Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Berita Duka


__ADS_3

"Dari tadi aku lihatin kamu senyum-senyum aja, kenapa? ada yang lucu?" tanya Raffan pada sang istri yang padahal sedang masak untuk makan malam mereka tapi bibirnya senantiasa melengkungkan senyuman membuat dia bertanya-tanya tak mengerti.


"Keinget sama Nara," ucap Deefa pada bocah kecil keponakan dari Agam yang baru saja pulang satu setengah jam yang lalu sebelum adzan Maghrib.


"Kenapa tuh bocil?" tanya Raffan dengan tampang tak acuh tapi terdengar selalu nyolot ketika mendengar nama keponakan dari temannya yang memang tak pernah akur ketika bertemu dengannya.


"Lucu, aku jadi bayangin kalau kita punya anak perempuan pasti lucunya kayak Nara gitu," tutur Deefa seraya tetap menggerakkan tangannya untuk mengaduk sayur di dalam panci.


Raffan yang sedang duduk di meja makan menemani istrinya memasak itupun tersedak tak jelas hingga batuk-batuk berulang kali.


Uhuk uhuk uhuk!


"Minum Mas," Deefa berlarian mengambilkan suaminya air putih agar batuknya reda.


Raffan menerima segelas air yang diberikan oleh sang istri lalu menenggaknya setengah dan meletakkan gelas itu ke atas meja.


"Yang benar aja kamu Deefa, aku nggak mau kalau anak aku kayak tuh bocil songong," protes Raffan tak terima apabila anaknya nanti malah seperti Kinara, bocah perempuan kecil yang kerap kali mengajaknya adu mulut tak jelas, membayangkannya saja dia sudah sangat tidak ingin apalagi kalau sampai kejadian anaknya mirip dengan Kinara, sudah tidak akan ada kedamaian dalam rumah itu nantinya.


"Kok kamu ngomongnya begitu sih Mas, Nara lucu loh cantik juga," papar Deefa menutup panci yang sedang merebus sayuran lalu beralih duduk mendekat pada pria yang tengah menggerutu tak jelas.


"Bagi kamu lucu, bagi aku tuh bocil ngeselin bin nyebelin, pecah kepala aku nantinya kalau anak kita kayak dia, no no no no, aku nggak mau!" putus Raffan dengan ekspresi wajah yang menggambarkan kalau dia benar-benar tidak mau kalau anaknya mirip dengan Kinara.


"Setiap anak kecil mau siapapun dia dan bagaimana pun sifatnya tetap saja lucu."


"Tapi dia itu nggak ada lucu-lucunya sayang," ujar Raffan tidak sependapat dengan sang istri.


"Terus kalau anak kita nantinya kayak Kinara gimana?" tanya Deefa menatap serius pada sang suami yang langsung terdiam mendengar pertanyaannya.


"Ya jangan sampai kayak dia pokoknya, kalau sampai kayak dia mending jangan punya anak sekalian."


"Astaghfirullahaladzim, Mas jangan sembarangan kalau bicara bagaimana kalau Allah mengabulkan perkataan Mas barusan?!" Deefa sangat terkejut dengan perkataan yang Raffan lontarkan.


Pria itu berkata lebih baik tidak punya anak daripada harus punya anak seperti Kinara, memangnya apa yang salah dengan bocah itu, sikapnya begitu kan tergantung bagaimana orang memperlakukan dia, mungkin saja pertama kali bertemu Raffan sudah membuatnya kesal atau melakukan kesalahan yang membuat bocah itu selalu saja tak senang bertemu dengannya.


"Astaghfirullahaladzim," Raffan beristighfar ketika sadar sudah melakukan kesalahan, sungguh mulutnya itu kadang kalau berucap suka seenaknya saja, tidak menggunakan otak dulu untuk menyaring apa yang dia bicarakan.


"Ya Allah hamba cabut kata-kata hamba yang tadi, nggak apa-apa punya anak kayak Kinara juga, nggak apa-apa anak hamba judes kayak gitu asalkan Allah kasih keturunan buat hamba dan istri hamba, maafkan mulut hamba yang selalu tidak berpikir kalau bicara, maaf." langsung memohon ampun pada sang pemilik semesta berharap kalau apa yang dia katakan tadi tidak akan di dengar.


"Semoga nggak di catat sama malaikat," ujarnya lagi berharap pernyataan konyolnya belum sempat di catat oleh malaikat.


"Sebaiknya saat bicara selalu utamakan berpikir lebih dulu, apakah perkataan itu baik atau tidak karena salah-salah diri kita sendiri yang akan rugi akibat apa yang kita ucapkan," ujar Deefa mengingatkan suaminya agar lebih hati-hati lagi dalam berbicara.



"Maaf, kamu marah ya?" tanya Raffan dengan wajah yang menyesal, menyesali apa yang sudah dia ucapkan tadi.


