Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Pelukan Rindu


__ADS_3

Raffan pulang ke rumah ketika hujan sudah reda itupun saat malam sudah benar-benar sangat larut bahkan malah menjelang pergantian hari.


Pria itu ingin membuka gembok pagar tapi tangannya terdiam dengan mata yang mencoba melihat pada pagar yang justru tidak di gembok.


"Tadi pagi udah gue gembok nggak sih?" bingung seraya menggerak-gerakkan gembok yang memang tidak terpasang mengunci pagar hanya di slot saja, "gue lupa gembok kayaknya," katanya lagi lalu membuka slot dan melebarkan pagar agar mobilnya bisa masuk.


Mobil melewati pagar langsung parkir di garasi kemudian Raffan kembali pada pagar untuk menggemboknya setelah selesai diapun melenggang menuju teras rumah sambil berlari kecil menghindari genangan air bekas hujan deras beberapa jam yang lalu.


Hujan deras yang membuat dia akhirnya memilih untuk tetap berada di bengkel menunggunya reda, padahal dengan kendaraan yang dia punya dia akan akan tetap bisa pulang meski hujan deras sekalipun tidak berhenti, tapi nyatanya dia memang ingin berlama-lama berada di bengkel bersama teman-temannya karena dia pikir pulang ke rumah pun percuma karena dia hanya akan sendirian saja di rumah itu, Deefa juga belum mengatakan padanya kapan wanita itu akan pulang.


Raffan mengeluarkan kunci rumah yang dia bawa lalu membuka pintu yang sekarang terdapat cahaya dari lampu meja bercahaya redup.


"Gue nyalain lampu meja emang?" kembali kebingungan dan otaknya berpikir untuk mengingat, tapi yang dia ingat adalah dia tidak menyalakan lampu apapun saat meninggalkan rumah di pagi hari, dia ingat sangat jelas kalau biasanya dia pulang disambut dengan ruangan yang sangat gelap tapi kenapa sekarang ada lampu remang-remang yang menyambutnya.


"Tadi gembok lalu sekarang lampu? gue udah mulai pikun?" bergumam sendiri dan tak sengaja matanya berkeliaran melihat kesana-kemari ke setiap ruangan dan kedua matanya pun berhenti kala melihat ada cahaya di ruang makan yang berdampingan dengan dapur.


Sekarang lampu dapur pun menyala membuat dia penasaran, "maling ini sih!" katanya kemudian seraya mencari sesuatu yang bisa dia jadikan senjata sebagai perlawanan kalau-kalau memang dugaannya benar rumahnya tengah kemasukan maling.


Mata pria itu berkeliling mencari benda apa saja sampai akhirnya berhenti pada meja kecil di sudut ruangan, meja tempat menyimpan vas bunga kesayangan istrinya, menurunkan vas bunga berwarna putih bersih dengan gambar kupu-kupu dengan sangat hati-hati menyimpan vas bunga itu ke atas lantai tidak boleh rusak apalagi sampai pecah karena kalau tidak Deefa akan marah, ah tidak! sepertinya Deefa tidak akan marah karena wanita itu tidak akan marah hanya karena benda yang tidak memiliki arti.


Sekarang meja sudah terangkat melebihi kepalanya dan berjalan mengendap-endap menuju dapur yang bercahaya terang, "gue inget banget tadi pagi pagar depan udah gue gembok, kok bisa-bisanya nggak ke gembok," berkata dalam hati dan semakin yakin kalau memang ada maling yang berniat untuk mengambil barang-barang berharga di rumah itu mengingat dia yang selalu pulang larut malam.


"Kayaknya tuh maling udah ngintai dari beberapa hari," katanya lagi mulai berpikiran tentang maling dan makin menjadi.


Langkahnya begitu perlahan dan sangat waspada agar tidak menimbulkan suara, bersembunyi lebih dulu ketika sudah berada di dekat pintu yang memisahkan antara ruang makan dan ruang tamu, menempel di tembok dengan meja yang tetap bertahan di atas kepala dia angkat setinggi mungkin seakan sudah sangat siap untuk menghantam siapapun orangnya yang berada di ruang makan itu.


Raffan sedikit mengintip ke dalam ruang makan lalu memicingkan kedua mata saat matanya menangkap sosok yang sedang menyandarkan kepalanya di atas meja dengan rambut hitam yang tergerai.


