Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Beli Ginian?


__ADS_3

"Mau ngapain Lo?!" semprot Raffan melihat Gerry sudah mengarahkan handphonenya pada wanita yang tengah menuju mereka.


"Hehe." Gerry nyengir dengan tampang bodohnya, rupanya dia ingin kembali mengambil rekaman seperti kemarin.


"Lo nyari masalah lagi gue tampol bolak-balik!" ancam Raffan mengacungkan kepalan tangannya.


"Kamu nggak apa-apa honey? aku dengar kamu jatuh dari motor, beneran?"


Gumay dan Rio menunjukkan ekspresi jijik pada wanita bernama Raisya yang bertingkah lebay seolah Raffan adalah kekasihnya.


"Astaga belatung macam apa yang keliaran di kampus kayak gini." Gumay bersungut seraya menggelengkan kepalanya.


Raisya melirik kejam karena mendengar mulut Gumay yang bersungut, wanita ini tentu tahu si Gumay itu tengah membicarakan siapa caranya melihat saja dia bisa sadar kalau dirinyalah yang di maksud belatung.


Raffan menarik napas sedikit tegang kala wanita bernama Raisya malah dengan sengaja menunduk di depannya beralasan melihat luka di lengannya yang tertutup jaket.


"Lengan kamu juga luka kan? sini aku lihat," celoteh wanita yang rambutnya di cat dengan warna cokelat.


"Gue aduin Deefa aaahh," celetuk Gumay yang sangat sengaja mengatakan itu ketika Raffan tidak menghindar sama sekali saat ada seorang wanita yang mendekatinya, terlebih lagi yang mendekatinya sekarang adalah wanita berangasan bernama Raisya si anak hukum.


Raffan mendelik pada Gumay lalu sebentar kemudian berpindah duduk menghindari si wanita centil yang malah mengikuti.


"Ngapain sih Lo!" sentak Raffan yang mulai risih dengan tingkah Raisya yang makin berlebihan menurutnya.


"Perhatian sama calon pacar masa nggak boleh," celetuk Raisya dengan tingkat pede yang tinggi dan urat malu yang sepertinya sudah putus sehingga kadar malunya tidak ada lagi.


"Anjay calon pacar, ffftttt," tiga orang teman Raffan menahan tawa geli mendengar pernyataan dari Raisya.


"Cantik sih tapi rada gila," desis Rio.


"Bukan rada lagi tapi emang tingkat gilanya mendominasi," timpal Gumay yang memang tidak pernah tanggung kalau sudah menghina orang.


Ketiga teman Raffan bukannya menolong malah sibuk mengeluarkan perkataan-perkataan kurang ajar tentang salah satu wanita yang sudah setengah tahun mengejar Raffan tanpa pantang menyerah, bahkan ketika Raffan tidak memberi respon sedikitpun wanita itu tetap saja menempel layaknya lintah darat.


"Heh Mak lampir, ngapain Lo disini?! Lo jurusan hukum kelas Lo bukan disini lampir!" suara menggelegar dari arah pintu membuat semua yang ada di dalam kelas itu melihat pada sosok wanita yang ternyata adalah sang mantan kekasih yang sempat mengguyur kepala Raffan dengan jus.


"Jir, si mantan datang," cerocos Gumay ketika melihat Fara berdiri dengan kedua tangan di pinggang.


Berdiri sebentar lalu melenggang masuk dengan kedua mata yang melihat sadis kepada Raffan dan juga Raisya.


"Heh! nggak salah Lo ngatain gue Mak lampir?" Raisya yang tadi sibuk memepet Raffan pun sangat kesal dengan Fara yang menyebutnya Mak lampir.


Fara tertawa nyinyir dengan pertanyaan Raisya, si anak hukum tapi tingkah lakunya seolah tak tahu hukum saja, masuk ke kelas yang bukan kelasnya lalu melakukan keributan di tambah lagi mendekati suami orang bukankah itu sungguh sangat memalukan?


"Kenyataannya begitu," sahut Fara berjalan tenang.


"Ngapain lagi sih Far, ribut Mulu nggak capek apa?" tanya Seira melihat sikap Fara yang seperti ingin mencari ribut.


"Masih dendam gue sama nih cewek gatel!" jawab Fara dengan matanya yang menyinis kala melihat Raisya.


"Ini juga kan bukan kelas Lo? terus Lo ngapain kesini?" Raisya tidak mau mengalah, yang dia tahu Fara juga mahasiswi dari kelas ini, kelas Fara ada di ujung sebelah kiri tiga kelas dari kelasnya Raffan dan teman-temannya.


