Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Raffan Lagi Kerja Keras


__ADS_3

Raffan yang belum juga tiba di Jakarta mengundang rasa cemas sang ibu.


Tadi pagi sang putra sudah mengabarkan kalau akan kembali hari ini tapi sekarang sudah malam namun anak serta menantunya tak juga kunjung memberitahu sudah sampai atau belum saat di hubungi pun tersambung tapi tidak ada jawaban.


"Telepon Deefa coba," saran suaminya yang sedari tadi melihat istrinya begitu gelisah.


Gelisah memikirkan anak satu-satunya mereka yang kerap kali membuat orang serangan jantung akibat ulahnya.


"Oh iya, ibu lupa," katanya yang baru ingat kalau dia bisa menghubungi sang menantu yang sudah pasti sedang bersama anaknya.


Ustad Imran menggelengkan kepala lalu kembali fokus pada kitab yang sejak tadi dia baca.


Menunggu cukup lama hingga akhirnya panggilan di jawab oleh menantunya yang dari suaranya terdengar seperti orang yang sangat kelelahan.


"Wa'alaikumsalam," jawabnya dengan kerutan di kening.


"Kalian sudah sampai mana? sudah berangkat kan? kok belum sampai sih?" tanyanya tanpa jeda meski sebenarnya ada sesuatu yang mengusik pikirannya saat mendengar nada bicara sang menantu.


"Ibu khawatir kok ya belum juga sampai, iya iya ibu ngerti, ya sudah kalau begitu assalamu'alaikum." memilih segera mengakhiri karena akhirnya dia mengerti kalau menantu dan anaknya itu tengah melakukan sesuatu.


"Bagaimana? mereka sudah dimana?" ustad Imran menutup kitabnya lalu bertanya pada istrinya yang baru selesai berbicara dengan sang menantu.


"Raffan lagi kerja keras," jawab sang istri lalu melenggang begitu saja menuju kamarnya.


Ucapan istrinya itu membuat ustad Imran memicingkan mata namun tidak lagi memperpanjang dengan mengajukan pertanyaan, yang terpenting anak dan menantunya dalam keadaan baik-baik saja itu sudah cukup.


*******


"Ngomong apa Ibu?" tanya Raffan pada sang istri yang baru saja meletakkan handphone di sisi tubuhnya.


"Tanyain kita sudah sampai mana," sahut Deefa menatap suaminya yang sejak tadi memang berada di atas tubuhnya.


Tadi pun Raffan tahu ibunya menghubungi tapi dia dengan kurang ajarnya malah mengabaikannya bahkan malah mematikan nada dering agar tidak berisik terutama mengganggunya yang sedang asyik mengerjai sang istri.


Tapi kenyataannya ibunya itu tidak pantang menyerah dan malah menghubungi Deefa, hanya untuk menanyakan dimana mereka saat ini membuat Raffan pusing karena kegiatannya jadi terhenti.


"Ribet banget dah itu ustadzah satu, dulu belum nikah di teleponin Mulu, orang lagi nongkrong balapan di omelin di ceramahin biar pulang, sekarang udah nikah lagi pergi sama istri masih juga di cariin!" sungut Raffan membuat Deefa tersenyum mendengarnya.


"Ngapain kamu malah ketawa?" tanyanya mendongak karena sejak tadi wajahnya berada tepat berada di depan dada sang istri.


Tempat itu kini menjadi bagian yang sangat Raffan gemari, sedari tadi tidak ada bosannya dia bermain-main di sana, memainkan dengan tangan kadang juga dengan bibir yang selalu bergerak menggemaskan kala sedang mengomel seperti saat ini.


Deefa menggeleng lalu memejamkan matanya ketika Raffan kembali melakukan serangan, sungguh dia menjadi tidak stabil tubuhnya bergerak seirama dengan gerakan yang suaminya lakukan.


Gerakan dengan penuh godaan yang akhirnya menguasai seluruh jiwa dan raganya ada sesuatu yang ingin kembali dia gapai bersama dengan suaminya itu.


Suami berandal nya yang sukses mengoyak pertahanannya hanya dalam satu hari.


"Suka?" tanya Raffan dengan wajah menggoda, senyum dengan jelas tergambar sempurna di wajah tampannya pada wanita yang mengangguk lemah menyetujui pertanyaan yang dia berikan.

