
"Raffan perlu bicara sama ibu," kata Raffan pada sang ibu yang baru saja membukakan pintu untuknya.
Raut wajah anaknya yang tampak sangat serius sudah jelas meyakinkan sang Ibu bahwa apa yang ingin dibicarakan oleh anaknya itu tentu masalah Deefa, masalah wanita yang kemarin mendapat perkataan-perkataan menyakitkan darinya.
Wanita yang tadinya sudah siap untuk pergi ke supermarket guna membeli kebutuhan pokok di rumah itupun terpaksa harus menunda dan membiarkan anaknya itu masuk ke dalam rumah dengan langkah berderap menandakan gejolak marah yang ingin dia utarakan kepada dirinya.
Raffan mencari Ayahnya yang tidak terlihat, dalam kondisi seperti ini tentu dia sangat memerlukan bantuan dari sang Ayah, tanpa dia tahu kalau Ayahnya pun merasa kesulitan untuk mengendalikan istrinya, semua nasihat yang dia berikan tak ada yang diterima bahkan didengarkan pun sama sekali tidak.
"Ayah ada undangan keluar kota," memberitahu tanpa perlu ditanya sebab dari lirik mata sang anak yang bergerak kesana-kemari membuat dia paham anaknya itu sedang mencari sang Ayah.
Raffan melihat pada wanita yang sudah berpakaian rapi tentu dia tahu ibunya akan pergi keluar.
"Duduk dulu kalau mau bicara," pinta sang ibu, "ibu bikinin minum dulu."
"Tidak usah Raffan tidak lama," tolak Raffan yang memang ingin segera mengatakan maksud kedatangannya itu dengan cepat dan tidak ingin berlama-lama di rumah orang tuanya hanya berdua saja dengan sang ibu tanpa ada Ayahnya, tentu karena dia tidak mau bertengkar dengan ibunya itu karena dia yang sejak kemarin memang sudah tersulut oleh ibunya yang sudah dengan teganya memarahi Deefa.
"Tentang Deefa?" meski sudah tahu tapi masih saja bertanya, tentu itu hanya sekedar basa-basi atau memang ingin memastikan.
Raffan mengangguk mengiyakan, "Raffan minta ibu tidak perlu ikut campur dengan rumah tangga Raffan, apalagi sampai memarahi Deefa, dia tidak salah apa-apa, yang berbohong itu Raffan, kalau ibu mau marah, marah sama Raffan."
"Ini bukan tentang kebohongan Raffan!" sentak sang ibu.
"Lalu? tentang Deefa yang tidak bisa memberikan Raffan keturunan, begitu?" Raffan berdecih, menurutnya ibunya itu memang tidak memiliki hak apapun untuk turut campur menuntut apa yang dia saja menerima, bukankah yang menjalani serta merasakan kedepannya andai dia memang tidak dikaruniai anak.
"Itu bukan urusan ibu, toh Raffan yang menjalani."
"Tapi kamu anak ibu!"
"Siapapun bahkan tahu kalau Raffan ini memang anak ibu, anak ibu satu-satunya yang sekarang tengah ibu tuntut untuk memberikan keturunan, tanpa tahu seperti apa dan bagaimana perasaan Raffan!" balas Raffan tak kalah kencang.
__ADS_1
"Kamu pun sadar kamu hanya anak satu-satunya ibu, bukankah harusnya kamu berpikir jangan jadi egois hanya karena mencintai!"
"Ibu yang egois, berkehendak tapi tidak peduli pada perasaan orang lain," keduanya terlibat adu mulut saling sahut, andai saat ini ada ustad Imran mungkin pria itu akan pusing setengah mati mendengarkan keduanya tanpa bisa menghentikan karena keduanya yang sama-sama keras tidak mau mengalah.
"Jangan terlalu naif setiap orang yang sudah berumah tangga tentu menginginkan kehadiran anak, tidak perlu terlalu mengagungkan cinta."
"Apa? Raffan mengagungkan cinta? Raffan menikah saja atas keinginan Ibu dan Ayah, Raffan sudah menolak tapi ibu dan Ayah punya keinginan sendiri hingga akhirnya Raffan sebagai anak menuruti mengikuti apa yang kalian inginkan, bahkan ibu sendirilah yang memilih Deefa untuk Raffan, lalu sekarang setelah Raffan menginginkan Deefa tidak mau ada siapapun yang mengusiknya, tapi ibu Raffan sendiri yang malah menjadi pengusik membuat ketentraman rumah tangga Raffan terganggu, apa pantas sekarang ibu menyalahkan Raffan? ibu aneh!" tuding Raffan tak bisa membaca jalan pikiran dari ibunya yang seolah seenaknya saja masuk ke dalam urusan pribadinya.
"Bukan kapasitas ibu untuk masuk!" seru Raffan dengan kedua telinganya berkedut dan memerah, telinganya itu sejak tadi terasa panas mendengar setiap kalimat yang dilontarkan oleh wanita yang mestinya dia hormati, namun setelah hari ini apakah dia masih bisa untuk tetap menghormati ibunya itu?
Sang Ibu memberikan tatapan nanar, miris dengan anaknya yang sekarang menjadi sangat berani menjawab semua yang dia katakan, menentang dengan keras bahkan memasang wajah yang sarat akan kemarahan.
"Dulu sekalipun kamu anak yang nakal dan sulit diatur tapi ibu tidak pernah mendengar kamu berkata keras pada ibu apalagi sampai membentak, inikah yang kamu dapatkan setelah kamu menikah dengan Deefa? apa ibu salah pilih?"
