
Sudah beberapa hari sejak perdebatan mereka di jalan setelah makan malam dengan Ayah dan Ibunya Raffan tidak lagi mendengar suara Deefa mengajaknya bicara, biasanya wanita itu akan menawarinya makan atau sekedar mengiringinya saat akan keluar rumah.
Pagi hari saat turun dari lantai atas Raffan yang sudah rapi untuk pergi ke kampus hanya mendapati makanan yang sudah tersaji di atas meja tentu itu makanan yang istrinya masak sejak pagi, tapi sang istri tidak terlihat batang hidungnya membuat Raffan berdecak tak terima.
Jiwa egoisnya sebagai seorang pria dan suami merasa di tantang oleh sikap istrinya yang mengabaikannya.
"Masih marah?" gerutu Raffan dengan matanya yang melihat ke setiap penjuru rumah mencari keberadaan wanita dengan panggilan Deefa.
Raffan memicing begitu mendengar langkah kaki dari arah belakang dan rahangnya mengeras kala mendapati sosok wanita yang sejak tadi dia cari melenggang ringan melewati dirinya seakan dia adalah makhluk tak kasat mata.
"Deefa!" seru Raffan tak senang hati dengan sikap yang Deefa tunjukkan.
Langkah Deefa terhenti tak jauh dari ambang pintu yang membatasi ruang makan dengan dapur.
"Lo nggak sadar udah nyuekin gue berhari-hari?!" dengus Raffan sepertinya mulai akan membuat keributan lagi dengan perilakunya seenaknya sendiri.
"Sadar, sangat sadar," sahut Deefa dengan tarikan napasnya.
"Itu artinya Lo sudah tahu dong kalau Lo itu berdosa sama gue, mendiamkan suami selama berhari-hari hukumnya dosa dan gue yakin sebagai seorang USTADZAH Lo cukup mengerti itu!" peringat Raffan dengan penekanan di kata ustadzah terkesan menyindir wanita yang bahkan tidak berbalik untuk melihatnya.
"Mas bisa bertindak sesuka hati tanpa memikirkan dosa yang akan Mas dapatkan karena sudah menyakiti hati seorang istri, lalu kenapa sekarang Mas sibuk memikirkan dosa yang akan Deefa dapatkan karena melakukan hal yang sama? kenapa Mas seolah menuntut Deefa untuk menjalani kewajiban Deefa sebagai seorang istri sedangkan Mas sendiri lalai dengan kewajiban Mas sendiri."
Meski se kesal dan semarah apapun Deefa pada pria di belakangnya ini tapi tetap saja Deefa masih menaruh hormat padanya dengan tetap memanggilnya Mas,sebutan yang dia sematkan saat pertama kali Raffan menjadi suaminya.
"Oh jadi seperti ini sifat asli seorang wanita yang katanya lulusan pesantren dan seorang guru mengaji," desis Raffan membuat Deefa berbalik dan pandangan mereka bertemu.
"Aku hanya manusia biasa yang memiliki perasaan serta nafsu emosi Deefa hanya sanggup menjaga lisan Deefa agar tidak melukai perasaan Mas Raffan, maaf jika sebagai istri perilaku Deefa tidak baik di mata Mas, tapi setidaknya sebagai seorang suami Mas Raffan bisa sedikit saja mencoba untuk memahami Deefa memahami status Mas yang sudah bukan lagi seorang pria lajang yang bebas pergi kemanapun sesuka hati, tolong hargai Deefa dan Deefa akan melakukan hal yang sama," tutur Deefa bukan bermaksud membantah hanya saja dia berharap suaminya sedikit saja menghargai keberadaannya yang beberapa waktu lalu dia jadikan istri.
"Terserah Lo lah!" sentak Raffan.
Deefa menghela napas yang menyesakkan dada, beberapa hari ini semenjak pertengkaran mereka di dalam mobil Deefa selalu menangis setiap malam mengingat perkataan Raffan yang selalu saja membahas tentang perceraian, apa pria itu sungguh tidak berniat untuk mencoba menjalani rumah tangga yang sudah sah di mata negara dan agama, bahkan para malaikat pun turut serta menyaksikan saat pria itu melafalkan ijab kabul yang begitu merdu di telinga Deefa.
"Kalau begitu Mas Raffan tidak boleh protes kalau Deefa melakukan hal sesuka hati Deefa sama seperti yang Mas lakukan."
Deefa berkata resah sebenarnya ini hanya sekedar ancaman agar setidaknya suaminya itu mau berkenan sedikit saja merubah sikap serta perlakuan pria itu kepada dirinya, harapan dari seorang wanita dengan posisi sebagai istri pun harus hancur seketika kala mendapatkan jawaban.
"Ya sudah kalau itu mau Lo! gue nggak akan protes dan artinya Lo pun nggak boleh lagi protes sama apa yang gue lakukan, dengan senang hati gue ucapkan terimakasih Adeefa Ranaya, Lo memang istri yang pengertian," putus Raffan dengan senyum yang menggambarkan kemenangan namun terlihat sinis disaat yang bersamaan.
