Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Salah Sasaran


__ADS_3

"Aku mau ikut," kata Deefa begitu suaminya meminta izin untuk pergi setelah mendapat telepon dari Rio.


"Aku beneran ke rumah sakit Deef, nggak ada lakuin aneh-aneh kok," ujar Raffan menjelaskan sebab dari raut wajah yang istrinya tunjukkan jelas sekali terlihat kalau wanita itu khawatir dirinya kembali melakukan perbuatan yang sama seperti yang sudah-sudah dan akhirnya harus kembali berurusan dengan pihak berwajib.


Deefa menggeleng tetap keras kepala pada keinginannya untuk ikut, sekarang Raffan bisa berkata demikian, hanya ke rumah sakit melihat Gumay yang berada di sana setelah dipukuli orang, apa ada jaminan kalau Raffan tidak akan tersulut emosi jika melihat keadaan temannya itu? bukan tidak percaya pada kekuasaan Allah yang bisa membolak-balikkan perasaan dan hati manusia, tapi yang namanya emosi itupun sifat yang cukup manusiawi sebab memang tertanam pada diri semua umat manusia tinggal bagaimana manusia itu bisa atau tidak mengendalikan emosinya.


Sedangkan untuk Raffan, emosi pria itu masih belum cukup terkontrol bahkan tadi pagi pun sempat memarahi ibunya karena merasa sudah menuntut Deefa untuk segera hamil.


Raffan yang sedang mengambil jaketnya pun akhirnya menyetujui keinginan istrinya, ditolak pun Deefa tentu akan tetap memaksa dan apabila di tinggal pun rasanya tidak mungkin, memangnya Deefa anak kecil yang kalau di tinggal hanya akan menangis? dia wanita dewasa yang bisa saja menyusul dan mencari dimana keberadaannya seperti yang dulu wanita itu lakukan saat mendatanginya ke bengkel.


"Ya sudah," ucap Raffan akhirnya seraya memakai jaket.


Deefa pun gegas mengganti bajunya lalu memakai kerudung besar yang menutupi ke bagian tubuhnya, tadi memang dia hanya memakai baju terusan biasa tanpa menggunakan kerudung karena memang saat di rumah Raffan melarangnya memakai kerudung, berbeda dengan yang dulu suami anehnya itu dulu malah bingung ketika melihat Deefa tidak memakai kerudungnya dan itu membuat Deefa akhirnya tetap memakai kerudung di dalam rumah padahal di rumah itu hanya ada mereka berdua, dulu memang otaknya Raffan itu selalu koslet layaknya listrik.


Raffan menunggu istrinya di dekat pintu keluar sambil memainkan handphone berkirim pesan dengan temannya memastikan keadaan Gumay.


"Ayo Mas," ucap Deefa yang sedang mengarah kepada sang suami.


Raffan menyimpan benda yang tadi dia mainkan lalu menatap pada wanita yang sekarang sudah berdiri di depannya bersiap untuk keluar melewati pintu.


"Sebentar sayang," kata Raffan mencekal tangan sang istri agar tidak lagi berjalan, lalu tanpa berkata dia merapikan kerudung yang menggantung di depan dada istrinya menariknya sedikit agar menutupi dengan sempurna, "ayo jalan," ajak Raffan dengan senyum yang terulas.


Deefa membalas senyuman itu lalu menggapit lengan pria yang setiap saat selalu saja memperlihatkan bagaimana caranya dia memperlakukan wanita yang dia cintai dengan sangat baik, bahkan ikut menjaganya agar tidak memperlihatkan bentuk tubuh meski tanpa sengaja.


Sungguh tadi Deefa sudah memakai kerudung dengan sangat baik agar bagian dadanya tertutupi dengan sempurna tapi tidak tahu kenapa kerudung itu malah bergeser, ah mungkin memang dia ingin suaminya membantunya membenahi kerudung yang dia pakai.


Keduanya sudah berada di dalam mobil yang meluncur halus tanpa rintangan macet di jalanan yang langitnya sudah benar-benar gelap karena memang ini sudah menginjak pukul 8 malam.


Lengang, jalanan malam ini sangat lengang tidak seperti biasanya yang kerap kali macet oleh orang-orang yang masing-masing mempunyai kesibukan dan kepentingan.


