
"Kita sehat kan Mas?" tanya Deefa.
Pertanyaan itu sudah Deefa lontarkan saat mereka baru saja keluar dari ruangan dokter yang memeriksa mereka.
Pagi ini sekitar pukul 9 Raffan benar-benar menepati janjinya kepada Deefa untuk melakukan pemeriksaan, membawa istrinya itu mendatangi rumah sakit untuk memeriksa kondisi mereka, tapi ternyata mereka masih harus kembali dua hari lagi untuk melakukan pemeriksaan yang lebih menyeluruh.
"Kenapa terus bertanya Deefa, tadi kan kamu dengar sendiri apa yang dokter katakan, kita masih harus menunggu hasilnya dan melakukan pemeriksaan lanjutan, mereka tidak bisa langsung menyimpulkan begitu saja apakah pasiennya sehat atau tidak hanya dengan melakukan pemeriksaan biasa," sahut Raffan menjawab kegelisahan istrinya sejak keluar dari ruangan dokter bahkan saat mereka sudah berada di dalam mobil seperti sekarang.
Sesungguhnya dia hanya ingin agar istrinya itu tenang dan tidak lagi gelisah, padahal dia sendiripun sudah sangat gelisah ketika tadi dokter mengisyaratkan untuk berbicara lebih lanjut dengannya.
"Tapi aku melihat dokter itu terus menatapku ketika selesai sedang melakukan USG," jelas Deefa.
Tadi dokter memang melakukan USG pada perutnya untuk memeriksa kondisi rahimnya dan entah apa yang dokter itu ketahui dan sembunyikan darinya karena dari sorot mata sang dokter menyiratkan sesuatu yang tidak dia ketahui sebagai manusia yang awan pada bidang medis.
Raffan mengelus puncak kepala sang istri yang dia tahu sedang sangat cemas saat ini, mencemaskan karena mereka belum mengetahui hasil dari pemeriksaan hari ini, dia hanya sedang berusaha untuk menenangkan istrinya, agar tidak membuat keadaannya malah drop seperti yang tadi dokter katakan untuk menjaga kesehatan fisik maupun batin agar benar-benar siap menerima keadaan apapun, entah apa maksud sang dokter, Raffan tidak mengerti.
Raffan tahu istrinya itu sangat cerdas bahkan melebihi dirinya, dan kalau dia yang tidak lebih cerdas dari istrinya saja sudah bisa mengetahui kalau ada sesuatu yang mengganjal dari cara sang dokter menatap seseorang lalu jangan di tanya seperti apa istrinya sekarang, jelas banyak pertanyaan dan kecemasan yang terpatri jelas di raut wajah serta sorot matanya.
"Kamu mau kemana?"
Deefa menatap sang suami yang malah bertanya mau kemana? bukankah mereka mau pulang, setelah berjam-jam lamanya mondar-mandir di rumah sakit menjalani pemeriksaan apa lagi yang ingin mereka lalukan? bukankah sebaiknya pulang ke rumah dan istirahat, dokter juga menyarankan mereka untuk istirahat kan? jangan terlalu banyak menguras tenaga untuk hal yang tak penting.
"Dokter tadi meminta kita untuk banyak istirahat Mas," papar Deefa menganggap mungkin saja suaminya lupa pada peringatan yang dokter katakan pada mereka.
"Kita hanya jalan-jalan atau makan di luar Deefa, bukannya akan memindahkan gunung dari Utara ke selatan atau membantu kera sakti mencari kitab suci dari timur ke barat," kelakar Raffan yang sebenarnya untuk menutupi kegundahan hatinya.
Deefa mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban yang Raffan berikan, bukan itu yang Deefa maksud, iya diapun mengerti mereka tidak akan memindahkan gunung apa lagi membantu seekor kera bersama rombongannya mencari kitab, candaan itu kenapa harus Raffan katakan di saat dia sedang tidak ingin bercanda, di saat ada beban yang perlahan mengikis kesehatan mentalnya.
"Aku tidak mau, aku mau langsung pulang ke rumah lalu masak untuk kita berdua," ucap Deefa dengan suara yang sangat kecil.
Raffan tidak mau memaksa karena nantinya mereka malah jadi bertengkar karena sama-sama punya keinginan, hingga akhirnya dia lalu membatalkan niatnya untuk mengajak istrinya berjalan-jalan dan juga makan di luar, istrinya malah lebih senang masak sendiri ketimbang harus makan di luar, sebagai seorang suami memang sudah seharusnya dia lebih banyak mengalah pada sang istri.
