Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Menjadi Lebih Dewasa


__ADS_3

Raffan masuk ke dalam rumah yang sebagian lampunya sudah dimatikan, sedikit gelap di beberapa bagian namun tidak menyulitkan dirinya untuk melangkah menuju ruang tengah yang juga tampak redup sebab lampu utama di ruangan itu termasuk salah satu yang dimatikan hanya menyisakan lampu di atas meja yang berwarna kecoklatan.


Pria itu memang membawa kunci cadangan jadi saat pulang terlambat atau ketika istrinya sudah mengunci pintu dia tidak perlu lagi menunggu istrinya membukakan pintu untuknya karena bisa saja istrinya sudah tidur atau sedang mengerjakan hal yang lain.


Raffan hendak melangkah langsung menuju anak tangga yang mengarah ke lantai atas dimana kamarnya berada, tadi dia pikir dengan keadaan lampu yang sebagian sudah mati dia mengira istrinya sudah tidur karena cuaca di luar yang sepertinya memang menuntut siapapun untuk bergelung di atas tempat tidur tapi nyatanya perkiraannya itu salah, langkahnya terhenti ketika sudut matanya menangkap bayangan yang tubuh yang menangkupkan kepalanya di sandaran lengan sofa di ruang tengah, langkahnya yang tadi hendak menaiki tangga pun jadi berputar guna memastikan dugaannya.


Raffan pun langsung melemparkan kunci mobil ke atas karpet begitu mendapati istrinya sangat jelas menunggu dirinya pulang sampai akhirnya malah tertidur di sofa.


Tanpa banyak bicara apalagi membangunkan istrinya, Raffan pun gegas mengangkat tubuh kecil wanita bergamis dengan kerudung yang senantiasa menutupi rambut panjangnya saat Raffan tidak ada di rumah, mungkin takut ada tamu yang tiba-tiba datang kala tidak ada suaminya.


Helaan napas Raffan terdengar sangat berat saat membawa tubuh sang istri menaiki tangga, bukan karena keberatan dengan bobot tubuh istrinya itu, tapi lebih karena dia merasa bersalah karena pergi tidak memberi kabar bahkan malah dengan sengaja mematikan handphonenya agar istrinya itu tidak bisa menghubungi.


Mata Raffan tak hentinya menatap wajah wanita yang berada di dalam gendongannya, ada rasa bersalah yang langsung menyeruak dan memenuhi hatinya tentang apa yang dia lakukan.


Bagaimana bisa dia yang sudah menjadi seorang kepala keluarga, imam bagi istrinya itu malah ngambek ketika istrinya meminta memeriksakan diri ke dokter, padahal dia tahu istrinya seperti itu karena tuntutan dari sang ibu.


Ketika Raffan membuka pintu kamar dengan sedikit kesulitan, Deefa menggerakkan tubuhnya menandakan kalau dia mulai terbangun dari tidurnya karena menunggu suami yang tak juga pulang.


"Mas," ucap Deefa lirih ketika membuka mata dan pertama kali dia lihat adalah wajah suaminya yang begitu dekat.


Deefa pun melihat ke bawah kala merasakan tubuhnya terangkat, "Deefa ketiduran di ruang tengah ya," tutur Deefa dengan suara yang merasa bersalah.


"Maaf aku pulang larut malam, dan maaf juga karena tidak memberitahu kamu," ujar Raffan menurunkan tubuh sang istri ke atas tempat tidur.


Deefa menggeleng, "Deefa yang salah, Deefa terlalu menuntut Mas Raffan, seharusnya Deefa tidak seperti itu seharusnya Deefa sadar dengan usia Mas Raffan yang masih sangat muda tentu masih belum ingin untuk punya anak, Deefa hanya bingung ibu marah sama Deefa dan saat Deefa menuntut pada Mas Raffan justru Mas Raffan yang marah sama Deefa, sekarang kalian berdua tentu marah sama Deefa, Deefa harus bagaimana? atau biarkan ibu marah asal jangan Mas Raffan yang marah sama Deefa, Deefa nggak bisa lihat Mas Raffan marah karena disini Deefa cuma punya Mas Raffan," tutur Deefa dengan suaranya yang sangat lirih dengan desakan air mata yang mulai mengembang memenuhi kedua matanya, binaran matanya pun dapat Raffan lihat dengan jelas kalau wanita itu memang sangat terluka ketika suaminya marah dengannya.


Tahu kalau sebentar lagi Deefa akan menangis Raffan pun segera menarik tubuh wanita itu lalu mendekapnya dengan begitu erat, "besok kita ke dokter ya, kita periksa agar ibu tidak menyalahkan kamu karena belum juga memberikan dia cucu," ucap Raffan mengelus punggung sang istri yang bergetar di dalam dekapannya.


Deefa menangis haru di dalam dekapan pria yang nyatanya sudah sangat berusaha untuk menjadi dewasa untuknya, menangis karena menemukan ketenangan yang makin membuat hatinya lega setelah mendengar semua yang suaminya katakan.


"Aku cinta banget sama kamu Deef, nggak suka kalau kamu sedih apalagi alasan kamu sedih itu karena aku," tutur Raffan sambil sesekali menghadiahi puncak kepala istrinya dengan kecupan penuh kasih sayang dan rasa bersalah.


Mendengar itu membuat Deefa membalas dekapan dari pria yang dulu tidak kenal bahkan dia tidak pernah tahu kalau di dunia ini ada pria bernama Raffan Alawi yang Allah takdir kan untuk menjadi suaminya.