Kening Raffan mengerut mendengarnya, saat ini ibunya kembali menyalahkan Deefa, benar-benar menyerang istrinya mencari setiap kesalahan yang bahkan tidak pernah Deefa lakukan, dia tidak merasa berubah dia tidak merasa Deefa membuatnya menjadi anak durhaka, Deefa tidak pernah memintanya untuk melawan ibu kandungnya, lalu sekarang telinganya mendengar sang ibu menyalahkan istrinya.
"Apapun yang Raffan lakukan hari ini dan mungkin nanti itu murni keinginan Raffan, bukan Deefa yang meminta, bukan Deefa yang merubah Raffan menjadi tidak hormat pada ibu, jadi Raffan mohon berhenti menyalahkan Deefa." Raffan berkata gemas dengan rahangnya yang mengeras.
Raffan membuang napas berat menatap pada ibunya, "tidak bisa Bu, tidak bisa seenaknya mengambil keputusan sedangkan Raffan sediri belum setuju bahkan mungkin Raffan tidak akan setuju," beber Raffan gelisah.
"Bisa! ibu akan melakukan apapun untukmu dan kamu hanya tinggal menurut!"
"Mau cari wanita yang bagaimana lagi? apa ibu yakin dengan pilihan ibu nantinya? sedangkan Deefa saja ibu sendiri yang memilih," Raffan mengingatkan bahwa wanita yang sekarang tengah terus-terusan disalahkan oleh ibunya adalah pilihan sang ibu.
"Ibu akui ibu sudah salah, maka dari itu ibu berusaha untuk memperbaikinya."
"Memperbaiki dengan cara membuat Raffan poligami? Raffan tidak sanggup poligami!" kata Raffan tegas.
"Jika tidak mau poligami kamu bisa menceraikan Deefa," ucap sang ibu dengan sangat ringan tanpa beban sama sekali, seolah dia bukan seorang wanita.
__ADS_1
Raffan mengelus dadanya tak habis pikir dengan perkataan sang ibu rasanya dia tidak sanggup lagi mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Ibunya itu, beruntung dia tidak mengajak Deefa jika tidak mungkin istrinya itu sudah benar-benar hancur sekarang merasakan betapa menusuknya apa yang terucap dari bibir sang ibu.
"Kenyataannya bukan Raffan yang berubah tapi ibu yang sudah sangat berbeda, ibu berubah menjadi seorang ibu yang kejam."
"Raffan tidak ingin melawan pada ibu, jadi Raffan mohon berhenti mengganggu apalagi sampai menyalahkan Deefa," pinta Raffan menunjukkan keresahannya.
"Kalau begitu turuti ibu, menikah lagi dengan wanita lain."
Sungguh saat ini Raffan merasakan hati serta kepalanya sangat mendidih, rasa emosi yang membuar darahnya naik dengan cepat ke kepala menjadikan napasnya naik turun, untuk sesaat dia memejamkan kedua matanya berusaha untuk mengendalikan diri agar dia tidak terpancing, bukankah dia datang ke rumah ibunya untuk berbicara baik-baik tapi kenapa setelah melihat wajah ibunya dia teringat dengan perlakuan ibunya itu terhadap Deefa membuat dia akhirnya terpancing.
"Raffan akan turuti ibu."
Sang ibu mengukir senyum mendengar jawaban sang anak, terlihat senang dengan tarikan napas yang menjadi sangat normal ketika anaknya berkata akan menurut.
"Tapi Raffan minta waktu."
"Waktu?" sang ibu menyipitkan mata.
"Dua tahun, Raffan minta dua tahun andai Deefa tidak hamil juga ibu bisa melakukan apapun yang ibu mau," ucap Raffan dengan hati yang sebenarnya tidak terima dan tentu marah namun dia juga sudah berjanji pada Deefa, sambil berharap kedua wanita itu akan berubah pikiran.
Sang ibu yang tadinya memperlihatkan wajah senang pun kembali berubah dengan cepat, menurutnya waktu dua tahun akan terbuang percuma karena jika Raffan menikah sekarang tentu dalam dua tahun itu Raffan sudah akan punya anak.
"Tidak bisa," ibunya menggeleng menolak permintaan yang anaknya ajukan membuat Raffan menegakkan tubuhnya dan menatap pada sang ibu yang juga tengah menatap padanya.
"Ibuuu." Raffan memanggil lemah tak berdaya atas perkataan ibunya.
"Mulai dari sekarang kamu hanya tinggal mempersiapkan diri," ucap wanita yang beranjak berdiri, "ibu mau pergi belanja, di meja makan ada rendang kesukaan kamu, makanlah dulu," tambah sang ibu seraya menghampiri anaknya lalu mengelus rambut anak semata wayangnya sambil berucap, "semua yang ibu lakukan untuk kebaikan dan kebahagiaan kamu."
Raffan tidak merespon apa yang ibunya ucapkan pria itu hanya duduk diam tak berdaya di ruang tamu rumah yang selama ini terasa hangat untuknya sekalipun dia sangat sering membuat masalah, tapi sekarang dia menjadi sangat tidak nyaman untuk berlama-lama di rumah itu, tepat setelah mobil yang membawa ibunya pergi dia segera keluar dari rumah itu, tanpa peduli di meja makan ada makanan kesukaannya, saat seperti ini apa dia masih bisa makan? tentu saja tidak!
__ADS_1
\*\*\*\*