
"Jadi kamu?" Agam sejenak menahan perkataannya, "ternyata dunia memang terkadang sangat sempit ya," tutur Agam.
Saat ini dia dan Deefa tengah berbincang bersama di teras TPA setelah selesai mengajarkan anak-anak yang sekarang sedang berlarian saling berebut untuk bisa segera pulang.
"Maksudnya?" tanya Deefa dengan kening yang berkerut.
"Kemarin baru saja kita bertemu dan ternyata kamu lah guru baru yang kemarin pagi Ayah ku bicarakan," jawab Agam dengan senyum yang tampak menyejukkan.
Ah seandainya senyum itu adalah jurang yang dalam tentu dalam sekejap siapapun yang akan memandangnya akan langsung terperosok tanpa bisa selamat.
"Kamu benar sepupunya Raffan?" tanya Agam melihat pada wanita yang mencoba untuk menyadarkan dirinya.
Ia wanita bersuami yang jelas akan berdosa jika mengagumi sosok lain terlebih lagi itu adalah seorang pria.
Deefa mengalihkan pandangannya ke arah seorang wanita yang baru saja melewati pintu dari TPA.
Sinta pun menghampiri keduanya seolah menjadi penyelamat Deefa atas pertanyaan yang rasanya sulit untuk ia jawab.
Ia harus jawab apa? mengiyakan? itu artinya ia sudah berbohong, lalu menjawab bukan? dan itu sama saja ia melanggar peraturan yang Raffan buat dengan semena-mena tanpa memikirkan sebab dan akibat yang akan terjadi.
"Kalian mudah akrab ya, hehehe," seloroh Sinta menggoda membuat Agam malah salah tingkah.
"Hanya sedang mengingat bahwa ternyata kami pernah bertemu," sahut Agam dengan suara yang normal.
"Bertemu?" dahi Sinta mengerut bingung.
"Sudah waktunya adzan Maghrib," potong Agam seraya melihat pada jam tangannya.
"Ah, ternyata benar, waktu akan cepat berlalu tanpa terasa jika kita mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat," tutur Deefa merasa senang sebab akhirnya ia bisa kembali mengajar ngaji sesuai dengan kemampuannya.
"Deefa," panggil Agam pada wanita yang tadi sedang melihat pada Sinta hingga menoleh padanya.
"Ya," sahut Deefa dengan suara lembut yang entah kenapa membuat seluruh bulu kuduk Agam seakan merinding, ada desiran tak kasat mata yang pria itu rasakan.
"Kita sholat berjamaah dulu setelah itu aku akan antar kamu pulang," kata Agam membuat Deefa terkesiap.
"Tidak us.."
"Aku sudah membuatmu pulang terlambat karena mengajak kamu mengobrol, seharusnya kamu sudah sampai rumah saat ini, jadi sebagai seorang lelaki bukankah aku harus bertanggung jawab?!" Agam dengan cepat memotong perkataan Deefa.
Memang seharusnya Deefa sudah pulang dari 30 menit yang lalu karena mengajar anak-anak mengaji tidak membutuhkan waktu yang lama terlebih lagi ia mengajar bersama Sinta, yang membuatnya lama adalah karena tadi Deefa terlihat sangat bahagia melihat anak-anak kecil yang akan pulang dengan begitu cerianya, lalu saat Deefa akan pulang malah Agam muncul dan tanpa sengaja mengajaknya berbicara.
Deefa tidak bisa menjawab perkataan Agam sebab pria itu sudah keburu melenggang pergi menuju mushola dengan langkah yang cepat.
Dan pria itu tadi mengatakan sholat berjamaah meski Deefa tahu benar apa yang di maksud oleh Agam, tapi rasanya terdengar sedikit lain karena pria muda yang bukan mahramnya mengatakan hal itu.
Deefa hanya bisa memandang punggungnya dengan perasaan tak enak.
"Wow sepertinya sebelum ini kalian memang sudah saling mengenal, lihat saja anak dari ustad sabar yang biasanya pendiam kini tampak blak-blakan mendekati kamu Kak Deefa," celetuk Sinta dengan binaran mata yang juga mengerjap.
"Jangan menolak karena aku tahu benar Agam tidak akan terima penolakan," sambung Sinta.
Deefa menyesap udara yang masuk ke dalam paru-parunya, oksigennya terasa kurang banyak mendengar penuturan wanita di sampingnya ini.
"Tidak baik pergi berduaan saja dengan lawan jenis." tukas Deefa.
"Tidak akan berdua karena Agam pasti akan mengajak keponakannya," jawab Sinta dengan senyuman.
