
"Raffan yang bermasalah."
Raffan dengan tetap meremas kepalanya mengeluarkan perkataannya, memberikan pengakuan yang sontak dan serempak membuat sang Ibu yang sejak tadi berbicara menghentikan dan tidak lagi mengeluarkan suara.
Wanita itu menatap tidak mengerti sekaligus tidak percaya akan apa yang baru saja dia dengar, kemudian diapun beralih menatap pada suaminya yang juga tengah menatap pada putra satu-satunya mereka.
"Raffan yang bermasalah Bu!" kata Raffan dengan penekanan tapi dari suaranya siapapun bisa mendengar ada getaran yang mengiringi suara itu.
Pria itu menatap wajah serta menunggu perubahan dari ekspresi yang ditunjukkan oleh wanita yang sejak tadi banyak sekali mengutarakan pendapat serta keinginannya guna menjawab dan membantah apa yang dikatakan oleh pria yang menjadi Ayahnya.
"Raffan yang bermasalah, lalu solusi apa yang akan Ibu berikan untuk Raffan sekarang? Ibu akan melakukan apa?" Raffan berkata menuntut apa yang sejak tadi bicarakan oleh Ibunya.
Di balik tameng memberi solusi untuk kebaikan katanya, dan sekarang Raffan benar-benar ingin mengetahui solusi terbaik apa yang sejak tadi Ibunya itu suarakan, solusi yang Raffan yakin akan membuat siapapun menjadi marah kala mendengarnya seandainya dia mengatakan kalau Deefa lah yang bermasalah.
Mendengar pengakuan sekaligus pertanyaan dari sang anak membuat tubuh wanita itu menjadi gemetar, tadi telinganya mendengar apa? anaknya yang bermasalah? benarkah?
"Raffan," ustad Imran mencoba menenangkan sang anak yang menatap wanita di depan mereka.
"Raffan mau dengar solusinya, Bu!" Raffan mencecar ibunya, mengabaikan perkataan sang Ayah yang sejak tadi mencoba untuk bersikap lebih tenang karena dialah yang sekarang memang harus menjadi penengah diantara istri dan anaknya.
"Tidak mungkin Raf, tidak mungkin kamu yang bermasalah usia kamu masih sangat muda jadi sudah jelas itu sangat tidak mungkin, ibu tidak akan percaya!" ucap Ibunya dengan kedua netra yang menatap dalam putra satu-satunya itu.
Dia sebagai seorang ibu sangat tidak percaya dengan yang baru saja dikatakan oleh sang anak, menurutnya Raffan masih sangat muda tidak mungkin kalau dialah yang bermasalah, di usianya yang sekarang pasti masih sangat subur untuk urusan reproduksi tidak mungkin dokter malah menyatakan Raffan memiliki masalah.
Raffan tersenyum sinis seraya menggelengkan kepalanya, "Raffan sudah ambil hasil pemeriksaannya dan.." jeda karena Raffan mengambil napas panjang lalu menghembuskan nya yang terdengar sangat berat, "Dokter menyatakan kalau Raffan tidak bisa memberikan Deefa anak."
Saat Raffan mengatakan hal ini wajah kedua orang tuanya sulit di artikan seolah semua rasa bercampur menjadi satu kecuali rasa senang karena sudah sangat jelas berita yang barusan dia katakan bukan berita senang membawa kebahagiaan melainkan berita sedih bermandikan duka yang akan membuat siapapun menahan derai air mata yang di tahan.
"Kamu bercanda kan Raffan? itu sangat tidak mungkin," sang ibu terus membantah tidak mau terima pada semua yang diucapkan oleh anaknya.
"Seandainya Deefa yang ada di posisi Raffan apa yang mau ibu lakukan? meminta Raffan menceraikan Deefa? ah atau meminta Raffan untuk menikah lagi? katakan Bu," desak Raffan ingin tahu.
Sang Ibu menggelengkan kepala sungguh dia masih sangat syok berharap ini hanya sebuah mimpi yang tidak nyata, berharap Raffan pun hanya bergurau saja karena tersinggung dengan permintaannya yang sikapnya layaknya seorang Ibu dan mertua yang jahat dan kejam pada menantu dan anaknya, turut campur pada masalah rumah tangga yang itu adalah hal tidak baik.
