
"Iya Bu, ini Raisya udah ke kelasnya Raffan tanya sama temannya juga pada jawab nggak tahu, mungkin ibu tahu makanya Raisya telepon ibu."
Siang ini Raisya mengubungi Hayati, menanyakan Raffan yang dari pagi dia cari namun tidak ada di sudut kampus manapun, bahkan di tempat yang biasanya pria itu datangi pun sosok Raffan tidak menampakkan batang hidungnya, dia tahu Raffan dan ibunya tinggal di rumah yang berbeda dan jelas dia juga yakin ibunya itu juga tidak akan tahu kenapa Raffan tidak masuk kampus, dia menghubunginya berdalih menanyakan sedangkan tujuan yang sebenarnya hanya ingin memberitahu pada ibunya Raffan kalau pria itu tidak kuliah, memberitahu secara tidak langsung.
"Kemana ya anak itu?" Hayati tampak berpikir menerka-nerka kemana atau ada apa dengan sang anak hingga tidak masuk kuliah.
Raisya tak menjawab namun tangannya bergerak untuk membuka jarum pentul untuk membuka kerudung yang dia pakai, tidak ada Raffan lalu buat apa dia tetap memakai kain yang menutupi rambut dan membuat gerah.
Dia itu memakai kerudung hanya untuk menarik perhatian Raffan dan ibunya, membuat kedua orang itu percaya terlebih lagi ibunya Raffan bahwa dia adalah wanita baik yang sangat pantas atau cocok untuk mendampingi anaknya.
"Apa mungkin sakit ya, Sya?" pikir Hayati tentang kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Kamu sudah coba telepon Raffan?" tanyanya kemudian pada wanita yang dia gadang-gadang menjadi istri kedua dari anaknya atau kalau bisa Raffan bercerai dengan Deefa hingga Raisya jadi istri satu-satunya.
Raisya terdiam, selama ini dia tidak pernah tahu nomor handphone Raffan, berulang kali dia sudah coba meminta pada Raffan maupun teman-temannya tapi mereka itu tidak ada satupun yang mau memberitahukan seolah sudah pada kompak untuk tidak memberitahu dirinya.
"Semenjak Raffan menikah dia sudah tidak pernah mau menjawab telepon dari Raisya, Bu," aku Raisya beralasan agar dia tidak membuat Hayati curiga, andai dia mengatakan tidak tahu nomor Raffan tentu wanita di seberang sana akan curiga kan? dia yang katanya dekat bahkan sering diantar bagaimana bisa sampai tidak tahu nomor pria yang dekat dengannya.
Raisya tentu tidak akan sebodoh itu, dia sangat cerdik bahkan terkesan culas sesuai dengan julukan yang orang berikan padanya, siluman rubah, siluman ular, wanita jahat dan masih banyak lagi julukan-julukan untuknya.
"Oh begitu ya."
"Iya Bu," jawab Raisya dengan nada menyesal, sungguh dia merasa sangat bangga karena bisa memanggil wanita yang sudah melahirkan Raffan dengan panggilan yang sama dengan yang Raffan panggil, bukankah itu menjadi suatu kebanggaan untuk dirinya?
"Ya sudah kalau begitu biar ibu yang telepon saja, oh iya nanti selesai kampus bisa ke rumah ibu tidak?" tanya Hayati dengan intonasi yang sangat lembut ramah bagaikan berbicara dengan anaknya sendiri, bahkan perlakuannya ini menjadi sangat berbeda ketika dia berbicara dengan Deefa beberapa hari lalu.
"Iya Bu, kalau gitu Raisya tutup ya masih ada kelas soalnya," ucap Raisya masih terus mengumbar suara yang terdengar manis.
"Assalamualaikum."
Hoho sejak kapan seorang Raisya mengucap salam? rasanya seisi dunia pun tidak akan bisa percaya bahwa wanita itu mengakhiri telepon dengan ucapan salam, sungguh sangat berlawanan dengan dirinya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Hayati mematikan handphone kemudian jari tangannya bergerak mencari kontak sang anak agar bisa dia hubungi.
"Kok tidak aktif?" bertanya sendiri sambil menatap layar handphone yang menunjukkan panggilan terhenti.
Diapun mencoba untuk kedua kalinya namun mendapati hal yang sama, Raffan tidak bisa dihubungi karena pria itu memang sengaja mematikan handphonenya karena tahu kemungkinan ibunya akan menghubungi sudah dia duga sebelumnya.
"Handphone kamu mana?" Raffan yang padahal sedang menyetir malah menanyakan handphone milik istrinya.
"Ada di tas," kata Deefa, "kenapa memangnya?"
"Matiin coba," pinta Raffan membuat Deefa mengerutkan alis.
"Memangnya kenapa harus dimatiin? nanti kalau ada yang hubungi gimana?"
__ADS_1
"Aku ini lagi nggak mau di ganggu sama siapapun Deef, lagian juga nggak bakal ada yang hubungi kamu, toh yang biasanya telepon kamu juga kan hanya aku," papar Raffan memberi alasan agar istrinya mau melakukan apa yang dia perintahkan.
