Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Gelut yuk..


__ADS_3

"Mau kemana lagi?" tanya Raffan pada sang istri yang hendak turun dari atas tempat tidur.


Ini sudah menginjak pukul 10 malam keduanya sudah bersiap untuk tidur tapi Deefa malah ingin turun lagi dari kasur empuk yang sudah siap menjadi pelabuhan mereka nantinya.


"Deefa belum beresin buku-buku di ruang baca, tadi Deefa habis baca soalnya," sahut Deefa, tadi selepas makan malam dirinya memang menyempatkan diri membaca di ruang yang banyak sekali bacaan tentang Agama, membantunya menambah pengetahuan agar dirinya bisa mengajarkan suaminya lebih baiknya.


Bukankah seorang guru juga banyak belajar lebih dulu sebelum mengajari muridnya? dan itulah yang Deefa lakukan saat ini, memperdalam ilmunya sebelum mengajarkan pada sang suami agar tidak salah nantinya, sebab diapun hanya manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan.


"Bisa besok aja nggak? ribet banget kamu tuh, tiap mau tidur ada aja yang di kerjain!" protes Raffan dengan bibirnya yang maju sekian centi menampakkan kalau dia tidak suka dengan apa yang mau istrinya itu lakukan.


Ketimbang suaminya nyereocos lebih baik Deefa memilih untuk tidak jadi merapikan buku-buku yang telah dia baca, kembali merilekskan tubuhnya bersandar di tempat tidur.


"Nah gitu dong," kata Raffan puas ketika sang istri menuruti perkataannya.


"Ya sudah tidur sekarang," ucap Deefa menarik selimut dan hendak merebahkan tubuh.


"Gelut yuk."


Satu kalimat yang terlontar dari mulut suaminya membuat Deefa bingung tak mengerti, menatap pada pria yang sekarang memainkan alisnya dengan bibir yang melengkung.


"Mas Raffan tidak salah bicara?" tanya Deefa mengerutkan kening.


Bukankah gelut itu artinya berkelahi berantem bertengkar? kenapa suaminya mengajaknya melakukan itu, memangnya dia mau berkelahi dengan istri sendiri? ingin mencelakai istrinya? katanya sayang meski belum cinta tapi setidaknya ada rasa sayang yang tadi pria itu katakan, bukankah kalau sayang itu melindungi? lalu kenapa suaminya malah mengajaknya gelut?


"Nggak," jawab Raffan datar.


"Mas ingin menyakiti Deefa? dosa Mas menyakiti fisik istri," tutur Deefa.


"Lah?" Raffan malah jadi bingung kenapa istrinya malah membawa-bawa dosa padahal saat ini dia hanya ingin memberikan pahala untuk sang istri.


"Mas mau berkelahi sama Deefa? Mas mau praktekin yang kayak di video tadi?"


Raffan malah menggaruk kepalanya ketika sekarang Deefa malah mengungkit tentang video perkelahian yang tadi di kirim oleh Gerry.

__ADS_1


"Jadi kamu pikir aku ini ngajak kamu berkelahi?" Raffan akhirnya mengerti kalau Deefa sudah salah sangka.


Deefa mengangguk, "gelut itu artinya berkelahi kan? anak kecil juga tahu," cetus Deefa dengan bibirnya yang mengerucut.


"Ah nggak gaul kamu mah," cerca Raffan menepuk lembut bibir sang istri membuat bibir itu kembali normal.


Raffan merajuk sebab istrinya masih juga tidak mengerti, kesal kaki sakit pinggang masih sedikit nyeri dan sekarang si kecil malah mendadak minta dipertemukan dengan pasangannya eh istrinya malah tidak peka dan sangat polos, pening lah semua tubuh Raffan rata dari kepala sampai ujung kaki.


Ck!


Raffan berdecak melihat wajah sang istri.


"Aku lagi on Deefa! pengen ituan sama kamu!" jelas Raffan, "buru ih jangan sok kaget," omelnya kala mendapati Deefa menutup mulut menyiratkan kalau wanita itu tengah terkejut dengan keinginan suaminya.


"Deefa bersih-bersih dulu kalau gitu." bersiap turun.


