Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Termasuk Kamu!


__ADS_3

"Mas Raffan."


Deefa sedikit terkejut melihat kedatangan suaminya, namun sesaat kemudian dia mengulas senyum berpikir bahwa mungkin saja suaminya memang datang untuk menjemput dirinya.


Bukankah tadi pagi dia memang mengatakan pada suaminya kalau dia akan datang ke rumah sang ibu mertua.


Pikiran Deefa menjadi lebih positif terhadap suaminya setelah dia berbicara dengan wanita yang sekarang memasang wajah tidak mengerti.


Kedua mata dari sang mertua menelisik seluruh bagian tubuh dari pria yang berdiri dengan rahang mengeras beserta dengan kedua tangan yang terkepal.


Pria diambang pintu itu bahkan tidak bergeming untuk beberapa saat hanya kedua netranya saja yang terus memindai dua orang wanita yang sekarang sudah berdiri dan keduanya pun mengarahkan pandangan padanya.


Bibir Raffan berkedut lalu sesaat kemudian mulai menggerakkan anggota tubuhnya seraya bicara, entah bicara dengan siapa karena dia tidak menyebut salah satu diantara dua wanita itu.


"Raffan mau ambil motor," katanya lalu melangkah menuju meja kecil di dekat tangga tempat yang memang biasa dijadikan menyimpan kunci-kunci rumah sekaligus kunci kendaraan.


Mata Deefa meredup kala diabaikan oleh suaminya, dia seolah tidak terlihat karena pria itu tidak menjawab panggilannya.


Dia melakukan kesalahan lagi kah?


Deefa meringis membatin merasakan nyeri yang tak terlihat namun terasa begitu menyesakkan seraya terus menatap punggung sang suami yang kini sibuk mencari kunci kendaraannya.


Gerakan tangan terhenti saat kedua netra gelapnya melihat bingkai berisi foto sang Ayah.


"Tidak bisakah Ayah kembali dan membantu Raffan menangani dua wanita keras kepala ini?" menggumam sangat lirih bahkan seekor nyamuk di dekatnya pun mungkin tidak akan bisa mendengar apa yang dia gumamkan.


Pria itu memejamkan kedua mata, menarik napas lalu kembali pergi setelah mendapatkan benda yang dia cari.


Pergi tanpa mengatakan sepatah katapun pada dua wanita yang masih terus berdiri melihat padanya, seolah dia ini adalah tontonan yang memang harus di tonton.


"Raffan!" sang ibu akhirnya tersadar dari keterkejutannya bergerak mengejar sang anak yang sudah melangkah keluar rumah.


Yang dipanggil menoleh saja tidak malah terus melanjutkan langkah baru berhenti ketika merasa ada tarikan pada lengannya.


"Ibu memanggil mu!" sentak ibunya tak suka.


Marah?


Tentu dia marah saat suaranya malah sengaja tidak di dengar, anaknya itu tidak tuli dan masih bisa menangkap suara sekecil apapun, lalu bagaimana bisa mengabaikan panggilannya.


Raffan menghentikan langkah lalu memutar tubuh seraya menepis tangan sang ibu dengan emosi yang coba dia bendung, dalam jarak seperti ini dia bahkan masih bisa melihat keberadaan istrinya yang masih membeku dalam diam, berdiri tanpa bergerak hanya netranya saja yang terus melihat padanya.


Bahkan Raffan dengan sengaja menatap kedua netra sang istri membuat mereka kini saling tatap dengan sorot mata yang berbeda.


Deefa dengan sorot mata sendu dan penuh cinta beserta dengan segala penyesalan yang memenuhi dada, sedangkan Raffan dengan sorot mata marah tak suka dan kecewa yang bercampur aduk membuat rahang tegasnya menjadi semakin tegas bahkan tampak jelas buncahan kemarahan yang coba dia sembunyikan.

__ADS_1


Seorang Raffan meski hatinya sudah ingin meluapkan melampiaskan kemurkaannya akan tetapi dia tidak ingin melihat istrinya semakin tidak ada harganya di depan sang ibu.


Dia tidak mau mengeluarkan perkataan-perkataan yang ada di dalam hatinya untuk sang istri, tidak mau ibunya makin merasa senang melihat dia dan Deefa bertengkar bahkan sampai tahu mendengar ucapan yang sudah dia ingatkan berulang kali pada sang istri akan tetapi istrinya malah melanggarnya seperti memang sengaja melakukan itu.


Raffan mendengus lalu mengedikkan bahu.


"Kenapa penampilanmu seperti ini?" ibunya mempertanyakan apa yang dia pakai di tubuhnya.


