Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Menantu dan Mertua


__ADS_3

Dua orang wanita sedang duduk saling berhadapan, dua wanita yang awalnya terlihat saling menyayangi kini hanya salah satunya saja yang mungkin masih tetap merasakan sayang dengan tulus sedangkan yang satunya malah memandang penuh kemarahan, tidak ada lagi sayang seperti layaknya ibu terhadap anaknya, tidak ada lagi kelembutan yang terpancar dari sorot matanya, hanya ada sorot mata yang tidak suka.


Haruskah mereka berhadapan seperti ini?


Pantaskah menantu dan mertua berhadapan layaknya dua musuh yang akan saling menyerang demi memenangkan pertempuran?


Haruskah hal seperti itu terjadi?


Bukankah mereka sama-sama menyayangi seorang pria yang sama? pria yang di sisi seorang wanita menjadi anak dan pria yang di satu wanita lainnya sebagai seorang suami.


Lalu kenapa hubungan yang awalnya harmonis malah menjadi rusak seperti ini?


Sungguh keegoisan yang merajai hati memang benar-benar merusak jalinan kasih sayang antara manusia.


"Kamu sudah setuju, bahkan kamu juga sudah mengatakan siap untuk membantu, membantu menyiapkan semua apa yang diperlukan untuk pernikahan Raffan, lalu kenapa sekarang kamu berubah?" sang ibu mertua bertanya pedas.


Tadinya dia pikir menantunya itu datang untuk membantu dirinya menyiapkan tentang semua keperluan yang dibutuhkan untuk pernikahan yang direncanakan sangat mendadak, meski hanya sederhana dan tidak akan ada pesta yang meriah tentu saja tetap harus ada yang dipersiapkan.


"Dan sekarang kamu datang meminta untuk saya membatalkan pernikahan? kamu tidak setuju? kamu tidak ingin Raffan menikah? hah!" wanita yang wajahnya sudah tidak lagi ramah itupun kembali melanjutkan.


Melanjutkan kalimat-kalimat tak senangnya setelah mendengar istri dari anaknya menolak menyetujui pernikahan, memintanya untuk tidak lagi melanjutkan pernikahan kedua dari putranya.


"Maafkan Deefa, Bu," suara Deefa benar-benar terdengar sangat lirih penyesalan yang tidak terkira menggunung di dalam hatinya, bukan menyesal karena harus meminta sang mertua untuk membatalkan pernikahan tapi menyesali apa yang sudah dia lakukan, menyesal karena sempat menyetujui pernikahan kedua suaminya hingga mempertaruhkan pernikahannya sendiri.


Bukankah dia hanya ingin menikah satu kali dalam hidupnya? lalu bagaimana bisa dia malah dengan bodohnya mendorong suaminya sendiri untuk menikah lagi, menduakan dirinya bahkan konsekuensi yang harus dia dapatkan adalah perpisahan.


Hayati menggeleng marah, raut wajahnya tampak menyiratkan kemurkaan yang berupaya dia tahan sebaik mungkin meski akhirnya tetap saja dia tidak bisa membendung kata-kata pedas dari mulutnya.


"Maaf mu tidak berguna apapun!" sentak wanita yang emosi.


"Apa dengan maaf kamu bisa memberikan keturunan untuk Raffan?!" mata Hayati terlihat merah, tentu bukan karena sedih tapi lebih karena marah.


Marah dan tidak terima dengan permintaan sang menantu yang sejak tadi memintanya untuk membatalkan pernikahan, mengurungkan niatnya menikahkan lagi Raffan, memintanya untuk berhenti akan tetapi jelas dia tidak akan berhenti.


Baginya Raffan yang menikah lagi sudah keputusan mutlak, tidak bisa di ganggu gugat oleh siapapun termasuk wanita di depannya yang menyandang status sebagai istri dari anaknya.

