
"Wah ternyata seorang pembalap seperti Raffan bisa pincang juga ya, gue kira bakalan kebal dan tahan banting, hahah."
Baru saja keluar dari toko yang membuat Gerry malu luar biasa, begitu keluar sudah di sambut oleh ucapan sialan dari Marco musuh bebuyutan Raffan saat balapan, pria yang masih saja kerap penasaran karena sampai saat ini belum juga mampu untuk menjadi juara.
Bahkan terakhir kali balapan dia tetap saja kalah meskipun Raffan harus jatuh dari motor, namun tetap saja Raffan lah yang menjadi pemenang untuk sekian kalinya.
"Ohohoho lihat ternyata selain jago balapan juga jago koleksi pakaian dalam wanita, ckckck fetish nya agak sedikit ekstrim!" mata Marco membuka dengan lebar saat mengatakan hal itu.
Sungguh tadi dia tidak menyangka akan bertemu dengan musuh balapannya di dalam mall dan di depan toko pakaian dalam wanita dan juga dia begitu terkejut saat Raffan tampak menenteng papar bag dengan logo toko yang ada di belakang tempat Raffan dan Gerry berdiri saat ini.
"Nggak usah dengerin," bisik Gerry kepada sang teman.
Saat seperti ini dia tahu benar Raffan sedang mengontrol emosinya mendengar ejekan demi ejekan yang keluar dari mulut sialan Marco yang sekarang terkekeh senang bersama dua temannya tadinya akan makan di food court mall itu tapi malah bertemu dengan dua orang yang tidak dia sukai.
Sepertinya Gerry lupa kalau temannya yang bernama Raffan itu tidak akan pernah mau mendengarkan saran dari orang lain, jika sudah kesal dia tidak akan bisa mengendalikan emosinya dengan orang tuanya saja dia masih sanggup menjawab andai sedang diomeli lalu jangan harap dia akan membiarkan Marco mengoceh seenaknya, karena sekarang Raffan sudah berjalan menghampiri pria dan dua temannya itu yang tengah menunjukkan deretan gigi sialan yang malah membuat Raffan bernafsu untuk merontokkan nya.
Bugh!
Bogem mentah langsung Raffan layangkan tepat di gigi Marco dengan begitu kencang membuat pria yang sejak tadi mengejeknya itu terjerembab ke belakang yang untungnya ada dua teman yang langsung menahan agar Marco tidak sampai jatuh ke lantai mall.
"Sini lawan gue, jangan bisanya ngoceh kayak anak perawan Lo!" Raffan menantang seraya melambaikan tangannya pada pria yang memegangi bibirnya yang sepertinya pecah akibat tonjokan yang Raffan berikan.
Bisa dipastikan mereka langsung dikerubungi oleh para pengunjung mall yang begitu penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Ayo bangun, Cemen banget masa ngoceh doang, Lo balapan aja kalah mulu masih juga bisa songong." tantang Raffan tak peduli kalau saat ini dirinya sedang menjadi tontonan banyak orang.
Raffan masih bernafsu untuk menghajar Marco tapi dua orang keamanan malah muncul lalu membawa mereka ke pos keamanan di mall itu guna membuat suasana kembali kondusif.
Mereka hanya diinterogasi lalu kemudian dilepaskan setelah mengetahui kalau ini adalah masalah pribadi dan tidak ada sangkut pautnya dengan mall itu.
"Urusan kita bakal panjang terus sampai kapan pun," desis Marco kala kembali bertemu dengan Raffan di parkiran mobil.
"Mau sampai mana juga gue ladenin! Lo pikir gue takut!?" ujar Raffan tak mau mengalah.
"Gue juga belum puas bikin muka Lo lebih bonyok dari ini," tambah Raffan lagi dengan senyuman sinis untuk mengejek sang musuh tak tahu diri.
Gerry mulai tak sabar hingga akhirnya menarik Raffan untuk masuk ke dalam mobil, jika tidak begini Raffan masih akan terus meladeni ocehan Marco yang hanya akan memancing emosi.
