Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Kecewa Tak Bertepi


__ADS_3

Apa yang terjadi semalam masih jelas terasa sakitnya di dalam hati.


Semua perkataan serta tuduhan yang dilayangkan oleh suaminya tidak bisa begitu saja dia lupakan, meski dia sudah berdoa memohon pada sang kuasa untuk membantunya menyembuhkan sedikit saja luka yang menyayat hatinya.


Tapi entah kenapa rasanya sulit, teramat sulit terlebih lagi semua itu terlontar dengan lancar dari mulut pria yang menikahinya.


Jika memang tidak suka kenapa tidak memulangkan saja dirinya ke rumah orang tuanya atau ke pesantren tempat mereka menikah.


****


"Agam kemarin kesini nggak?" tanya Raffan pada ketiga temannya yang sibuk mengutak-atik motor.


Sore ini selepas kuliah Raffan mendatangi bengkelnya karena masih kesal jika berada di rumah.


Kesal tentang Agam, kesal dengan Deefa yang seperti menghindar darinya.


Bayangkan saja, wanita itu sudah tidak keluar dari kamar saat dia akan pergi, meskipun makanan sudah tersedia di meja makan tapi tetap saja Raffan merasa tinggal seorang diri.


Tidak tahu kenapa rasanya kesal saja jika Deefa mendiamkan dirinya lagi dan lagi, sepertinya rumah tangga mereka itu sangat sulit sekali untuk di jalani dengan normal.


"Kemarin sih kesini, tapi kayaknya hari ini dia nggak datang," kata Rio sambil mengambil kunci inggris dari kotak penyimpanan.


"Nggak datang?" tanya Raffan.


"Iya, dia mau pergi katanya sih sama Ayahnya," timpal Gerry yang kemarin sempat berbicara dengan Agam sebelum mereka menutup bengkel.


"Kemana?" kali ini Gumay yang bertanya.


"Kok dia nggak bilang-bilang sama gue," tambahnya.


"Emang Lo emaknya!" hardik Rio.


"Ke Jawa timur katanya sih," Gerry menjawab seraya beranjak dari posisinya yang sejak tadi berjongkok di samping motor.


Pria itu mengibaskan debu yang menempel di celana serta kaos yang dia kenakan lalu duduk di samping Raffan.


"Jawa timur?" tanya Raffan memastikan pendengarannya.


Rasanya kecemasan mendadak muncul tanpa dia tahu penyebabnya, entah kenapa mendengar "Jawa timur" membuatnya sedikit kepikiran.


Gerry mengangguk dengan bibir yang tercebik.


"Bilangnya sih begitu, dia nggak bilang mau ngapain," jelas Gerry yang selama ini memang sangat dekat dengan Agam.

__ADS_1


Raffan sungguh terdiam tidak menanggapi dia hanya sedang memikirkan ada rasa yang sangat mengganjal dalam hatinya dan semakin mengganjal lebih-lebih lagi tentang sesuatu yang buruk.


"Raf!" Rio pun ikut bangkit meninggalkan motor yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya membiarkan Gumay seorang diri berkutat dengan mesinnya.


"Woi!" suara Rio makin kencang membuat ketiga temannya serentak mengalihkan atensi padanya terutama Raffan sekaligus mendapatkan tepukan keras di pundak.


"Berisik Lo!" omel Gumay merasa konsentrasinya terganggu karena suara besar dari pria berambut plontos itu.


Ck!


Rio berdecak untuk kemudian tidak menggubris omelan sang teman.


"Apaan sih?" tanya Raffan dengan nada ketus.


Apa Rio ini tidak bisa membaca situasi? seharusnya dia bisa melihat seperti apa perubahan wajah Raffan sekarang, ada sebuah firasat yang sedang menyiksa pikiran seorang Raffan, tapi Raffan sendiri tidak tahu firasat tentang apa.


"Marco nantang lagi," tutur Rio seraya mengambil sebotol air mineral yang masih tersegel rapi, membukanya lalu menuangkan ke dalam mulut membasahi tenggorokannya yang terasa kering sejak tadi, mengobati rasa haus tak terperi.


"Kapan?" tanya Raffan tidak ada antusiasme sama sekali, sungguh berbeda dari sebelum-sebelumnya yang akan dengan semangat memberikan jawaban kala musuh dalam lintasannya itu berulang kali mengajaknya bertarung memacu adrenalin di jalanan.


