Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Berjalan Normal Meski Ada Prahara


__ADS_3

"Sepertinya kita harus mulai sering berduaan." Raffan membuka suara saat istrinya tengah menemani dirinya menonton televisi.


"Untuk? bukankah kita sudah sering berduaan, makan berdua tidur berdua sekarang pun juga sedang berdua, kan?" Deefa memang polos hingga dengan hal yang seharusnya sepele bagi pasangan suami istri malah terkesan tidak dia pahami.


Tidak dengan maksud suami terarah suaminya yang padahal sudah sangat jelas tujuannya.


"Terlalu naif, polos sampai persoalan mudah begini saja tetap tidak mengerti," menunjuk kening istrinya dengan telunjuk namun gerakannya begitu lembut tidak kasar sama sekali, tentu karena niatnya bukan untuk menyakiti.


"Sebenarnya aku tidak suka dengan segala sifat mu itu, tapi aku terlanjur cinta mati jadi ya sudah terima saja meski tiap hari harus makan hati," cerocos Raffan yang malah membuat wanita di sampingnya tersipu malu.


Fokus Deefa bukan pada kalimat tidak suka tapi dia terbuai dengan kalimat terlanjur cinta mati, hingga wajahnya mungkin sekarang menjadi sangat merah ditambah dengan jantungnya yang berdebar tak terkendali, dia bukan gadis remaja lagi sudah usia dewasa namun tetap saja yang namanya bunga cinta akan terus bermekaran dengan baik apabila dia bertemu dengan pasangan tercintanya, sungguh dia harus bahagia karena cintanya benar-benar bersambut dengan baik.


"Sepertinya dengan kamu itu tidak perlu berbicara panjang lebar karena hanya akan jadi percuma sebab kamu tidak mengerti atau mungkin kamu memang tidak mau belajar untuk mengerti, hm?" Raffan mengangkat dagu sang istri hingga wanita yang sedang menunduk menutupi wajah yang merah itu menghadap padanya.


Kedua netra mereka pun saling bertatapan, menyelami makna yang tersimpan dari netra mereka masing-masing, buncahan lahar panas seolah meluruh dengan sangat baik dari sorot mata keduanya, memberi makna tersendiri terlebih lagi dengan sapuan napas yang juga panas mulai saling berbalas menerpa wajah keduanya.


"Usaha kita untuk punya anak harus dimulai dari sekarang," kata Raffan berbicara tepat di depan wajah istrinya membuat tarikan napasnya bahkan menyerang dengan baik membuat Deefa memejamkan kedua mata.


Napas dengan aroma mint membuat Deefa merasa dingin sekaligus panas bersamaan, membuatnya meresapi aroma mint yang seolah membuatnya terlena padahal suaminya tidak melakukan apa-apa, hanya berbicara saja namun jaraknya yang memang teramat dekat membuat dia tak kuasa terhanyut.


Telinga Deefa jadi sangat sensitif ketika dia tak menyangka merasakan hembusan napas suaminya yang berada tepat di depan telinga membuat dia refleks bergerak ingin menjauh tapi tangan sang suami sudah mencengkeram kedua bahu menahan dia agar tidak menghindar.


"Tolong pakai baju tidur yang dulu aku belikan," pinta Raffan dengan suara berbisik dan juga terdengar berat.


Terlihat jelas bahwa pria itu tengah berusaha mengendalikan diri dari segala rasa yang ingin dia keluarkan, ingin dia perlihatkan dan lampiaskan namun dia ingin malam ini menjadi benar-benar sempurna untuk membantu melengkapi usaha pertama mereka sebelum usaha-usaha dalam bentul lainnya.


Mendengar itu sontak Deefa membuka mata menatap tak berdaya dan tak punya kuasa untuk menolak, lingerie yang selalu membuatnya malu dan tak percaya diri saat memakainya harus kembali dia pakai setelah hanya tersembunyi di dalam lemari menggantung dengan pakaian-pakaian miliknya yang lain.