__ADS_1


Sungguh sejak hari ini Deefa semakin mengukuhkan dirinya sebagai seorang istri dari Raffan Alawi pemuda berusia 19 tahun, pemuda yang di juluki sebagai berandal sang pembalap jalanan dan juga si raja drama seperti yang dikatakan oleh Gumay.


Raffan pun semakin gencar menyentuh seluruh tubuh wanita yang bergerak tak terkendali akibat perbuatannya, dirinya sangat suka terlebih lagi semua yang biasa tersembunyi dibalik pakaian muslimah pun dengan nyata memberikan pemandangan indah yang tersembunyi hanya untuknya.


Sungguh hanya dirinya seorang lah yang bisa menikmati indahnya tubuh dari wanita yang dia nikahi, semua yang ada di tubuh itu adalah miliknya dan hanya dirinya seorang yang bisa menyentuh kapan pun dia mau.



Pergulatan tidak sekedar sentuhan demi sentuhan saja karena nyatanya semua semakin membuat panas ruangan yang memilik pendingin itu, kepanasan tidak hanya di luar tapi juga di bagian dalam tubuh.



Setiap adegan yang sejak sore Raffan pikirkan pun akhirnya dia laksanakan mewujudkan semua imajinasi yang membuat sang istri tercengang tak percaya sekaligus tak berdaya bahwa suaminya yang berusia lebih muda darinya ternyata begitu ahli membuat dia bertanya-tanya hingga akhirnya berani bersuara saat Raffan tengah melakukan tugasnya.



"Mas," panggil Deefa dengan tubuh yang bergerak akibat ulah sang suami.



"Kenapa? sebaiknya jangan banyak bicara saat sedang seperti ini, cukup mengeluarkan suara yang makin membuat aku bersemangat saja," peringat Raffan dengan suara yang sarat akan kesenangan.



"Aku mau tanya boleh?"




Memangnya manusia mana yang rela berhenti saat sedang dalam situasi menyenangkan seperti ini.



"Kalau begitu berhenti dulu," kata Deefa menahan suaminya agar tidak lagi bergerak.



Raffan mendelik tak senang tapi mau tidak mau diapun berhenti menunggu dengan tak sabar apa yang ingin ditanyakan oleh istrinya itu.



"Mau tanya apa, cepat katakan!" katanya kesal menatap wanita di bawahnya.



Deefa menggigit bibirnya, kenapa sekarang dia malah menjadi ragu untuk bertanya.


__ADS_1


"Apa Deefaaaa?" menjadi sangat gemas sekaligus geram sebab istrinya malah tidak mengeluarkan suara.



"Mas sering nonton film.." Deefa tidak meneruskan ucapannya.



"Biru?" sambar Raffan.



"Iya." mengangguk lambat.



"Kenapa bisa bertanya seperti itu? apa karena permainan aku yang luar biasa?" Raffan menaikkan alisnya dengan senyum miring yang luar biasa mengejek.



"Berarti benar?"



"Tidak! aku tidak pernah menonton film seperti itu, bingung kenapa aku bisa sangat pandai seperti ini?"



Deefa lagi-lagi mengangguk, ini memang pertanyaan yang sangat pribadi tapi tidak ada salahnya dia bertanya ketimbang harus menerka-nerka dan akhirnya malah menimbulkan prasangka yang tak baik.



"Karena naluri," jawab Raffan lalu kembali melakukan apa yang tadi terjeda.



Sedang Deefa kembali mengeluarkan suara-suara yang makin membuat Raffan bersemangat, seakan suara dari bibir istrinya itu adalah penyemangat untuknya.



Semua terselesaikan dengan baik dan hanya menyisakan dua orang yang tertidur di balik selimut yang membungkus tubuh keduanya yang saling berpelukan.



Setelah hari ini pernikahan mereka menjadi sempurna, dan semoga Allah senantiasa menjaga pernikahan mereka dari segala cobaan yang senantiasa Allah berikan bagi umatnya yang dia sayangi.



Keduanya sudah terlelap menunggu pagi karena rencananya esok mereka akan kembali melakukan perjalan untuk ke Jakarta, karena Raffan pun masih harus kuliah, dan bengkelnya yang juga menjadi tanggung jawabnya.

__ADS_1



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2