"Malingnya gondrong? wah sangar berarti ini," membatin.


"Tuh orang ngapain? mau maling masa ketiduran," ucapnya pelan ketika menunggu orang yang dia kira adalah maling bergerak tapi tak juga kunjung menggerakkan anggota tubuhnya.


"Makanya kalau mau jadi maling itu minimal tidur siang dulu biar malamnya nggak ngantuk," mulutnya berceloteh tak bisa diam.


"Mesti diamanin langsung nih, sebelum bangun," katanya dan sekarang sudah bersiap untuk melangkah mendekati si pencuri, meja sudah sangat siap di angkat olehnya, siap untuk dia jadikan senjata untuk melumpuhkan tamu tak diundang yang datang di tengah malam.


Raffan sudah sangat dekat dengan seseorang yang dia anggap pencuri, berdiri di dekat orang itu lalu berancang-ancang untuk membenturkan meja yang sedari tadi dia pegang ke kepala sang pencuri, berniat ingin membuatnya pingsan lalu dia baru akan mengikat tubuh orang itu dan akan membawanya ke kantor polisi.


Ketika dia akan mengayunkan meja, orang yang sedari tadi kepalanya membelakangi dirinya itupun bergerak memutar kepala hingga sekarang Raffan bisa melihat wajah orang yang hendak dia pukul dengan meja.


"Kayak kenal," gumamnya lalu sebelah tangannya terlepas mencoba menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah orang yang masih saja tertidur.


"Astaghfirullahaladzim, sayang!" serunya lalu gegas melemparkan meja hingga benda itu teronggok tak berdaya di sudut dekat kulkas.

__ADS_1


Brak!


Deefa tersentak sampai terbangun mendengar suara yang berisik serta mengusik ketenangan tidur, tadi dia benar-benar sangat mengantuk hingga diapun tak lagi kuasa untuk pindah ke dalam kamar dan akhirnya malah tertidur dengan kepala yang bertumpu di atas meja.


Menunggu suami yang tak juga pulang membuat dia akhirnya benar-benar tidur dengan sangat pulas.


"Mas sudah pulang?" dengan polosnya Deefa bertanya ketika samar-samar matanya melihat sosok yang dia rindukan tengah berhambur memeluk dan mendekap erat tubuhnya.


Deefa tidak tahu saja barusan dia hampir jadi korban kekerasan rumah tangga oleh suaminya dengan ketidaksengajaan, seandainya saja dia tidak mengubah arah kepalanya sudah bisa dipastikan dia bukan hanya tidur tapi juga pingsan karena hantaman meja yang dilakukan oleh suaminya.


"Jangan tanyakan apapun dulu biarkan aku memelukmu," kata Raffan.


Saat ini dia benar-benar memeluk wanita yang sangat dia rindukan, pelukan rindu sekaligus pelukan permintaan maaf karena tadi dia hampir saja membuat istrinya terluka, tidak tahu penyesalan seperti apa yang nantinya dia rasakan kalau saja tadi dia menghantamkan meja ke kepala istrinya itu.


Deefa pun menurut, mulutnya tak lagi bertanya apalagi mengeluarkan suara menikmati dekapan hangat dari sang suami sekaligus memberikan balasan atas pelukan yang dia terima, jari-jari lentiknya pun kini bergerak mengelusi punggung suaminya yang tertutup oleh jaket hitam.


Raffan menghela napas bahagia lalu mengecup puncak kepala sang istri dengan penuh perasaan, menempelkan bibirnya dengan sangat lama seakan tidak ada hari esok yang akan memberinya kesempatan untuk melakukan hal seperti ini lagi.


Cup cup cup cup!


Sekarang wajah sang istri yang mendapatkan serbuan kecupan dari bibirnya, begitu banyak bahkan teramat banyak tak berhenti dengan cepat membuat Deefa bahkan memejamkan mata tapi bibirnya mengulas senyum.


Setelah merasa puas dia baru berhenti melakukannya lalu menatap tak percaya kalau yang sekarang ada di depannya adalah istrinya, tidak percaya bahwa istrinya sudah ada di rumah.


