Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Kebohongan


__ADS_3

Raffan melajukan kendaraan roda empatnya dengan perasaan yang campur aduk, seharusnya dalam keadaan seperti ini dia tidak boleh mengendarai kendaraan apapun karena itu hanya akan membahayakan nyawanya terbukti saat konsentrasi nya terpecah mobil yang dia kendarai malah oleng ke arah kiri dan menabrak pembatas jalan, untunglah dia tidak sedang mengebut jika tidak sulit dibayangkan bagaimana keadaan dia sekarang, sedangkan laju mobil yang pelan itu saja sudah membuat sebagian badan mobilnya berada di pembatas jalan jelas meninggalkan bekas penyok pada bagian samping mobil.


"Astaghfirullahaladzim," ucap Raffan menatap pembatas jalan yang rusak karenanya.


Lalu para pengendara lain pun menghentikan kendaraan mereka untuk melihat sekaligus memberikan bantuan terhadap pria yang menghela napas panjang.


Banyak pertanyaan tentang bagaimana keadaan dia sekarang yang harus dia jawab dengan jawaban yang sama sebab pertanyaan yang diajukan pun juga sama.


"Alhamdulillah tidak apa-apa," jawab Raffan dengan wajah yang ramah.


Mereka pun membantu Raffan untuk memindahkan mobilnya dari pembatas jalan yang tadi di hantam.


"Terimakasih," kata Raffan pada mereka yang sudah membantunya.


Pria yang tengah bingung harus bagaimana tentang apa yang sekarang dia alami itupun kembali melajukan kendaraannya pulang ke rumah.


Rumah yang beberapa hari dia tinggalkan karena harus menemani istrinya pulang ke kampung halaman tentunya sekarang dia hanya akan sendirian saja di rumah itu sebab istrinya memang masih belum mau meninggalkan ibunya yang sekarang sudah tidak memiliki suami.


Mobil memasuki halaman rumah yang jadi sangat sepi karena memang tidak berpenghuni, mobil sudah berhenti dan terparkir di dalam garasi tapi pria yang mengendarainya belum juga mau keluar dari dalam mobil itu.

__ADS_1


"Bagaimana caranya memberitahu Deefa," gumamnya.


Saat ini dia sedang berpikir keras dan mencari cara untuk memberitahukan tentang hasil pemeriksaan mereka, terutama hasil pemeriksaan istrinya itu yang pasti tidak akan dengan mudah bisa diterima oleh Deefa.


Berulang kali Raffan mengurut pelipis kiri kanannya berusaha menyembuhkan sakit kepala yang mendadak muncul karena memikirkan kesedihan yang akan di rasakan oleh istrinya.


Di saat itu handphone miliknya berdering dengan nyaring, menampilkan nama wanita yang sedari tadi dia pikirkan, menatap sendu pada sebaris nama yang tertera di layar yang menyala itu.


Dia baru saja hendak menjawab telepon itu tapi kemudian panggilan malah berhenti hanya menyisakan notifikasi satu panggilan tak terjawab.


Dengan perasaan gundah Raffan pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah, langkahnya terlihat tidak lagi tenang mengikuti perasaan hatinya yang memang saat ini menjadi sangat kacau dan makin kacau saat handphonenya kembali berdering dan kali ini menampilkan nama Ibunya.


Raffan menatap benda yang masih terus berbunyi itu dengan keraguan yang menyelimuti tapi kemudian dia sadar bahwa biar bagaimanapun itu adalah ibunya, ibu kandungnya yang harus dia hormati, sampai akhirnya tangannya pun bergerak untuk menggeser tombol hijau menjawab panggilan dari sang ibu.


"Assalamualaikum," ucap Raffan memberi salam pada ibunya yang langsung menjawab salam darinya.


"Raffan baru saja sampai Bu, Deefa juga masuh ada di kampung," ujar Raffan ketika ibunya bertanya.


"Raffan belum mengambil hasil pemeriksaan," bohong Raffan.

__ADS_1


Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk membohongi ibunya sendiri, tapi disisi lain dia tidak mau ibunya berkata yang macam-macam tentang Deefa dan makin menyudutkan istrinya itu, dia sebagai suami tentu berkewajiban untuk melindungi istrinya kan?


Dan inilah yang dia lakukan untuk memberikan perlindungan bagi wanita yang dia nikahi dan dia cintai, dia harus benar-benar menjaganya dari siapapun termasuk ibunya sendiri.


"Iya, nanti Raffan beritahu, assalamu'alaikum," Raffan mengakhiri pembicaraan dengan ibunya bahkan di saat wanita itu masih ingin berbicara banyak dengannya.


"Kamu tidak perlu sampa seperti ini Bu, tidak baik terus memberikan tekanan pada mereka terutama Deefa," nasihat Imran kepada istrinya.


Dia memang turut mendengarkan pembicaraan istrinya itu dengan sang anak, sempat geleng-geleng kepala kala istrinya menanyakan hasil pemeriksaan rumah sakit.


"Ibu bukannya menekan, ibu itu ingin mereka segera punya anak, Yah," Hayati membela diri, tidak sadar kalau dia sekarang malah jadi egois karena menuntut keinginannya agar segera terpenuhi.


Sedangkan dia itu tahu bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak sang pemilik semesta, Allah yang menggerakkan semua yang dia inginkan tidak ada satupun manusia yang berhak menuntutnya agar mendapatkan keinginan yang manusia inginkan.


"Saat ini bahkan Deefa sedang bersedih, dia baru saja kehilangan Ayahnya, tidak kah ada sedikit saja rasa simpati Ibu pada menantu yang sudah Ibu pilih sendiri untuk Raffan," lontar ustad Imran memberikan tatapan penuh peringatan agar istrinya itu ingat kalau mereka sendirilah yang sudah memilih Deefa menjadi istri Raffan.


"Deefa masih sangat berduka saat ini Bu, Ibu harus sabar," tambah ustad Imran menasehati istrinya agar jangan sampai semakin keterlaluan dan berlebihan hanya untuk memenuhi kehendaknya.


Hayati mendengarkan setiap kata yang suaminya lontarkan, tidak dipungkiri bahwa dia juga sayang terhadap menantunya tapi rasa ingin segera menimang cucu malah membuatnya terus semakin egois dan berlebihan, menuntut sesuatu yang hanya bisa direncakan sebab penentu setiap yang manusia inginkan ada di tangan sang pencipta dunia.

__ADS_1


****


__ADS_2