__ADS_1


Deefa menggeleng, "tidak marah hanya saja Deefa tidak suka, Mas selalu saja sesuka hati dalam berbicara seperti tidak pernah memikirkannya dulu, langsung saja dikeluarkan begitu saja tidak peduli orang lain suka atau tidak, tersinggung atau tidak," papar Deefa tentang sifat suaminya yang kadang masih saja tanpa kendali ketika berbicara dengan dirinya dan juga orang lain.



Raffan mengatupkan bibirnya mendengar apa yang dikatakan oleh sang istri, dia memang salah jadi dia tidak akan memberikan sanggahan apapun untuk membela dirinya.



Deefa mematikan kompor ketika melihat sayuran yang dia masak sudah matang lalu meninggalkannya begitu saja membuat Raffan terbengong.



"Loh kita nggak jadi makan sayang?" tanya Raffan kala sang istri malah menaiki anak tangga menuju lantai atas.



"Handphone Deefa bunyi, mau jawab telepon dulu," sahut Deefa tanpa menghentikan langkahnya.



"Telinganya peka banget, perasaan gue nggak dengar apapun dari tadi kecuali ceramah singkat yang dia berikan barusan," oceh Raffan menggaruk puncak kepalanya memikirkan kepekaan telinga sang istri yang bisa mendengar bunyi telepon padahal benda itu ada di lantai atas sedangkan mereka ada di lantai bawah bahkan berada di dapur yang notabene berisik oleh suara masakan serta mesin dari kulkas yang mengeluarkan suara yah meski samar tapi kan tetap saja dapur itu tidak hening, apalagi tadi mereka sedang berbicara.



Menunggu sekian menit tapi Deefa tak kunjung turun dan kembali padahal Raffan sudah sangat ingin makan.




"Masa ketiduran?" oceh Raffan lalu beranjak dari kursi yang sejak tadi dia duduki.



Pria itu memutuskan untuk menyusul istrinya, memeriksanya kalau-kalau istrinya itu memang benar ketiduran dan lupa kalau ada seorang suami yang tengah menantinya untuk makan malam bersama.



Raffan menghentikan langkah di depan pintu kamar yang terbuka ketika samar-samar dia mendengar suara tangisan dari dalam sana, suara tangisan yang jelas-jelas itu adalah suara istrinya pun membuat dia langsung berlari masuk ke dalam kamar.



"Kamu marah sama aku? janji deh aku nggak akan ngomong sembarangan lagi," ujar Raffan yang mengira kalau Deefa menangis karena perkataannya yang tadi.



"Bukan itu Mas," dengan suara yang sesenggukan Deefa mencoba menjelaskan bahwa alasannya menangis bukan karena suaminya.

__ADS_1



"Terus karena apa? tadi kamu kan terima telepon tapi tiba-tiba kamu nangis, siapa yang telepon kamu memangnya, pasti dia yang bikin kamu nangis, siniin handphonenya biar aku omdlin!" kata Raffan sangat tidak terima ada orang yang membuat Deefa menangis, kalau bisa mungkin akan dia hajar orang itu.



"Abah," ucap Deefa singkat.



"Abah? Abah Burhan?" Raffan memastikan.



Deefa mengangguk cepat dengan air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya.



"Wah kalau itu aku nggak berani deh, angkat tangan aku," aku Raffan seraya mengangkat kedua tangannya, manusia bodoh mana yang berani durhaka pada kiyai pemilik pondok pesantren bisa kualat tujuh turunan dia, pikir Raffan.



Deefa tidak mendengarkan ocehan dari mulut suaminya, karena dia makin larut dengan kesedihan yang menerpanya saat ini.



"Bapak meninggal Mas," akhirnya Deefa menjelaskan kenapa dia menangis seperti ini, bapaknya baru saja meninggal dunia dan akan di kuburkan besok pagi.



"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un ," Raffan berjongkok di depan istrinya.



Dia sangat tahu kalau saat ini istrinya pasti sangat bersedih kehilangan sang Ayah, bahkan wanita itu tidak ada pada saat-saat terakhir Ayahnya.



"Deefa mau lihat Bapak Mas," pinta Deefa mengusap air mata di kedua pipi.



Raffan mengangguk, dia akan mengantarkan istrinya untuk melihat jenazah Ayahnya yang terakhir kalinya sebelum dimakamkan besok pagi



Saat akan berangkat Raffan tidak lupa untuk mengabarkan berita duka itu kepada Ayah dan Ibunya, lalu keduanya langsung berangkat toh orang tuanya bisa pergi dengan sopir nantinya, bukan tidak mau mengajak bareng dia hanya tidak mau istrinya dan ibunya malah tidak saling bicara atau mungkin nantinya malah ibunya mengeluarkan perkataan yang makin membuat istrinya sakit hati.

__ADS_1


*******


__ADS_2