Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Tak berkutik


__ADS_3

"Sialan Gumay!" maki Marco yang tengah duduk meringkuk di dalam tahanan.


Tadi pagi-pagi sekali basecamp tempat dia berkumpul sudah di datangi oleh petugas berseragam yang langsung menangkap mereka padahal pagi itu mereka masih tertidur pulas setelah melakukan pengeroyokan terhadap Gumay.


Pengeroyokan yang sebenarnya salah sasaran itu harus membuat mereka berurusan dengan pihak berwajib untuk sekian kalinya, tapi sepertinya kali ini dia tidak akan bisa bebas dengan mudah sebab Gumay berkeras menuntut dengan segala bukti visum yang ada dan juga saksi, bukan hanya itu saja Marco juga di tuntut atas tuduhan penculikan dan ternyata Fara pun melaporkan apa yang sudah Marco lakukan padanya.


Sepertinya kali ini tamat sudah riwayat Marco beserta teman-temannya, dua tuntutan sekaligus harus dia terima dengan pasal yang sangat jelas memberatkan mereka yang terlibat.


Jelas dalam hal ini Gumay tidak akan pernah mau berdamai dengan Marco si biang onar, anggaplah ini untuk memberikan kedamaian pada dunia dari manusia tidak berguna yang kerap kali membuat ulah dengan siapapun.


"Marco udah di penjara," lapor Rio yang baru saja datang ke kamar rawat Gumay.


Dua orang uang yang ada di dalam kamar rawat itupun menoleh kepadanya lalu Gumay melebarkan bibirnya menunjukkan senyum yang sangat puas, senyum kemerdekaan karena berhasil membuat Marco terjeblos ke dalam tahanan karena perbuatannya sendiri.


"Mampus!" Gerry dengan kejam dan sadisnya mengumpat kasar mensyukuri keadaan Marco yang mungkin sedang sangat marah karena di tahan tapi tidak bisa melakukan apapun untuk bisa keluar dari jeruji besi yang mulai sekarang akan menghadang kebebasan Marco untuk tidak berbuat sesuka hati.


"Lo suka ya sama Fara?" pertanyaan tajam menusuk yang langsung tepat kepada sasaran langsung membuat Gumay terbatuk panjang tanpa henti.


Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk!


Gumay bahkan sampai perlu memukul-mukul dadanya sendiri agar batuk batuk yang menyiksa itu bisa segera selesai apalagi tadi dia sedang makan apel, jadilah buah apel yang sudah halus dia kunyah dan semestinya dia telan malah naik ke hidung membuat hidungnya terasa perih dengan air mata yang mulai mengembang di kedua bola matanya.


"Minum-minum," Gerry yang berada dekat dengan Gumay pun memberikan segelas air putih untuk temannya itu yang dengan cepat di sambar lalu air yang ada di dalamnya di tenggak sampai habis tak bersisa.


"Udah kelar batuknya?" tanya Rio dengan sorot bola mata hitam pekat menatap Gumay yang tengah meletakkan gelas ke atas meja.


"Sialan Lo, tenggorokan gue sakit nih!" omel Gumay yang sangat sewot dengan sang teman yang malah bertanya tentang sudah selesai atau belum batuknya.

__ADS_1


"Gue tadi nanya apaan Ger?" Rio beralih pada teman satunya yang bersandar pinggiran ranjang yang ditempati oleh Gumay.


"Lo suka ya sama Fara?" Gerry dengan konyolnya mengulangi pertanyaan yang tadi Rio ajukan kepada Gumay.


"Jawab Lo!" cecar Rio menatap Gumay yang salah tingkah dengan pertanyaan yang temannya lontarkan.


Dia bingung mau jujur atau tidak, kalau tidak jujur pasti teman-temannya itu tidak akan percaya kalau jujur apa mereka tidak akan mentertawakan dirinya karena dia yang selalu saja bertengkar dengan Fara setiap kali bertemu, ah ternyata ini yang dinamakan jangan terlalu membenci seseorang karena sekat antara benci dan cinta itu sangat tipis, kemungkinan sekat itu sekarang sudah hancur hingga membuat rasa benci sudah terkubur oleh rasa cinta yang dia rasakan terhadap wanita bernama Fara mantan kekasih dari temannya sendiri.


