Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Terpuruk


__ADS_3

Sudah lebih dari dua hari Raffan tidak pulang ke rumah, memberi kabar dia ada dimana pada istrinya pun tidak pria itu seolah ingin benar-benar memberi pelajaran pada istrinya bahwa kehadiran dia dalam hidup sang istri sangat berarti, tapi istrinya yang bernama Deefa Ranaya itu sungguh sangat keras kepala, keras hati dan egois karena yang dia pikirkan tetap saja mertuanya.


Deefa bingung tak mengerti sebab suaminya tidak bisa dihubungi, nomor teleponnya sama sekali tidak aktif bahkan semua pesan yang Deefa kirim sejak kemarin tidak ada satupun yang masuk masih saja centang satu.


"Kamu benar-benar marah Mas, kamu kecewa tapi jujur aku akan lebih kecewa kalau sampai membuat hubungan kamu dan ibu kandungmu tidak baik karena aku, aku pun sama dengan mu Mas, aku ingin bersama denganmu menemani kamu sampai akhir hayat tapi saat kita bertahan bersama bukankah akan ada yang terluka dan kecewa melebihi kita?"


Setiap tutur kata yang Deefa lontarkan membuat hatinya teriris sendiri dia juga tidak dapat membayangkan hidupnya apabila jauh dari suaminya, baru beberapa hari saja sudah membuatnya tak karuan membuatnya terpuruk lalu apakah dia sanggup melihat suaminya menikah lagi di depan matanya? sanggupkah dia memberi restu?


Tangisannya kembali terdengar meski sebenarnya dia sudah sangat lelah untuk menangis karena sudah sejak Raffan pergi dia tidak kuasa menahan air mata yang terlampau deras menghujani wajahnya.


Saat mendengar suara mesin mobil yang masuk ke dalam halaman rumah Deefa pun bergegas untuk keluar dia berpikir itu adalah suaminya yang sudah pulang.


Sambil berjalan menuju pintu Deefa menyapu air mata dikedua pipinya seraya merapikan pakaian serta kerudung yang dia kenakan, begitu sudah berada di depan pintu dia menarik napas lalu membuangnya perlahan dan memperbaiki gurat wajahnya agar tidak lagi menampilkan kesedihan, mencoba untuk memasang senyum tapi seketika senyum itu menghilang seiring dengan pintu yang dia buka dengan lebar.


Senyum yang dia ukir lambat-laun memudar mengetahui siapa yang datang, bukan suaminya yang dia dapati tengah turun dari mobil melainkan ibu mertuanya datang diantar oleh sopir.


Dengan menenteng tas wanita tua itu melenggang menuju pada menantunya yang sudah berdiri di depan pintu dengan wajah yang tidak biasa.


"Assalamualaikum," ucap salam sang ibu mertua kepada menantunya yang seperti menyambut kedatangannya padahal menantunya itu mengira dirinya adalah suami yang beberapa hari tidak pulang ke rumah tanpa memberi kabar apapun dan sedang berada dimana pria itu.


"Wa'alaikumsalam." menjawab salam seraya menyambut uluran tangan dari mertuanya lalu dia kecup dengan penuh sopan dan hormat sebagaimana seorang menantu terhadap mertuanya.


"Raffan sudah pulang kuliah belum Deef? ibu sejak semalam telepon dia nggak aktif, pesan juga nggak masuk," tanya wanita yang langsung masuk ke dalam rumah setelah menantunya memberi jalan untuknya.


Kening Deefa mengerut mendengar pertanyaan yang ditanyakan oleh mertuanya, "memangnya Mas Raffan tidak ke rumah ibu?"


"Nggak, dia terakhir ke rumah itu ya waktu kalian nginep, setelah itu Raffan tidak pernah datang, ibu telepon juga dia nggak mau jawab malah di reject," aku sang ibu yang sungguh membuat Deefa terkejut.


Wanita yang mengira kalau beberapa hari ini suaminya menginap di rumah orang tuanya sontak menunjukkan wajah yang penuh pertanyaan, tentang kemana suaminya beberapa hari ini kalau ternyata tidak ke rumah orang tuanya, tidur dimana?


"Deef?" ibunya menegur ketika mendapati dirinya mematung dengan mata yang tak berkedip.


"Mas Raffan sudah empat hari tidak pulang, Deefa pikir Mas nginep di rumah ibu," ucap Deefa yang kini menjadi tak mengerti terlebih lagi saat ibu mertuanya balas menatap dia dengan mata yang memicing penuh tanya.


Sang mertua tentu saja terkejut mendengar pengakuan dari menantunya, dia datang untuk memberitahu tentang dokter dan ingin mengajak Raffan untuk periksa ulang, tapi dia malah mendapat kenyataan kalau anaknya itu malah tidak ada di rumah bahkan tidak pulang selama berhari-hari, tentu ada yang terjadi antara pasangan suami istri itu dari raut wajah menantunya jelas terlihat ada masalah.


