
Pagi hari saat bangun Raffan sudah tidak mendapati sang istri di sebelahnya membuatnya menghela napas lalu bergerak perlahan ketika merasakan pinggangnya masih sakit di tambah kaki yang terlihat malah semakin membengkak.
Raffan tidak bisa bergerak dengan bebas, bahkan untuk bangun dan bersandar di kepala ranjang saja dia harus berusaha sekuat tenaga dengan menahan rasa nyeri kala menggerakkan anggota tubuhnya.
Pria itu kemudian menyingkap selimut yang menutupi kakinya lalu kedua mata langsung membelalak dan tubuhnya sampai melongok melihat bengkak yang malah besar di pergelangan kaki kanannya.
"Jangan-jangan si Agam manggil tukang urut abal-abal," cetus Raffan mengingat kalau Agam lah yang semalam mencarikan tukang urut untuknya.
"Wah nih anak punya dendam kesumat kayaknya sama gue!" mulai memikirkan hal konyol tentang temannya sendiri.
"Deefaaaaa." memanggil istrinya dengan sangat kencang, tentu saja dia ingin memperlihatkan bagaimana keadaan dirinya itu kepada sang istri, agar wanita yang dia tahu sedang marah padanya akan menjadi baik begitu melihat kondisinya saat ini.
"Deefa sayaaaang."
Yang di panggil masih juga belum menampakkan dirinya membuat Raffan jadi tidak bisa diam dengan memukul-mukul tempat kosong di sebelahnya.
"Deefa lagi masak," terdengar suara istrinya yang baru saja membuka pintu dan kini hanya berdiri diambang pintu melihat pada pria yang tadi memanggil dirinya.
Raffan melihat istrinya yang malah berdiri di dekat pintu.
"Jangan marah terus Deefa, iya aku salah aku minta maaf," kata Raffan mengakui kesalahan yang dia lakukan semalam dengan sedikit menahan rasa sakit.
Mencoba mengabaikan dulu rasa sakit itu karena sekarang dia masih harus merayu istrinya, karena kata orang baiki dulu orang itu baru setelahnya lakukan apa yang kamu mau. hal seperti ini ternyata terlintas di dalam kepala Raffan.
Dia ingin membuat istrinya mau berbicara dengannya baru kemudian dia akan mengadu tentang kakinya yang semakin bengkak dan berwarna kebiruan, di tambah dengan pinggangnya yang juga nyut-nyutan, oh terasa lengkap sudah siksaan yang Tuhan berikan untuknya.
Mungkin memang benar dia ini kualat karena membohongi istrinya juga orang tuanya, di suruh menginap tapi malah pergi balapan di tambah tanpa izin.
"Deefa nggak marah, kalau marah Deefa tidak akan menjawab saat Mas panggil," tutur Deefa tanpa berniat untuk melangkah.
"Kalau nggak marah kenapa tadi subuh aku nggak di bangunin buat sholat? aku kan juga harus sholat," cecar Raffan karena memang tadi dia tidak bangun untuk sholat subuh padahal itu kewajibannya sebagai umat muslim dan selama beberapa hari ini semenjak kembali bersama Deefa dia sudah mulai rutin sholat lima waktu dan juga tepat waktu tidak bolong-bolong lagi layaknya anak kecil.
Dan meski dalam keadaan seperti inipun dia merasa masih bisa untuk menjalankan kewajibannya lalu kenapa Deefa malah tidak membangunkannya?
Raffan menatap sang istri yang balik menatapnya lalu mendengar tarikan napas dari istrinya itu.
"Deefa sudah berusaha membangunkan tapi Mas tidak bangun juga malah menangis, padahal Deefa hanya meminta Mas Raffan untuk bangun dan sholat, bukan memukul apalagi memarahi," terang Deefa.
Tadi pagi saat adzan subuh dia memang sudah membangunkan suaminya itu untuk sholat akan tetapi sang suami bukannya bangun malah menangis seperti anak kecil membuat Deefa tidak mengerti sampai akhirnya membiarkan saja suaminya itu tidur.
"Na nangis? masa aku nangis?"
Raffan tampak berpikir sejenak lalu akhirnya ingat kalau tadi subuh dia merasakan tubuhnya ada yang menggerakkan dan juga ada suara yang memanggil-manggil dirinya tapi dia malah ketakutan dan memilih untuk menangis tak jelas.
__ADS_1
Deefa mengangguk mengiyakan pertanyaan dari suaminya itu.
"Maaf, itu tadi aku lagi mimpi di kejar hantu jadi aku pikir yang manggil aku itu hantu," jelas Raffan teringat pada mimpinya.
