Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Wanita Itu Lagi


__ADS_3

Senyum Deefa tak juga surut kala dia sudah turun dari dalam kereta yang baru saja tiba di kota tujuannya setelah merasakan tubuhnya pegal karena terlalu lama duduk.


Tapi ketika mengingat bayi kecil bernama Alika dalam sekejap pegal itu menguap entah kemana dan meninggalkan sebuah lengkungan di bibirnya.


Wanita itu masih bisa mencium wangi milik sang bayi yang tertinggal, berusaha mengendusnya dan menikmati aroma yang teramat membuatnya nyaman tak terkira.


Sekarang dia hanya tinggal memesan taksi yang akan membawanya pulang ke rumah, rumah yang selayaknya istana dan dia adalah ratunya.


Ratu satu-satunya yang dicintai sang raja, senyumnya kembali merekah kala taksi yang dia pesan sudah tiba, hingga tanpa pikir panjang diapun bergegas untuk masuk ke dalamnya lalu berbicara kepada sopir memberitahukan alamatnya dengan detail agar sang sopir tidak perlu bertanya lagi nantinya.


Kendaraan roda empat sudah mulai melaju membelah jalanan ibukota yang langitnya sudah benar-benar menjadi gelap, ini memang sudah pukul 8 malam lebih, dia terlambat setengah jam dari waktu yang ditentukan.


Deefa menikmati arus lalu lintas di jam seperti ini masih terpantau ramai, namanya juga ibukota dengan segala kepadatannya penduduk dan kesibukan mereka masing.


Mobil masih berjalan tenang ketika mata Deefa melihat rumah makan ternama yang menyediakan makanan kesukaan suaminya, sebagai seorang istri pun dia berinisiatif untuk membelikan suaminya makanan.


"Pak berhenti sebentar bisa? saya mau beli sesuatu dulu untuk suami saya." Deefa berbicara dengan suara yang lembut kepada sang sopir, berharap sopir itu tidak keberatan dengan permintaannya.


"Bisa Mbak, Mbaknya mau kemana?" tanya sang sopir dengan suara yang juga sopan pada si penumpang yang dia tahu adalah wanita baik-baik.


"Itu, berhenti di rumah makan yang itu," mengatakan dimana sang sopir harus menghentikan mobilnya.


Sopir pun mengangguk, "baik Mbak." lalu segera mengarahkan mobil yang dia kendarai ke tempat yang diinginkan oleh penumpangnya.


"Sebentar ya Pak," kata Deefa lalu turun dari mobil dan memasuki restoran untuk memesan apa yang akan dia bawakan untuk suaminya.


Saat tengah menunggu pesanannya Deefa malah dikejutkan dengan kedatangan wanita yang pernah datang ke rumahnya, wanita yang mengaku-ngaku sebagai kekasih dari suaminya itu kini tengah melangkah dengan langkah yang begitu anggun disertai dengan tubuhnya yang melanggak-lenggok bagaikan seorang model.


Deefa menghela napas, dia mempersiapkan diri untuk seandainya wanita bernama Raisya itu mengatakan hal yang tak sesuai.


"Kita ketemu lagi." Raisya berkata sinis ketika sudah berdiri di depan Deefa yang duduk dan mencoba abai padanya.


Deefa hanya mengulas senyum mencoba setenang mungkin ketika harus menghadapi wanita yang menyukai suaminya dan tampak dengan jelas mengejar-ngejar lalu berusaha untuk mendapatkan suaminya.


"Ngapain lo malah senyam-senyum?!" malah gondok sendiri ketika wanita yang sangat dia benci malah memberikan senyuman padanya.


"Senyum juga termasuk ibadah, apa salahnya kalau saya beribadah?" papar Deefa memberitahu barangkali Raisya memang tidak mengetahui tentang itu.


Deefa terus menyikapi dengan santai dan tenang sekalipun wanita yang berdiri tepat di depannya dia duduk sekarang menatap dengan begitu sombongnya bahkan dagunya terangkat dengan sangat tinggi, bukankah itu menandakan betapa wanita itu merasa sangat-sangat berbeda jauh di atas Deefa?


Semua yang terlihat sudah mencirikan seperti apa sifat wanita itu, entah karena berada dilingkungan yang dikelilingi orang-orang bersifat sama atau memang wanita itu memiliki sifat dan karakter yang ingin terlihat lebih tinggi dari manusia lainnya.


Raisya mendengus kesal karena Deefa masih bisa setenang itu menghadapi dirinya padahal tadi sejak dia melihat istri dari Raffan sudah berniat ingin memancing kemarahan wanita itu tapi sepertinya dia tidak berhasil.


Seorang pelayan rumah makan itupun datang membawakan pesanan Deefa lalu memberikannya sekaligus menyerahkan totalan yang harus dia bayar.


Deefa melihat kertas dengan nilai yang tertera lantas mengambil dompet dari dalam tas lalu mengeluarkan lembaran uang serta menyerahkannya kepada sang pelayan yang dengan murah hati selalu memberikan senyum pada dirinya.

__ADS_1


Semua gerak-gerik Deefa tak luput dari perhatian Raisya yang sejak tadi memang terus berpikir untuk memancing kemarahan wanita yang membuatnya geram tak terkira, sampai akhirnya matanya memicing melihat sesuatu dari dalam tas Deefa yang terbuka, senyum pun mengembang dengan baik di bibirnya yang merona.


"Saya duluan, mari Mbak," kata Deefa pada Raisya saat dia akan beranjak meninggalkan tempat itu.


