Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Jauh Berbeda


__ADS_3

"Mas.."


"Jangan bicara denganku kalau pikiranmu masih belum sejalan dengan pikiranku!"


Deefa mematung, niatnya dia ingin mencairkan keadaan tegang yang sudah terjadi sejak beberapa hari, sejak kepergian Ayah mertuanya dan sejak hari dimana dia menyatakan akan membantu ibu mertuanya untuk persiapan pernikahan suaminya, namun sampai saat ini apa yang dia katakan belum dia lakukan sebab tepat hari itu juga dia bertengkar dengan suaminya dan sampai dua hari berlalu pertengkaran masih ada meski hanya pertengkaran kecil tapi tetap saja yang namanya pertengkaran akan jadi pertengkaran yang membuat keadaan rumah jadi tidak nyaman.


Lalu sekarang di hari keempat suaminya enggan mengajaknya bicara, tidak menyapa bahkan meski tidur masih dalam kamar yang sama tetapi suaminya tidur membelakangi, tidak melihat padanya membuat Deefa menangis dalam diam sambil menatap punggung sang suami.


Dan sekarang saat dia ingin memulai pembicaraan suaminya sudah langsung menyentak, menyalak marah tanpa membalikkan tubuhnya untuk sekedar melihat dirinya yang ada di belakang.


Mereka ini seperti kembali menjadi orang asing, benar-benar asing tak saling mengenal, rumah tangga seperti ini sungguh bukanlah keinginan mereka apalagi Deefa, setiap manusia ingin rumah tangga yang bahagia dan baik-baik saja, kalaupun ada masalah setidaknya bisa diselesaikan bersama dengan cara yang damai.


Baru juga memanggil dan belum mengatakan apa yang ingin dia katakan namun dia sudah mendengar suara bernada tinggi dari pria yang bahkan enggan memakan makanan yang dia masak.


"Mau sampai kapan seperti ini?" suara Deefa terdengar lirih.


Dia tidak ingin terus bertengkar dan menjadikan rumah selalu panas setiap saatnya.


Terdengarlah hembusan napas kasar dari pria yang belum tidur namun sengaja memejamkan kedua matanya, tak tega sebenarnya akan tetapi dia tidak ingin mengalah dengan kemauan istri dan ibunya.


Dia ini manusia punya perasaan, bukan robot yang bisa diatur seenaknya sesuai yang mereka mau.


Sudah cukup dulu dia menuruti kemauan ibunya untuk menikah hingga akhirnya memiliki rasa sayang dan lambat-laun bertambah menjadi cinta, lalu sekarang hanya karena keturunan dia harus mengikuti kemauan ibunya lagi? ah tidak ibunya dan juga istrinya!


Istrinya pun turut mendorongnya untuk menikah lagi, melakukan poligami yang tidak akan pernah bisa dia jalani, dia pria dan dia sendiri tidak yakin apalagi menyanggupi untuk melakukan itu.


"Sampai kamu berhenti memintaku menikah lagi!"


Raffan membalik tubuhnya dan menatap wanita yang tengah menatapnya, "bukankah aku sudah katakan berulang kali?" pria yang tengah dilanda gelisah dan marah itu menambahkan, "terkadang terlalu pintar ternyata juga tidak baik."


Terlihat jelas kalau saat ini Raffan tengah menyindir istrinya, menyindir sikap wanita yang menatapnya dengan sendu.


Istrinya itu memang pintar dalam segi agama saking pintarnya hingga membuatnya menjadi egois dengan dalih ingin membahagiakan mertua.


Tatapan Raffan menajam dan kembali bicara, "berhenti memintaku menikah dengan wanita gila itu, berhenti memikirkan orang lain! kalau tidak mau apa yang aku sudah aku tegaskan benar-benar aku lakukan."


Deefa ingat benar maksud yang suaminya katakan barusan, pria itu akan menalaknya andai terus memaksanya menikah jujur diantara dua pilihan poligami dan bercerai, dia lebih takut pada poligami.


Wanita mana yang akan rela berbagi suami, wanita mana yang sanggup membayangkan suaminya tidur dengan wanita lain selain dirinya, sekalipun itu adalah istrinya juga.

__ADS_1


Sungguh tidak akan sanggup, tapi andai bercerai pun dia tentu akan menangis meratap dan merasa kehilangan karena tidak akan lagi bersama dengan pria yang sudah membuatnya mengenal arti cinta.


Mengenal jatuh cinta yang selama ini belum pernah dia rasakan.


"Deefa tidak mau Mas Raffan menikah lagi tapi.." semua kata-kata yang ingin diucapkan oleh Deefa seakan tertahan di tenggorokan, tercekat dan membuatnya jadi terbata-bata bahkan terhenti dan hanya terdengar helaan napas saja.


"Tapi berkorban demi kebahagiaan Ibu?" dengan pedasnya meneruskan perkataan Deefa sesuka hatinya.


Pria itupun bergerak menggeser badannya hingga kini dia sudah saling berhadapan dengan wanita yang masih mengenakan kerudung, sudah berada di atas tempat tidur namun kerudung masih menempel di kepalanya, entah apa yang wanita itu pikirkan.


"Terlalu naif!" desis Raffan tajam dengan ekspresi marah yang lebih dari biasanya.