"Emang mesti di bikin modar sih kayaknya," sahut Raffan dengan tatapan yang masih saja garang menatap Marco yang berdiri di depan mobilnya seperti begitu menantang seorang Raffan untuk kembali memberikan bogem mentah pada muka yang selalu terlihat tengil dari sudut manapun.
"Jangan macam-macam Raf, apa-apa jangan selalu pakai emosi makin kacau nantinya," kata Gerry memperingatkan, karena biar bagaimanapun dia tahu benar kadar kesabaran yang dimiliki oleh Raffan Alawi, temannya itu bukan orang yang mempunya rasa sabar setinggi gunung yang akan selalu bersikap tenang pada setiap orang yang mencari masalah, terlebih lagi untuk seorang Marco.
Tidak perlu ditanya seberapa emosinya Raffan pada manusia satu itu, seujung kuku pun tidak akan pernah mengenal kata sabar untuk pria dengan rambut plontos itu.
Raffan hanya diam tak menanggapi peringatan yang Gerry utarakan, entah apa yang ada di dalam kepalanya saat ini ketika Gerry mulai melajukan kendaraan roda empat itu keluar dari parkiran.
"Kalau dia ngajak balapan atau hal lainnya jangan di gubris, biarin aja," cetus Gerry kala mendapati Raffan menatap nyalang pada Marco yang mereka lewati.
__ADS_1
"Raffan!" sentak Gerry ketika Raffan seolah tidak menganggap sama sekali apa yang dia katakan.
"Pikirin aja tuh lingerie."
Raffan yang tadinya memasang tampang tegang pun menoleh pada sang teman sambil mengerutkan keningnya, bertanya-tanya kenapa Gerry malah membicarakan lingerie yang tadi mereka beli.
"Kenapa mesti mikirin gituan?" tanya Raffan dengan tampang polosnya, dia itu seolah tidak mengenal seperti apa wanita yang dia nikahi, apakah mungkin seorang Adeefa Ranaya lulusan dari pesantren akan dengan mudah memakai pakaian kekurangan bahan seperti yang baru saja dia beli.
"Lo yakin istri Lo bakal langsung pakai tuh lingerie tanpa ada drama?" Gerry menunjuk paper bag yang ada di bangku belakang.
Paper bag berisi beberapa potong lingerie dengan warna-warna cerah tentu hasil pilihan Raffan sendiri tanpa meminta pendapat dari Gerry meskipun tadi dia mengajak temannya itu untuk dimintai pendapat, tapi nyatanya tidak ada satupun pendapat Gerry yang diterima oleh Raffan, semuanya di tolak mentah-mentah oleh Raffan Alawi terlebih lagi ketika Gerry menyarankan Raffan untuk membeli baju tidur yang sedikit manusiawi, Raffan langsung akan menolak dengan mata yang membesar sempurna lalu berkata 'itu bukan selera gue' atau 'kalau beli yang begitu sama aja kayak pakai daster biasa' selalu begitu sampai akhirnya Gerry hanya diam mengikuti saja sambil menahan malu ketika Raffan menunjukkan lingerie yang luar biasa seksi serta terbuka lalu mulutnya pun berceloteh 'luar biasa'
"Urusan gampang itu, dia drama gue akan lebih drama lagi, Lo kenal gue kan?!" Raffan memainkan alisnya naik turun dengan senyum mengesalkan yang akan selalu Raffan pamerkan jika sedang memikirkan hal-hal tak lazim di dalam kepalanya.
Gerry menaikkan sudut bibirnya lalu berdecih dan kembali fokus pada setir mobil milik Raffan yang dia kendarai untuk mengantarkan dia pulang lebih dulu ke rumah, Gerry tidak akan mau kalau harus pulang naik taksi atau kendaraan online lainnya sedangkan motornya masih ada di kampus dan dia tidak mau kembali ke kampus hanya untuk mengambil motor, cukup malas kalau harus bolak-balik.
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1