
"Kita tidak punya hak untuk ikut campur."
Sejak pulang tadi istrinya terus saja mengatakan tentang Raffan dan Deefa tentang apa yang baru saja istrinya ketahui mendadak menjadi masalah yang sangat besar bagi wanita itu.
"Kita orang tuanya." sahut Hayati dengan kedua mata yang merah.
Apa yang dia pikirkan ternyata benar, anaknya berbohong membohongi dirinya tentang hasil pemeriksaan, dengan tega bersikap tak jujur kepada dia padahal dialah yang sudah melahirkannya dan merawat serta membesarkannya dengan sangat baik, melimpahkan kasih sayang bahkan kerap kali membela anaknya itu ketika sedang mendapat kemarahan dari sang Ayah.
"Sekalipun orang tua kita tetap tidak berhak, ingat status Raffan yang sudah menikah, jangan selalu membenarkan apa yang kamu lakukan itu dengan dalih orang tua, Raffan sudah dewasa dia sudah bisa berpikir dan mengambil keputusan terlebih lagi ini tentang rumah tangga, Ayah tidak setuju dengan apa yang ingin ibu lakukan," sang suami dengan jelas memberikan tentangan.
"Tidak ada pilihan lain."
"Yang berhak menentukan pilihan itu Raffan dan Deefa bukan ibu ataupun Ayah!" tegas pria yang sudah berusaha memberikan nasihat masukan atau apapun itu agar istrinya mau mengerti namun dia salah, wanita bernama Hayati itu jauh keras kepala ketika sudah menginginkan sesuatu, kehendaknya seolah tidak bisa dilarang apalagi di tentang.
"Andai waktu bisa di putar kembali sungguh Ibu merasa menyesal menikahkan Raffan dengan Deefa."
"Bu!" ustad Imran berseru keras membentak perkataan istrinya, perkataan yang sangat tidak mengenakkan itu tentu akan membuat sakit hati Deefa jika mendengarnya.
"Jangan sekali-kali mengatakan hal menyakiti hati orang, apalagi itu tentang menantu mu sendiri, wanita yang juga kamu setujui bahkan kamu sendirilah yang menginginkannya untuk Raffan, lalu sekarang dengan tanpa perasaan kamu mengatakan menyesal? kamu ini seorang wanita andai Deefa bisa memilih pun dia tentu akan memilih menjadi seorang wanita yang bisa memberikan keturunan dan memenuhi harapan ibu," kata ustad Imran penuh penekanan dengan sorot mata yang tertuju pada wanita yang duduk di seberangnya.
"Ayah tidak perlu ikut campur sama apa yang akan ibu lakukan."
"Bagaimana bisa Ibu melarang Ayah untuk ikut campur sedangkan Ibu juga tengah mencampuri urusan rumah tangga Raffan yang bukan ranah Ibu, ibu tidak seharusnya masuk." pria itu sedikit menyentak meja membuat istrinya bahkan terjengkit kaget karenanya.
Lalu dengan suara yang pelan Hayati pun kembali berucap, "ibu sudah bilang sama Deefa, dan Deefa pun setuju, dia tidak membantah karena dia juga mungkin sadar dia itu memiliki kekurangan," papar wanita yang meski suaranya tidak sekuat tadi namun tutur kata yang keluar dari mulutnya itu tetap saja pedas dan terdengar menyakiti.
"Astaghfirullahaladzim, ibu itu tahu bagaimana sifat Deefa, dia wanita yang hanya akan diam apapun yang ibu katakan dia akan menurut dan mengiyakan terlebih lagi ibu adalah mertuanya, ibu dari laki-laki yang menjadi suaminya, tentu dia akan melakukan apapun untuk membuat ibu bahagia meskipun itu semua bertentangan dengan hatinya, melawan rasa sakit dan memendamnya itu sangat tidak mudah." kalimat tak menyangka terus terlontar dari mulut pria yang merasa gagal menjadi seorang suami karena istrinya itu setelah sekian lama malah menunjukkan sifat yang selama ini tidak ada.
Dia menjadi gagal mendidik istrinya untuk bersikap baik dan tidak menjadi seorang mertua yang otoriter dengan segala pemikirannya yang seolah tidak menganggap perasaan menantunya sendiri.
"Ibu hanya ingin melihat Raffan bahagia, ibu juga tidak mau garis keturunan kita terhenti di Raffan saja, anak kita itu masih muda tentu sangat sehat untuk bisa memberikan kita banyak cucu!" Hayati kembali berkata dengan suara yang keras, dia ini menjadi seorang istri yang tidak patuh hanya karena menginginkan garis keturunan keluarga mereka tidak terhenti.
"Kebahagiaan Raffan atau kebahagiaan ibu?"
Pertanyaan seperti itu sudah jelas jawabannya seperti apa, Ustad Imran tentu tahu kebahagiaan itu tujuannya untuk siapa? bukan Raffan karena terakhir kali dia berbicara dengan anaknya itu dia sangat tahu bahwa anaknya itu sudah sangat mencintai Deefa.
