Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Sudah Saling Kenal


__ADS_3

Baru juga akan pulang ke rumah yang dia tinggali bersama istrinya tapi dia malah mendapatkan telepon dari sang ibu yang memintanya untuk datang.


"Sekarang apa lagi yang mau dilakukan ibu!" gumamnya dengan rahang yang mengetat sempurna seiring dengan gemerutukan gigi karena rasa geram yang menyerang dengan cepat.


Hingga akhirnya dia melajukan mobil keluar dari pelataran kampus menuju kediaman orang tuanya dengan sangat terpaksa.


Sedang di rumah Deefa tengah kedatangan tamu, Aliya teman barunya yang kembali datang dan menemani dirinya, beruntung dia mendapat teman baru hingga sekarang dia tidak terlalu kesepian, ada Aliya yang kadang datang membawa banyak cerita tentang kehidupan wanita itu.


Deefa terhibur manakala Aliya mulai menceritakan cerita-cerita lucu hingga kadang membuat tawanya lepas sedikit membuatnya terlupa akan beban yang mengusik pikiran.


"Kamu beruntung sekali Deef," tutur Aliya entah apa maksudnya mengatakan itu sedangkan selama ini Deefa merasa tidak pernah menceritakan tentang sikap Raffan padanya, karena menurutnya itu bukan hal yang mesti diumbar terlebih lagi di zaman sekarang ini banyak sekali wanita-wanita yang sifatnya sangat melenceng dan kadang tak punya rasa malu sekalipun.


Seperti yang sempat dia alami, bisa-bisanya dia dilabrak oleh teman kampus sang suami yang mengaku-ngaku sebagai kekasih dari suaminya itu, bahkan tak tanggung-tanggung mendatangi rumahnya hanya untuk mengatakan hal yang tidak penting bahkan jauh dari kenyataan.


Maka dari itu Deefa selalu menjaga suaminya, tidak berani mengumbar-ngumbar kebaikan suaminya apalagi di depan wanita lain karena itu hanya akan membuat wanita lain merasa iri lalu akhirnya terobsesi mempunyai suami baik, kalau mencari pria yang masih singel tentu tidak jadi soal yang jadi masalah bagaimana jadinya kalau wanita itu malah mengincar suaminya?


Dan ketika dia sadar dirinya tak sempurna hingga mengizinkan suaminya menikah lagi pun dia ingin wanita baik-baik dan berakhlak bagus, bukan yang tipe seperti Raisya.


Aliya mengedikkan bahunya, "aku kadang melihatnya saat akan keluar rumah, saat itu aku melihat interaksi kalian yang menurutku luar biasa, sangat berbeda dengan aku dan suamiku," papar Aliya dan itu membuat Deefa tidak nyaman karena memang tidak baik membandingkan suami mereka karena sifat pria memang berbeda-beda.


Mungkin Deefa sangat beruntung karena menikah dengan seorang Raffan Alawi yang dulunya seorang pria nakal berandalan namun kini menjadi pria serta suami yang sangat mengerti akan dirinya, mengerti semua yang dia rasakan.


"Kamu sudah mulai periksa ke dokter?" Deefa memilih untuk merubah topik pembicaraan mereka, karena apabila diteruskan malah jadi tidak bagus, karena mungkin semua kejelekan sifat suami Aliya akan dibicarakan oleh wanita itu.


"Sudah beberapa tapi hasilnya tidak memuaskan," sahut Aliya lesu.


"Kalau kamu bagaimana? katanya kamu juga sudah mulai program?" Aliya balik bertanya.


Deefa mengangguk, "sedang cari-cari.."


"Padahal kamu kan belum ada satu tahun ya, kenapa sudah sangat sibuk memikirkan tentang anak."


Padahal Deefa saja belum menyelesaikan perkataannya tapi Aliya langsung memotongnya membuatnya mengatupkan bibir.


****


"Kenapa tidak cerita tentang Raisya?" tanya sang ibu membuat dahi Raffan mengerut.


Pria itu tidak mengerti kenapa ibunya mendadak membicarakan tentang Raisya yang bahkan sama sekali Raffan tahu ibunya itu tidak mungkin mengenal wanita dengan pakaian kurang bahan namun hari ini memakai pakaian yang sangat beda.

__ADS_1


"Jangan pura-pura tidak tahu Raffan," keluh sang ibu mendapati wajah anaknya yang bingung.


"Pura-pura bagaimana? ibu ini aneh kenapa meminta Raffan datang lalu malah membahas Raisya, apa urusannya dengan ibu," tuding Raffan.


"Raisya anak dari teman lama ibu, kami bertemu tak sengaja di supermarket beberapa hari lalu, dan Raisya bilang dulu sebelum menikah kamu itu sering sekali mengantarnya pulang, kenapa tidak cerita sama ibu? kalau tahu begitu ibu akan.."


