Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Pemandangan Yang Terlihat


__ADS_3

Deefa sudah berada di dalam kereta menikmati perjalanan, meski mersakan sedih ketika harus meninggalkan kampung halaman tapi dia harus menahan kesedihannya karena ada seorang pria yang sangat dia rindukan.


Tadi pun dia tak kuasa menahan tangis di pelukan Salimah yang memaksanya untuk mengantarkan dia ke stasiun, tak lupa dia menitipkan ibunya pada Salimah, anak dari Kiyai Burhan dan Umi Salamah yang senantiasa selalu menjadi bagian dari hidupnya.


Langit sudah mulai menguning tanda sore akan segera berganti menjadi malam, perjalanan yang di tempuh dengan kereta itu sudah berjam-jam terlalui masih sekitar dua jam lebih lagi untuk dia sampai ke Jakarta dan berpindah menaiki transportasi lain agar dia bisa tiba di rumah dan berjumpa dengan sang suami.


Sudah tak sabar tapi dia menenangkan dirinya untuk tetap menanti sampai kereta berhenti di stasiun yang dia tuju.


Sedang menikmati pemandangan beserta dengan langit yang perlahan menggelap telinga Deefa menangkap suara tangisan bayi kecil yang berada di pangkuan seorang wanita yang Deefa perkirakan itu adalah ibunya.


Lambat-laun suara tangisan sang bayi menjadi semakin keras membuat hampir seluruh penumpang menatap pada sang ibu yang sedang berusaha keras untuk menenangkan bayinya.


Dari sorot mata para penumpang itu seolah meminta untuk segera menenangkan sang bayi agar tidak mengganggu mereka yang sebagian tadi memang berusaha untuk memejamkan mata tapi tetap tidak karena suara tangisan yang cukup mengganggu.


Kulit wajah sang ibu yang diperkirakan berusia 20an tahun itu sudah tampak pucat, takut kalau orang di gerbong kereta itu akan marah padanya karena tidak bisa membuat bayinya berhenti menangis.


Ibu muda yang hanya berdua saja di dalam kereta itu sudah berusaha membujuk bayinya, berusaha memberikan susu tapi sang bayi menolak, tidak mau meminum susu dari dalam botol yang di sodorkan oleh ibunya, lalu Deefa pun melihat ibu muda itu bersiap untuk memberikan ASI tapi lagi-lagi di tolak oleh bayi yang masih setia dengan tangisnya.


Entah bayi itu kenapa yang Deefa dengar tangisan sang bayi makin menjadi membuat hati Deefa jadi kasihan, tidak tega karena takut suara bayi itu habis atau tenggorokannya sakit karena tangisan yang tak juga mau dihentikan.


Sedangkan orang-orang yang ada di sekitar mereka makin menatap tajam karena sudah benar-benar merasa terganggu dan tidak nyaman dengan suara tangisan itu, mereka sudah lelah menempuh perjalanan panjang berharap bisa sedikit saja beristirahat tapi malah ada seorang bayi yang menangis dan ibunya tidak bisa mendiamkannya.


"Itu anaknya nangis Mbak!" seru seorang wanita yang mulai terusik hingga akhirnya menyuarakan apa yang ada di dalam hatinya.


"Iya maaf Mbak, ini saya sedang berusaha mendiamkan tapi memang anaknya lagi rewel," jawab si ibu muda yang sekarang sudah berdiri dari duduknya.


Apalagi yang harus dia lakukan setelah semua usaha yang dia lakukan sejak tadi tetap saja gagal, hanya inilah jalan satu-satunya padahal kakinya sudah mulai pegal tapi anaknya tak juga kunjung menghentikan tangisnya.


"Punya anak nggak bisa ngurusnya gimana sih, anak nangis nggak bisa diemin!" sentak salah satu pria yang duduk di kursi pojok paling ujung.


Deefa melihat satu persatu orang yang ada di dalam gerbong itu mulai protes membuatnya jadi kasihan pada ibu muda yang sudah tidak bisa menjawab apapun lagi, ibu muda itu sudah berusaha semampunya tapi bayinya tetap saja setia dengan tangisan beserta dengan air mata yang memenuhi wajah kecilnya.


"Diem de, sebentar lagi kita sampai," berusaha membujuk bayi yang masih tidak mengerti apa yang dia katakan, tentunya sang bayi juga tidak mengerti kalau sejak tadi ibunya itu terus dimarahi oleh orang-orang yang ada di gerbong.


Deefa yang tidak tega melihat ibu muda itu terus saja mendapat perkataan yang tidak mengenakkan dari orang-orang itupun berdiri dari duduknya, dia mendekati si ibu muda barangkali dia bisa memberikan bantuan.


