Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Siluman Rubah


__ADS_3

Setelah mendapatkan alamat rumah yang tadi diberikan oleh Hayati, Rovia pun memenuhi keinginan anaknya yang sangat pemaksa itu untuk datang ke rumah sang teman meski mulutnya terus saja berceloteh mengenai dia yang sebenarnya harus pergi dengan teman arisannya namun terpaksa harus membatalkan karena ulah sang anak.


"Mami berisik sekali, sekali-kali menurut pada anak kan tidak masalah Mi," ucap Raisya kala wanita yang duduk di sampingnya terus saja mengomel mengganggu konsentrasinya menyetir.


"Apanya yang sekali-kali? memangnya kamu pikir selama ini Mami tidak pernah menuruti keinginan kamu!" sang Mami malah dibuat naik darah oleh perkataan dari anaknya membuatnya mengungkit bagaimana dia yang selalu menuruti apa saja yang diminta oleh anaknya sejak dari kecil sekalipun, lalu sekarang anak kurang ajarnya itu berkata seolah selama ini dia bukanlah ibu yang baik yang bisa memberikan apa yang dia mau.


Raisya malah nyengir tanpa bersalah padahal dia sudah membuat Maminya kesal dengan perkataannya yang selalu seenaknya seakan tidak ada otak untuk dipakai berpikir sebelum mengeluarkan perkataan.


"Selama kenal Raffan tak pernah Raisya tahu rumahnya," celetuk Raisya


Tentu saja karena Raffan tidak akan pernah memberitahu dia, memangnya siapa dia? ketika bertemu saja rasanya Raffan ingin sekali menonjoknya andai dia laki-laki mungkin sudah sejak lama di hajar oleh Raffan.


"Beruntung sekali Mami berteman dengan Tante Hayati, andai Raisya tahu sejak dulu mungkin Raffan sudah jadi miliknya Raisya," merasa beruntung meski kemudian terdengar menyesal karena baru tahu bahwa Maminya dan ibunya Raffan berteman sejak kecil.


Rovia tersenyum tipis menunggu sampai akhirnya mobil yang dikendarai oleh anaknya itu tiba di depan pagar yang menjadi pembatas rumah yang mereka tuju.


Raisya menghentikan mobilnya sebentar sambil menunggu pagar dibuka, wanita itu mengarahkan spion padanya agar dia bisa bercermin.


"Sebentar Raisya dandan dulu, rapihkan baju ini agar calon mertua Raisya kagum pada calon istri anaknya dan tanpa pikir langsung memberi restu." mulutnya tak bisa diam sambil tangannya memoleskan bedak serta lipstik yang biasanya berwarna cerah kini dia memakai lipstik dengan warna yang lebih kalem namun tidak membuatnya terlihat pucat, lalu selesai dengan wajah kini tangannya beralih pada blouse yang terlihat longgar di tubuhnya, apalagi tujuannya kalau bukan untuk memberi kesan pada wanita yang sudah dia anggap sebagai calon mertuanya bahwa dia adalah wanita santun yang sudah tidak mengumbar aurat lagi.


"Dasar siluman rubah," sindir sang Mami, tidak tahu kenapa dia ini sangat tidak setuju dengan segala tingkah laku anaknya, tentu karena dia sebagai ibu tidak ingin melihat anaknya itu menjadi istri kedua, bukankah itu sangat menyakitkan hatinya? hanya anaknya saja yang tidak punya otak terlalu ambisius seperti sang suami.


Keduanya sudah berdiri di depan pintu menunggu sang tuan rumah membukakannya untuk mereka.


"Mami udah bilang belum sih kalau kita mau datang."


Raisya mulai tidak sabar menanti pintu terbuka, dia sudah sangat ingin masuk dan membuat ibu dari Raffan terpukau dan pangling begitu melihatnya karena itu akan menjadi nilai plus baginya agar makin mempermudah jalannya untuk menjadi istri kedua dari pria idaman yang selalu jutek kepadanya.


"Sudah lah, lagian Hayati juga pasti paham lah waktu Mami tanyain alamat rumahnya, ya apalagi kalau bukan mau datang," jawab Rovia berdiri tenang sangat berbeda dengan anaknya yang bertingkah tak jelas mungkin sudah mulai tidak tahan merasa panas dengan pakaian tertutup yang anaknya itu pakai.


"Masa belum di bukain juga," keluh wanita yang mengibas-ngibaskan tangan berusaha memberi udara sejuk bagi tubuh terutama bagian lehernya yang terasa sangat gerah.

__ADS_1


"Makanya kalau nggak biasa tuh jangan dipaksain, cuma mau ngambil hati ibunya Raffan saja sampai kayak begini," sindir Rovia tak peduli kalau yang dia sindir itu adalah anaknya, anak kandungnya sendiri.


Salah sendiri kenapa anaknya itu sangat menyebalkan, bahkan dia yang ibu kandungnya yang telah melahirkannya saja merasa kesal namun mau tidak mau harus mengikuti kemauan anaknya itu ketimbang si anak mengadu pada sang Papi, resiko uang bulanan akan dipangkas habis dan Rovia tidak mau itu sampai terjadi karena akan mempengaruhi naluri membeli barang mewah saat arisan, bisa-bisa dia di ejek oleh teman-teman arisan nantinya.


Raisya mencebik mendengar omongan wanita yang berdiri disampingnya lalu mulai bersikap tenang saat mendengar ada langkah kaki dari dalam sana dan kemudian gagang pintu mulai bergerak.