Mobil berwarna putih itu dengan cepat akhirnya tiba di rumah sakit, tempat yang memang mereka tuju.


Keduanya turun dari mobil dengan sedikit protes dari mulut Raffan ketika istrinya juga turun bersamaan dengannya, "harusnya kamu jangan turun dulu," ujar Raffan di berdiri di samping Deefa yang baru menutup pintu mobil.


Wanita itu kebingungan tak mengerti dengar perkataan suaminya, "memangnya kenapa?"


"Aku mau bukain pintunya, malah kamu buka duluan terus turun, terlalu mandiri," kata Raffan sedikit ketus.


Sepertinya itu bentuk protesnya terhadap sang istri memang kerap kali membuka pintu mobil sendiri padahal dia sangat ingin membukakan pintu mobil untuk istrinya itu.


"Kalau gitu lain kali Deefa tunggu Mas yang bukain dulu deh," imbuh Deefa tidak ingin membuat suaminya kecewa.


"Kita masuk sekarang?" Deefa bertanya kala mendapati suaminya masih sedikit bete.


"Ayo."


Raffan menggenggam tangan istrinya untuk mulai melangkah bersama memasuki gedung rumah sakit yang meskipun sudah malam, genggaman itu terlihat begitu erat karena punggung tangannya sampai memutih, genggaman yang erat seakan takut akan kehilangan wanita yang menjadi lentera dalam hidupnya wanita yang mengajarkan tentang arti cinta sesungguhnya yang tidak hanya kepada lawan jenis saja tapi juga sesama makhluk hidup dan terutama cinta kepada sang pemilik semesta.


Keduanya menyusuri lorong lalu berbelok-belok membuat lama-kelamaan Deefa menjadi bingung sebenarnya suaminya ini tahu atau tidak dimana ruangan temannya itu berada.


"Mas," panggil Deefa saat mereka sudah berada di ujung lorong buntu yang di depan sana hanya ada satu pintu.


"Kenapa?" tanya Raffan menghentikan langkah sebab Deefa yang sudah berhenti lebih dulu menarik tangannya.


"Ruangannya dimana?" tanya Deefa.


"Itu," menunjuk pintu di ujung sana, "berapa langkah lagi juga sampai," sambung Raffan.


"Temannya Mas Raffan sudah meninggal?" kini Deefa malah semakin mengerutkan keningnya, padahal tadi suaminya mengatakan kalau temannya masuk rumah sakit karena dipukuli orang, itu artinya masih hidup kan? lalu kenapa sekarang malah mengajaknya ke kamar jenazah?


"Hah?" Raffan menjengkit kaget.


"Itu kamar mayat," tutur Deefa yang lantas membuat hidung Raffan kembang-kempis menahan amarah.


"Sialan Rio!" makinya kesal karena sudah dikerjai oleh temannya itu.


"Istighfar Mas, kenapa selalu memaki," ujar Deefa mengelus lengan sang suami agar meredakan amarahnya.


"Astaghfirullahaladzim." Raffan pun menurut lalu menarik tangan Deefa untuk kembali ke lobi rumah sakit dan bertanya pada resepsionis dimana kamar Gumay berada, rasa dongkolnya membuat dia enggan untuk menghubungi salah satu temannya guna bertanya dimana kamar Gumay, yang ada di dalam kepalanya saat ini hanyalah Rio yang sudah mengerjainya.


"Assalamualaikum."


"Mana Rio?!"


Deefa mengucap salam sedangkan Raffan malah mencari temannya yang tidak terlihat, membuat temannya yang ada di dalam ruangan bingung.


"Wa'alaikumsalam," Agam memilih untuk menjawab salam karena itu memang yang paling benar.


"Ck!" Raffan berdecak kesal karena tak ada yang menjawab pertanyaannya.


"Sebaiknya ucapkan salam dulu baru kemudian bertanya," Agam mengingatkan Raffan yang dalam sekejap memperlihatkan picingan mata terhadap dirinya.


"Agam benar," timpal Deefa membuat Raffan beralih melihat ke arahnya.


"Assalamualaikum," akhirnya menurut pada sang istri.