Raffan bergerak lagi kala Deefa tidak bersuara dan hanya menatapnya saja, menatap dengan kedua matanya yang sendu menyiratkan kesedihan.


Sekarang pria yang sedang dalam emosi itu sudah berada di atas tubuh wanitanya, menindih serta mencengkeram kedua tangan wanita yang kedua matanya sudah berkabut, sudah jelas ingin menangis akan tetapi masih berusaha untuk dia tahan.


"Kata apa yang pantas untuk menggambarkan sifat mu?" bertanya dengan nada sinis yang sadis.


"Terlalu baik? naif? egois? atau justru.." Raffan menurunkan kepalanya lalu berbisik, "munafik?"


Deefa tercengang dengan jantung yang berdebaran, tidak percaya mendengar perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut suaminya, pria yang biasanya akan bersikap lembut padanya tapi sekarang terus saja melontarkan kalimat-kalimat pedas juga menyakitkan di tambah dengan perlakuannya saat ini.


Dulu sekalipun belum memiliki perasaan terhadapnya Raffan memang galak dan kerap kali berbicara asal, tapi rasanya tidak sampai seperti ini, tidak sampai menyakiti perasaannya.


Tapi sekarang bagaimana bisa pria itu dengan mudahnya menindih mencengkeram tangannya lalu mengeluarkan pernyataan yang sungguh mengiris hatinya, menyakiti tidak hanya fisik tapi juga batin.


Mata tajam Raffan kini beralih pada kain yang menutupi rambut Istrinya, kain berwarna pastel yang belum di lepas oleh sang istri padahal mereka hanya berdua saja di rumah itu dan sekarang pun berada di kamar.


"Di dalam kamar pun tetap memakai kerudung, kita hanya berdua saja tidak ada siapapun!"


Sret!


Dengan kasar menarik kerudung yang di pakai oleh Deefa lalu melemparkannya entah kemana.


Mata Deefa membelalak bukan karena perkataan Raffan tapi karena cara Raffan yang terasa begitu kasar, apa tidak bisa membukanya dengan perlahan?


"Sepertinya kamu sudah mulai belajar menganggap aku orang lain," desis Raffan seraya menggelengkan kepala seolah tidak percaya dengan yang dilakukan oleh istrinya.


Padahal Deefa tidak sekalipun berniat seperti itu, dia tadi baru selesai mengaji lalu melihat suaminya berada di tempat tidur namun tidak sedang tidur lantas menarik dirinya untuk merebahkan tubuh sambil ingin memulai pembicaraan, ingin berbaikan akan tetapi suaminya malah berpikiran lain, suaminya menjadi negatif.

__ADS_1


Deefa menggeleng kepala lemah menolak tudingan suaminya, bahkan suaminya juga melihat sendiri tadi dia sedang mengaji.


Mata Deefa makin berkabut menatap wajah suaminya yang sudah tidak lagi lembut dan ceria seperti biasa, dan juga dia menangkap ada anting yang di pakai oleh sang suami di telinga sebelah kanan, entah sejak kapan karena Deefa tidak menyadarinya.


Sudut bibir Deefa berkedut, dia ingin menangis namun masih berusaha untuk dia tahan mencoba tenang lalu bertanya, "Mas kenapa pakai anting?" masih tetap dengan posisi yang sama, tangan dicengkeram dan tubuh yang di tindih oleh suaminya.


Raffan tersenyum sinis, "sekarang aku sedang ingin, jadi lakukan tugasmu sebagai istri!" ucapan yang bahkan tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh istrinya.



Beban pikiran dan kekalutan yang menjadi satu membuat Raffan menjadi pria yang sangat berbeda, benar-benar jauh berbeda seolah Deefa tengah berhadapan dengan orang lain bahkan saat ini setelah mengatakan apa yang dia inginkan, suaminya itu langsung menyerangnya dengan cepat.



Ayahnya yang dia anggap bisa menjadi pegangan untuknya sudah tiada dan dia berada diantara dua wanita yang seolah terus menekannya, dua wanita yang membuatnya sesak dengan segala permintaan yang tidak akan sanggup dia lakukan.



"Jangan katakan kalau aku sudah tidak punya hak atas tubuh mu?!" Raffan menatap tajam namun dalam, ada rasa sayang dan cinta namun tertutup oleh kemarahan, saat dia merasakan Deefa berusaha untuk mendorong tubuhnya menjauh.



Deefa menggeleng lagi, bukan maksudnya seperti itu tapi dia tidak ingin suaminya menidurinya dengan cara yang kasar begini.



Mendapat gelengan dari wanita yang bola matanya sudah bergetar itu, Raffan pun menghela napas berat.



Dia tentu tidak tega, tapi dia juga tidak bisa menahan amarah yang ada di dalam hatinya, marah dengan segala tindakan istrinya.



Mengabaikan rasa sayang dan cintanya Raffan pun kembali melanjutkan apa yang dia mau, menyerang semua bagian wajah dari istrinya tanpa peduli Deefa yang memintanya untuk melakukan dengan lembut seperti yang sering mereka lakukan.


Bukan kasar bahkan sampai Raffan lupa untuk membaca doa lebih dulu.


Mata Deefa terpejam kala suaminya mulai membuang satu persatu pakaian yang menempel di tubuhnya, tidak lagi melawan karena terasa percuma dan hanya akan membuat suaminya tersinggung dan makin marah.

__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2