****
Pagi hari setelah kejadian kemarin dan beberapa hari yang lalu tentu suana rumah tidak lagi sama seperti awal pasangan suami istri itu mulai saling memberi perhatian hingga akhirnya rasa yang berbalas menjadikan mereka pasangan yang saling menutupi kekurangan mereka satu sama lain, lalu untuk kali ini mampukah Raffan menutupi kekurangan Istrinya? bergantian dengan Deefa yang dulu selalu menutupi kekurangannya.
"Jika aku tahu akan seperti ini aku lebih memilih untuk tidak jatuh cinta sama kamu, melarang kamu untuk jatuh cinta padaku ketimbang harus kecewa dan melihat kamu menderita," tutur Raffan saat mereka berada di meja makan, hendak sarapan namun sejak tadi tidak ada suara yang Deefa keluarkan, wanita itu menutup mulutnya dengan rapat membuat dia terpancing untuk berkata-kata.
Deefa yang tadi menunduk menatap piring kosong di depannya, dia baru selesai mengisi piring milik suaminya dengan nasi goreng yang dia buat, sedangkan piringnya belum sempat dia isi tapi sepertinya dia memang tidak berniat untuk mengisi piringnya dengan nasi goreng atau makanan apapun, sejak beberapa hari lalu nafsu makannya sudah hilang tak tahu kemana, membiarkan perutnya hanya diisi dengan air putih saja untuk membuat dia tetap bertenaga agar bisa menghadapi segala takdir yang sudah menantinya.
Wanita itu seolah tidak peduli mau pingsang berapa kali pun karena tubuhnya yang seperti menolak makanan yang masuk ke dalam tubuhnya, menjadikannya kurus seperti yang Raffan lihat.
"Maaf karena sudah membuat Mas Raffan menyesal," lirih Deefa.
"Aku menyesal, sangat mengenal kenapa aku harus jatuh cinta dengan wanita yang terlalu baik, seharusnya sejak awal aku tidak memberikan kesempatan kamu untuk masuk ke dalam hatiku, berkuasa penuh tapi akhirnya melukai," papar Raffan bak seorang pujangga yang sedang patah hati pada kekasih yang membuat kecewa.
__ADS_1
Makanan yang harusnya mereka nikmati seolah hanya menjadi pajangan tak berguna yang menghiasi piring, keduanya malah larut dalam kalimat-kalimat penuh kesedihan dan kegundahan yang menerjang seluruh jiwa raga.
Saling tatap dengan kedua netra yang dalam dan penuh tekanan, hal seperti ini seharusnya salah satu dari mereka bisa mengalah, tapi Raffan yang sudah lelah meyakinkan merasa tidak lagi berguna untuk terus berusaha, istrinya keras kepala dan terlalu baik untuk orang lain yang tidak harusnya masuk dalam urusan rumah tangga mereka.
"Aku bisa melakukan apapun untuk kamu Deefa, asal kamu tidak pasrah tidak diam saja dan tidak menerima apa yang ibu inginkan, kamu bisa membantuku hanya dengan memberi aku semangat bahwa kita bisa terus bersama tanpa ada wanita lain di tengah-tengah kita, kamu bisa menolak apa yang ibu katakan.."
"Ibu sudah marah dan pasti akan bertambah marah kalau aku menolak."
"Persetan dengan kemarahan ibu! kamu tahu aku akan ada di depanmu aku akan membelamu sekalipun aku harus berhadapan dengan ibu kandungku!"
Raffan sudah mulai tidak bisa lagi mengontrol apa yang keluar dari mulutnya, tidak peduli ketika kata kasar yang biasanya hanya akan keluar saat dia bersama dengan teman-temannya saja membuat Deefa menjengkit kaget bukan hanya karena kata kasar tapi juga Raffan yang membentak dengan suara yang sangat tinggi dengan wajah yang emosi.
"Mas.."
"Berhenti jadi wanita baik!" sentak Raffan murka.
Sudah begini Deefa hanya bisa menundukkan kembali wajahnya, tidak berani mengangkat wajah guna membalas tatapan dari sepasang netra yang tengah mempertunjukkan bagaimana pria itu ketika emosinya sudah benar-benar tersulut.
Prang!
Sampai terdengar suara piring yang menghantam lantai akibat di lempar membuat tubuh Deefa terjengkit untuk sekian kalinya, sungguh dia tidak menyangka suaminya yang biasanya hanya akan melemparkan kata-kata saja ketika sedang marah kini dia lihat melempar piring berisi nasi goreng buatannya, melempar hingga butiran-butiran nasi berhamburan bercampur dengan pecahan piring, itu menunjukkan bahwa emosi Raffan sudah benar-benar berada di puncaknya.
Deru napas Raffan sangat cepat seperti sedang memburu mangsanya apalagi saat dia melihat Deefa bergerak dari duduknya lalu berjongkok memunguti pecahan piring yang ada di lantai.