Lalu Deefa pun selalu berdoa setiap saat agar Allah menjadikan dia dan Raffan jodoh di dunia maupun di akhirat kelak.

__ADS_1


Keduanya begitu larut dalam dekapan di tengah hujan yang makin deras dan Sambaran petir yang menerangi langit malam, sampai suara bunyi perut menginterupsi kesyahduan keduanya.


"Mas Raffan lapar?" Deefa menjauhkan tubuhnya mengangkat wajah menatap pria yang tersenyum malu-malu seraya mengangguk.


"Belum makan dari pulang kuliah," aku Raffan membalas tatapan sang istri yang melihatnya dengan rasa bersalah bercampur kasihan.


"Pasti karena mikirin kemauan Deefa," tebak Deefa merasa menyesal karena apa yang dia inginkan malah membuat suaminya melupakan makan atau malah mungkin jadi tidak bernafsu untuk makan, padahal tadi pagi pun pria itu hanya sarapan sedikit saja dan pasti perutnya sangat kelaparan dan sepertinya sekarang sedang berdemo untuk di berikan makanan.


"Lain kali jangan kayak gitu lagi ya, aku nggak nafsu makan kalau kamu nya sedih," ujar Raffan, tidak tahu dia itu sedang menggombal atau memang perkataan itu keluar dari hatinya karena betapa dia sangat menyayangi wanita yang sedikit banyak sudah membuatnya berubah menjadi lebih dan bahkan sangat baik dari yang sebelumnya.


Sekarang bahkan dia sudah sangat jarang balapan, dulu sebelum menikah dia bisa balapan seminggu dua sampai tiga kali, nongkrong pulang subuh hampir tiap hari membuat kedua orang tuanya marah-marah setiap saat, masuk penjara pun menjadi hal yang biasa baginya.


Tapi ketika sudah ada Deefa semuanya berubah, masuk penjara baru satu malam saja tubuhnya langsung gatal-gatal ingin segera pulang dan berjumpa sekaligus bermanja dengan wanita cantik berkulit kuning Langsat yang sekarang malah semakin cantik saja setelah menyandang status sebagai seorang istri.


Deefa mengangguk, "Deefa hangatkan makanan dulu ya, Mas Raffan tunggu disini sebentar," kata Deefa bergegas turun dari tempat tidur hendak menghangatkan makanan yang tadi sore sudah dia masak.


Deefa berjalan cepat bahkan terlihat hampir berlari menuju dapur yang lalu mulai meletakan wajan ke atas kompor dan mengambil makanan yang ada di atas meja lalu memanaskannya.



Wanita itu jadi sangat sibuk di malam yang semakin larut itu di tambah lagi dengan suara gemuruh petir dan hujan yang menemani kesibukannya itu.


"Mas," panggilnya bertepatan dengan Raffan yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah, kemungkinan pria itu tadi mandi dulu.



Bukannya menjawab Raffan malah melemparkan kaos yang seharusnya dia pakai hingga teronggok di pinggiran tempat tidur lalu menarik tubuh istrinya dan memeluknya dengan begitu kuat.



"Makanannya sudah siap," kata Deefa yang kepalanya mendarat pada dada sang suami yang tanpa penutup.



"Biarkan saja, kita bisa makan nanti," cakap Raffan membuat Deefa kebingungan.

__ADS_1


Makan nanti? maksudnya apa? Deefa sudah susah payah turun naik tangga dan berkutat di dapur puluhan menit untuk menghangatkan makanan agar suaminya yang lapar bisa makan, tapi ketika makanan sudah siap dan tinggal santap saja kenapa suaminya malah mengatakan 'kita bisa makan nanti' jadi sekarang mau apa? batin Deefa makin terusik ketika merasakan tangan suaminya bergerak dan semakin bergerak tak jelas seperti mencari sesuatu.


"Mumpung hujannya belum berhenti," bisik Raffan menyiratkan sesuatu yang sedang sangat ingin pria itu lakukan.



"Tapi Mas Raffan kan lapar," Deefa masih berpikir jernih untuk membiarkan suaminya makan dulu sebelum tenaganya makin terkuras.



"Lapar perut sudah sedikit hilang, tapi lapar bagian bawah yang maksa buat yang sekarang nuntut aku buat kasih dia makan," celoteh Raffan yang membuat Deefa menenggelamkan wajahnya lebih dalam ke dada bidang miliknya.



"Yuk ituan dulu, nanti abis itu baru makan," ajak Raffan dengan suara bujukan yang terdengar sangat lembut disertai dengan hembusan napas yang menerpa puncak kepala Deefa.



"Sebentar aja," tawar Deefa.



"Iya sebentar, siapa tahu besok langsung hamil," kata Raffan dengan senyum dan gerakan tangan yang semakin tak bisa diam.



Deefa pun mengangguk mengiyakan ajakan sang suami, biarlah makanan yang sudah dia hangatkan kembali dingin toh nanti dia bisa menghangatkannya kembali atau mereka akan langsung makan saja jika memang sudah sangat lapar, yang terpenting sekarang adalah memenuhi keinginan suaminya dulu karena dia akan mendapat dosa jika menolak.



Deefa pun dengan senang hati melayani suaminya dengan baik, memasrahkan dirinya ketika sentuhan demi sentuhan mulai dia rasakan dan desakan demi desakan sudah semakin menghimpit dirinya manakala tubuh mereka sudah saling menyatu dengan baik.



Deefa memejamkan mata berdoa dan berharap setelah ini tamu bulanannya yang seharusnya datang lima hari lagi itu memilih untuk tidak datang selama sembilan bulan.

__ADS_1



\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2