"Apa yang aneh? dulu Raffan memang seperti ini hanya saja ibu melakukan perbuatan menyebalkan yang membuat Raffan terpaksa menjadi laki-laki baik!" Raffan menjawab dengan kedua mata yang terus tidak lepas dari wanita yang kini merasakan jantungnya berdebar.


Bukankah seharusnya saat ini Deefa menjelaskan pada suaminya?


Tapi kenapa dia malah merasakan lidahnya kelu, lidahnya sulit untuk diajak kompromi membuatnya jadi tidak bisa berkata-kata hanya berani membalas tatapan nyalang dari pria yang sejak tadi seolah mengincar dirinya.


Deefa merasa dia kini sudah tertangkap oleh musuh yang siap menghabisi nyawanya tanpa ampun.


Hayati menggeleng lemah, "jangan seperti ini Nak, kasihan Ayahmu dia pasti akan sangat sedih melihat kamu kembali seperti ini."


Kedua tangan Hayati mencoba untuk memang tangan sang anak dengan pandangannya yang melihat pada anting ditelinga anaknya.


Anting yang dulu dia minta untuk dilepas kini malah kembali dipakai masih ditambah dengan kalung yang ada di leher sang anak.


Apa anaknya benar-benar kembali seperti dulu?


Rasanya Raffan ingin tertawa mendengar penuturan sang ibu yang sekarang dengan entengnya membawa nama Ayahnya.


"Ayah akan lebih kasihan karena melihat kelakukan ibu dan juga menantu ibu!" Raffan berucap geram tanpa melihat sang ibu lalu pria itupun tersenyum miris dengan gelengan kepala.


"Kalian dua orang wanita dengan pikiran tak masuk akal!" tuding Raffan menyuarakan isi hatinya.


Telinga Deefa bisa menangkap dengan baik setiap perkataan yang suaminya lontarkan membuat jantungnya makin berdebar tak karuan, matanya bahkan tidak bisa mengerjap dengan baik karena tatapan mata sang suami yang tidak berpaling darinya barang sedetikpun.


"Ibu tidak berhak mengatur jalan hidupku, tidak berhak melarang ataupun menuntut agar Raffan mau mengikuti apa yang ibu katakan, Raffan tidak mengijinkan ibu ikut campur dengan kehidupan Raffan.." Raffan menjeda lalu menarik napas sebelum kembali melanjutkan perkataannya, "termasuk kamu! Adeefa Ranaya!"



Setelah mengatakan itu Raffan bergegas pergi meninggalkan Deefa yang rasanya ingin jatuh pingsan, tungkai kakinya menjadi sangat lemah seakan hanya ada kumpulan daging tanpa tulang yang bisa dipergunakan untuk menyangga berat tubuhnya.



Air matanya bercucuran dengan tanpa kendali membasahi seluruh wajah yang sejak tadi memang sudah menjadi pucat.



"Apa yang sudah kamu lakukan terhadap anak saya?!" sang ibu mertua bertanya murka.

__ADS_1



Aura wajahnya terlihat makin menyeramkan tidak layak disebut sebagai seorang manusia yang memiliki kepintaran dalam segi agama karena untuk menahan emosi saja tidak mampu.



Deefa mengangkat wajah yang sudah sangat berantakan oleh air mata, menatap wanita yang juga tengah menatapnya dengan kebencian yang menggunung.



"Mas Raffan seperti ini karena kita Bu," tutur Deefa lirih namun dia berniat untuk menjawab, membela diri karena terlihat jelas kalau ibu mertuanya ingin menyalahkan dirinya.



"Kita egois, terus memaksanya menikah lagi padahal Mas Raffan tidak mau." bicara disela isak tangis.



Hayati meradang, dia tidak suka dia malah juga disalahkan, "kamu yang egois, tidak bisa memberikan keturunan tapi malah terus mengikat anakku!" Hayati menyentak.



"Pasti kamu yang membuatnya seperti itu, kamu menghasut anak saya agar membenci ibu kandungnya sendiri!" Hayati makin tidak bisa mengkondisikan intonasi suaranya, tinggi melengking memenuhi seisi rumah.



"Astaghfirullahaladzim."



Sungguh Deefa tak habis pikir kenapa sekarang malah dia yang seolah menjadi perusak hubungan ibu dan anak, kenapa malah dia seorang yang dijadikan tersangka atas semua yang terjadi.



Dia memang salah tapi bukankah ibu mertuanya juga salah?



Deefa tidak sanggup berada lebih lama lagi di rumah mertuanya, tidak sanggup menghadapi wanita yang terus menuding menyalahkan dirinya.



Dia harus mengejar suaminya dan berbicara menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sebelum semuanya menjadi fatal.


*****

__ADS_1


__ADS_2