"Lo baru balik dari kampung Lo kan?" suara Raisya menghentikan langkah kaki Deefa.


"Maaf mbak?" Deefa tampak bertanya memastikan kalau wanita itu masih mengajaknya berbicara.


"Lo, Lo itu baru pulang dari kampung Lo kan? pantesan aja Raffan cari-cari gue terus tiap malam, tahunya dia kesepian." Raisya memamerkan senyuman licik yang teramat menyebalkan ketika wanita yang berdiri di depannya itu menautkan kedua alis.


"Maksud Mbak?" tanya Deefa.


"Ck." Raisya berdecak seraya memutar bola matanya.


"Bolot Lo ya?!" suara Raisya malah menjadi semakin menyebalkan.



"Saya dengar perkataan Mbak, tapi saya bertanya apa maksud dari perkataan Mbak tentang suami saya yang mencari Mbak setiap malam?" Deefa menanyakan apa kebenaran perkataan sang wanita yang dia tahu benar memang sangat menyukai suaminya tapi rasanya kalau dia sudah mengatakan hal yang berlebihan seperti ini sungguh sangat tidak baik apalagi kalau ternyata itu hanyalah kebohongan, itu fitnah namanya.



"Semalam suami Lo tidur sama gue!" aku Raisya dengan ekspresi yang mengejek kemudian sorot mata yang berubah menjadi begitu meremehkan.



Deg!




Tentu dia tidak akan mudah percaya pada pernyataan wanita yang bahkan sudah pernah membuat dia dan Raffan sedikit bertengkar karena kedatangannya dulu, tapi sekarang yang Deefa bingung adalah bagaimana mungkin wanita itu tahu kalau dirinya baru saja kembali dari kampung halamannya? bukankah dia tidak mengenal wanita itu pun Raffan meskipun kenal rasanya tidak akan mungkin mengatakan apapun padanya kalau mereka tidak benar-benar ada hubungan?



Hubungan? jadi sekarang Deefa curiga wanita di depannya ini memang menjalin hubungan dengan suaminya? rasanya sulit di percaya.



"Gue udah tidur sama suami Lo, sekarang Lo mau apa?" tanya Raisya semakin tak jelas kelakuannya.



"Terimakasih atas pemberitahuannya, saya akan bertanya langsung pada suami saya, permisi," kata Deefa lalu meninggalkan wanita yang menunjukkan wajah marah luar biasa.


__ADS_1


Wajah tak senang padahal dia sudah mengatakan hal yang dia yakin akan membuat wanita manapun menangis lalu marah-marah, tapi yang dia harapkan malah sangat jauh melenceng berbeda dengan keinginannya.



"Cewek bego, dengar suaminya tidur sama cewek lain malah sok tenang, sok tegar, tolol!" memaki karena tidak berhasil memancing emosi seorang Deefa.



Deefa melangkah menuju mobil yang sudah menunggunya, helaan napas terus dia keluarkan lalu bibirnya melantunkan dzikir agar perasaanya kembali tenang.



"Kita lanjut jalan Mbak?" tanya sang sopir saat Deefa sudah menutup pintu dan duduk di kursi belakang.



"Iya Pak," sahut Deefa dengan wajah yang kembali ramah.



"Oh iya, maaf pak ini untuk bapak." Deefa menyerahkan satu kantong makanan yang memang sengaja dia beli untuk si sopir.



"Aduh jadi ngerepotin," kata sang sopir merasa tak enak hati tapi sebagai seorang muslim dia tentu tidak akan bisa menolak rejeki yang datang padanya dan dengan senang hati menerima pemberian penumpangnya yang dari wajah serta pakaiannya pun dia sudah tahu kalau wanita yang akan dia antarkan itu adalah wanita santun dan seorang muslimah yang berhati baik.



"Terimakasih, Mbak," katanya kemudian setelah menerima pemberian sang penumpang.


"Sama-sama pak, maaf sudah menunggu lama," ucap Deefa memohon maaf karena sudah membuat sopir taksi itu jadi menunggunya.


"Tidak apa-apa Mbak, toh saya juga jadi dapat rejeki lebih dari mbaknya," tukas pak sopir yang sudah tidak lagi muda itu.



Deefa menyunggingkan senyuman lalu kembali terdiam memikirkan segala kemungkinan, meski dia orangnya tidak mudah percaya tapi tetap saja hatinya ini menjadi sedikit terusik.



"Mas Raffan tidak mungkin melakukannya," bisiknya dalam hati meyakinkan hati kecilnya yang sejak tadi terus menggodanya untuk sedikit percaya, mungkin lebih tepatnya itu adalah setan yang sedang berusaha untuk membuat dirinya marah pada sang suami, setan yang berusaha untuk mengganggu ketentraman rumah tangganya.


Bukankah tugas setan memang seperti itu? menggoda umat manusia untuk melakukan hal yang dia senangi agar bisa menemaninya di neraka nanti.


Deefa terus berdzikir agar segala pikiran-pikiran buruk yang berusaha menembus ke dalam dirinya hilang, bisikan-bisikan untuk percaya pada apa yang dikatakan oleh Raisya, bisikan-bisikan yang memintanya untuk bertengkar dengan suaminya.


Deefa menghela panjang di dalam kepalanya saat ini adalah bertemu dengan suaminya, melepaskan rindu lalu bertanya baik-baik tentang semua yang tadi dikatakan oleh Raisya.

__ADS_1



\*\*\*\*\*


__ADS_2