"Lah beneran suka nih anak," tembak Gerry dengan terkekeh mengejek.


Gumay sungguh tidak bisa berkutik dengan serangan dari kedua temannya itu, baru kali ini dia diam saja dan tidak bisa melawan, biasanya mulutnya itu tidak akan pernah berhenti berkicau untuk menjawabi semua omongan teman-temannya, ibaratnya dia sudah mati kutu sekarang.


"Wah berita baik harus disiarkan ke seluruh antero kampus," kelakar Gerry mengeluarkan handphonenya bersiap untuk merekam Gumay yang sedang tertunduk tak memberikan jawaban, membantah atau mengiyakan pertanyaan temannya.


Si Gerry ini memang hobi sekali merekam temannya, tidak jelas kelakuannya itu mungkin cita-citanya memang ingin menjadi kameramen mungkin, sampai teman-temannya selalu menjadi sasarannya.


"Jadi Lo beneran suka sama Fara?"


"Ah si bodoh, udah jelas begitu masih juga nanya!" oceh Gerry ketika Rio dengan bodohnya masih saja bertanya, tidakkah dia melihat bagaimana wajah Gumay saat ini?


Mata Rio melebar dia seperti manusia dengan loading yang lama, tunggu sinyal dulu baru nyambung.


******


"Mas, kapan kita periksa ke dokter?" Deefa mendatangi suaminya yang sedang mencatat barang-barang yang sudah habis di bengkel, lalu menanyakan tentang permintaan dari Ibu mertuanya.


"Nanti saja Deef, lagian kita juga belum lama nikah tidak usah terburu-buru Allah sepertinya masih ingin membiarkan kita pacaran halal dulu, jadi tenang saja kalau memang sudah waktunya Allah pasti kasih kok, aku masih ingin tidur pelukin kamu kalau udah ada anak kan akunya susah nanti buat manja-manjaan sama kamunya," jelas Raffan sangat panjang mengungkapkan isi hatinya tentang dia yang belum puas menikmati masa-masa pacaran halal.

__ADS_1


"Bagaimana dengan ibu? ibu sudah sangat ingin memiliki cucu, sangat ingin kita segera punya anak," terang Deefa mengingatkan.


"Bahkan Mas lihat sendiri bagaimana Ibu terhadap Deefa ketika kita pulang kemarin," tambah Deefa, wanita itu masih ingat ketika ibu mertuanya itu tidak mau melihatnya saat dia berpamitan, dia sebenarnya sangat kecewa dan sedih tapi dia tidak mau mengatakannya pada sang suami karena takut suaminya itu akan kembali memarahi ibunya sendiri, Deefa tidak mungkin itu terjadi lagi.


Raffan menyimpan catatannya lalu menghela napas berat, "kamu lebih mentingin ibu atau aku, suami kamu?"



Deefa terkesiap dengan pertanyaan dari suaminya, ini sebuah pertanyaan pilihan kah? suaminya memintanya untuk memilih?



"Maas," lirih Deefa tidak tahu harus menjawab bagaimana, suaminya tetap harus yang utama tapi dia juga tidak mau mengecewakan ibu mertuanya.



Wanita itu tahu apabila dia memilih salah satunya pasti akan ada yang kecewa sungguh dia berada ditengah jurang kekecewaan antara dua orang.



Raffan berdiri dari sofa tidak menggubris panggilan dari istrinya, dia melangkah dengan derap yang terdengar berat namun cepat keluar kamar menuruni anak tangga, membiarkan istrinya tahu bahwa dia kecewa dan berharap wanita itu berpikir untuk tidak terus membahas soal anak yang diinginkan ibunya.



Mereka yang berumah tangga, mereka juga yang menjalaninya lalu kenapa harus sibuk memikirkan keinginan-keinginan salah satu pihak, meski itu wajar tapi yang menjalani pernikahan ini mereka berdua baiknya urusan anakpun biarkan saja mereka yang memutuskan mau sekarang atau nanti biarkan saja, toh kalau Allah sudah berkehendak apapun bisa terjadi.


__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2