Dia jadi sangat tidak suka melihat respon istrinya itu membuatnya mendengus sinis dengan mata yang tajam memperhatikan gerak-gerik wanita yang hanya berada dua meter dari tempatnya berada.
"Tidak baik membuang makanan," ucap Deefa mengingatkan.
Deefa tidak lagi menjawab tangannya saja yang sibuk bergerak sangat hati-hati agar pecahan piring yang tajam tidak melukai jari-jarinya.
Kedua mata Raffan tidak pernah sekalipun berpaling dari istrinya yang sekarang sedang membuang pecahan piring itu ke dalam tempat sampah yang ada di dapur sampai sang istri kembali ke ruang makan dengan membawa piring baru dan meletakkan di depannya.
"Katakan sama ibu untuk memberi kita waktu," kata Deefa seraya menyendok nasi goreng dan menaruhnya ke piring yang tadi dia ambil.
Raffan menatap Deefa dengan tatapan tak mengerti, sekarang apa yang istrinya itu inginkan?
"Minta waktu padanya setidaknya dua tahun, andai memang dalam waktu dua tahun Deefa tidak bisa hamil juga, ibu boleh mencarikan madu untukku," sambungnya dengan tenang yang benar-benar tenang hingga Raffan pun heran bagaimana bisa istrinya masih bersikap setenang itu padahal tadi dia sudah terang-terangan menunjukkan emosi yang luar biasa, emosi yang bahkan tidak pernah dia tunjukkan pada siapapun.
"Itu artinya.."
"Deefa ingin berjuang sama Mas Raffan, Deefa tidak ingin menyerah," ucap Deefa menjawab ketidakmengertian suaminya.
Mendengar itu Raffan pun merasa hatinya menjadi sedikit lega, merasa jiwanya yang sejak tadi emosi langsung menjadi damai dan seketika emosinya luntur terbawa angin.
Setidaknya dalam waktu dua tahun itu dia masih bisa terus berusaha bersama istrinya, berikhtiar dengan cara apapun memanfaatkan waktu dua tahun yang sebenarnya Raffan pun merasa tidak suka tapi tentu dia tidak bisa memaksa istrinya saat ini, seiring berjalannya waktu dia akan terus meyakinkan istrinya untuk tetap bersama andai dalam dua tahun ternyata mereka tidak juga punya anak.
"Maafin Deefa karena sejak kemarin membuat Mas Raffan kesal, membuat Mas Raffan emosi.."
Raffan menggeleng meraih tangan istrinya menghentikan gerakan tangan yang sedang memegang sendok nasi lalu menggenggamnya dengan sangat erat.
__ADS_1
"Aku yang harusnya minta maaf, aku bahkan tidak bisa mengendalikan emosiku sendiri seharusnya aku lebih sabar lagi berbicara denganmu, aku tahu sangat berat untukmu tapi aku tidak mau mengerti," cetus Raffan menatap sang istri yang mengulas senyum sekalipun dari matanya tetap saja tersaji kesedihan.
"Kalau begitu aku akan ke rumah ibu, aku akan bicara sama ibu," ucap Raffan semangat.
"Apa Deefa harus ikut?"
"Tidak perlu, aku tidak mau kamu mendengar perkataan ibu, sebaiknya aku pergi sendiri."
"Tapi jangan berkata keras apalagi sampai membentak ibu."
"Kamu selalu memikirkan orang lain padahal orang lain belum tentu memikirkan kamu," keluh Raffan menghela napas.
"Sebaiknya Mas sarapan dulu," pinta Deefa mengabaikan keluhan suaminya.
Raffan menarik kursi yang tadi sedikit berjarak dengannya, menarik hingga menempel pada kursinya lalu meminta istrinya untuk duduk di kursi itu membuat kedua bahu serta kaki mereka saling bersentuhan.
"Kita makan berdua saja," katanya lembut seraya menarik piring lalu mengambil sendok.
"Aku suapin kamu." kata Raffan mengambil nasi di dalam piringnya dengan sendok lalu mengarahkan pada mulut sang istri yang dengan perlahan membuka mulutnya.
"Sekarang Deefa yang suapin." Deefa mengambil alih sendok lalu melakukan hal yang tadi dilakukan oleh suaminya.
Keduanya makan saling menyuapi hingga nasi di dalam piring pun habis tak bersisa membuat Raffan tersenyum samar ketika memperhatikan istrinya yang sekarang sedang sibuk merapikan bekas makan mereka.
"Mas ke rumah Ibu sekarang?" tanya Deefa melihat suaminya berjalan menghampiri dia yang sedang mencuci piring.
"Iya, tapi nanti langsung pulang soalnya nggak ada kuliah juga, dosennya lagi ada urusan," jelas Raffan.
Deefa mengangguk, "ya sudah Deefa tunggu di rumah."
Dengan penuh perasaan Raffan pun mengecup puncak kepala istrinya, wanita yang kedua matanya masih terlihat bengkak akibat terlalu banyak menangis.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
***