Deefa menghela napas panjang lalu bersiap kembali ke dapur.
"Kamu mau kemana?" tanya Raffan menghentikan langkah istrinya yang baru terangkat.
"Masak, tadi kan Deefa sudah bilang," jawab Deefa.
"Tapi badan aku sakit," adu Raffan dengan menunjukkan wajah kesakitannya.
"Nanti lukanya Deefa obati," kata Deefa.
"Tapi kaki aku bengkak, sakit banget."
Raffan sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa sakit di kakinya yang semakin menjadi, sungguh dia tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya, biasanya saat jatuh ketika balapan dia hanya akan mengalami luka atau memar saja ditubuhnya tidak pernah sampai terkilir bahkan menjadi bengkak setelah diurut.
Mata Deefa membulat lalu wanita itu terlihat panik menghampiri suaminya, "kok bisa malah makin bengkak kayak gini sih Mas."
Deefa melihat pergelangan kaki sang suami yang memang besar sebelah bahkan lebih besar dari yang semalam juga warnanya biru.
"Deefa ambil air buat kompres dulu," katanya lalu berlari menuju dapur.
"Sakit banget sayang," akunya dengan wajah yang tidak lagi menunjukkan ketengilannya, sepertinya dia memang bersungguh-sungguh dengan rasa sakit yang dia terima saat ini.
"Tahan ya," pinta Deefa sambil memeras handuk yang kembali dia basahi.
"Pinggang aku juga sakit, semalam kata Rio juga biru," adunya dengan tak tahu diri bertingkah seolah anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya.
Aduan Raffan pun membuat Deefa bergegas memeriksa bagian belakang suaminya, semalam dia memang tidak sempat memeriksa tubuh suaminya itu karena sudah kadung di buat kesal oleh mulut suaminya yang terkadang selalu sesuka hati ketika berbicara.
"Aduh, pelan-pelan Deef," rintih Raffan ketika Deefa menyibak kaos yang dia pakai terlalu kencang.
Sepertinya Deefa sangat khawatir dengan kondisi suaminya, luka terbuka di bagian tubuh sang suami sudah cukup membuatnya cemas semalam lalu masih harus di tambah cedera lainnya.
"Mas kenapa sih nggak pernah berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu!" Deefa yang panik kini terdengar memarahi suaminya, menyalahkan suaminya yang selalu saja berbuat seenaknya.
Raffan yang sedang tertelungkup pun memejamkan matanya merasa bersalah karena akhirnya perbuatannya itu membuat sang istri cemas, semakin Deefa marah semakin dia tahu kalau wanita itu sangat mengkhawatirkan dirinya, tidak mau terjadi apa-apa terhadap dirinya.
"Kalau sudah seperti ini bukan hanya kamu saja Mas yang sakit, tapi Deefa juga sebagai seorang istri Deefa tidak tega melihat Mas seperti ini," Deefa mulai menangis namun tangannya masih berusaha untuk tetap mengompres pinggang sang suami.
"Maaf," kata Raffan lirih penuh rasa bersalah.
__ADS_1
Dia belum menyadari kalau istrinya tengah menangis sampai akhirnya mendengar suara tangisan Deefa yang tidak bisa lagi dibendung membuatnya berbalik dengan cepat mengabaikan rasa sakit yang sedari tadi menyiksa.
"Jangan nangis Deef," katanya berusaha mendekap sang istri meski sedikit kesulitan dengan kondisinya saat ini.
Bukannya diam, Deefa malah semakin tak kuasa menghentikan air matanya membuat Raffan makin bingung harus berbuat apa.
Sampai akhirnya dia hanya memeluk wanita itu lalu menepuk-nepuk punggungnya serta menciumi puncak kepalanya sambil berbisik, "nanti juga sembuh kok," katanya.
Deefa mengurai pelukan suaminya, "aku panggil ibu sama Ayah dulu."
"Mau ngapain?" Raffan yang tadinya tenang menjadi panik kembali.
"Ayah kan bisa urut biar kaki Mas sama pinggangnya di urut Ayah," kata Deefa lalu gegas mengambil handphone di atas meja mengabaikan suara suaminya yang melarang untuk menghubungi orang tuanya itu.
Raffan menepuk keningnya setelah Deefa selesai bertelepon.
"Ayah sama ibu mau kesini sekarang," terang Deefa.
Sedangkan Raffan merasakan seluruh tubuhnya melemas tak terkira memikirkan omelan orang tuanya ketika mengetahui kondisinya saat ini akibat balapan yang padahal sudah sering kali mereka larang.
\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1