"Mbak," panggil Deefa ketika sudah ada di dekat sang wanita yang menggendong bayi tapi tidak sadar akan keberadaan dirinya.


Wanita itupun menoleh pada Deefa yang menampilkan wajah begitu ramah dan sangat menenangkan dimatanya.


****


"Lo tadi ngomong sama siapa?" tanya Gumay pada Gerry yang sedang mengikat tali sepatu setelah mereka selesai shalat ashar.


"Ngomong sama siapa?" bukannya menjawab malah dengan bodohnya balik bertanya lalu seperti apa tanggapan Gumay saat pertanyaannya malah di balas dengan pertanyaan juga dan malah pertanyaan yang dia ajukan tadi seolah diulang kembali?


Gumay langsung menendang salaj satu sepatu dari Gerry yang belum di pakai, menendang kencang sampai benda itu meluncur cepat tanpa hambatan ke arah bawah pohon besar di sekitar mushola.


"Kurang ajar!" hardik Gerry sambil berloncatan guna mengambil si sepatu karena hanya sebelah kakinya saja yang memakai alas.


Temannya itu sungguh kurang ajar dan brengsek seenaknya saja menendang sepatu orang membuatnya bagaikan kodok yang berloncatan tak jelas.


Gerry memasang sepatunya lalu kembali mendekat pada sang teman yang kelakuannya ngeselin, baru saja habis shalat malah sudah berbuat dosa dengan menzolimi temannya sendiri.


"Lo tadi itu ngobrol sama siapa woi!?" si Gumay ini orangnya itu memang pantang menyerah sudah di buat kesal tapi tetap saja meluapkan rasa penasarannya yang belum terjawab.

__ADS_1


Tadi itu saat mereka belum masuk kelas dia melihat Gerry sedang berbicara dengan seorang pria yang rasa-rasanya belum pernah dia lihat di kampus itu, merasa wajahnya sangat asing akhirnya Gumay hanya melihat dari kejauhan saja mencoba menguping tapi telinganya tidak cukup panjang untuk bisa mendengarkan apa yang Gerry dan pria asing itu tengah bicarakan, yang Gumay bisa tangkap dari raut wajah si pria adalah keseriusan yang terpancar jelas dari sorot matanya.


"Kepo banget Lo jadi orang," masih enggan untuk memberitahu apalagi ini menyangkut urusan pekerjaan sekaligus hobi yang menghasilkan uang, bukankah dia mendapat dua keuntungan? hobi tersalurkan pemasukkan pun bertambah tidak hanya dari bengkel saja, ah cukuplah untuk mentraktir lima orang wanita dalam satu malam.


Gumay mendengus kesal dengan jawaban yang tidak memuaskan jiwa ingin tahunya, bisa-bisa nanti malam dia tidak akan nyenyak tidur karena saking penasaran yang tak terpuaskan.


"Sialan memang," Gumay menggerutu sewot.


Sedang yang di gerutukan malah cengengesan tanpa dosa sampai Rio pun keluar dan duduk di samping Gumay lalu malah melontarkan tanya.


"Tadi yang sama si Gerry siapa ya May, Lo tahu nggak?"


"Sial lah!" si Gumay yang lagi dongkol malah diajukan pertanyaan yang belum dia dapatkan jawabannya.


"Lah kok lo malah nyolot?" heran dengan sikap sang teman.


"Gue udah tanya sama tuh cunguk tapi dia nggak jawab, eh Lo datang-datang malah nanya sama gue! tanya sama orangnya langsung sana," omel Gumay menggerakkan dagu untuk menunjuk Gerry yang sedang kembali berdiri di bawah pohon sibuk dengan handphonenya.


"Lo aja nanya nggak di kasih tahu apalagi gue," kata Rio sudah tahu kalau diapun tidak akan mendapatkan jawaban apabila nekat bertanya pada si tersangka yang sudah membuat jiwa-jiwa kepo mereka menggeliat tak terkendali.


"Sayang."


Suara panggilan wanita yang mendadak terdengar membuat Rio dan Gerry sontak menoleh makin terperangah kala mendengar Gumay membalas panggilan serupa.


"Sayang," suara dan ekspresi Gumay yang tadi kusut sudah kembali menjadi sangat ceria menyambut kedatangan wanita yang selama ini memang tengah dicurigai oleh Rio.


"Gue cabut duluan ya," kata Gumay pada Rio.


"Apa Lo lihat-lihat!" begitu galaknya Gumay saat Gerry tengah menatap.


Rio berjalan menghampiri Gerry, "kan bener tuh anak berdua jadian, berantem-berantem tahunya pacaran, manusia-manusia doyan kemakan omongan," celoteh Rio.