Kerutan di kening Deefa sudah membuat Sinta kembali membuka mulut untuk bersuara.
"Kinara, dia itu keponakannya Agam anak dari Kak Dinar Kakak satu-satunya Agam."
"Kinara?" tanya Deefa tak percaya, tadi Deefa pun sempat berkenalan dengan gadis kecil berusia 5tahunan yang juga dia ajari mengaji siapa yang menyangka kalau gadis kecil lucu yang sempat mencuri perhatiannya adalah keponakan dari Agam, teman dari suami berandal nya.
Sinta mengangguk mantap, "memangnya ada tadi ada Kinara lain di TPA ini?" Sinta malah bertanya dengan mata yang mengerjap lucu.
"Aku kan baru mengajar hari ini jadi aku mana tahu ada berapa orang Kinara disini," sahut Deefa dengan suara yang seperti biasanya, rendah lembut serta tak pernah terkesan menajam ataupun terdengar mengintimidasi karena itu bukanlah sifatnya.
Bola mata Sinta memutar sekian derajat seraya menjawab, "hanya satu Kak Deefa, satu." ulang Sinta.
Deefa tak menjawab lagi karena kini mereka memilih untuk segera menuju mushola.
*****
Di rumah Raffan sedang sangat gelisah menunggu istrinya yang belum juga pulang padahal ini sudah menjelang magrib.
Tadi saat Raffan sedang akan menuju bengkelnya selepas kuliah malah mendapat telepon dari ibunya yang meminta untuk datang ke rumah karena ingin mengajak makan malam bersama, sebenarnya Raffan sudah berusaha menolak dengan bermacam alasan tapi nyatanya dia harus kalah dengan ibunya lebih lagi jika sudah sang Ayah lah yang meminta dengan diiringi ceramah dengan dalih nasihat panjang lebar tentang statusnya yang sudah berumah tangga.
Dengan berat hati Raffan pun memilih untuk pulang ke rumah membatalkan rencananya padahal dia sudah janjian dengan gadis gebetannya yang bernama Fara.
Tapi sesampainya di rumah dia malah mendapati rumah masih dalam keadaan gelap pertanda tidak ada yang menyalakan lampunya sedangkan matahari sudah mulai terbenam dan di gantikan dengan langit yang gelap.
Sekali lagi handphone milik Raffan berdering, ada panggilan masuk yang lagi-lagi dari ibunya.
__ADS_1
"Sudah jalan belum Raffan?" tanya sang ibu.
"Boro-boro jalan Bu! Deefa nya aja belum pulang," sahut Raffan dengan sengit seraya menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.
"Belum pulang?" tutur Hayati membuat ustad Imran yang berada di sampingnya mengerutkan kening lalu mengambil alih handphone dari tangan sang istri.
"Deefa belum pulang?" tanyanya pada sang anak.
"Belum Ayah, tadi kan Raffan udah bilang sama ibu, Deefa belum pulang!" ketus Raffan gemas sendiri karena moodnya benar-benar rusak dalam sekejap.
"Kok bisa? harusnya sudah pulang dari setengah jam yang lalu," ujar pria yang memakai kain sarung serta Koko warna biru tua.
"Ya Raffan mana tahu, kan harusnya Ayah lah yang tahu kan Ayah yang minta Deefa buat ngajar lagi," celetuk Raffan dengan nada ketus.
Raffan yang mulai gemas sekaligus kesal pun mengacak rambutnya saat sang Ayah malah memilih untuk mengucapkan salam mengakhiri pembicaraan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," sahut Raffan disertai dengan dengusan.
Di tempat lain ustad Imran pun gegas menghubungi temannya, ustad sabar untuk menanyai Deefa.
"Aku lihat tadi sholat magrib di mushola," sahut ustad sabar.
"Oh ya sudah kalau begitu," kata ustad Imran lega.
"Kamu terlihat sangat khawatir dengan anak asuhnya kiyai Burhan."
Yang ustad Sabar tahu Deefa adalah anak asuh dari kiyai pemilik pesantren di Jawa timur itu tanpa tahu ada sebuah cerita yang masih belum di katakan oleh ustad Imran tentang siapa Deefa sebenarnya.
"Yah kiyai Burhan menitipkan Deefa padaku Bar, sudah sepantasnya aku khawatir padanya lagipula disini pun dia tidak punya siapa-siapa."
"Hmm, begitu yaa," ustad Sabar mengelus dagu mendengar penuturan temannya.
"Ya sudah kalau begitu aku tutup dulu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Sholat dulu di mushola," sahut sang suami.