Deefa menatap nanar pada pria yang langsung melenggang pergi begitu selesai mengatakan hal yang siapapun akan merasakan kecewa ketika perkataan seperti itu meluncur dari pria yang berstatus sebagai suami.
Tubuh Deefa terasa begitu limbung seperti tidak sanggup untuk berdiri dengan benar, inikah yang dinamakan ujian dalam pernikahan? dan hal ini terjadi saat mereka baru genap satu Minggu menikah.
"Semoga Allah senantiasa menguatkan Deefa, meski sejujurnya Deefa hanya manusia biasa yang lama-kelamaan akan merasakan lelah jika suami yang seharusnya menjaga Deefa justru dengan sengaja melukai perasaan Deefa, salahkah Deefa menerima perjodohan ini?"
__ADS_1
Deefa memejamkan kedua matanya yang sedari tadi digenangi oleh bulir-bulir air mata yang sekarang dengan bebas meluncur membasahi kedua pipinya.
"Astaghfirullah, maafkan Deefa karena terus menerus mengeluh padamu ya Allah, sedangkan Deefa tahu Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya," kata Deefa memohon ampunan pada sang kuasa karena ucapannya.
*****
"Kenapa Lo? muka Lo suntuk amat," celetuk Gumay menyambut kedatangan Raffan di tangga masuk kampus mereka.
"Bisa diem nggak!"
Bukannya menjawab Raffan malah suaranya terdengar begitu sengit memberikan peringatan.
"Oke siap," sahut Gumay yang sudah hafal dengan sifat Raffan yang akan semakin kesal jika diberikan pertanyaan saat raut wajahnya tidak bersahabat seperti sekarang.
Gumay pun mengikuti langkah Raffan menuju fakultas ekonomi dan bisnis.
"Raffan."
Suara panggilan dari belakang mereka membuat Raffan menoleh, pria itu sudah sangat kenal dengan sang pemilik suara yang kemarin batal dia temui, ah semua karena Deefa. begitulah pemikiran Raffan saat ini kala mendapati wajah wanita bernama Faranisa Drajat yang sekarang mendekat dan Raffan bisa melihat mimik kecewa dari wanita dengan celana jins ketat bahkan bentuk tubuh bagian bawahnya tercetak jelas dipadukan kaos lengan panjang dengan kerah bentuk v.
"Semakin hari semakin seksi aja Lo Far," kata Gumay.
Entah itu adalah pujian atau memang itu yang dilakukan para buaya saat melihat wanita-wanita dengan pakaian melekat erat di tubuh seperti dirinya.
"Aduh!" meringis ketika tangan Raffan meninju pundaknya.
"Dasar kadal jantan," celetuk Fara dengan sudut bibir yang terangkat.
"Teman gue yang ini juga kadal, tapi Lo suka," ujar Gumay melirik pada temannya yang mendelik.
"Sorry, gue cari Rio dulu kalau gitu." memilih menyelamatkan diri ketimbang harus mendapatkan amukan dari Raffan yang dari dengusan nya saja sudah menunjukkan bahwa temannya itu sudah siap untuk kembali melayangkan tinjunya dan mungkin kali ini dengan kekuatan ekstra.
"Raf?" panggil Fara setelah Gumay menaiki tangga menuju lantai dimana kelasnya berada.
"Iya kenapa?"
"Kemarin kemana?" wanita itu kembali mengulang pertanyaan yang belum terjawab.
__ADS_1
"Emm itu, ibu tiba-tiba ngajak makan malam bersama, kamu kan tahu sendiri aku jarang banget makan malam sama mereka, jadi mungkin ibu lagi kangen kumpul bertiga," jawab Raffan dengan cengiran yang malah terlihat sangat kaku dan terpaksa.
"Oh, padahal aku udah tungguin kamu dan.."
"Dan apa?" tanya Raffan karena wanita di depannya ini menghentikan perkataan.
Fara menggeleng cepat, "nggak apa-apa."
Raffan bisa melihat kekecewaan dari wanita yang akhir-akhir ini semakin gencar dia dekati.
"Nanti selepas kuliah kita ke cafe ya, hitung-hitung ganti yang semalam batal," tawar Raffan berniat menebus kesalahannya.
Fara pun mengangguk antusias dengan senyuman yang sangat khas yang dia punya.
"Raf."
Suara dari arah masuk lagi-lagi mengurungkan niat Raffan untuk pergi ke kelasnya.
"Apa?" Raffan menjawab malas.
"Aku duluan ya, nanti jangan lupa." Fara mengingatkan yang dijawab dengan anggukan.
"Gue mau ngomong sama elo," kata Agam seraya menyeret Raffan menuju tempat yang cukup sepi, pria itu seperti begitu semangat untuk menanyakan sesuatu pada temannya.
__ADS_1
*****