Raffan tersenyum penuh arti lalu menarik kepala Deefa untuk menghadiahkan kecupan sebagai tanda dia menyemangati istrinya itu.


Cup!


"Pakai sekarang ya, nanti kalau sudah pakai panggil aku," tutur Raffan tersenyum menggoda.


Deefa mengangguk lalu beranjak dari duduknya dengan senyum yang masih sangat malu-malu, entahlah mereka sudah setengah tahun lebih menikah tapi dia masih tetap saja merasa malu ketika harus tampil terbuka di depan suaminya itu, lingerie yang suaminya belikan benar-benar membuat dia kadang ingin mengubur wajahnya dibalik bantal saat memakainya.


Raffan memandang punggung Deefa yang mulai menjauh mengarah pada tangga, bibir yang tadinya tersenyum perlahan berubah hingga senyum itu benar-benar hilang tak membekas di kedua bibirnya.


Dia tentu akan memikirkan dan terus terusik dengan perkataan ibunya dua hari lalu, tak pernah menyangka ibunya yang dulu mendatangkan kebahagiaan untuknya sekarang malah ingin membuang kebahagiaannya itu.


Dua hari hidupnya dengan Deefa berjalan normal sebab dia berhasil membuat Deefa untuk tidak membahas tentang ibunya, rumah tangga yang terasa normal meski sebenarnya menyimpan prahara.


"Mas."

__ADS_1


Suara panggilan lembut dan terkesan malu-malu terdengar oleh sepasang telinga pria yang melamun sejak kepergian Istrinya untuk berganti baju pun buyar dalam sekejap menyadarkan dirinya untuk tidak lagi larut dalam dilema.


Raffan menormalkan tarikan napas lalu menjawab panggilan dari wanita yang berada di balik pintu, "iya, suami tercinta datang." masih sempatnya bergombal ria padahal hatinya itu tengah resah, mungkin ini salah satu caranya agar keresahannya tidak terlihat oleh sang istri.


Raffan beranjak dari duduk dan melangkah cepat tak sabar menaiki anak tangga agar bisa bertemu dan mendekap tubuh wanita yang sudah berpakaian tak sempurna.


****


"Kamu serius mau pakai-pakaian seperti ini?" Rovia tampak tak percaya ketika melihat penampilan anaknya ketika memakai pakaian yang kemarin mereka beli di butik.


"Serius lah Mami, Raisya ini sudah sangat cantik bukan?" Raisya bergerak centil di depan cermin meneliti setiap tubuh yang di balut dengan pakaian yang sama sekali tidak biasa dia pakai.


Dia itu terbiasa memakai jeans ketat serta atasan yang memperlihatkan bentuk tubuhnya atau tak jarang memakai rok sangat pendek dipadu dengan atasan tanpa lengan.


Lalu sekarang dia tampil menjadi sangat jauh berbeda seolah itu bukan dirinya, seperti orang lain yang memang sangat taat akan agama.


Dia memakai pakaian tertutup meski bukan gamis tapi memang sangat pantas dipasangkan dengan kerudung segitiga yang melingkar di kepalanya, membungkus rambut meski masih belum rapi namun dia tetap percaya diri dengan tampilan barunya itu.


"Mami akui kamu memang sangat cantik dan bertambah semakin cantik dengan pakaian seperti ini, tapi apa kamu yakin? Mami hanya takut kamu tidak nyaman karena ini bukan pakaian yang biasa kamu pakai," ucap wanita yang berdiri memandangi anaknya.


Raisya menoleh, "Mami tenang saja, Raisya akan selalu nyaman jika itu menyangkut tentang Raffan," cetusnya seraya mengukir senyum lalu mengedipkan sebelah mata.


Rovia menghela napas panjang lalu berjalan menghampiri sang anak, "harus lebih rapi," katanya memperbaiki kerudung yang ada di kepala sang anak.