"Assalamualaikum, Tante." dengan suara yang sopan lalu tak lupa mengukir senyum pada bibirnya Raisya pun menunduk meraih tangan wanita di depannya mencium punggung tangan wanita itu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Hayati meski raut wajah terkejutnya tidak bisa disembunyikan ketika melihat penampilan dari anak temannya yang saat pertama bertemu dengannya memakai pakaian yang terbilang tidak layak pakai untuk seorang wanita muslimah, dan sekarang kedua matanya disuguhi pemandangan yang sangat jauh berbeda dengan pertemuan pertama mereka waktu itu.


Hayati menoleh pada Rovia yang berdiri di samping anaknya, menatap penuh tanya dengan penampilan Raisya yang sekarang.


"Ini Raisya kan, Ro?" bertanya meminta jawaban atas keheranannya, bahkan kedua matanya kini sudah sibuk meneliti setiap inci pakaian yang menutupi tubuh wanita muda di depannya.


"Tentu saja Yati, kamu pikir siapa lagi memangnya? anakku Raisya yang manja dan sulit diatur," terang Rovia.


"Mamii." Raisya terlihat protes namun dengan nada yang manja.


"Kamu semakin cantik dengan pakaian seperti ini," puji Hayati sambil menangkup kedua pipi Raisya membuat Raisya sangat bangga dan makin percaya diri.


"Memang kenyataan kok, iya kan Ro?" meminta persetujuan temannya.


"Iya dong, siapa dulu Maminya," sahut Rovia bangga.


Hayati tertawa, "ayo masuk-masuk maaf buka pintunya kelamaan tadi sedang beresin kamar Raffan soalnya," aku Hayati seraya menutup kembali pintu.


"Kamar Raffan?" mendengar nama pria yang dia sukai membuat Raisya bersemangat.


"Iya Raffan, oh iya kamu sudah lama kenal dengan Raffan?" tanya Hayati seraya mengarahkan kedua tamunya duduk.


Raisya mengangguk, "lumayan lah meskipun nggak satu jurusan tapi ya kita sering ketemu, sering ngobrol sering pulang bareng juga," jawab wanita dengan wajah yang berbinar mendapat pertanyaan seperti itu, dia merasa ibunya Raffan itu tengah mencari tahu tentang dia dan Raffan, yah secara tidak langsung menyelidiki tentang hubungan mereka sudah sedekat apa, tentunya untuk melangkah ke babak yang lebih lanjut lagi.

__ADS_1


"Sering pulang bareng?" Hayati mengerutkan kening.


Anaknya sudah sering pulang bareng dengan Raisya bukankah itu artinya hubungan mereka cukup dekat?


"Iya Tante, Raffan suka anterin Raisya pulang," aku Raisya makin berlebihan cerita yang sebenarnya tidak ada sama sekali karena seorang Raffan kala melihatnya saja sudah sangat sebal terus bagaimana caranya dia mengantar.


Mata Hayati membola seiring binaran yang memperlihatkan dengan jelas betapa dia menjadi dan semakin tertarik dengan gadis muda yang bercerita sambil memamerkan senyuman menarik perhatian.


"Andai Raffan bilang sama ibu kalau dia itu dekat denganmu, oh iya sepertinya mulai sekarang kamu harus memanggil ibu saja, tidak usah Tante karena terdengar sangat tidak enak," pinta Hayati.


Lalu seorang Raisya kala mendengar permintaannya itu tentu saja melonjak kegirangan meski hanya dalam hati, karena dia tidak mungkin melakukannya dia harus tetap menjaga image agar terlihat baik dan kalem serta tidak neko-neko.


"Kalian ini sejak tadi hanya asik mengobrol berdua saja seolah tidak ada siapapun diantara kalian, aku kalian anggap hantu kah?" protes Rovia yang sejak tadi tidak diajak berbincang oleh Hayati juga tidak dilibatkan oleh anaknya sendiri untuk masuk dalam pembicaraan mereka.


"Maaf Ro, aku terlalu fokus pada anakmu yang cantik ini, aku benar-benar minta maaf," pinta Hayati tulus merasa tak enak karena malah asik berbicara dengan Raisya mengabaikan temannya sendiri.


"Iya-iya aku maafkan," sahut Rovia mengibaskan tangan, "kalian yang berbicara sejak tadi tapi kenapa tenggorokanku yang rasanya sangat kering," tuturnya lagi seraya menyentuh leher memberi isyarat bahwa dia ingin minum.


"Aduh, maaf." Hayati menepuk keningnya, lagi-lagi dia lupa, "anakmu ini sangat menarik perhatianku Ro, maaf ya. aku ambil minum dulu," katanya seraya beranjak.


"Cepatlah jangan lama aku sudah sangat kehausan!" seru Rovia.


"Iyaa," jawab Hayati.


"Mami ini ngeselin deh." saat Hayati pergi mengambil minum Raisya mengomel pada sang Mami.


"Kok ngeselin?" Rovia tak mengerti kenapa malah anaknya mengatakan dia ngeselin, memang apa yang dia lakukan?


"Ya ngeselin, Raisya kan lagi ngobrol sama calon mertuanya Raisya eh Mami malah minta minum," ketus Raisya memberikan lirikan mata kesal.


"Ya orang Mami haus ya gimana, masa harus di tahan, segala sesuatu yang di tahan itu tidak baik," celoteh Rovia sekenanya.

__ADS_1


Raisya mendengus, wajahnya yang tadi judes pun segera berubah ketika melihat Hayati sudah muncul dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh serta camilan untuk teman ngobrol mereka selanjutnya, sepertinya setelah ini Raisya merasa akan semakin mempunyai peluang untuk bisa mendapatkan Raffan.


****


__ADS_2