Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Wajah Penuh Dosa


__ADS_3

Raffan berjalan cepat menuju kampus ketika dia merasa dia itu sudah terlambat untuk mengikuti pelajaran dari dosen yang terkenal tegas juga menyeramkan jika sudah menyangkut soal kedisiplinan, tentu dosen itu tidak akan mentolerir mahasiswanya yang terlambat mengikuti mata kuliah darinya.


Namun begitu sampai di kelasnya dia mengelus dada lega sebab sang dosen ternyata belum datang hingga dia tidak perlu memberi alasan kenapa datang sampai datang terlambat.


"Dosen singa belum datang?" tanya Raffan, begitulah para mahasiswa itu menjuluki dosen bernama Budiawan, pria separuh baya yang masih terlihat sangat gagah meski rambutnya sudah botak setengah.


"Belum," sahut Gerry.


"Tumben banget." Raffan berkata sambil menjatuhkan bokongnya di kursi yang memang biasa dia tempati.


"Assalamualaikum, Raffan."


Raffan dan teman-temannya bahkan hampir semua mahasiswa yang ada di dalam kelas pun melihat pada sumber suara yang baru saja mengucapkan salam.


"Waah, mukanya kayak gue kenal ini." kata seorang mahasiswa yang duduk di bangku deretan belakang ketika melihat wanita dengan pakaian sopan tertutup dan mengenakan kerudung menutupi rambutnya.


Wanita itu menoleh lalu memamerkan senyuman senang, dia diperhatikan oleh hampir semua penghuni kelas itu.


"Heh Raisya!" seru yang lainnya tanpa peduli suaranya menggema di dalam kelas itu ditambah lagi dengan suara-suara yang berisik saling berbicara tentang mereka yang tidak menyangka bahwa wanita yang sekarang memakai blouse lengan panjang di padu dengan celana kulot itu adalah Raisya, Raisya si anak jurusan hukum yang terbiasa tampil seksi dengan pakaian kurang bahan serta wajah yang dipoles dengan makeup tebal nan mentereng kini tampil dengan busana luar biasa berbeda dari sebelumnya, sungguh membuat bola mata semua mahasiswa itu hampir saja melompat keluar dari tempatnya.


"Kok salam aku nggak dijawab sih," katanya saat dia belum mendengar Raffan menjawab salam yang dia ucapkan sambil menggerakkan kedua kakinya melangkah pada pria yang padahal hanya berjarak kurang dari empat meter dari tempatnya berada.


Raffan melirik sinis tahu bahwa Raisya sekarang berbicara dengannya, tapi biar bagaimanapun yang namanya salam haruslah di jawab sekalipun dia sangat muak melihat wajah penuh dosa namun bertopeng bak peri baik hati.


"Wa.."


"Wa'alaikumsalam." Raffan bahkan baru membuka mulutnya namun teman-temannya dengan amat kompak menjawab salam dari Raisya.


Raffan berpikir kenapa tidak dari tadi saja mereka itu menjawab salam, toh yang namanya salam siapapun boleh menjawabnya sekalipun salam itu ditujukan khusus untuknya.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," Raffan meneruskan ucapan salamnya namun hanya dalam hati.


"Tobat Lo? apa cuma lagi akting aja? mana kameranya?" si Gumay langsung saja nyerocos dengan kepalanya yang menengok kesana-kemari mencari kamera yang barangkali saja Raisya memang sedang kurang kerjaan merekam apa yang dia lakukan.


"Bisa diam nggak?" Raisya berkata tenang namun gurat wajahnya menunjukkan kegeraman karena ocehan dari mulut Gumay yang memang bagaikan burung beo baru belajar bicara menjadikannya bersisik.


Gumay menggeleng dengan raut wajah mengejek, "nggak bisa, siapa elo nyuruh-nyuruh gue diem! lagian ini juga kan bukan kelas elo harusnya Lo dong yang tahu diri untuk tidak masuk ke kelas yang bukan tempat Lo." Gumay berkata pedas mengingatkan wanita yang meskipun tampilannya sudah berubah namun sikapnya tetap saja sama, menyebalkan dan membuat orang muak.


"Ini tempat umum, Lo nggak berhak ngusir-ngusir gue."


"Lah apa kabar dengan mulut gue? mulut gue ini bukan milik umum tapi Lo enak banget nyuruh gue buat diem," balas Gumay tak terima.


