Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Jangan Cari Masalah


__ADS_3

Agam turun membuka pagar rumah yang lampunya masih menyala terang menandakan sang penghuni rumah belum tidur, tentu Deefa belum tidur sebab masih menunggu suaminya yang tadi dengan keras kepalanya menolak untuk pulang ke rumah, tapi semua temannya terutama Agam memaksanya untuk pulang, hingga akhirnya disinilah mereka berada.


Agam mengantar Raffan pulang bukan karena Raffan tidak bisa mengendarai mobilnya, bukan itu masalahnya karena meski cedera di tangan serta kakinya pria itu tentu masih bisa berkendara, tapi ini lebih karena Raffan yang takut untuk pulang dan bertemu dengan istrinya.


Takut karena memang dia sudah melakukan kesalahan, melakukan hal yang tentu tidak akan diizinkan oleh istrinya bahkan melakukannya secara sembunyi-sembunyi.


Setelah membuka pintu pagar, Agam kembali masuk ke dalam mobil dan mengaturnya untuk masuk ke dalam halaman rumah.


"Turun Raf," kata Agam ketika mobil sudah berada di halaman namun Raffan malah tak kunjung turun dari dalam mobil bahkan ketika sekarang pintu rumah sudah terbuka dan menampakan seraut wajah dengan senyuman seolah menyambut kepulangan suaminya.


Deefa masih bisa tersenyum padahal suaminya itu tidak pulang tepat waktu, mengatakan tidak pergi lama tapi malah pulang hampir dipertengahan malam.


Beruntung tadi sebelum suaminya pergi Deefa mengajari suaminya untuk tidak mudah mengucapkan janji kalau akhirnya malah tidak bisa menepati, dan akhirnya apa yang Deefa katakan pun terjadi, dia menjadi penyelamat bagi suaminya dari dosa mengingkari janji.


Raffan melihat ke arah istrinya yang masih menantinya di depan pintu.


"Gam," memanggil Agam tanpa mengalihkan pandangan.


"Hm," Agam mendehem sebab ternyata dia juga tengah melihat pada arah yang sama.


"Biasanya perempuan kalau marah nakutin nggak?"


Agam menoleh melihat pada sang teman dengan kening yang mengerut.


"Emang selama nikah Lo nggak pernah bikin Deefa marah?" tanya Agam.


"Pernah," sahut Raffan.


"Terus kenapa Lo masih tanya, seharusnya kan Lo tahu marahnya dia tuh kayak gimana," jelas Agam merasa bingung dengan Raffan yang mempertanyakan hal yang semestinya dia sendiri pun tahu jawabannya.


"Dulu sama sekarang beda Gam, dulu gue biasa aja waktu dia marah.."


"Terus sekarang?" Agam menyela membuat Raffan melihat padanya.


"Sekarang gue takut kalau dia marah, apalagi gue nggak izin waktu mau balapan," terang Raffan membuat Agam mengedikkan bahunya.


Dari awal Agam sudah memperingatkan pada temannya itu untuk meminta izin lebih dulu pada Deefa, tapi sang teman yang entah apa di dalam pikirannya itu malah tidak meminta izin dan nekat balapan sampai akhirnya harus celaka.


"Kayaknya Lo kualat dah Raf sama Deefa," tutur Agam membuat Raffan mendengus murka.


Agam tersenyum samar melihat tingkah Raffan dan kemudian memberikan penawaran yang niatnya untuk membantu temannya itu, "gue ngomong dulu sama Deefa deh," Agam bersiap untuk turun.


"Mau ngomong apaan Lo?" Raffan menahan tangan Agam dengan tatapan yang penuh curiga, Raffan tentu tidak akan lupa kalau Agam memiliki perasaan untuk istrinya jadi sebisa mungkin dia tidak akan membiarkan Agam mendekati Deefa meskipun di depan matanya.



"Gue niat nolong Lo Raf."



"Nolong apaan?" tanya Raffan sudah sedikit sengit masa bodo kalau saat ini istrinya sedang bingung kenapa di dalam mobil ada dua orang dan tak juga turun.


__ADS_1


"Katanya Lo takut Deefa marah."



"Akal-akalan Lo aja, palingan Lo mau nusuk gue dari belakang!" semprot Raffan dengan wajah sinis.



"Lo pikir gue sebangsa Sayuti! laki tapi lebih senang di panggil Ayu!" jawab Agam yang malah membawa-bawa teman kampus mereka yang Raffan sendiri sangat tahu Sayuti termasuk dalam golongan ganda, perempuan iya, laki juga iya.



"Lo anak ustad! ya gila aja kalau Lo nyeleneh begitu mah,ckck," rutuk Raffan lalu berdecak.



"Lo juga anak ustad tapi kelakuan Lo nyeleneh," balas Agam tak mau mengalah.



"Sialan!" umpat Raffan merasa dadanya di tonjok oleh Agam dengan sangat kencang.



Benar kata Agam, dia anak ustad tapi segala tingkah lakunya kadang membuat orang beristighfar lalu geleng-geleng kepala.



"Cepetan turun Deefa udah nungguin dari tadi," perintah Agam yang segera saja membuka pintu mobil.




"Bantuin gue!" pinta Raffan ketika kesulitan saat akan menurunkan kaki kanannya yang tadi sudah di urut tapi masih butuh proses untuk bisa sembuh di tambah lagi pinggangnya yang masih sangat nyut-nyutan apabila dia bergerak.



Agam pun memutar untuk membantu Raffan turun dari mobil, memapahkan menuju teras rumah dan mereka bisa melihat perubahan pada mimik wajah Deefa, yang tadi tersenyum berangsur menjadi cemas dan panik.



"Mas Raffan kenapa?" tanyanya bahkan langsung menghampiri suaminya yang tengah di bantu oleh Agam.



"Assalamualaikum," ucap Agam.



"Wa'alaikumsalam," jawab Deefa dengan suara sedikit tersendat.


Deefa pun membuka pintu semakin lebar untuk kedua pria itu.

__ADS_1


"Mas Raffan kenapa?" Deefa mengulangi pertanyaannya yang belum di jawab.


"Jatuh dari motor." dengan santainya Agam memberi jawaban membuat Raffan mendelik sedangkan dia sendiri sedang di lihat oleh Deefa.



"Lo pulang sana," usir Raffan dengan cepat.



Agam menarik napas lalu beranjak dari duduknya.



"Aku pulang," katanya pada Deefa.



"Sialan! malah mesra banget udah kayak orang pacaran," maki Raffan membuat Deefa dan Agam menoleh bersamaan.



"Gue pulang." kali ini berkata dengan nada tegas kepada Raffan yang mendapat decihan dari pria yang tengah merasakan kesal bercampur sakit yang bersamaan.



"Assalamualaikum."



"Wa'alaikumsalam," jawab Deefa lalu mengantar Agam sampai ke pintu.



"Pakai di anterin segala Deef," sindir Raffan ketika Deefa sudah kembali, sepertinya ini adalah salah satu cara agar dia tidak terkena omelan istrinya dengan marah duluan, mencari gara-gara.



"Sekalian kunci pintu Mas," jelas Deefa.



Raffan menaikkan sudut bibirnya lalu bertingkah selayaknya orang marah.



"Mas jangan cari masalah di saat Mas membuat masalah!" tegas Deefa seperti sangat mengerti apa yang ada di dalam kepala suaminya saat ini.



Raffan menggaruk-garuk belakang telinganya, menjadi salah tingkah sebab istrinya jauh lebih pintar ketimbang dirinya.


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2