"Gue ada urusan sama mantan gue, kenapa memangnya?" ucap Fara dengan mencebikkan bibirnya.


"Wadduh! bahaya sih ini," celetuk Rio melihat pada Raffan yang memasang wajah bingung.


Raffan pun tidak mengerti apa yang Fara inginkan lagi darinya, mereka sudah putus dan wanita itu juga sudah meluapkan kekesalan padanya bukan? lalu sekarang mau apa lagi?


Raisya beralih menatap pria yang sedari tadi duduk tanpa bicara, "Raffan nggak ada urusan sama Lo!" Raisya malah seolah juru bicara dari Raffan mewakilinya bicara.


Dalam detik ini Raffan masih sempat berpikir, diam saja di kelas ini dengan resiko Raisya yang akan menempel padanya layaknya cicak, atau memilih Fara yang memang jauh lebih tenang ketimbang Raisya?


Fara melirik-lirik tak jelas seperti memberi kode pada Raffan.


"Ada! gue ada urusan sama Fara," kata Raffan kemudian membuat Fara tersenyum mengejek merasa dia tetap lebih unggul ketimbang Raisya.


"Urusan apa emangnya Far?" tanya Seira tak mengerti, tadi mereka ingin masuk ke kelas tapi begitu melewati kelas ini mereka mendengar suara Raisya dan begitu melihat apa yang terjadi Fara malah langsung mengoceh mengatai Raisya.


"Rahasia," jawab Fara.


"Kata Lo nggak doyan sama laki orang, kok ini masih aja berurusan?" ucap Seira ingat dengan jelas perkataan Fara yang tidak mau berurusan dengan pria beristri.


"Ya emang, terus kalau gue punya urusan sama Raffan itu artinya gue masih suka gitu sama dia? ngaco lo! gini-gini gue masih laku sama bujangan!" hardik Fara tak terima dengan tuduhan dari temannya.


Raffan pun langsung bergegas bangun dari kursinya, berjalan cepat menghampiri Fara dengan kaki yang masih tidak stabil diiringi dengan tatapan tak suka dari Raisya yang mengepalkan tangannya marah.



"Udah sana masuk kelas Lo!" usir Rio pada Raisya yang belum juga beranjak ketika Raffan sudah berlalu dengan Fara.



"Berisik Lo!" maki Raisya lalu menghentakkan kakinya dan melenggang pergi dengan perasaan marah yang bercampur aduk.



Di pinggiran tangga Fara menghentikan langkahnya membuat Raffan juga harus berhenti memacu langkah tepat di samping sang mantan kekasih, mereka kini hanya berdua saja karena Seira memilih untuk masuk ke kelas.



"Ngomong apaan?" tanya Raffan dengan ekspresi penasaran.

__ADS_1



"Nggak ada," jawab Fara datar.



"Terus ngapain tadi bilang ada urusan sama gue?"



"Ya Lo ngapain juga malah iyain?" balas Fara.



Raffan menggaruk kepalanya, memang dia juga yang bodoh sih sebenarnya setelah apa yang dia lakukan terhadap Fara memangnya dia pikir wanita itu masih akan mau berurusan dengannya?



"Bilang makasih coba," cetus Fara membuat Raffan bingung.



"Makasih buat apaan?"



"Wah nggak tahu diri Lo, udah gue tolongin dari Mak lampir masih aja ngeselin!" sungut Fara membuat Raffan akhirnya sadar kalau mantan kekasihnya itu hanya berniat membantunya bebas dari gangguan Raisya.



"Makasih kalau Faranisa Drajat," cetus Raffan dengan sedikit senyum.



"Lo udah punya istri jangan macam-macam sama cewek lain, gue sih kasihan aja sama istri Lo kalau sampai tahu suaminya ini masih aja lenjeh sama cewek-cewek di kampus," cerocos Fara.



"Heh, bukan gue yang lenjeh, ceweknya aja yang pada mepet, mentang-mentang cuma gue yang paling ganteng di kampus," ujar Raffan dengan wajah songongnya.



Seperti biasa akan selalu membuat lawan bicaranya muak dengan tingkat pede yang dia miliki, tingkat pede yang setinggi langit dan siapapun tidak akan mampu menyaingi.



"Yah apapun itu lah Raf, suka-suka Lo! yang jelas kalau gue jadi istri Lo udah gue cabik-cabik muka Lo biar nggak sok kegantengan lagi," dengus Fara.




"Sialan!" maki Fara seraya memukul lengan Raffan.



"Ciee, mantan pacar udah akur."


