
"Raisya anak dari temannya ibu, Yah."
Setelah tadi sore berbicara dengan Raffan kali ini Hayati berbicara dengan suaminya mengemukakan keinginannya tentang menikahkan Raffan dengan Raisya.
"Lalu kalau dia anak dari temannya ibu lantas kenapa? sangat tidak masuk akal jalan pikiranmu itu Hayati!" Imran mulai kehilangan sabar menghadapi istrinya, dia pikir egoisme sang istri akan berubah dan kembali pada sifat awal wanita itu, tapi harapannya kandas ketika dia yang tadi baru pulang sudah harus mendengarkan rencana demi rencana yang disusun oleh sang istri.
Ustad Imran sebenarnya pusing karena setiap hari harus mendengar pembicaraan istrinya yang selalu menyangkut tentang keturunan, mereka ini manusia biasa yang hanya bisa mengikuti pada takdir yang sudah di berikan oleh pemilik semesta, berusaha memang benar tapi terlalu ngotot pun juga tidak baik.
"Ibu berencana menikahkan Raffan dengan Raisya."
"Astaghfirullahaladzim." sungguh Imran makin tidak habis pikir tentang apa yang sekarang tengah bercokol di kepala istrinya itu.
"Raffan punya istri, bagaimana bisa kamu mau menikahkannya lagi?"
"Istri yang tidak bisa punya anak buat apa dipertahankan, mereka bisa bercerai atau kalau memang Deefa tidak ingin pisah dengan Raffan semestinya dia setuju untuk mengijinkan Raffan poligami," ucap Hayati dengan sangat enteng seolah dia tidak pernah salah mengeluarkan perkataan, seolah tidak akan ada satu manusia pun di bumi ini yang akan tersinggung mendengar perkataannya yang sungguh tak memiliki hati nurani ataupun empati terhadap sesama wanita bahkan dia tengah membicarakan menantu yang dulu dia pilih sendiri.
"Istighfar kamu Hayati!" bentak sang suami ketika ucapan istrinya semakin keterlaluan seperti orang yang tidak mengerti agama.
Istrinya itu sering ikut pengajian bahkan tak jarang mengisi pengajian itu sendiri tapi kenapa mulutnya itu sama sekali tidak diperhatikan dalam berbicara, tidak memperdulikan perasaan wanita yang menjadi menantunya.
"Dulu itu kamu yang sangat memaksa untuk menikahkan Raffan dengan Deefa, kamu yang membujuk Ayah untuk memilih Deefa saja karena kamu yakin Deefa akan bisa membawa Raffan pada kebaikan, bisa merubah anak kita yang berandalan itu, tapi lihat sekarang apa yang kamu lakukan? tidak punya empati terhadap sesama wanita!" ustad Imran terus berkata panjang mengingatkan istrinya agar tidak lupa bahwa dulu dia yang sangat menginginkan Deefa padahal dulu ustad Imran malah berniat untuk menikahkan Raffan dengan Salimah anak dari Kiyai Burhan.
"Sekarang ibu menyesal, sangat menyesal andai ibu tahu Deefa tidak bisa memberikan keturunan tentu ibu tidak akan menjodohkan Raffan dengannya," tutur Hayati makin membuat ustad Imran beristighfar seraya mengelus dadanya.
Untung saja dia ini tidak memiliki penyakit jantung jika tidak mungkin sudah sejak kemarin-kemarin dia terkena serangan jantung akibat melihat sikap istrinya.
"Kenapa Ayah dan Raffan malah menentang, bukankah yang ibu lakukan ini demi kebahagiaan keluarga kita?"
"Kebahagiaan sebuah keluarga bukan diukur dari punya atau tidak punya anak, Hayati."
"Tapi bagi ibu anak itu sumber kebahagiaan! jangan lagi ditentang sebab keputusan ibu untuk menikahkan Raffan dengan Raisya sudah sangat bulat!"
Setelah berkata wanita itu pergi begitu saja meninggalkan suaminya yang masih tidak habis pikir bahwa istrinya menjelma menjadi seorang mertua yang menakutkan, sungguh Allah maha membolak-balikkan hati manusia, siapapun bisa berubah dengan cepat dengan kuasanya.
__ADS_1
****
"Deef."
"Iya Mas." Deefa menjawab panggilan dari suaminya yang entah kenapa sejak pulang tadi menjadi sangat pendiam bahkan dia juga mendapati suaminya itu tengah melamun.
"Besok kita ke rumah emak, nginap di sana beberapa hari."
Ucapan suaminya membuat Deefa bingung, kenapa mendadak mengajak ke rumah ibunya?
