
"Nggak ngerti gue sama elo Deef, bisa-bisanya Lo nyusulin gue!"
Mereka baru saja masuk ke dalam rumah tapi mulut Raffan sudah berceloteh tanpa henti menyuarakan kekesalannya karena Deefa yang mendatangi bengkel di tengah malam hanya untuk mengajaknya pulang.
"Apa seorang istri tidak boleh mencari suaminya? tidak boleh khawatir terhadap suami yang bahkan tidak menjawab telepon karena alasan hobi yang bahkan hampir di lakukan setiap malam," Deefa tanpa ragu menjawab karena mertuanya sepertinya sudah angkat tangan dan menyerah dengan kelakuan suaminya itu, dan ia sebagai seorang istri merasa bertanggung jawab untuk menggantikan peran mertuanya.
Memberikan pelajaran juga menasehati seorang kepala keluarga bukanlah hal yang salah terlebih lagi dalam hal kebaikan mengingat Raffan yang masih sering semaunya sendiri, bertingkah layaknya pria lajang pergi pagi dan pulang larut malam serta lalai menjalani kewajibannya sebagai seorang kepala keluarga.
Raffan mendengus dengan pembelaan diri yang Deefa utarakan, "ibu lagi?" bertanya sinis merasa Deefa sudah terlalu menurut pada ibunya, "apa Lo nggak bisa hidup tanpa mengikuti kemauan orang tua gue? berhenti menurut Deefa, tidak perlu terlalu mendengarkan apa yang mereka katakan!" lanjut Raffan dengan tangan yang ada di pinggangnya.
Pria itu berdiri di dekat tangga menatap tajam pada wanita 25 tahun yang sudah beberapa hari menjadi istrinya, wanita lebih tua yang sifatnya mulai menyebalkan karena terus-menerus melarangnya melakukan hal yang dia suka, dan yang lebih parahnya lagi hari ini wanita berkerudung itu berani mendatangi bengkel mencarinya.
"Jadi menurut Mas Raffan Deefa salah? sedangkan Deefa hanya ingin menjaga suami Deefa dari hal-hal buruk diluar sana, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya tapi tidaklah salah jika kita berikhtiar untuk menjaga diri kita juga orang lain," sahut Deefa.
"Arrggg Deefaaaa!" Raffan menggeram kesal seraya mengacak rambutnya, jika sudah seperti ini tidak ada lagi yang bisa dia katakan untuk melawan Deefa, istrinya ini lebih tua darinya bahkan seorang guru ngaji lalu adakah opini yang bisa Raffan keluarkan untuk melawan perkataan Deefa?
Pria yang kehabisan kata-kata untuk membantah semua perkataan wanita yang menjadi istrinya itu memilih untuk beranjak pergi menuju kamarnya.
Derap langkahnya terdengar jelas karena pria itu menghentak kasar melakukannya sebagai bentuk rasa marah dan tidak terima jika istrinya selalu lebih bisa membuatnya tidak berkutik.
Brak!
"Astaghfirullah," Deefa mengurut dadanya yang tersentak kaget ketika Raffan membanting pintu di lantai atas.
"Tidak bisakah dia lebih menahan emosinya," tutur Deefa seraya matanya tetap tertuju pada lantai di atas dimana suaminya kini berada.
******
Setelah pertengkaran beberapa hari lalu nyatanya tetap tidak membuat Raffan mengubah sifat dengan jiwa mudanya, pria itu masih saja pulang malam tanpa kabar meski sekarang sudah mau menjawab telepon dari istrinya yang juga masih tetap mengkhawatirkannya dan memintanya untuk pulang lebih awal, berhenti pulang larut jika hanya untuk melakukan hal yang tidak penting, tapi Raffan tetaplah Raffan yang lebih senang bertindak sesuka hati tanpa menggubris semua permintaan dari sang istri.
Pernikahan sudah berjalan dua Minggu tapi dalam kondisi ini Raffan belum sekalipun menyentuh Deefa, sepertinya pria itu bersungguh-sungguh saat mengatakan tidak bisa memberikan nafkah batin.
Terasa sangat aneh jika seorang pria mampu menahan nafsunya sebagai seorang laki-laki normal, ada wanita yang halal untuk di sentuh tapi pria itu malah mengabaikan hak sang wanita yang sebenarnya diperbolehkan untuk menuntutnya memberikan nafkah batin yang lalai dia berikan.
Tapi sepertinya Deefa yang terlalu baik padanya hingga tidak menuntut haknya sebagai seorang istri, dan yang bisa ia lakukan saat ini adalah berdoa dan terus meminta pada sejatinya pemilik manusia untuk membukakan hati suaminya itu agar tahu bahwa ada seorang istri yang wajib dia bahagiakan tidak hanya mencukupi lahirnya saja tanpa peduli kebutuhan batin pun harus tercukupi.
__ADS_1
"Mas," suara Deefa yang lembut menyapa telinga Raffan ketika pria itu tengah menyantap sarapannya sebelum pergi ke kampus.
"Hhmm," hanya deheman sebab dia masih fokus menghabiskan sarapan yang tinggal satu sendok.
Deefa menunggu suaminya menyelesaikan sarapannya lebih dulu sebelum membicarakan satu hal yang kemarin sempat Ayah mertuanya tawarkan padanya.