"Nggak perlu kamu udah bersih jangan bikin aku nunggu, ini juga salah satu cara biar aku cinta sama kamu, lagipula kamu juga dapat pahala nggak akan rugi kamu, puas dapat pahala juga enak kan?" tutur Raffan panjang lebar.


Wanita itupun mengangguk membuat Raffan menyunggingkan senyuman yang menggetarkan hati Deefa.


"Nah pinter, ini baru istrinya Raffan Alawi," ujar Raffan puas dengan anggukan kepala yang Deefa berikan.


"Baca doa dulu," kata Deefa ketika Raffan sudah siap untuk menyerangnya.


Dia benar-benar harus mengingatkan suaminya agar selalu berdoa sebelum melakukan hubungan suami istri agar nantinya anak yang dia lahirkan memiliki akhlak serta adab yang baik.


Raffan mengerti, pria itupun segera mengangkat telapak tangannya menyentuh kepala sang istri, namun saat dia akan membaca doa, istrinya malah menginterupsi.


"Memangnya Mas Raffan tidak sakit? kan pinggangnya dan kakinya baru di urut sama Ayah," kata Deefa yang mendadak cemas mengingat keadaan suaminya.


"Bisa diam nggak? kalau cuma goyang kamu doang mah aku masih sanggup, sampai besok pagi juga aku ladenin!" dengus Raffan kala sang istri malah menunda-nunda.


Deefa pun mengunci mulutnya sehingga Raffan bisa memanjatkan doa dengan begitu lancar, sepertinya dia sudah sangat hafal dengan doa wajib saat berhubungan suami istri.

__ADS_1


Setelah membaca doa Raffan kembali menjatuhkan tubuhnya di samping Deefa membuat Deefa melihat tak mengerti, kenapa suaminya malah tak beraksi setelah membaca doa? tidak jadi melakukannya kah?


"Come to Papa," bisik Raffan dengan suaranya yang berat.


Astaga! suami Deefa sedang bertingkah apa lagi sekarang? meminta istrinya mendekat dengan tampilan wajah yang begitu di buat seseksi mungkin, begitu berniat untuk menggoda istrinya yang tidak memiliki pengalaman apapun tentang hubungan suami istri, meski ini bukan yang pertama baginya tapi dia tetap belum terbiasa.


"Malah bengong, sini buru!" desak Raffan tak sabar.


"Deefa bingung mesti ngapain, kan kemarin Mas Raffan yang kerja bukan Deefa," cicit Deefa saat pertama kali mereka mempertegas status suami istri mereka.


"Aku ajarin," cetus Raffan lalu dengan cepat menarik sang istri hingga membentur dada bidangnya yang masih tertutupi oleh kaos.


"Kayaknya besok aku mesti beliin baju saringan deh," celoteh Raffan kala Deefa mendekat dan sudah sangat dekat.


Celotehan suaminya itu membuat Deefa tak lagi bergerak, bingung baju saringan itu seperti apa.


"Kamu nggak usah pikirin, tinggal pakai saja," tekan Raffan, "kenapa berhenti? aku tungguin loh kamu mau apa," tutur Raffan rupanya menanti aksi dari istrinya, dia ingin tahu apa yang bisa dilakukan oleh wanita santun seperti Deefa.


"Aku boleh naik?" Deefa bertanya ragu karena dia tahu pinggang suaminya masih sakit.


"Naiklah, pinggang aku udah lebih baik," jawab Raffan mengizinkan istrinya untuk naik ke atas tubuhnya.


Tubuh istrinya itu kurus dan hanya padat di beberapa bagian saja, jadi tidak akan ada masalah baginya.


Dengan malu-malu Deefa menaiki sang suami lalu kembali bingung harus melakukan apa, wanita itu seakan mati gaya duduk diam dengan tangan yang menopang pada dada suaminya.


"Terus mau ngapain?" tanya Raffan ketika istrinya tak juga berbuat apa-apa.


Deefa menggeleng lemah, "kan Mas mau ngajarin," kata Deefa kemudian.


Mendengar itu tanpa kata lagi Raffan pun meletakkan tangannya di tengkuk sang istri lalu menariknya hingga menunduk dan wajah mereka berhadapan, langsung membuang jarak tak berguna agar bisa mengajari istrinya cara berciuman yang benar sebagai tahap permulaan sebelum permainan inti nantinya.


*******

__ADS_1


__ADS_2