Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Gue Pacarnya!


__ADS_3

Baru tiga hari tapi Deefa sudah benar-benar kesepian, wanita itu teramat merindukan suaminya yang sampai hari ini belum juga bisa bebas dia dan mertuanya dan juga pengacara tak bosan bolak-balik kantor polisi untuk terus mengupayakan agar Raffan bisa bebas, tapi sepertinya polisi masih ingin memberi pelajaran pada Raffan agar mau jera dan kapok membuat ulah.


Setiap hari Deefa selalu memanjatkan doa, mengadu pada sang maha penguasa bumi beserta isinya apa yang dia rasakan bagaimana dia yang sangat ingin suaminya itu bebas dan kembali ke rumah bersamanya, sungguh mungkin sudah ribuan tetes air mata yang dia keluarkan ketika tengah mencurahkan isi hatinya setiap kali selepas sholat, bahkan ada saat dimana dia bersimpuh di atas sajadah dan menangis dengan kencang mencurahkan semua rasa sesak yang dia derita.


Sungguh Allah sebaik-baik tempat mencurahkan segala resah dan gelisah serta permasalahan yang seumur hidup baru kali ini dia alami, dari kecil dia tidak pernah berurusan dengan pihak berwajib seperti ini menjadikan dia terus saja merasa takut padahal suaminya sudah berulang kali meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, tapi tetap saja itu tidak berguna untuknya, hingga pilihan terbaik adalah mengadu pada sang pemilik semesta agar hatinya bisa lebih tenang sesudah melakukannya.


Sekarang ini wanita itu baru saja selesai sholat ashar, kewajibannya sebagai muslim tidak akan pernah dia lewati walau saat ini hati serta pikirannya masih terus berpikiran tentang keadaan suaminya di dalam penjara.


Suara ketokan di pintu yang lumayan kencang membuat Deefa bergegas membuka mukena serta merapikan alat sholatnya lalu menyimpan dengan gerakan cepat karena suara dari pintu sana makin terdengar keras membuat Deefa mengernyitkan kening menerka-nerka siapa yang datang.


Dari tidak adanya ucapan salam yang terdengar Deefa bisa memastikan itu tentu bukanlah mertuanya, lalu siapakah orangnya yang dengan bar-bar dan tak sabar tengah mengetok pintu?


Bahkan Deefa hampir saja jatuh ketika kakinya terantuk pinggiran tangga paling atas karena dia mencoba berlari untuk bisa segera membuka pintu dan melihat orang yang tak sabaran yang seperti tidak mengenal sopan santun.


Deefa meraih gagang pintu lalu pintu itupun terbuka dan menampilkan sosok wanita yang wajahnya sama sekali belum pernah Deefa lihat apalagi mengenal namanya.


Wanita yang berdiri di depannya berpenampilan seksi dengan rok di atas lutut dan baju crop yang memamerkan sedikit tubuh bagian tengahnya membuat Deefa menatap tak berkedip sedangkan wanita yang dia tatap terlihat memutar bola matanya.


"Wa'alaikumsalam," kata Deefa akhirnya sekalipun dia tidak juga mendengar ucapan salam dari tamu yang tidak dia kenal.


Wanita itu mendengus sinis dengan mata yang melirik pada wanita di depannya yang akhirnya dia bisa lihat secara langsung, matanya bergerak dari atas ke bawah guna meneliti penampilan dari wanita yang menjadi istri pria yang dia sukai.


"Penampilan santun kayak yang ngerti banget sama agama, tapi ada tamu bukannya di persilahkan masuk malah dilihatin kayak yang nggak pernah lihat orang seksi saja," sindir Raisya.


"Oh maaf, silahkan masuk," kata Deefa menyadari kesalahannya seraya berpindah ke samping untuk memberi jalan pada wanita yang terlihat begitu angkuh dan ketus.


Raisya pun masuk ke dalam melewati sang tuan rumah dengan mulut yang berceloteh, "gue bingung kenapa Raffan nikah sama perempuan kayak gini sih, ckckck." terlihat sedang berbicara sendiri tapi tindakannya itu dilakukan terang-terangan di depan orang yang dia bicarakan.


Bibir merahnya tak berhenti mengeluarkan ocehan dengan nada suara yang terkesan memang sengaja agar Deefa mendengar, karena memang Deefa berada satu langkah di belakangnya.


Deefa pun beristighfar lirih menghadapi tamu yang terlihat tidak sopan baik dari cara berpakaian juga tingkah lakunya yang sama sekali tidak menghormati tuan rumah.


Sungguh etika seorang Raisya patut dipertanyakan dimana dia yang seorang anak kuliahan dengan jurusan hukum bertindak sangat tidak sopan ketika berada di rumah orang, bahkan sekarang wanita itu sudah duduk tanpa sang tuan rumah mempersilahkannya lebih dulu, teramat membuat Deefa acap kali beristighfar dengan suara berbisik.