"Tapi Mas.."
"Matiin, sayang." Raffan berkata lembut namun sarat akan perintah yang tidak ingin di bantah.
"Iya." akhirnya Deefa mengalah, menurut pada apa yang suaminya inginkan karena yang dikatakan oleh suaminya itu ada benarnya, selama ini yang menghubungi dirinya ya memang hanya suaminya dulu ibu mertuanya juga kadang menghubungi akan tetapi setelah apa yang terjadi ibu mertuanya itu tidak pernah lagi menghubungi dirinya hubungannya dengan sang mertua benar-benar menjadi sangat renggang, mertuanya itu seolah memberi pembatas yang tidak boleh dilewati oleh Deefa.
"Nanti kita mampir ke pesantren dulu ya," ajak Raffan seraya melirik pada istrinya yang tengah menonaktifkan handphone.
Deefa mengangguk penuh semangat, dia juga sangat merindukan pesantren itu rindu juga dengan Umi Salamah dan Salimah, rindu saat-saat mereka mengaji bersama.
"Kenapa nomor Deefa juga tidak aktif?" gumam Hayati setelah mencoba menghubungi nomor sang menantu akan tetapi sama dengan Raffan, tidak bisa dihubungi.
Wanita itu termangu seraya menggenggam handphone di tangan kanannya yang saat ini tidak berguna sama sekali karena tidak dapat menghubungi anaknya.
Dengan pertanyaan yang langsung mencuat di dalam pikirannya diapun memutuskan untuk mendatangi rumah anak dan menantunya, memastikan apa yang sekarang ada di pikirannya.
"Mau kemana Bu?" tanya ustad Imran ketika melihat istrinya sangat tergesa berjalan menuju pintu keluar.
"Mau lihat Raffan," sahut sang istri.
"Memangnya ada apa dengan Raffan?" mengerutkan kening tak mengerti kenapa istrinya itu ingin melihat Raffan, bukankah kemarin juga Raffan baru datang ke rumah.
Wanita itu terlihat tidak peduli dengan sikapnya sendiri terhadap sang suami bahkan saat pergi pun tidak mengucapkan salam membuat ustad Imran merasakan kepalanya sakit, sangat sakit melebihi sakit yang biasanya dia rasakan membuatnya bahkan memegangi kepalanya sendiri dengan pandangan yang mulai mengaburkan penglihatannya lalu berangsur menggelap hingga akhirnya dia tidak bisa melihat apapun dan berakhir jatuh tergeletak di atas lantai tanpa ada seorang pun yang melihat.
"Lebih cepat lagi," katanya pada sang sopir yang mengangguk menurut.
Padahal sopir itu merasa sudah membawa mobil dengan cepat tapi kenapa majikannya ini masih saja meminta lebih cepat lagi, apa kecepatan mobil ini tidak bisa dirasakan?
Hayati duduk dengan sangat gelisah, perasaan tak enak entah sejak kapan mengusik hatinya, dia merasa seperti akan terjadi sesuatu hingga debaran jantungnya pun sangat kencang.
"Pintunya di gembok, Bu," lapor sang sopir kala mendapati pagar yang tergembok.
Hayati menarik napas lalu mengintip pada celah pagar ke arah rumah, melihat ke sana namun dia hanya mendapati pintu yang tertutup rapat.
"Kamu bisa loncat gak? lihat apakah Raffan ada di rumah atau tidak."
"Bisa, Bu," sahut si sopir yang mau-mau saja mendapatkan perintah seperti itu.
"Kalau gitu saya loncat pagar dulu ya Bu, ibu tunggu disini aja," kata sopir yang memang sudah cukup akrab dengan keluarga ustad Imran.
__ADS_1
Hayati menunggu dengan cemas, perasaannya makin tak karuan entah karena apa.
"Bagaimana? ada Raffan nya?" langsung menghampiri sopirnya yang baru saja mendarat di aspal setelah melompati pagar.
"Kosong Bu, jendela juga di tutup semua," lapor sang sopir seraya menepuk-nepuk tangan menghilangkan debu yang menempel akibat tadi dia menahan tubuhnya dengan kedua tangan ketika melompat dan mendarat di aspal.
"Kemana mereka pergi, nomornya tidak bisa dihubungi," gumam wanita yang wajahnya menampilkan kebingungan.
Saat tengah kebingungan memikirkan Raffan dia mendengar dering handphone milik sang sopir.
"Sardi, Bu yang telepon," lapor si sopir ketika melihat nama penjaga rumah majikannya lah yang menghubungi.
"Jawab dulu takut ada yang penting," perintah Hayati.
"Baik Bu." sang sopir lalu menjawab panggilan dari Sardi sang penjaga rumah.
"Apa?! yang benar kamu Sardi!"
Hayati mendengar sopirnya membentak penjaga rumahnya menatap penuh dengan pertanyaan.
"Ya sudah saya kasih tahu ibu," kata sang sopir yang dengan sangat tergesa mematikan sambungan telepon.
"Kenapa?" tanya Hayati merasa disebut membuat dia bertanya.
"Bapak pingsan Bu!"
****
__ADS_1