__ADS_1


Hidung Deefa memerah sama dengan sepasang bola matanya dan di tambah dengan getaran yang kadang tak konsisten, kadang lambat kadang juga cepat begitu terus berulang kali tanda dia tengah menahan tangis yang jika dia hanya seorang diri mungkin tangisannya sudah meledak seperti yang sudah sering terjadi.


Di hadapannya saat ini seorang ibu mertua seperti sedang bersemangat untuk menyerangnya, menyerang psikisnya dengan mengingatkan tentang kekurangannya sebagai seorang wanita, tentu dia kecewa, sakit hati dan juga marah, karena dia juga tidak mau seperti ini, hanya saja Tuhan lah yang memilihnya untuk menjalani ini semua.


Andai dia diperkenankan untuk memilih takdirnya tentu dia akan memilih apapun yang paling baik dan membahagiakan dalam hidupnya.


"Deefa sudah meminta waktu dua tahun pada ibu, dalam waktu dua tahun itu Deefa akan berusaha untuk memberikan keturunan untuk Mas Raffan.."


Hayati menggeleng kepala keras, terlihat jelas bahwa dia tidak suka dan tidak akan mau memberi waktu dua tahun, karena baginya itu hanya membuang waktu.


"Ya kalau dua tahun kamu bisa hamil, bagaimana kalau tidak? bukankah itu hanya membuang-buang waktu Raffan saja?!" Hayati menyentak dan kembali meluapkan amarah dengan perkataan pedas yang sudah berulang kali dia lontarkan namun masih tetap dia lontarkan seolah semuanya tidak akan pernah cukup.


"Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya, karena semua bergantung pada Allah," ucap Deefa lemah.


Sungguh dia lelah tapi dia masih ingin meyakinkan ibu mertuanya.


Ibu mertua yang seperti sangat ingin memisahkan dirinya dengan suaminya, ibu mertua yang kini memandangnya dengan tak suka serta terselip kebencian yang mulai mengisi relung hatinya.


"Astaghfirullahaladzim," membuat Deefa beristighfar dengan lirih seraya mencengkeram kerudung yang dia kenakan.



Dia geram mendengar ucapan menantunya yang seolah mengajari dirinya, Hayati merasa lebih tahu apapun itu.



Deefa menghela napas setelah sedikit tersentak mendengar suara mertuanya yang makin meninggi.



"Mas Raffan tidak mau menikah dan itu sudah Mas Raffan katakan berulang kali, dia tidak mau Bu," tetap memberikan intonasi yang rendah, tidak ada niat sedikitpun untuk mengeluarkan suara tinggi membalas apa yang mertuanya lakukan.



Sebagai menantu dia masih harus menghormati ibu mertuanya, karena biar bagaimanapun wanita itulah yang sekarang menjadi satu-satunya orang tua sang suami, sama seperti dirinya yang hanya memiliki ibu saja, tidak ada Ayah yang menjadi tempat mengadu ketika sedang bermasalah dengan ibu.

__ADS_1



"Kamu tahu apa tentang kebahagiaan anak saya? bahagia atau tidak saya lah yang lebih paham dan mengerti!"



Deefa memejamkan mata mendengar suara sang mertua yang bahkan sekarang berbicara seolah dia ini bukan siapa-siapa, bukan istri dari anaknya.



"Deefa ada di dalam?" tanya Raffan yang baru saja sampai dan seorang pria membukakan pagar untuknya.



"Ada Mas," jawab sang penjaga rumah masih menunggu Raffan memasukkan mobil.



Dia sengaja melewatkan satu mata kuliah untuk mengambil motornya dan sekaligus memastikan istrinya mengingat perkataannya atau tidak.



Dan nyatanya istrinya tetap datang seakan lupa dengan peringatan yang sudah dia berikan, membuat kedua tangannya yang masih memegang stir mobil mencengkeram begitu erat dan kuat membuat punggung tangannya memutih.



Kedua wanita itu menoleh bersamaan ketika mendengar derap langkah yang menghentak dan semakin dekat ke tempat mereka berada.



"Mas Raffan."



\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2