****


Deefa tengah menggendong bayi yang tadi menangis secara ajaib si bayi pun perlahan menghentikan tangisannya saat Deefa memperdengarkan shalawat dengan suara yang lirih.


Tubuh Deefa bergerak kiri dan kanan untuk menimang sang bayi mungil yang baru berumur tiga bulan, bayi kecil perempuan yang masih sangat suci tanpa dosa terlihat begitu cantik dengan rambut yang hitam lebat sudah sepenuhnya tidak menangis.


Tangisan yang tadi sangat heboh sudah tidak terdengar membuat orang-orang di dalam gerbong pun bisa beristirahat dan ibu dari si bayi pun bernapas lega karena akhirnya bayi yang rewel itu bisa ditenangkan juga.


Bukan hanya tangisnya yang berhenti tapi kedua matanya pun terlihat mulai mengecil tanda kantuk yang mulai menyerang, bayi itu begitu nyaman dalam gendongan Deefa, wanita asing yang tidak di kenalnya tapi bagaikan malaikat penolong untuk dia dan ibunya.



Sang ibu terlihat tersenyum senang kala Deefa menatapnya seolah memberitahu bahwa bayi bernama Alika itu sebentar lagi akan tertidur dengan pulas.



Mungkin bayi itu merasa tidak nyaman berada terlalu lama di dalam kereta sehingga membuatnya menangis dengan begitu kuat seakan itu adalah caranya untuk protes pada ibunya karena sudah tidak betah.



"Mbak sudah menikah?" tanya ibu si bayi ketika Deefa masih tetap bertahan menggendong bayinya.


"Sudah," jawab Deefa seraya tersenyum.

__ADS_1


"Alhamdulillah, sudah punya anak?" tanyanya lagi.



"Belum, saya minta doanya ya mbak biar segera punya Dede bayi juga," pinta Deefa dengan tulus.



"Aamiin ya Allah, semoga Mbak segera diberi momongan oleh Allah," kata wanita itu tak kalah tulus bahkan disertai dengan tangannya yang bergerak untuk mengelus perut Deefa.



"Memang sudah berapa lama menikahnya?" bertanya setelah menghentikan gerakan tangannya di perut Deefa.



"Hampir tujuh bulan." memberikan senyuman.



"Oh belum lama lah itu, emang masih di suruh pacaran dulu sama Allah, nggak usah terlalu dipikirkan toh kalau memang sudah waktunya Allah juga pasti akan memberikan apa yang Mbak harapkan, asal tetap berusaha harus tetap semangat nggak usah dijadikan beban nanti yang ada malah stres kan jadi nggak bagus buat kondisi tubuh," kata sang ibu yang Deefa tidak sangka malah bisa sangat dewasa padahal dari wajahnya dia lihat wanita itu lebih muda darinya, atau mungkin karena pengalaman.



"Insya Allah, saya tidak dan suami akan terus berdoa dan berusaha," tutur Deefa tersenyum tipis.


Lihatlah seorang wanita muda saja masih bisa berkata bijak untuk melapangkan hati Deefa yang sedang risau memikirkan kapan dia hamil, tapi kenapa ibu mertuanya yang mengerti bahkan sangat paham dengan agama malah bertindak layaknya jaksa yang menuntut terdakwa, Deefa menghela napas menghilangkan pikiran tentang ibu mertuanya, tidak mau kebahagiaannya hari ini karena bisa menggendong bayi kecil terganggu hanya karena memikirkan apa yang mertuanya katakan.


Hari ini Deefa merasa sangat senang karena dia bisa merasakan bagaimana menjadi seorang ibu yang harus menenangkan bayinya yang menangis, merasa senang karena bayi itu berhenti menangis bahkan bisa tertidur dengan sangat pulas di dalam gendongannya.



Deefa tersenyum menatap bayi kecil itu sebelum mengembalikan pada ibunya.



"Boleh saya menciumnya?" tanya Deefa.



Dia sadar bahwa dia hanya orang lain yang tidak boleh asal mencium bayi orang lain maka dari itu diapun meminta ijin pada sang ibu bayi yang memberikan ijin padanya.



Betapa senangnya Deefa hingga dia mengecup dua kali bayi kecil yang tertidur bahkan tidak terusik sama sekali dengan yang dia lakukan.



"Terimakasih Mbak," kata Deefa.



"Saya yang harusnya terimakasih sama mbak karena sudah bantu tenangin Alika malah sampai tidur," lontar si ibu.


__ADS_1


Deefa melemparkan senyum lalu kembali ke tempat duduknya, saat sudah duduk dia terus menikmati wangi bayi yang menempel di bajunya, wangi bayi yang makin membuatnya tidak sabar untuk segera memiliki anak.


****


__ADS_2