"Kalian bertengkar? karena tidak mungkin Raffan pergi dari rumah tanpa alasan terlebih lagi beberapa waktu lalu rela bertengkar dengan ibu untuk membela kamu, rasanya tidak masuk akal kalau dia sampai meninggalkan kamu di rumah sendiri," ucap sang ibu mertuanya menatap pada Deefa yang menunduk tidak berani mengangkat wajahnya karena faktanya memang mereka bertengkar berdebat lebih tepatnya karena keras kepala yang masing-masing mendominasi ingin dituruti tanpa ada yang mau mengalah.


Jelas dalam hal ini Raffan tidak akan pernah mengalah, permasalahan mereka sangat rumit bagi pria itu, dia tidak akan mau mengalah apalagi sampai mengorbankan rumah tangganya, Raffan memang masih muda belum punya pengalaman apapun tapi ketika dia merasa apa yang dia pikirkan adalah benar dia tidak akan mau mengalah.

__ADS_1


Wanita yang bahkan belum sempat duduk sejak datang itupun menggelengkan kepala dengan sangat keras tidak percaya bahwa Raffan sampai pergi dari rumah.


Dada Deefa naik turun menandakan napas yang tidak stabil dia sungguh hanya bisa menunduk menatap kakinya yang menapak pada lantai di ruang tamu.


Ibu mertuanya itu seolah tidak sadar akan perbuatannya, apa wanita itu lupa semua yang terjadi pada anak dan menantunya itu karena dirinya karena tuntutan darinya dan sekarang dia masih dengan entengnya bertanya kalian bertengkar?


Dada Deefa sangat sesak dia tidak tahu harus berkata apa, dia tidak tahu harus jujur atau tidak dan dia tidak tahu bagaimana meminta suaminya untuk segera pulang karena dia yang rasanya tidak sanggup harus menghadapi ibu mertuanya.


Ibu mertua yang dulu baik dan menyambut hangat kehadirannya kini malah seperti mertua-mertua dalam sinetron, mertua yang tidak bisa menerima menantunya dan mungkin akan lebih parah lagi ketika tahu bahwa dia tidak akan bisa memberikan cucu.


Sekuat-kuatnya iman seorang manusia tentu akan tetap merasa rapuh dan terpuruk apabila harus menghadapi permalasahan yang sebegini rumit, masalah anak tentu bukan masalah yang bisa dianggap sepele karena ini menyangkut dua keluarga bukan hanya antara dia dan Raffan saja, ada dua keluarga terutama keluarga suaminya yang sangat menginginkan ada tangisan bayi dalam keluarga mereka.


****


"Lo nggak mau pulang Raf?" Rio menegur Raffan yang memang tidur di bengkel, "nggak kasihan sama istri Lo, mana Lo nggak aktifin handphone sama sekali," tambah Rio mengingatkan sang teman yang baru saja menyelesaikan catatannya.


Raffan menutup buku lalu duduk diam tak bergerak hanya hembusan napasnya saja yang terdengar itupun sangat berat.


Teman-temannya yang lain pun juga tahu kalau empat hari ini Raffan tidur di bengkel, tidak pulang ke rumahnya bahkan ketika kuliah pun berangkat langsung dari bengkel, tingkah lakunya seperti seorang bujangan yang tidak punya tanggung jawab pada anak orang, padahal di rumah istrinya sangat mencemaskan dirinya.


Bukannya menjawab Raffan malah berlalu pergi meninggalkan kelas karena memang mata kuliah baru saja selesai, dia mengabaikan temannya yang padahal masih mengajaknya bicara.


Temannya itu saat di kampus tidak membuka mulut menjawab ketika diajak mengobrol dan saat di bengkel pun bertingkah yang sama sungguh temannya semua dibuat geleng-geleng kepala pusing menghadapinya.


"Mana Agam nggak ada, kan cuma si Agam yang omongannya di dengar sama si Raffan," katanya lagi tak peduli jika sekarang dia ini hanya seorang diri di dalam kelas Gerry dan Gumay sudah lebih dulu ke bengkel karena memang harus menyelesaikan dua motor yang sejak kemarin menginap menemani Raffan di bengkel, motor pelanggan mereka yang harus di service.


Bahkan Gerry dan Gumay pun setuju kalau hanya Agam lah yang omongannya akan masuk ke telinga Raffan tanpa harus keluar lagi, ibarat Agam adalah pawangnya Raffan si raja drama yang sepertinya kembali membuat drama membuat pusing teman-temannya, ditawari makan geleng kepala ditawari minum tidak menjawab, satu orang stres yang lain pun ikut stres.


Rio menghela napas berat dengan mulut yang masih bergerak entah membicarakan apa, dia berjalan keluar dari kelas yang memang sudah tidak ada siapa-siapa lagi di dalamnya.


Raffan sudah masuk ke dalam mobilnya dan hendak pergi dari halaman parkir tapi Raisya yang entah muncul darimana tiba-tiba sudah berdiri di depan mobil menghalangi jalan.


Raffan memejamkan mata lalu membukanya kembali, "minggir," katanya pelan namun penuh dengan ketegasan.


