Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Niat Banget!


__ADS_3

Raffan mendengus kesal mendengar pengakuan dari Fara, kalau saja Fara seorang pria sudah dia tonjok wajah sialannya itu yang sedari tadi tersenyum mengejek padanya.


Malam ini Raffan sudah bebas akibat bantuan dari Fara yang memberikan kesaksiannya dua hari lalu, tapi jangan harap Raffan akan berterimakasih karena kalau bukan karena wanita itu tentu dia tidak akan mendekam hampir dua Minggu tahanan.


"Niat banget Lo ya bikin gue susah," desis Raffan pada sang mantan yang duduk di kursi depan bersama dengan Gumay yang membawa mobil, sedangkan dia duduk di belakang bersama dengan Agam.


Fara mengedikkan bahunya dengan kekehan yang terlontar dari bibir tipis di balut lipstik berwarna merah muda.


"Yah sedikit bikin pelajaran sama playboy cap buaya kan nggak masalah," sahut Fara dengan tenang.


"Nggak masalah buat Lo tapi masalah buat gue dan istri gue, nggak bisa bayangin gue bagaimana Deefa tidur setiap malamnya, pasti kedinginan karena gue nggak ada," cetus Raffan seraya melirik teman yang duduk di sampingnya.


Dalam keadaan begini saja masih sempat-sempatnya dia membuat Agam cemburu, memang Raffan yang konyol tidak memikirkan perasaan sang teman padahal temannya itu selalu memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa keluar dari tahanan.


"Ada selimut Raf, jangan pikir kalau Lo itu berguna banget buat Deefa," timpal Gumay sengit.


Raffan mendelik tak terima jadi selama ini dia dianggap tidak berguna? tidak punya etika memang si Gumay ini kalau berbicara terlalu jujur.


"Dia nggak biasa pakai selimut, selalu gue peluk!" dan makin menjadi saja dia memanasi orang di sebelahnya yang memilih tidak ikut dalam pembicaraan tak jelas itu.


Bagi Agam, seorang bernama Raffan itu tidak perlu ditanggapi karena jika ditanggapi malah akan semakin menjadi-jadi saja, biar saja dia mau mengatakan apapun toh itu hak nya dia sebagai seorang suami dari wanita yang Agam sukai.


Sukai? itu artinya sampai hari ini Agam masih menyukai Deefa? celakalah kamu Raffan jika sampai berbuat macam-macam atau sampai menduakan Deefa karena akan ada pria yang akhlaknya jauh lebih baik dari dirimu.


"Halah! itu mah elo nya aja kali yang lenjeh," cibir Fara dengan jawaban Raffan yang menyebalkan.


"Sama istri sendiri ya wajarlah lenjeh, aneh aja Lo kalau ngomong," dengus Raffan tak terima dengan ucapan mantan kekasihnya itu.


Gumay menggeleng-gelengkan kepala mendengar dua orang yang pernah berhubungan itu terus saja berisik, adu mulut tak jelas mengganggu pendengarannya dan mungkin juga pendengaran Agam yang sekarang tengah memijat pangkal hidungnya.


"Ngomong-ngomong Deefa tahu nggak kalau gue pulang hari ini?" tanya Raffan pada ketiga orang yang ada di dalam mobil.


"Ck!" Gumay berdecak mendengar pertanyaan yang Raffan lontarkan.


Dia merasa aneh, bukankah waktu itu Raffan sendiri yang meminta mereka termasuk pengacara juga orang tuanya untuk tidak memberitahu istrinya itu kalau hari ini dia bebas, katanya ingin memberikan kejutan lalu kenapa sekarang masih saja bertanya? apa dia menganggap semua orang itu pikun? atau memang dialah yang sudah pikun, sampai lupa pada apa yang sempat diutarakan.


"Gue nanya Lo pada ini, woi!" seru Raffan darah tinggi sebab tiga orang itu tidak ada satupun yang membuka mulutnya, bahkan Gumay saja hanya berdecak tak jelas.


"Lo yang nyuruh kita buat nggak ngomong apa-apa Raffan, ya kita semua nggak ngomong," kata Agam dengan suara datar tapi dari raut wajahnya menunjukkan kalau dia itu agak sedikit geram dengan sang teman.

__ADS_1


Mata Raffan membuka lebar, "bagus kalau gitu, gue jadi bisa kasih surprise, gue yakin Deefa bakalan langsung lari kencang terus peluk gue terus ciumin muka gue, terus ngajak gue ke kamar."


"Terus Lo di bekap sama bantal biar modyar sekalian!" celetuk Gumay membuat khayalan yang sedang Raffan bangun hancur seketika.


Mungkin jika khayalan itu adalah sebuah benda sudah dipastikan sekarang akan berserakan di bawah kakinya dengan bentuk yang tak karuan.