"Akan apa? akan menjodohkan Raffan dengan wanita gila itu, wanita tidak waras hanya karena dia anak dari temannya ibu! begitu?" Raffan menyela dengan ganas apa yang hendak dikatakan oleh wanita yang makin hari makin egois, mencoba mengendalikan hidupnya.


"Raffan!" bentak ibunya dengan mata yang menyorot tak suka, sangat tidak suka ketika anak dari temannya dikatakan gila oleh Raffan.


"Kenapa, memang dia itu gila kok," cetus Raffan tak peduli.


"Lagian ibu itu tidak usah mendengarkan apa yang dia katakan, dia itu pembohong! mana pernah Raffan mengantarnya pulang sedangkan melihatnya saja Raffan sudah sangat muak!" kata Raffan geram dengan kelakuan Raisya yang mengaku-ngaku sering dia antar.


"Raisya itu anak baik Raffan, ibu kenal betul dengan ibunya."


"Ibu mengenal ibunya, itu bukan berarti ibu kenal juga dengan anaknya, baru bertemu beberapa kali saja sudah bisa menilai dia anak baik!" desis Raffan tak terima saat sang ibu seolah membela Raisya tanpa tahu seperti apa wanita yang dia bela itu.


Menilai baik padahal kelakuannya selama ini minus semua tidak ada nilai plus sekalipun, dia yang kenal lebih dulu bahkan teman-teman kampusnya saja sangat tahu seperti apa Raisya si ular berbisa itu.


Hayati mendengus membuang napas, "ibu tidak mau tahu."


"Ya sudah kalau tidak mau tahu, lalu kenapa meminta Raffan datang hanya untuk membicarakan siluman ular itu!" celetuk Raffan tak peduli ketika ibunya menatapnya tak suka saat mulutnya dengan lancar menyebut Raisya siluman ular.


"Jangan ikut-ikutan tidak waras Bu!" sentak pria tak percaya apa yang baru saja keluar dari mulut Ibunya itu.


Dia harus bersikap baik dengan Raisya? apa telinganya tidak salah dengar? bersikap baik pada wanita yang bahkan sangat dia benci dan melihat wajahnya saja terasa ingin muntah lalu sekarang dengan entengnya sang ibu memintanya bersikap baik? astagfirullah!


"Mungkin dulu Raisya memang sedikit melenceng."


"Bukan sedikit, tapi memang sangat melenceng!" sambar Raffan melupakan sopan santunnya karena sejak tadi terus saja menyela saat ibunya berbicara.


"Raisya sudah berubah, bahkan dia sampai merubah penampilannya."



"Dan ibu percaya? percaya ular betina itu berubah? ck." Raffan berdecak seraya menggelengkan kepala.


__ADS_1


Hayati mengangguk, "sangat percaya sebab kita tidak ada yang tahu isi hati manusia."



"Tidak ada yang tahu? tapi dari perkataan ibu seolah ibu paling tahu bahwa ular betina itu bersungguh-sungguh sudah berubah, perkataan ibu tidak sinkron, aneh!" oceh Raffan menuding ibunya sosok yang aneh karena dengan sangat mudah percaya pada seorang Raisya.



Hayati sebenarnya terusik dengan sikap anaknya yang sejak tadi terus saja menjawab setiap dia berkata namun dia mencoba untuk mengabaikannya karena dia punya maksud lain untuk anaknya itu.



"Raffan mau pulang." Raffan sudah akan berdiri.



"Ibu berpikir untuk melamar Raisya."



Mendengar itu Raffan terhenyak kaget hampir mati serangan jantung, "apa? melamar? buat Ayah? ibu mau di madu?" rentetan pertanyaan tak masuk akal terlontar.



Mata sang ibu mendelik seram, "untuk kamu! ibu tahu Raisya pasti bisa memberikan kamu anak tidak seperti Deefa yang.."



Rahang Raffan mengetat matanya memerah tak terima mendengar Deefa dibawa-bawa.



"Sebegitu pentingkah keturunan untuk ibu? sampai-sampai rela menyakiti kamu ibu sendiri, menyakiti menantu yang bahkan pilihan ibu sendiri? Raffan tidak mengerti bagaimana bisa sesama wanita bahkan bisa dengan tega menyakiti, bukankah ibu pernah berada diposisi Deefa?"



"Tidak pernah, dulu ibu masih ada harapan untuk punya anak dan terbukti akhirnya ibu mengandung kamu, sedangkan Deefa, dia di vonis tidak akan bisa punya anak," beber sang ibu makin tidak mengontrol lagi perkataan, terus mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya.


__ADS_1


"Berbaik-baiklah pada Raisya karena dia akan menjadi istrimu."


***


__ADS_2