"Sekarang apa Bu? apa Raffan harus menceraikan Deefa? kan sekarang jelas kalau Raffan yang tidak bisa memberikan Ibu cucu dan membuat Deefa hamil, Raffan pikir mungkin ibunya Deefa pun akan meminta Deefa untuk bercerai dengan Raffan karena masalah ada pada Raffan," ujar Raffan.
__ADS_1
Pria itu yang sudah merasa sangat tertekan akhirnya memilih untuk berbohong, menyelamatkan istrinya dari segala kesedihan yang akan menerpa seandainya dia berkata jujur tentang hasil pemeriksaan, sungguh dia sudah teramat mencintai Adeefa Ranaya sehingga dia tidak akan terima jika melihat wanita itu mengalami kesedihan, dan diapun tidak akan suka jika harus dipaksa bercerai apalagi di paksa untuk menikah lagi dan menduakan istrinya.
Meski poligami tidak di larang tapi dia merasa tidak akan bisa berbuat adil karena jelas kadar cinta yang dia miliki untuk Deefa sudah sangat besar bahkan bila di bandingkan dengan rasa cinta terhadap dirinya.
Dia tidak akan mungkin sanggup dan tega menyakiti wanita tercintanya itu, tidak akan pernah mau melihatnya menangis dan kecewa saat dia malah bersenang-senang dengan istri mudanya apabila ibunya sampai mengetahui bahwa Deefa lah yang bermasalah lalu memintanya untuk menikah lagi.
"Bu!" Raffan memanggil dengan suara yang sedikit meninggi membuat sang ibu tersentak mendengarnya.
"Kita akan cari Dokter lain, ibu yakin hasil pemeriksaan itu salah! ibu tidak percaya dengan hasil dari Dokter yang kamu datangi, biar ibu yang akan mencarikan Dokter untuk memeriksa ulang kalian."
"Kalian?" dahi Raffan mengerut dengan kata kalian bukankah itu ditujuan tidak hanya untuk satu orang? akan ada dua atau bahkan mungkin lebih.
Sang Ibu mengangguk, "kamu dan juga Deefa harus periksa ulang," katanya.
"Sudahlah Bu!"
"Karena Ibu yakin bukan kamu yang bermasalah!"
Bahkan kedua orang itu terus berdebat mengabaikan seorang pria tua yang sejak tadi berusaha melerai tapi setiap dia akan berbicara malah terus di potong dan disela tanpa aturan oleh istri dan anaknya membuat pria itu menghela napas berulang kali seraya memijit kepalanya yang sakit.
"Jadi menurut Ibu apa? perkataan Ibu ini seolah menuduh Deefa lah yang bermasalah," cecar Raffan tak suka.
"Bukan seperti itu maksud ibu."
__ADS_1
"Lalu apa? jelas-jelas ibu memaksa Raffan dan Deefa untuk periksa ulang, ada yang bisa di jelaskan dengan kalimat yang ibu katakan?!" Raffan menjadi sangat sinis.
"Mungkin saja hasil pemeriksaan kalian tertukar dengan milik orang lain," wanita yang mengabaikan setiap peringatan suaminya itu mulai mengeluarkan pendapatnya lagi.
Raffan berdecih, "Raffan yang ambil sendiri dan Dokter juga sudah menjelaskan jadi tidak mungkin sampai tertukar," cetus pria yang wajahnya terlihat sangat merah.
Di saat ini sebenarnya dia sangat ingin marah, mengamuk dan memaki tapi dia sadar dengan siapa dia berhadapan, Ibunya! dia tidak mungkin menjadi anak durhaka dengan melakukan hal yang sangat keterlaluan membuat dia akhirnya hanya bisa menahan dan hanya bisa meluapkannya dengan cara mengepal kedua tangannya hingga punggung tangannya memutih.
Merasa sudah tidak mau lagi meladeni Ibunya Raffan pun memilih untuk pergi, itu lebih baik ketimbang harus meneruskan perdebatan yang tidak akan selesai karena Ibunya yang akan selalu ngotot pada segala kehendaknya.
"Raffan pulang Yah," mencium punggung tangan sang Ayah yang sudah kehabisan kata-kata untuk menasehati istrinya.
Ustad Imran pun mengangguk lalu mengelus punggung sang anak saat anaknya itu membungkuk, memintanya untuk bersabar pada cobaan yang tengah Allah berikan padanya.
Raffan pun melakukan hal yang sama pada Ibunya meski tidak berkata apa-apa.
"Assalamualaikum," ucap Raffan seraya melangkah keluar rumah setelah mengambil tasnya.
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
*****