"Memangnya Mami bisa," kata Raisya meremehkan Maminya yang dari segi usia saja tentu sudah memiliki pengalaman yang lebih banyak darinya.


Raisya membulatkan mata sempurna lalu tersenyum lebar, "tentu Tante Hayati yang selalu membetulkan kerudung Mami dulu," tebak Raisya tertawa mengejek.


"Kalau tidak ada Tante Hayati, Raisya ragu Mami akan bisa memakai kerudung," katanya lagi membuat sang Mami menepak kepalanya kesal.


"Anak kurang ajar!" sentaknya tak terima.


"Ya maaf Mi, abisnya dandanan Mami aja kayak gini mana Raisya tahu kalau dulu Mami sekolah pakai kerudung, Raisya pikir Mami sekolah itu pakai rok di atas lutut terus bajunya ketat."



"Memangnya Mami, kamu! dari SD sudah pakai baju kurang bahan," oceh Rovia mengingatkan bagaimana anaknya saat kecil dulu.



"Dih waktu Raisya kecil kan semua pakaian yang Raisya pakai ya Mami yang belikan, jadi jangan salahkan Raisya dong," berkata tak terima padahal saat dia kecil semua pakaian yang dia pakai itu Maminya lah yang membelikan dia sebagai anak ya hanya tinggal pakai saja apapun itu, tapi sekarang sang Mami malah seolah lepas tangan tak bertanggung jawab menyalahkan dirinya, menyebalkan!


__ADS_1


Rovia memutar bola mata dengan mulut yang mendesis saja, dia tidak bisa menjawab sebab apa yang dikatakan oleh sang anak memang benar, dirinya yang membeli semua pakaian anaknya itu, karena pakaian anak kecil perempuan memang lucu sekaligus bagus jadi saja dia gatal membelikan pakaian yang menurutnya bagus tak peduli kalau pakaian itu terlalu kecil asal menurutnya bagus ya dia beli, terlebih lagi saat kecil Raisya juga sangat imut menggemaskan membuat siapapun yang melihat akan langsung menyukai tanpa segan memberikan pujian membuat dirinya menjadi semakin semangat mendandani anaknya itu.



"Eum, Mami."


Raisya memanggil sang Mami yang memamerkan wajah jutek.


"Apa?" menjawab ketus panggilan anaknya.



"Kita ke rumah Tante Hayati yuk."


Ajakan sang anak membuat Rovia berdecak, "mau caper?" tebaknya.


"Langkah pertama kan memang harus mendekati Ibunya dulu kalau untuk mendapatkan anaknya, bukan begitu?" Raisya memainkan alisnya naik turun.



"Mami nggak tahu rumahnya nggak sempat tanya," jawab Rovia tenang.


Dia memang tidak sempat menanyakan dimana temannya itu tinggal, lupa karena terlalu asik mengobrol tentang masa muda mereka saat di kampung halaman dulu.


"Mami kan bisa tanya lewat telepon," celetuk Raisya namun dia malah mendapati ekspresi dari Maminya yang seperti tengah mengingat apa kemarin sempat minta nomornya atau tidak.



"Jangan bilang kalau Mami juga lupa untuk minta nomor teleponnya!?" usut Raisya dengan mata yang menyipit.


Rovia segera beranjak mengambil handphone yang dia tinggalkan di atas tempat tidur sang anak, membuka handphone untuk mengecek apakah ada nomor temannya.


"Ada nggak Mi?" tanya Raisya tak sabar.



"Ada nih," beritahu Rovia saat menemukan nomor telepon Hayati di kontak handphone membuat Raisya bertepuk tangan girang.



"Telepon Mi, terus minta alamat rumahnya." perintah Raisya.


__ADS_1


Tentu saja sang Mami menuruti permintaan dari anaknya itu meski sedikit kesal namun tangannya bergerak melakukan panggilan telepon ke nomor Hayati.


****


__ADS_2