"Wa'alaikumsalam," sahut empat orang yang ada di dalam ruang perawatan Gumay yang sekarang terbaring di atas tempat tidur dengan wajah yang babak belur dan tangan serta kaki kaki yang di perban.


"Rio mana?" Raffan pun kembali mencari-cari temannya yang tidak terlihat itu.


"Pulang barusan," sahut Gerry seraya bangkir dari sofa, "kenapa emangnya? Lo kesal banget kayaknya," tanya Gerry melihat raut wajah Raffan yang sangat marah.


"Gue di kerjain sama dia, kurang ajar emang tuh anak!" aku Raffan.

__ADS_1


"Di kerjain gimana?" tanya Agam, mereka yang ada di dalam ruangan itu memang tidak tahu-menahu tentang apa yang sudah Rio lakukan terhadap Raffan.


"Kamar mayat, gue diarahin ke kamar mayat sama tuh anak!" adu Raffan yang dongkol.


Gerry menahan tawa sedangkan Gumay bingung mau tawa atau menangis sebab semua badannya sakit dan luka tapi pengakuan Raffan sangat layak untuk ditertawakan, karena selama ini Raffan lah yang kerap kali mengerjai mereka tapi kali ini pria itu dikerjai oleh Rio, hanya Agam yang tetap menunjukkan wajah biasa saja.


"Pantesan tadi dia buru-buru pulang katanya ada urusan penting," celetuk Gerry setelah mengendalikan diri agar tidak kelepasan tertawa, karena kalau sampai itu terjadi malah dirinya yang akan jadi sasaran kemarahan Raffan.


"Sialan kabur duluan!" oceh Raffan yang membuat istrinya menarik napas mendengar setiap lontaran kata yang keluar dari mulut suaminya.


"Duduk Deef," Agam berbaik hati menawarkan Deefa untuk duduk.



"Deefa doang yang di suruh duduk?" tanya Raffan dengan nada menyindir.



"Lo kayak sama orang lain aja Raf, pakai minta di tawarin duduk segala."



"Lah kok Lo disini?" tanya Raffan pada orang yang baru saja berbicara.



Orang itu adalah Fara satu-satunya wanita yang ada di ruangan itu yang entah kenapa sejak tadi Raffan tidak menyadari keberadaan mantan kekasihnya itu.



"Emangnya kenapa kalau gue disini?" Fara bertanya sengit dengan pertanyaan Raffan.



Raffan mengedikkan bahu tak tahu harus menjawab apa.



"Lo belum kenalin gue sama istri Lo," Fara yang sejak kedatangan tadi memang sudah memperhatikan Deefa pun mempertanyakan.



"Lo ngomong aneh-aneh nggak?" tanya Raffan curiga sekali dengan sang mantan.



"Yaelah Raf, kita pacaran nggak sampai satu bulan memang.."




"Sayang."



"Iya aku tahu," tutur Deefa bahkan ketika Raffan baru memanggilnya saja.


Raffan pun mengukir senyum lalu menjawil hidung istrinya dengan lembut.


"Haduh mata gue mendadak buta," celetuk Gumay tak kuasa melihat adegan di depannya.



Sedangkan Gerry dan Agam berpura-pura mengobrol.



Akhirnya Raffan pun membiarkan Deefa berkenalan dengan Fara sedangkan dia berbicara dengan teman-temannya menanyakan kronologis kejadian yang menimpa Gumay.



"Gara-gara dia tuh," Gumay menunjuk Fara yang langsung berdiri dari duduknya.



"Kok gue?" Fara menunjuk dirinya sendiri.



"Yaiyalah kalau bukan karena elo nggak mungkin gue di hajar kayak gini sama si Marco sialan dan teman-teman pengecutnya itu," kata Gumay tak mau mengalah.



"Heh! gue juga kaga tahu kali kalau gue bakal di culik sama si Marco peak itu! lagian dia itu nyuruhnya Raffan yang datang ngapain malah elo!" omel Fara yang juga tak mau mengalah, "Lo yang sok pahlawan malah gue yang Lo salahin!" ketus Fara dengan wajah merengut.