"Oh iya, kita belum kenalan," Raisya mengulurkan tangan dengan cat kuku yang di warnai dan juga memiliki gambar-gambar yang tak terlihat jelas, "Raisya," katanya memperkenalkan diri pada wanita dengan kerudung menjuntai menutupi dada.


"Deefa," kata Deefa menyambut uluran tangan dari wanita yang akhirnya dia ketahui namanya, namun dia masih belum tahu siapa Raisya ini dan maksud kedatangannya.


Menurut Deefa, pasti kedatang Raisya ini ada maksud tertentu sangat tidak mungkin datang tanpa tujuan, apalagi mereka tidak saling mengenal, dari penampilan jelas sekali Raisya ini bukan tetangga sekitar rumah yang dia dan suaminya tempati, sudah berbulan-bulan tinggal di rumah ini sedikit banyak tentu Deefa kenal dengan para tetangga.


"Lo nggak mau tahu gue siapa?" tanya Raisya menarik tangannya enggan berlama-lama berjabat tangan dengan istri dari pria yang dia sukai.


"Apa itu penting?" kata Deefa bersikap tenang menghadapi wanita yang berwajah judes dengan segala riasan di wajahnya.


Raisya mencebikkan bibirnya, "penting nggak penting sih," sahutnya tak jelas membuat Deefa tidak berekspresi sama sekali.


"Sebentar saya ambilkan minum dulu," kata Deefa bersiap melangkah ke dapur.


"Gue Pacarnya suami Lo!"


Langkah Deefa tertahan mendengar pengakuan yang rasanya sangat sulit untuk dipercaya, ah bukan sangat sulit tapi memang tidak akan pernah bisa dipercaya, terkesan konyol dan mengada-ada.


Deefa memutar tubuhnya lalu tanpa di sangka menyunggingkan senyuman di wajah teduhnya, senyum manis yang sering kali membuat Raffan terbuai tapi senyum itu malah terlihat menyebalkan di mata Raisya.


Dia kesal kenapa Deefa masih bisa tersenyum padahal dia sudah berusaha untuk membuatnya kesal dengan mengaku sebagai kekasih dari Raffan.


"Ngapain Lo senyum-senyum! oh Lo mulai stres ya suami Lo diem-diem punya pacar? hahaha," kata Raisya dengan tawa selipan tawa yang terdengar sangat mengejek.

__ADS_1


"Kalau penampilan Lo gini ditambah otak Lo yang nggak waras yah gue rasa wajar aja kalau Raffan pacaran sama gue, kita ini beda jauh, jauuuuh banget malah," tambah Raisya dengan tangan yang membentang menggambarkan perbedaan antara dia dan Deefa.


"Menurut Anda apa saya harus percaya dengan pengakuan Anda ini?" tanya Deefa masih dengan ketenangannya yang luar biasa.


Sepertinya dia memang sudah sangat terlatih untuk bisa bersikap tenang agar tidak terpancing pada siapapun dan juga perkataan apapun yang hanya akan merugikan nantinya, toh dia cukup tahu bagaimana dan seperti apa suaminya, suaminya bahkan masuk penjara karena ingin memberi pelajaran pada orang yang sudah menghina dirinya, lalu masih haruskah dia meragukan perasaan suaminya? terlebih lagi suaminya itu sudah mengakui tentang cinta yang sudah hadir diantara mereka.


Raut wajah Raisya terlihat tidak senang dengan tanggapan yang Deefa berikan, bukankah seharusnya seorang istri itu akan marah ketika ada wanita yang mengaku sebagai pacar dari suaminya? lalu kenapa wanita bernama Deefa ini tampak begitu tenang mendengar apa yang dia katakan, tidak ada raut sedih terlebih lagi emosi yang sejak tadi Raisya harapkan, tujuannya datang kesini kan memang untuk membuat istri dari Raffan itu kesal dan marah, lalu kenapa tidak sesuai dengan keinginannya?


"Sialan!" geram Raisya dalam hati.


"Lo nggak ada harga dirinya atau memang Lo nggak laku sih? bisa-bisanya masih bersikap sok tenang setelah tahu gue ini siapa!" cibir wanita dengan emosi yang perlahan naik ke kepala.


"Saya sudah laku, hubungan saya legal dan diakui negara juga agama, saya seorang istri bagaimana bisa Anda mengatakan bahwa saya tidak laku? padahal disini Anda lah yang mengaku berpacaran dengan suami saya, jadi diantara kita siapa sebenarnya yang tidak laku?" Deefa dengan pintarnya membalikkan semua apa yang Raisya katakan untuk menyudutkannya, untuk membuatnya terluka dengan segala pernyataan yang tidak baik tentangnya.


"Kurang ajar Lo ya! jadi menurut Lo gue yang nggak laku?!" dengus Raisya sengit dengan tatapan tajam.


"Saya tadi mengatakan itu?" Deefa malah balik bertanya dengan bahu yang terangkat.