Dia ini memang satu-satunya teman Raffan yang selalu semangat apabila meladeni atau beradu mulut dengan orang yang tidak dia suka, semakin bertambah semangat apabila ada perlawanan dan tidak ada yang melerai, tak ambil pusing walau yang menjadi lawannya adalah perempuan, menurutnya kalau memang menyebalkan ya basmi saja tidak usah pandang bulu.


Raisya mendengus, sebenarnya dia sudah tidak sabar tapi demi mendapat kesan baik di depan Raffan dia akan mencoba untuk menahan amarah dan menahan rasa gatal di mulutnya karena ingin menjawab setiap perkataan mengesalkan dari Gumay.


"Sabar Sya sabar, sekarang harus menampilkan kesan baik di depan Raffan, kan kemarin sudah berhasil mengambil hati ibunya jadi agar perjalanan semakin mudah harus ambil hati anaknya juga." membatin sambil matanya melirik sinis pada Gumay.


"Raffa.."


Baru saja Raisya berniat untuk mengganggu Raffan namun dosen di kelas itu malah sudah datang.


"Keluar sana Lo." Gumay mengusir tanpa seraya mengibas-ngibaskan tangannya.


Raisya menyentakkan kakinya terlebih lagi ketika si dosen pengganggu itu juga turut meminta dirinya untuk keluar karena mengenali kalau dia bukan salah satu dari mahasiswa yang harus mengikuti mata kuliahnya.


Wanita itu keluar kelas namun bukannya menuju kelasnya tapi dia malah mengarah pada kantin tak peduli kalau mata kuliah sedang berlangsung.


Sambil berjalan dia membuka jarum pentul yang tersemat di kerudungnya setelah terbuka dia pun menurunkan kerudung itu sampai ke pundak hingga rambutnya yang diikat terlihat oleh siapapun.

__ADS_1


"Gue gerah, panas!" keluhnya karena memang sejak tadi dia menahan rasa panas karena belum terbiasa memakai pakaian seperti itu.


"Lah Lo abis ngelayat?" tanya salah mahasiswi yang berpapasan dengannya dengan mata yang melihat penampilan Raisya.


"Sialan Lo!" maki Raisya yang sedang kesal malah di pancing-pancing.


"Ya abisnya pakai kerudung niat nggak niat, udah kayak orang yang abis ke kuburan tahu nggak Lo, biasanya kan orang kalau ngelayat tapi aslinya dia nggak pakai kerudung ya kerudung cuma akan nangkring di pundaknya doang," papar mahasiswi yang memang kenal dengan Raisya meski tidak terlalu akrab.


"Iya gue abis ngelayat elo!" celetuk Raisya lalu melenggang pergi meninggalkan si wanita yang mengomel tak jelas akibat perkataan darinya.


Raisya masuk ke dalam kantin yang agak sepi karena memang sebagian besar mahasiswa sedang sibuk dengan pelajaran mereka.


"Mau es teler bang!" teriaknya pada penjaga kantin yang seorang pria.


"Siap!" sahut pria di balik meja yang dengan sigap segera meracik pesanan dari sang pembeli.


"Tumben banget baju lo utuh."


Baru juga duduk tapi sudah ada lagi suara yang membuat darahnya naik ke kepala.


"Memangnya selama ini Lo pikir baju gue nggak utuh?!" semprot Raisya tak terima.


Raffan yang cuek padanya bahkan bertambah sinis membuat aliran darahnya begitu cepat naik ke atas kepala hari ini dia seperti orang yang menderita darah tinggi.


"Lo pergi dari depan gue atau gue siram!?" ancam Raisya ketika es teler yang dia pesan baru saja diantar oleh penjaga kantin.


Si wanita itu mencibir, "gila Lo!" makinya seraya beranjak pergi, dia tidak mau dikerubungi oleh semut nantinya karena di siram es teler apalagi dia masih ada dua mata kuliah yang harus dia ikuti.


"Sialan! kenapa semua orang di kampus ini sangat sialan!" bersungut namun tangannya justru mengaduk-aduk es teler hingga semuanya bercampur menjadi satu baru kemudian dia nikmati untuk membantu mendinginkan kepalanya yang sejak tadi teramat panas layaknya letupan lahar gunung berapi.

__ADS_1


****


__ADS_2