Gumay yang tiba-tiba muncul malah membuat Raffan dan Fara melotot padanya yang langsung melipir pergi.


"Gue sebel banget sama temen Lo yang satu itu," kata Fara mengingat dia yang sempat adu mulut dengan Gumay.



"Jangan sebel-sebel nanti jadi cinta kan bahaya," ujar Raffan lalu terkekeh puas kala Fara berdecih lalu mengoceh panjang lebar tidak terima dengan pernyataan Raffan.


Cinta sama Gumay? pria itu sama ngeselinnya dengan Raffan, Fara bisa mendapatkan yang lebih baik dari seorang Gumay.


Pulang kuliah Raffan langsung mengajak Gerry pergi dengannya hanya berdua saja membuat Gerry curiga sepanjang jalan.



"Lo mau culik gue ya?" tanya Gerry waspada.



"Dih najis! nggak mutu nyulik makhluk aneh kayak elo Ger, di jual juga nggak ada yang mau!"



"Terus mau ngapain maksa gue ikut?"



"Lo kan udah bikin gue berantem sama Deefa jadi Lo harus bantuin gue beliin sesuatu buat Deefa," jelas Raffan sambil menyetir mobil.



"Beliin apaan?"


__ADS_1


"Nanti juga tahu," sahut Raffan santai.



Akhirnya mobil sudah masuk ke parkiran sebuah mall besar di Jakarta, keduanya langsung masuk dan mulai berkeliling.



Gerry mengikuti kemana langkah Raffan saat ini, temannya itu melihat kiri dan kanan seperti mencari sesuatu.



"Beli apaan sih Raf?" Gerry mulai penasaran sebab mereka masih juga belum berhenti di toko manapun.



"Bawel Lo, ikut aja sih nanya mulu dah!" sungut Raffan.



"Baru juga tanya Raf, udah ngomel aja." kesal pria yang tetap menggerakkan kakinya mengikuti kemana sang teman menuju.



"Nah, ketemu juga yang gue cari."


Raffan berhenti di sebuah toko pakaian dalam wanita membuat Gerry mengernyit dan wajahnya pun memerah dengan cepat kala Raffan memintanya untuk masuk.


"Ayo masuk." Raffan terlihat begitu semangat.



"Mau ngapain Raf? Lo peak Raf? malu Raf ini pakaian dalam perempuan semua," papar Gerry.



Oh ayolah dia ini pria lajang dan belum memiliki kekasih tapi bisa-bisanya Raffan mengajaknya masuk ke toko seperti ini, mau di taruh dimana mukanya ini?



"Mau beli baju buat istri gue lah!" ketus Raffan.



"Ya udah Lo aja masuk sendiri," tolak Gerry.



"Gue malu kalau sendiri."



"Lo malu gue juga malu Raf, Lo pikir gue nggak punya malu?!" sentak Gerry dengan pengakuan konyol Raffan.


Dirinya sendiri saja malu lalu kenapa malah membawa-bawa teman untuk menemaninya.


"Seenggaknya gue punya teman buat malu berdua." Raffan dengan asalnya menjawab.



"Kenapa Lo nggak beli online aja."



"Kalau online takut nggak pas, lebih aman beli langsung karena gue pasti inget ukuran yang cocok buat Deefa tuh apa, kurus tapi pas di buka dalamnya luar biasa seksi, gue jadi pengen cepat pulang," celoteh Raffan.



"Sialan malah berimajinasi mesum!" Gerry memukul kepala Raffan agar ingat kalau saat ini dia sedang berbicara dengan pria jomblo.



"Pengen yaa? nikah dong, enak tahu." malah mengerjai temannya yang mendengus kesal.



"Udah cepetan masuk terus beli!" Gerry yang tak tahan dengan kelakuan Raffan pun menarik Raffan masuk ke dalam toko.


Raffan masih nyengir puas sudah membuat Gerry kesal dan sekarang mereka tengah berada diantara baju-baju tidur dengan bahan tipis dan luar biasa mini.


"Lo serius Raf, Deefa Lo suruh pakai baju beginian?" mata Gerry pening melihat baju yang seperti tidak layak pakai itu.



"Nikah makanya biar tahu apa yang gue rasain." Raffan berkata tanpa melihat pada sang teman, matanya begitu berbinar sekaligus bingung untuk memilih lingerie mana yang akan dia beli untuk sang istri.



Gerry menatap sadis sebab lagi-lagi Raffan menyuruhnya untuk nikah, sialan memang si Raffan ini bisa-bisanya ngajak teman buat beli lingerie.


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2