"Saya buatkan minum dulu, Anda sepertinya akan sangat haus," kata Deefa menyela Raisya yang sudah ingin kembali berbicara mengeluarkan sumpah serapahnya.


"Astaghfirullahaladzim," ucap Deefa ketika melangkah ke dapur.


Deefa mengambil cangkir gelas lalu membuatkan minuman dingin, mungkin maksudnya agar wanita yang sedang panas itu bisa mendinginkan otaknya supaya tidak terus menerus emosi.



"Silahkan." Deefa meletakkan gelas dengan minuman dingin ke atas meja diiringi dengan tatapan permusuhan dari wanita yang duduk dengan gaya angkuh di depannya.



Deefa pun turut duduk di sofa seberang meja tepat berhadapan dengan Raisya, dengan wajah yang masih tetap sama, tenang tanpa mau terpancing dengan segala perkataan kebencian.




"Lo nggak sadar diri ya."



Sepertinya Raisya sudah akan kembali menyerang Deefa.



"Setiap manusia harus punya kesadaran diri, termasuk saya," kata Deefa seolah membantah tuduhan wanita di depannya.



"Tapi kayaknya Lo nggak!"



Deefa menghela napas lalu mengulang kembali apa yang dia katakan barusan, "termasuk saya," kata Deefa tegas.



"Menurut gue nggak! Lo termasuk manusia yang nggak tahu diri," mengulang lagi tuduhannya dengan sangat yakin.

__ADS_1



"Bagaimana Anda bisa mengatakan bahwa saya tidak tahu diri sedangkan kita tidak saling mengenal, ini pertama kalinya kita bertemu kan?"



"Ya benar, ini pertama kali kita bertemu, tapi gue sudah cukup tahu kalau Lo itu tidak tahu diri!" makin ketus saat berkata.



"Bisa tolong di jelaskan di bagian mana saya tidak tahu diri nya?" Deefa benar-benar sukses mengendalikan setiap emosi yang coba Raisya pancing.



"Umur Lo itu lebih tua dari Raffan, tapi Lo malah dengan senang hati terima perjodohan dengan pria yang lima tahun lebih muda dari Lo, apa itu nggak tahu diri namanya?!" serang Raisya.


Sungguh dia benar-benar tidak terima ketika mengetahui fakta bahwa wanita yang menikah dengan Raffan berusia lebih tua, sangat tidak terima ketika dia dikalahkan oleh wanita yang lebih pantas di panggil Kakak oleh Raffan.


Bersaing dengan Fara dan dikalahkan oleh wanita itu saja Raisya tidak bisa terima, apalagi dengan wanita yang usianya lima tahun di atasnya, sungguh merasa sangat terhina di kalahkan oleh wanita yang lebih tua.



"Masalah jodoh semua sudah Allah yang menentukan, saya sebagai manusia hanya bisa menerima dan menjalankan apa yang sudah Allah kehendaki, sebab tidak ada yang salah ketika saya menikah dengan pria yang lebih muda," jawab Deefa.



"Dan sebaiknya Anda berhenti mengganggu pria yang sudah beristri, sebagai istri saya tidak suka ada wanita yang mendekati suami saya! jika sudah selesai silahkan minum dan pergi dari rumah saya, sebentar lagi Maghrib tidak baik bertamu di rumah orang saat orang akan menjalankan ibadah kecuali kalau Anda mau beribadah bersama saya," kata Deefa yang sekarang mulai menampilkan ketegasannya.



Raisya menatap dengan penuh permusuhan jelas dia tidak suka ketika di usir oleh wanita yang mulai hari ini akan menjadi musuhnya itu, tapi kemudian dia pun beranjak dari duduknya mengambil tas dengan kasar lalu berjalan cepat menuju pintu keluar dengan gerak tubuh mengisyaratkan kemarahan.



"Gue nggak akan berhenti sampai disini?" ancam Raisya dengan jari yang mengarah pada Deefa, seperti tengah memberikan peringatan pada wanita yang sekarang berdiri di depan pintu.



"Assalamualaikum," tutur Deefa.



"Sialan!" maki Raisya ketika Deefa menutup pintu.



"Astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim." di dalam rumah Deefa terus beristighfar sambil mengatur napas yang mendadak sangat cepat.


Sejak tadi dia berusaha menahan emosi agar tidak terpancing dengan segala perkataan wanita yang mengaku sebagai kekasih suaminya.


"Mas Raffan nggak mungkin mengulang kesalahan lagi," kata Deefa sangat yakin kalau semua yang dibicarakan oleh Raisya hanyalah omong kosong, sungguh dia sangat percaya pada suaminya.



Adzan Maghrib membuat Deefa tersadar dari segala hal yang Raisya katakan, hingga akhirnya dia memilih untuk mengunci pintu lalu menyalakan lampu-lampu di setiap ruangan dan ketika selesai dia langsung bergegas menuju kamar untuk sholat Maghrib.


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2