"Jadi Lo pengennya Raffan yang nolongin Lo gitu? nggak bersyukur banget Lo, malah milih-milih," cerocos Gumay.



"Ada Deefa sialan," Raffan menggumam geram mengingatkan Gumay.

__ADS_1



Gerry dan Agam malah pusing, sejak tadi mereka sudah mendengar dua orang itu saling adu mulut dan sekarang terjadi lagi, pusing serta pengang sudah telinga mereka.



"Upps sorry," cetus Gumay.



"Setidaknya Raffan lebih bisa diandalkan." Fara kembali menjawab.



"Sorry ya Deefa, gue beneran udah nggak ada rasa kok sama Raffan," kata Fara pada Deefa merasa tak enak hati tapi si Gumay itu membuatnya kesal.



"Tapi.."



"Kalian udah bertengkar sejak tadi nggak capek? gue sama Gerry aja capek banget dengerinnya." Agam berbicara mengingatkan Fara dan Gumay agar berhenti bertengkar dan saling menyalahkan apa yang sudah terjadi tidak perlu diungkit lagi jika hanya menjadikan pertengkaran pada akhirnya.



"Jodoh ini sih," celetuk Raffan tiba-tiba membuat semua mata melihat padanya.



"Kenapa pada ngelihatin gue?" tanyanya tanpa bersalah dengan perkataannya barusan.



"Mau kemana Far?" tanya Gerry.



"Pulang!" ketus Fara lalu berjalan cepat menuju pintu.



"Gue anterin dulu deh udah malem soalnya," kata Gerry mengambil kunci motor dan mengejar Fara yang sudah menghilang di balik pintu.



"Jadi salah sasaran? bagus lah gue jadi nggak babak belur," cerocos Raffan setelah mengetahui apa yang terjadi dan mereka hanya tinggal berempat saja di ruangan itu.



"Sialan emang lo!" maki Gumay.



"Astaghfirullah Gumay, bukannya sialan, ckckck," Raffan dengan songongnya menasehati Gumay tidak sadar dengan kelakuannya sendiri yang kerap kali memaki jika sedang marah.



Gumay memutar bola matanya, "pokoknya gue nggak bakal biarin si Marco sama cunguk-cunguknya itu keliaran bebas abis mukulin gue!" ancam Gumay.



"Lo mau ngapain? jangan pakai balas dendam segala urusan malah makin panjang nantinya nggak akan ada selesainya!" peringat Agam pada Raffan dan Gumay, dua orang ini memang memiliki sifat yang sama ngeselin tapi juga gampang emosi.



"Gue laporin Bapak gue!" aku Gumay.



"Wah urusan panjang ini mah kalau udah lapor-lapor Bapak mah," celetuk Raffan.



Mereka tahu benar seperti apa Ayahnya Gumay itu, seorang pengusaha yang tidak terkenal tapi juga terkenal ah entahlah bagaimana penyebutannya.


Ayahnya Gumay itu seorang yang keras tapi juga sangat menyayangi Gumay, tentu pria itu tidak akan diam saja jika terjadi sesuatu terhadap anaknya apalagi sampai babak belur seperti ini, di pastikan tamat sudah riwayatnya Marco beserta kroni-kroninya.


"Bapak gue udah hubungin pengacara besok besok pagi juga di seret tuh musuh balapan Lo ke penjara," cetus Gumay dengan senyum ngeselin.



Dia benar-benar tidak akan mau berdamai dengan Marco dan juga teman-temannya yang sudah terlibat mengeroyok dirinya ketika datang menyelamatkan Fara.



Dia akui dia memang bodoh karena datang begitu saja tanpa memikirkan resiko, tapi sungguh dia merasa khawatir ketika mengetahui Fara di bawa oleh Marco dan pria itu meminta Raffan datang tapi malah dirinya yang datang seolah menyerahkan nyawa sebab dia yang tidak terlalu bisa berkelahi seperti Raffan maka habislah dia, apalagi saat itu dikeroyok karena Marco kesal bukan Raffan yang datang.



Agam tidak mengatakan apapun, karena menurutnya itu jauh lebih baik ketimbang membalas dengan hal yang sama, setidaknya agar memberi efek jera pada Marco untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya.


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2