
"Ngapain kiyai Burhan minta kita buat ke pesantren?"
Akhirnya keheningan yang sejak tadi menyelimuti pun terpecah dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Raffan.
Deefa hanya menggelengkan kepalanya, dia memang tidak tahu kenapa mendadak kiyai Burhan meminta mereka ke pesantren dan tadi Ayah mertuanya pun menyuruhnya membawa semua pakaian miliknya.
"Nggak mungkin Lo nggak tahu," tuduh Raffan dengan kepalan tangannya yang semakin mengencang di kemudi mobil.
"Deefa benar-benar tidak tahu Mas, kemarin memang Umi sempat menghubungi Deefa tapi tidak mengatakan apapun, hanya bertanya.."
Deefa tidak melanjutkan kata-katanya, dalam hati dia menyalahkan dirinya karena berbicara terlalu banyak, seharusnya biarkan saja suaminya itu dengan ke bawelan dan kegalakan nya tidak usah dihiraukan.
"Bertanya apa?"
Benarkan Raffan akan bertanya guna memenuhi rasa keingintahuannya atas perkataan yang tidak dilanjutkan tadi.
"Tidak ada," kelit Deefa seraya mengalihkan pandangannya kembali ke samping.
Raffan tentu tidak akan menyerah begitu saja, segala sesuatu yang membuatnya penasaran haruslah segera mendapatkan jawaban.
Pria itu tidak melihat mobil sang Ayah yang terhalang satu mobil di depannya, hingga membuat Raffan membanting setir kala di sebelah kirinya ada belokan.
"Loh, mobil Ayah lurus kenapa Mas malah belok?!" tegur Deefa dengan wajah yang panik.
"Kenapa memangnya? kayaknya Lo takut banget berduaan sama suami sendiri," cibir Raffan mendapati wajah sang istri yang panik.
Terlihat jelas bahwa wanita di sampingnya ini panik, entah kenapa panik padahal meski galak dan mulutnya tak bisa di atur saat bicara tapi tetap saja dia tidak akan pernah berbuat kasar.
"Bukan begitu Mas, ini kan jalannya beda," tutur Deefa berbicara pelan agar tidak menyinggung sang suami.
Meski kenyataannya dia memang takut, namun bukan takut Raffan melakukan kekerasan tapi lebih takut jika pria itu kembali melontarkan pernyataan yang hanya akan menyakiti hatinya, bukankah itu adalah keahlian suaminya?
"Gue lebih tahu jalan mana yang akan gue lewati, jadi Lo nggak usah banyak protes Deefa!" kata Raffan geram.
Memangnya kenapa kalau dia tidak pergi ke pesantren? apa ada yang marah, toh mereka suami istri yang akan bebas pergi kemanapun meski hanya berdua saja.
Deefa terdiam, sudah dia tidak akan bisa melawan pria galak di sampingnya ini.
Satu kata yang tepat untuk menggambarkan seorang Raffan, EGOIS!
"Tadi gue tanya, Umi tanya apa! jangan ngeles Deef, perasaan ada aja yang Lo omongin," ketus Raffan.
Pria itu sepertinya tidak sadar bahkan sejak tadi dirinyalah yang terus saja berbicara, mulutnya itu tak henti berbunyi begitu gacor bagaikan seekor burung yang sudah sangat lihai bicara akibat sering di latih.
"Apa? bukannya jawab malah diem aja!" omel pria yang kini menatap tajam pada wanita di sampingnya tidak peduli kalau sekarang dia sedang mengendarai mobil.
"Mas awas!" seru Deefa kala melihat mobil di depannya mendadak berhenti.
Raffan refleks banting setirnya ke kiri, beruntung sedang tidak ada mobil jika tidak tamatlah riwayatnya sebagai seorang pebalap handal.
"Sialan! Lo mau ngajak gue mati muda biar gue nggak sempat tobat terus masuk neraka! pengen banget gue di siksa neraka kayaknya Lo," cerocos Raffan mulai kembali menjalankan mobilnya dengan tenang setelah adegan sedikit menegangkan tadi.
__ADS_1
"Astaghfirullah, nggak gitu maksud Deefa Mas, mobil itu mendadak berhenti dan Mas Raffan tidak lihat, apa Deefa harus diam saja? nanti kita nabrak mobil di depan itu Mas malah lebih marah lagi sama Deefa," kata Deefa membela diri, sebab memang itulah kenyataannya dia terkejut dengan mobil di depan mereka yang entah kenapa tiba-tiba saja berhenti.