Kunyahan di dalam mulut Raffan sudah tertelan sempurna membuat dia mengambil air lalu meminumnya sampai setengah.
"Apaan?" tanya Raffan melihat mata Deefa yang memang selalu terlihat sendu dan menyejukkan bagi siapapun yang memandangnya, Raffan sadar itu karena setiap kali dia memandang kedua mata itu selalu merasa terjerumus dan terperangkap ke dalamnya, membuatnya terkadang lupa pada bahwa ada seorang wanita lain yang sedang dia dekati.
"Kemarin Ayah menawarkan Deefa untuk mengajar di TPA milik teman Ayah," ucap Deefa.
Kemarin Ayah mertuanya sempat menghubunginya dan menawarkannya untuk mengajar anak-anak membaca Alquran mengingat dulu ia adalah seorang guru ngaji di pesantren, bukankah terasa sia-sia jika ia tidak membagi ilmunya dengan baik.
Sejujurnya ia sudah langsung ingin mengiyakan tawaran dari mertuanya itu, tapi mengingat statusnya yang sebagai seorang istri membuat ia tidak bisa mengambil keputusan begitu saja tanpa bertanya dan juga tanpa ijin dari suaminya.
"Terus?" tanya Raffan dengan nada cuek.
"Deefa minta ijin Mas Raffan untuk mengajar di.."
"Terserah Lo Deefa, Lo mau ngapain ya itu urusan Lo ngapain juga mesti ijin sama gue," ketus Raffan menyela perkataan Deefa yang belum selesai.
Mata Raffan berputar dengan jawaban Deefa, jelas Deefa akan mulai menceramahi dirinya jika dia tidak segera memberikan jawaban.
"Iya gue ijinin, dah gue mau berangkat," kata Raffan seraya bangkit dari duduknya membawa memakai tas punggungnya.
"Tempatnya lumayan jauh dari sini," kata Deefa yang mengikuti langkah suaminya.
"Nggak apa-apa Deefa, daripada Lo bosen di rumah kan lebih baik Lo berkegiatan, tapi gue nggak bakal bisa anter apa lagi jemput, jadi jangan minta hal itu, oke!" cecar Raffan dengan tegas.
Deefa mengangguk pelan.
"Assalamu'alaikum ustadzah Adeefa Ranaya," ucap Raffan dengan senyum mengejek.
"Wa'alaikumsalam," sahut Deefa berdiri diambang pintu menatap Raffan yang sudah berjalan cepat menuju motornya, pria itu selalu menghindar saat Deefa ingin mencium tangannya padahal itu menunjukkan rasa hormatnya seorang istri pada suami.
__ADS_1
*****
Di kampus Agam dan Gumay baru saja sampai lalu memarkirkan kendaraan mereka masing-masing di parkiran yang sudah di sediakan, Agam dengan mobilnya di parkiran khusu mobil dan Gumay di parkiran motor yang tidak terlalu jauh.
"Gimana sama sepupunya Raffan?" tanya Gumay ketika Agam menghampiri setelah memarkirkan mobilnya.
Agam menggeleng, "gue tanya namanya aja nggak di kasih tahu sama dia," sahut Agam lemah.
Sejak Deefa datang ke bengkel dan sejak hari itu juga Agam terus saja kepikiran wanita berkerudung itu, berusaha menanyakan pada Raffan tapi temannya itu terus mengelak bahkan seringkali mengalihkan pembicaraan pada urusan bengkel yang ujung-ujungnya pertanyaannya tidak pernah mendapatkan jawaban.
"Ya jangan tanya dialah, Lo tanya sana sama Ustad Imran," saran Gumay yang malah mendapat kepalan tinju dari Agam.
"Bukannya dapat jawaban malah dapat ceramah yang ada," gerutu Agam.
"Lah bokap Lo sama bokap nya Raffan kan sama aja, harusnya Lo udah kebal lah kalo denger ceramah doang mah."
"Lama-lama panas juga May kalau di pantengin terus mah," seloroh Agam.
"Wah ketularan si Raffan Lo, jangan-jangan kalau di ngajiin bakal kepanasan lagi," kelakar Gumay yang kali ini mendapatkan tonjokkan maut dari sang teman.
"Peak Lo, ya kalau kepanasan gue nggak bakal bisa ngajarin anak-anak di TPA bokap gue!" dengus Agam.
Selama ini memang Agam turut serta menjadi guru mengaji di TPA milik Ayahnya, meski tidak setiap hari kesibukannya menjadi anak kuliahan serta usaha bengkelnya hanya memberinya waktu dua hari saja dalam seminggu untuk mengajar anak-anak itu membaca ayat-ayat suci yang selebihnya akan di gantikan oleh guru yang lain.
"Oh iya lupa, Lo kan ustadz Agam Dianggara maafkan saya yang salah bicara," kata Gumay seraya menangkup kedua tangannya memohon maaf yang terkesan meledek.
Agam melirik sadis, "gue mau masuk kelas lah, ngomong sama elo tuh cuma ningkatin emosi doang."
"Hahaha."
Perkataan Agam malah mengundang gelak tawa dari Gumay yang mengekorinya menyusuri lorong menuju kelas mereka hingga akhirnya di pertemukan dengan Rio yang tengah menggoda Adik tingkat mereka.
__ADS_1
\*\*\*\*\*