar dan menyesal setelah orang lain sudah tersinggung karena ucapan kita.
******
__ADS_1