"Mau hirup udara segar cari yang nggak ada polusinya, disini rasanya sesak banget," kata Raffan beralasan, dia tentu tidak akan pernah memberitahu istrinya tentang apa yang terjadi hari ini, tidak akan pernah.
"Loh, kan Mas Raffan juga harus kuliah." Deefa mengingatkan suaminya yang memang seorang mahasiswa aktif.
"Cuma beberapa hari aja Deef, nanti aku ijin, sumpek banget kayaknya aku ini di kota terus ingin refreshing biar otak juga nggak stres," jelas Raffan, tentu dia sudah memikirkan ini sebelumnya saat dia pulang dari rumah ibunya.
Berpikir untuk mengajak Deefa pergi jauh dari kota yang sama dengan ibunya agar tidak bertemu dengan wanita yang sudah melahirkannya itu, bukan ingin durhaka hanya saja dia tidak akan bisa memehuni keinginan sang ibu karena dia tidak mungkin dan tidak akan pernah mau menyakiti Deefa.
"Mas tidak sedang ada masalah kan?" malah mengusut mencaritahu kalau-kalau suaminya sedang memiliki masalah hingga tiba-tiba mengajaknya untuk ke rumah ibunya di kampung.
"Aku ini cuma pusing dan suntuk sama urusan kuliah, bolak-balik kampus harus nyetir sendiri lelah juga rasanya, belum lagi kalau sedang macet sudah bising dengan suara klakson masih juga ditambah dengan asap knalpot dari kendaraan lainnya," aku Raffan seraya mengurut alis istrinya yang tak perlu lagi memakai pensil alis karena sudah tebal dan terbentuk dengan sempurna.
"Eemmm." Deefa berpikir sambil menggembungkan pipinya membuat Raffan semakin gemas dengan tingkahnya itu sampai-sampai kedua tangannya menepuk penuh cinta hingga pipi itu kembali pada bentuk semula.
"Besok ya kita berangkat." ajakan yang jelas harus mendapatkan anggukan kepala dari sang istri.
"Pulangnya kapan?" tanya Deefa akhirnya setelah diapun memutuskan untuk menuruti suaminya, toh dia tidak akan rugi karena dia nantinya akan bisa bertemu dengan ibunya di kampung.
"Yah tergantung kapan maunya aku aja," sahut Raffan ringan.
"Loh katanya tadi cuma beberapa hari." Deefa yang bersandar pada dada suaminya pun mengangkat kepalanya itu guna menatap pria yang barusan berbicara.
"Itu kan tadi, kalau sekarang beda lagi," ujar Raffan malah berikutnya memperdengarkan suara tawanya yang berat.
__ADS_1
Besoknya..
Pagi-pagi sekali pasangan suami istri itu sudah terlihat sangat sibuk memasukkan pakaian mereka ke dalam tas yang akan mereka bawa nantinya.
"Kok banyak banget Mas baju gantinya?" Deefa heran mendapati suaminya memasukkan banyak sekali pakaian ke dalam tas besar mereka, pria itu seperti berencana untuk tinggal lama di rumah sang ibu.
"Buat jaga-jaga kalau-kalau di sana sedang musim hujan, takut pakaian nggak kering jadi harus bawa banyak pakaian," jawab Raffan dengan tetap memasukkan pakaian-pakaian miliknya dan juga sang istri.
"Kayak orang kabur." lontar Deefa.
Raffan menghentikan gerakan tangannya untuk sesaat, terdiam entah pikirannya berada dimana.
"Kita kan emang mau kabur," kata Raffan kemudian setelah menyadarkan dirinya dari lamunan.
Dahi Deefa mengerut, "kabur? kabur dari siapa?"
"Dari hiruk pikuknya kehidupan kota Jakarta," sahut Raffan mengelak dengan sigap, sangat tidak mungkin dia mengatakan pada istrinya bahwa dia ini sedang mengajak kabur dari ibunya, menghindari bertemu dengan wanita yang sekarang malah ingin menikahkan dirinya dengan Raisya.
Deefa diam tak merespon perkataan suaminya karena pikirannya langsung bekerja dengan sangat baik, dia mulai merasa suaminya itu aneh, sangat tidak seperti biasanya tiba-tiba mengajaknya untuk pulang kampung dan sekarang mengatakan bahwa mereka memang mau kabur.
Sebenarnya suaminya ini sedang kenapa? apa ada masalah di kampus?
__ADS_1
Pikiran Deefa bertanya-tanya dan pertanyaannya tertuju pada urusan kampus yang mungkin membuat suaminya jenuh, dia malah tidak memiliki kecurigaan dengan ibu mertuanya.
****