"Deefa juga, sampai-sampai Deefa pulang ke Jakarta tanpa memberi tahu, berniat ingin memberi kejutan tapi yang akan di beri kejutan malah tidak pulang-pulang sampai Deefa ketiduran," aku Deefa dengan suara yang terdengar merajuk.


Sedikit kecewa memang, tapi mau bagaimana lagi toh dia juga yang salah.


"Maaf, sejak kemarin aku ke bengkel terus, lagian kamu nggak telepon aku, sayang," ucap Raffan dengan wajah menyesal.


"Udah di telepon tapi nggak aktif," terang wanita yang memang membiarkan rambutnya tergerai tanpa menutupinya dengan kerudung toh sudah larut malam dan juga di luar hujan jadi dia yakin tidak akan ada yang datang bertamu ke rumah itu.


"Masa?" Raffan tampak tak percaya tapi kemudian tangannya bergerak untuk mengeluarkan handphone dari dalam kantong celana andalannya, jeans robek-robek pada bagian lutut.


"Aku lupa charger," jelasnya ketika mendapati handphonenya sudah tidak menyala, "maaf," tambahnya lagi karena sudah membuat istrinya kecewa.


Deefa pun menggeleng, "tidak apa-apa, Deefa yang salah karena tidak memberitahu Mas kalau Deefa akan pulang."


Mendengar itu Raffan pun baru menyadari kalau istrinya itu pasti hanya seorang diri saja.


"Kamu kenapa nggak bilang nggak minta jemput, kan aku udah bilang kalau mau pulang itu ngomong sama aku biar aku jemput, tahu kamu pulang sendiri begini aku malah jadi kesel sama kamu." dan sekarang mulutnya yang tadi mengucap kata maaf pun mencerocos tak henti untuk mengomeli istrinya.


Mengomeli wanita yang berani-beranian datang ke Jakarta sendirian saja padahal dia sudah berulang kali mengatakan akan datang menjemput andai wanita itu menghubungi.

__ADS_1


"Tadi kan udah bilang Deefa mau kasih kejutan," tutur Deefa takut-takut, kalau sudah marah begini Raffan memang terlihat menakutkan.



"Terus aku terkejut nggak? yang ada aku malah mau pukul kamu pakai meja," aku Raffan seraya melihat meja yang terbalik karena dia lempar tadi.


Deefa mengerutkan dahi tak mengerti lalu mengikuti pandangan suaminya yang tengah menatap ke meja kecil di dekat kulkas, "itu kan meja yang di ruang tamu, kok bisa ada di situ?" tanyanya sambil terus menatap meja tempat dia menyimpan vas bunga.


"Tadi aku kira kamu ini maling makanya aku mau pukul pakai meja, untungnya kamu berbalik kalau tidak pingsan kamu," aku Raffan terus terang.


Deefa mengelus dadanya sangat beruntung Allah masih melindungi dirinya dari sakitnya akibat meja yang melayang karena ketidaktahuan suaminya.


"Maaf ya Mas," ucap Deefa sadar karena sudah melakukan kesalahan meski niatnya itu hanya ingin membuat suaminya bahagia.



Raffan mengangguk lalu menghadiahkan kecupan di pipi sang istri.



"Padahal aku sudah beli makanan kesukaannya kamu Mas, tapi kayaknya udah nggak enak lagi," kata Deefa menyesal melihat makanan di atas meja yang kemungkinan sudah tidak layak untuk di makan.



"Biar saja Deef, aku juga sudah makan tadi di bengkel, sekarang aku tanya kamu sudah makan belum? jangan mikirin aku terus kalau kamu sendiri belum makan."



"Deefa nggak laper, mau tidur aja sama Mas Raffan," berkata sambil menggelayut manja pada lengan sang suami.



Terang saja perkataan Deefa membuat pria di sampingnya menyunggingkan senyum yang sangat lebar, netra matanya pun memancarkan aura yang sudah tidak sabar untuk melepas rindu dengan istrinya itu.



"Kita ke kamar yuk," ajak Raffan tak ingin membuang waktu apalagi ketika Deefa mengangguk setuju, langsung saja dia menggandeng sang istri menuju kamar.


Tapi saat sedang melangkah menuju tangga Deefa malah mengajukan pertanyaan yang dalam sekejap membuat jiwa dan raga Raffan membeku.


"Soal hasil pemeriksaan bagaimana?"


__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2