"Nggak mau!" tolak Raisya keras kepala bahkan matanya menatap tanpa berkedip pria di dalam mobil.


"Gue mau pulang, nggak minggir gue tabrak!" Raffan sudah mengancam tapi ancamannya seperti tidak berarti apa-apa, sama sekali tidak mempan untuk membuat Raisya minggir dari depan mobilnya.


"Tabrak aja, aku rela di tabrak asalkan kamu tanggung jawab," tutur Raisya makin tak tahu malu.

__ADS_1


Bibir Raffan berkedut kedua matanya menyipit mendengar kalimat menjijikkan yang baru saja Raisya lontarkan, kalimat yang seolah merusak indera pendengarannya serta membuatnya berdengung.


Raffan sudah memainkan gas serta rem memberi ancaman tapi tentunya dia tidak akan segila itu untuk melakukan apa yang dia katakan tadi, dia masih sangat waras sekalipun otak kepalanya terasa mau mendidih dengan permasalahan yang bahkan belum bisa dia pastikan apakah akan bisa akan menyelesaikannya dengan baik atau tidak, rumah tangganya serasa diujung tanduk dan sekarang dia malah di ganggu oleh wanita gila yang selalu giat menambah rusak suasana hatinya.


Rahang Raffan sudah makin mengetat kala wanita di depan mobil tak juga menyingkir malah makin sengaja merentangkan kedua tangannya dengan lebar.


"Nih cewek gila kayaknya!" rutuk Raffan dengan ekspresi tak percaya bahwa ada wanita yang melakukannya seperti Raisya ini, sungguh dia merasa sial karena menjadi orang yang disukai oleh wanita tidak waras macam Raisya.


"Aku cinta kamu Raffan!" teriak Raisya tanpa malu bahkan malah tersenyum lebar ketika mendapati sorakan dari hampir seluruh penghuni kampus itu, sebagian mahasiswa bahkan bertepuk tangan melihat tingkah Raisya.


Raffan menggeram dengan raut wajah yang menunjukkan ketidaksukaan, tingkah Raisya malah makin membuatnya kesal hingga membunyikan klakson mobilnya.


Tiiin! tiiiin! tiiin!


Berulang kali seperti mengusir wanita tak tahu malu di depan sana yang dengan gilanya malah tersenyum seolah bangga dengan apa yang dia lakukan, tanpa sadar sebenarnya dia sudah mempermalukan dirinya sendiri, memangnya wanita mana yang akan bisa melakukan tindakan seperti dia itu seolah rasa malunya berserakan dijalanan atau mungkin memang sudah tidak ada urat malu yang tertanam di tubuh Raisya.


Sudah di klakson sedemikian kencang dan berulang kali bukannya membuat Raisya menyingkir melainkan wanita itu malah bergerak kegirangan seolah suara klakson itu adalah alunan musik yang mengiringi gerakan tubuhnya, dia seolah tidak peduli pada suara-suara mahasiswi yang membicarakan tingkah lakunya.


"Raisya otaknya lepas kali ya, heran gue tingkahnya makin hari makin frontal aja," celetuk kata salah satu wanita kepada dua orang temannya yang turut serta melihat tingkah laku teman kampusnya.


"Merasa paling cantik terus kelamaan jomblo jadinya ya begitu, agak-agak geser apalagi selama ini kan Raffan nggak pernah ngeladenin dia, jangankan ngeladenin di tengok juga nggak!" timpal wanita yang kedua.


"Ya mana mau Raffan sama dia, dari Fara terus ke dia ya anjlok banget namanya, si Raisya kan minus nggak ada plusnya sama sekali." sambung wanita yang terkahir dengan senyuman sinis melihat Raisya yang sekarang malah tengah berusaha masuk ke dalam mobil Raffan.


"Apa susahnya sih buat jawab pernyataan cinta aku?" kata Raisya yang kesulitan membuka pintu mobil sebab Raffan menguncinya tidak membiarkan dia masuk.


"Gila Lo!" maki Raffan lalu mengambil kesempatan untuk pergi ketika wanita konyol itu berusaha untuk membuka pintu mobilnya.


"Raffan, kamu keterlaluan!" oceh Raisya saat dirinya jatuh terduduk di aspal parkiran karena mobil Raffan yang tancap gas begitu saja.


"Sialan!" makinya seraya berusaha bangkit lalu menepuk-nepuk tubuh belakangnya, ini sudah kedua kalinya dia dibuat begini oleh Raffan, dua kali dia memaksa untuk masuk ke dalam mobil dan dua kali juga dia gagal berduaan dengan pria itu.


Hahahaha!


Saat sedang kesal dia malah mendengar suara tawa yang sangat kompak dari penghuni kampus, tawa yang juga sangat kencang seolah ada orang yang mengomandoi.


Raisya mengacungkan jari tengah lalu menyeringai dan beranjak pergi dengan langkah kaki yang menghentak membuat tawa mahasiswa dan mahasiswi itu kembali pecah mentertawakan tingkahnya.


***

__ADS_1


__ADS_2