"Teman nggak ada akhlak!" maki Raffan menonjok bahu Gumay yang langsung protes.


"Gue lagi bawa mobil Raffan! entar Lo bukannya pulang sambut sama Deefa tapi malah pulang ke akhirat di sambut malaikat Munkar dan Nakir!" omel Gumay seraya mengendalikan mobil yang sempat oleng karena dia kaget dengan tinjuan dari temannya.


"Gila Lo Raf!" Fara ikut memaki mantan kekasihnya yang dengan tanpa bersalah malah menggaruk-garuk rambut hitamnya hingga berantakan.


Sedang Agam hanya beristighfar melihat kelakukan tiga orang itu yang sejak tadi mulutnya tak juga mau diam membuat dia benar-benar pusing tujuh keliling, mau marah kayak apapun tentu tidak akan di dengarkan, jadi biarkan saja sampai mulut mereka lelah sendiri atau berharap mereka ini bertaubat untuk membuat menyakiti telinga orang lain dengan suara-suara mereka yang seperti tak kenal lelah, layaknya baterai yang terisi penuh.


Gumay terus mengatur jalannya mobil menuju rumah yang ditempati oleh Raffan dan juga istrinya, mengantar temannya itu lebih dulu baru kemudian dua temannya yang lain.



Tidak memakan waktu lama karena sekitar dua puluh menit kemudian mereka pun sudah sampai di rumah yang pagarnya tertutup rapat.



Raffan mengintip pada celah pagar keadaan di dalam sana, lampu-lampu rumah sudah menyala karena ini memang sudah jam delapan malam, pria itu mengecek pagar apakah sudah di gembok atau belum dan dia patut bersyukur sebab istrinya belum menggembok pintu pagar tapi kemudian dia juga kesal kenapa sudah malam begini Deefa belum menggembok pagar padahal itu bisa saja berbahaya mengingat wanita itu hanya sendiri di rumah.




"Gue anter Lo duluan Gam," kata Gumay pada Agam yang bersandar di kursi belakang.



"Kenapa nggak Fara duluan aja yang dianterin?" tanya Agam dengan nada protes membuat Fara yang sedari tadi menatap jalan di samping melihat pada pria yang tengah menggaruk kepala memikirkan jawaban yang akan diberikan.



""Nggak baik berduaan sama yang bukan mahram, setan bisa menunjukkan kinerjanya dengan baik," nasihat Agam dengan tatapan tak ingin di bantah.


__ADS_1


"Aneh Lo May, kalau dari sini itu rumah gue lebih dekat daripada rumahnya si ustadz Agam," celetuk Fara mengingatkan.



"Ya maksudnya.."



"Jangan bilang kalau Lo memang pengen banget berduaan sama gue? wah gila Lo May, benar kata Agam tuh nggak baik berdua-duaan karena yang ketiganya itu setan," cerocos wanita yang padahal pemahaman agamanya masih sangat dangkal, dia hanya mengatakan saja apa yang dia sempat dengar dari orang-orang.



"Si Agam dong setannya," cetus Gumay tak berperikemanusiaan menganggap temannya sendiri sebagai setan karena ada diantara dia dan Fara.



"Kurang ajar Lo!" omel Agam sambil menegakkan tubuhnya.



"Antar Fara duluan, abis itu kita ke bengkel Rio sama Gerry keteteran," jelas Agam yang tadi mendapat pesan dari Gerry untuk datang ke bengkel karena malam ini banyak anak-anak muda yang akan melakukan balapan sehingga bengkel mereka sudah pasti akan ketiban rejeki dari motor-motor yang harus diperbaiki ataupun di setel ulang agar saat di pakai balapan larinya kencang.



"Wah panen nih!" seru Gumay kegirangan mendengar bengkel ramai jelas hal itu akan sangat menguntungkan bagi dia dan juga teman-temannya itu.



"Nggak jadi berduaan sama gue?" tanya Fara.



"Idih siapa juga yang pengen berduaan sama elo," kata Gumay sengit tidak terima ketika Fara terus mengatakan dia ingin berduaan dengannya.


Terdengar sangat aneh, mereka ini kerap kali bertengkar lalu tidak ada alasan untuk pergi berduaan bukan? perkataannya yang tadi itu hanya spontan entah dari dalam hati atau tidak tapi yang jelas dia benar-benar hanya refleks mengatakan hal itu dengan tidak ada maksud apapun.


Agam memperhatikan tingkah keduanya dengan mata yang terpicing, sepertinya dia membaca ada api-api asmara yang samar-samar memercik dari keduanya.


__ADS_1


"Mereka saling suka?" batin Agam.


*******


__ADS_2