"Loh bukannya waktu mengajar hanya dari jam setengah 4 sampai jam 5, seharusnya waktunya cukup untuk sampai di rumah sebelum magrib untuk pulang?" tutur Hayati.
"Ini kan hari pertama, mungkin Deefa berkenalan dulu dengan teman-temannya mengajar," jawab ustad Imran seraya beranjak dari duduknya menuju kamar.
Hayati mengangguk-anggukkan kepala menyetujui pernyataan suaminya.
\*\*\*\*\*
Raffan yang kesal baru akan beranjak menuju tangga ketika mendengar suara pintu di buka.
"Wah hebat, baru pulang jam segini, Lo ngajar apa ngayap?"
"Assalamu'alaikum," ucap Deefa mengabaikan sindiran dari sang suami yang menatapnya dengan tajam.
"Wa'alaikumsalam!" meskipun nadanya terdengar ketus namun Raffan tetap menjawab.
__ADS_1
"Tadi Deefa perkenalan dulu sama guru-guru yang ngajar di sana, terus sholat magrib di sana juga, maaf Deefa pulang terlambat," menjelaskan seraya meminta maaf.
Wanita itu sadar betul kodratnya sebagai seorang istri, salah karena tidak ada di rumah saat suaminya pulang.
Jam segini Raffan sudah di rumah? Deefa mengerutkan alisnya menunjukkan keanehan sebab beberapa hari menikah Raffan selalu pulang malam, tapi hari ini pria itu sudah ada di rumah.
"Mas Raffan tumben sudah pulang?"
"Kenapa memangnya kalau gue pulang jam segini? masalah?" sengit Raffan tak terima dengan pertanyaan Deefa, pertanyaan dari istrinya itu seolah dia tidak pernah bisa pulang cepat.
"Aneh banget! suami pulang bukannya di siapin makan malah disindir begitu!" dengus Raffan kesal dengan gayanya yang berdiri bersedekap.
"Astaghfirullah Mas maaf, Deefa masak sekarang ya."
"Nggak perlu!" tolak Raffan.
"Tadi kan Mas.."
"Ayah sama Ibu minta kita ke sana, kita ke sana sekarang nih gara-gara elo kita gue jadi kelaperan begini!"
Hari ini Raffan benar-benar terlihat sangat emosian, mungkin karena rencananya untuk pergi dengan wanita idamannya harus gagal sehingga memancing hormon-hormon emosi jiwa.
"Sekarang?" tanya Deefa saat Raffan memakai jaket yang sedari tadi teronggok di sofa serta meraih kunci motornya.
"Tahun depan depan depan depan!" sahut Raffan melenggang menuju pintu.
Deefa melihat suaminya yang berlalu begitu saja sampai menghilang di ambang pintu.
Tiiiiiiiiiiin!
Suara klakson yang menggaung membuat Deefa gegas berlari keluar, padahal ia baru saja sampai dan kini sudah harus pergi lagi.
Deefa mengunci pintu rumah lebih dulu lalu menghampiri suaminya yang tampak sudah sangat tidak sabar.
Wanita itu harus menghela napas berat karena dua kalinya bingung bagaimana caranya untuk bisa naik ke atas motor besar dan jok nya tinggi itu dengan pakaian yang ia gunakan.
Brem brem brem!!
Raffan malah memainkan gas motornya meminta Deefa untuk segera naik, membuat wanita itu segera memegangi gamisnya yang untung ia memakai celana panjang lagi sebagai lapisan dalam.
Raffan langsung tancap gas padahal Deefa belum siap membuat istrinya itu hampir saja terjengkang jatuh untungnya tangannya refleks berpegangan pada sang suami.
"Sorry, Lo lama sih," kata Raffan memelankan laju motornya saat merasakan ketegangan dari pegangan sang istri di pinggangnya.
Deefa tak menyahut karena kini ia sibuk menormalkan debaran jantungnya, sudah beberapa hari menikah dan inilah saat ia begitu dekat dengan suaminya, bahkan tubuh mereka menempel dengan rekat hanya dengan baju yang membatasi, Raffan melirik dari kaca spion mendapati wajah wanita yang bersemu merah yang Raffan tak tahu karena apa.
"Astaga Deefa, Lo nggak pakai helm?!" suara Raffan begitu nyaring dengan motor yang dia hentikan secara mendadak membuat punggungnya bertemu dengan tubuh Deefa akibat tekanan tanpa aba-aba.
Dengan polosnya Deefa menggeleng.
Dengan mulut menggerutu tak jelas Raffan pun memutar balik motornya untuk mengambil helm.
__ADS_1
\*\*\*\*\*