"Nanti malam, jam biasanya," sahut Rio melempar botol yang isinya tinggal setengah.


"Gue pikirin dulu."


Oh, ayolah itu seperti bukan seorang Raffan yang dia kenal, Raffan tidak akan memberikan jawaban yang seperti bocah baru bisa belajar naik motor!


Raffan adalah si berandal dan raja drama yang selalu akan menjawab "siapa takut!" dengan tegas dan lantang, tapi sekarang? astaga! ini Raffan atau arwah tak jelas yang gentayangan merasuki tubuh temannya.


"Kenapa? ada yang salah dengan jawaban gue? salah kalau gue pikirin dulu?" rentetan pertanyaan dari bibir Raffan mengalir lancar kala mendapat tanggapan dari temannya.


Apa dirinya terlihat sangat aneh sekarang? kenapa ketiga temannya menatap dirinya seperti orang yang baru bertemu?


Raffan menatap satu persatu temannya meminta jawaban atas pertanyaan yang dia lontarkan tadi.


"Nggak biasanya Raf, Lo mikir dulu ketika dapat tantangan buat balap apalagi ini dari Marco," papar Gerry yang memang lebih tenang ketimbang Rio dan Gumay.


Raffan menautkan kedua alisnya serta sudut bibir yang berkedut, pria itu seolah baru sadar dengan perkataan Gerry.


Ah entahlah dirinya juga merasa seperti ada orang lain dalam tubuhnya hingga membuat ketiga temannya itu heran.


Drrfftt.


Sejenak atensi mereka beralih pada benda bergetar dan menyala di atas meja.

__ADS_1


Itu handphone milik Raffan yang tadi dia simpan di sana, segera saja Raffan mengulurkan tangannya untuk mengambil benda yang masih bergetar itu.


Ketiga temannya bisa melihat nama yang tengah menelepon.


"Ah si Fara, jangan-jangan dari tadi Lo mikirin dia lagi, sampai kelakuannya kayak orang linglung," celetuk Gumay yang akan selalu mengeluarkan pernyataan sesuka hatinya.


Raffan segera menjawab panggilan itu dan sibuk berbicara dengan wanita di seberang sana, sedangkan ketiga temannya kembali sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


Rio pergi ke toilet, Gumay kembali berkutat dengan motor milik pelanggan yang akan di ambil sore nanti dan Gerry yang sibuk dengan telepon genggam nya.


****


Tepat pukul 5 sore handphone milik Deefa bersuara bertanda ada satu panggilan yang memaksa untuk segera di jawab.


Deefa sedang membereskan pakaian yang baru saja dia angkat dari jemuran pun segera beralih pada benda pipih di atas meja tempatnya menyetrika pakaian yang sudah kering.


"Wa'alaikumsalam Umi."


Suara Deefa terdengar sangat halus kala menjawab salam dari wanita yang tengah menghubunginya.


Wanita yang menjadi ibu keduanya itu tiba-tiba menelepon di sore hari padahal biasanya mereka hanya akan berkirim pesan saja menyampaikan kerinduan yang tak terhingga, menanyakan kapan mereka akan bertemu kembali karena setelah menikah dan di bawa ke Jakarta oleh Raffan, Deefa belum berkunjung ke kampung halamannya itu.


Tidak di pungkiri dia sangat merindukan orang tua kandung juga pemilik pesantren yang sudah memberinya kasih sayang sedari kecil, hingga saat itu Deefa sangat merasa beruntung karena mendapat kasih sayang yang berlimpah dari dua pasang orang tua yang sama-sama menyayangi dirinya.


Seyogyanya Deefa merasa sangat bersyukur atas karunia yang Allah berikan.


Deefa mendengarkan setiap apa yang sekarang tengah di katakan oleh istri dari pemilik pesantren kepadanya.



Sampai sedetik kemudian raut wajah Deefa yang tadinya tenang berubah menjadi sedikit tegang dan tetap tegang sampai pembicaraan keduanya berakhir.



"Apa kamu bahagia Deefa?"


Pertanyaan itu terus terngiang di kepala wanita berwajah sendu dan teduh itu, membuat dia tidak tenang melakukan apapun.


Gelisah merasuki hatinya serta mempengaruhi pikirannya hingga memilih untuk diam saja di dalam kamar, duduk di tepi ranjang dengan wajah menunduk.


"Benarkah aku tidak bahagia?"


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2