__ADS_1
*******
"Gimana keadaan Lo?" sore ini selepas kuliah Fara mendatangi rumah sakit tempat Gumay di rawat, berniat untuk melihat keadaan pria yang dengan bodohnya bertindak bak pahlawan untuk menyelamatkan dirinya dari penculikan yang dilakukan oleh Marco dan teman-temannya.
Pria konyol itu datang seorang diri dengan begitu beraninya padahal yang diminta datang bukanlah dia melainkan Raffan sebab yang Marco incar adalah mantan kekasihnya itu.
"Lo bisa lihat sendiri keadaan gue ini gimana, mata Lo kan masih bagus belum rabun apalagi buta!" ketus Gumay yang selalu saja berkata sesuka hatinya terhadap wanita yang jelas-jelas sedang menunjukkan kepedulian terhadapnya.
Fara mendengus kesal dengan jawaban ketus tak bersahabat yang keluar dari mulut si pria yang saat ini masih tergolek di tempat tidur rumah sakit dengan perban di kaki serta tangannya.
"Muka Lo masih biru-biru tapi mulut Lo itu tetap saja ngeselin," omel Fara tak senang dengan perlakuan Gumay.
Tidakkah pria itu mau bicara lebih pelan dan tidak ketus kepadanya? dia sudah repot-repot datang ke rumah sakit dalam keadaan hujan besar dengan membawa buah yang siapa tahu bisa membuat pria itu cepat sembuh nantinya, eh malah mendapat sambutan yang luar biasa menyebalkan.
"Gue habis berantem bukannya kena struk!" sahut Gumay masih dengan sangat asal.
Fara mendengus kesal, "gue pulang aja lah," katanya kemudian mulai tidak betah dengan sikap Gumay.
"Lo baru datang bisa-bisanya malah langsung pulang," oceh Gumay yang raut wajahnya langsung berubah drastis mendengar wanita yang sebenarnya sangat dia harapkan itu malah mengatakan ingin pulang.
"Tuh bawa apa tuh?" Gumay tidak menggubris tudingan dari Fara, karena sekarang dia malah menanyakan apa yang ada di kantong plastik yang tengah di tenteng oleh Fara, wanita yang membuat dia gemas sekaligus kesal dalam waktu bersamaan.
Fara melirik tangannya yang menenteng kantong berwarna putih, "sampah! mau gue buang!" oceh Fara.
"Gue jadi tong sampahnya, sini buang ke gue," pinta Gumay sambil menadahkan tangan meminta Fara menyerahkan kantong itu kepadanya.
Fara memberikan lirikan tajam tapi kemudian kembali mendekat ke arah tempat tidur dimana Gumay sedang duduk dengan wajah yang penuh harap.
__ADS_1
Fara pun memberikan kantong berisi buah itu ke atas pangkuan sang pria yang langsung membuka kantong guna melihat apa yang ada di dalamnya.
"Makasih ya," katanya ketika mendapat ada tiga macam buah di dalamnya.
Fara sedikit tidak percaya ketika mendengar seorang Gumay yang sikapnya ngeselin dan selalu mencari ribut dengannya mengucapkan terimakasih, apa pria itu tidak sedang mengigau? atau mungkin dirinyalah yang saat ini sedang bermimpi mendengar pria semenyebalkan Gumay mengatakan terimakasih padanya.
Nyata kah ini? telinganya tidak sedang terganggu kan?
Fara menatap intens penuh pertanyaan pada sang pria yang sekarang sedang berusaha mengeluarkan satu buah apel berwarna merah dari dalam kantong.
"Di cuci dulu," kata Fara ketika melihat Gumay malah akan langsung memakan apel yang baru dia bawa, buah itu dia beli dan langsung dia bawa ke rumah sakit sudah jelas dan pasti akan banyak debu dan kuman yang menempel di kulitnya, apa pria itu mau sakit perut karena langsung makan buah tanpa di cuci.
"Sini gue aja," pinta Fara saat Gumay malah akan turun dari tempat tidur dengan apel di tangannya, sepertinya pria itu ingin ke kamar mandi untuk mencuci apel.
Gumay pun menyerahkan apel kepada wanita yang mendadak begitu perhatian kepadanya lalu tak lupa juga membawa kantong berisi buah untuk sekalian dia cuci.
"Semoga Lo udah benar-benar move on dari Raffan," gumam Gumay menatap punggung Fara yang berlalu ke arah kamar mandi di ruang perawatannya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*