"Apalah itu yang jelas Lo mau ngajak gue mati bareng," celetuk Raffan.
"Dari pada mati bareng lebih baik Mas yang mati sendiri aja," gumam Deefa.
"Heh! Lo nyumpahin gue mati?! wah durhaka nih bini," geram Raffan yang masih bisa mendengar suara wanita di sampingnya meski hanya gumaman saja.
"Maaf, keceplosan," timpal Deefa menahan senyum karena melihat Raffan yang sejak tadi mengomel tak jelas.
Ada saja yang pria itu masalahkan, tidak tahu kenapa sepertinya pria itu tidak kehabisan bahan untuk mengomel.
Mata Raffan mendelik namun kali ini hanya melihat sekilas saja pada wanita berkerudung di sampingnya, kejadian tadi sedikit membuatnya sport jantung.
Dia memang sangat menyukai balapan dan itu tentunya memacu adrenalin tapi kan dia tetap akan berhati-hati agar tidak mencelakai dirinya, karena sesungguhnya dia tidak ingin mati konyol.
Keceplosan katanya? sialan itu artinya Deefa memang sedang memikirkan dia mati, batin Raffan seraya mendengus.
Suasana di dalam mobil kembali hening, sepertinya Raffan kembali lupa kalau pertanyaannya belum juga di jawab oleh sang istri.
Sampai akhirnya ada getaran dari handphone yang ada di dalam saku celana jeans nya yang seperti biasa robek-robek pada bagian lututnya.
Mau tak mau Raffan mengeluarkan benda yang tengah menyala itu guna melihat siapa yang menghubunginya.
"Fara," gumamnya setelah melihat siapa si penelepon.
Ada rasa tidak enak untuk menjawab, dia juga sadar diri kalau dirinya akan terlihat sangat bajingan kalau sampai menjawab telepon dari wanita lain ketika ada istri sahnya duduk di sebelah.
Mata Deefa masih bisa melihat dengan jelas nama yang tertera di layar yang sejak tadi menyala itu.
"Kenapa tidak di jawab?" tanya Deefa sarkas.
"Tidak penting," sahut Raffan serta-merta menghempaskan benda itu ke dashboard.
"Wanita itu yang sedang sangat dekat dengan Mas Raffan, kan?"
__ADS_1
Deefa bahkan sampai mengatakan sangat dekat, tentu dia tahu maksud dari pertanyaannya itu, tidak mungkin bertanya jika dia tidak tahu apa-apa.
"Hah? apaan sih sok tahu banget," sahut Raffan meski mencoba tenang tapi tetap saja ada gurat panik yang tercetak di wajahnya.
"Agam pernah cerita."
"Agam Lo dengerin!" sungut Raffan mengelak.
Deefa tersenyum, yang Raffan tahu itu adalah senyum yang di buat-buat bukan senyum tulus dari hati seperti yang tadi sempat Raffan lihat.
"Mas Raffan kenal dekat dengan Agam, seharusnya Mas mengenal bagaimana sifat Agam, karena Deefa yang belom lama kenal saja sudah sangat tahu kalau Agam tidak mungkin bohong, seperti.."
"Gue maksud Lo! gue tukang bohong?!" sambar Raffan kala Deefa tidak melanjutkan perkataannya.
Deefa mengedikkan bahunya lalu membuang tatapan ke jalan di sampingnya.
"Sebaiknya Mas konsentrasi saja, Deefa ingin cepat sampai di pesantren," kata Deefa kemudian tanpa melihat yang tengah dia ajak bicara sedang meremas setir mobil hingga punggung telapak tangannya memutih seperti tidak ada darah yang mengalirinya.
Sedangkan handphone yang tadi di campakkan oleh Raffan kembali menyala dan menunjukkan nama yang sama di papan layar.
Dalam hati Raffan merutuki kebodohannya yang lupa bahwa malam ini dia sudah ada janji dengan cara, juga menyalahkan mulut Agam yang dia anggap comel karena mengadukan tentang Fara pada Deefa.
Sepertinya Raffan ini tengah terkena amnesia karena semua ini bermula dari dirinya yang tidak mau mengakui Deefa, kalau saja saat itu dia dengan berani mengatakan kalau Deefa itu istrinya tentu kejadiannya tidak akan begini, mungkin dia bisa menutup mulut Agam agar tidak membocorkan kedekatannya dengan Fara.
Yah mungkin saja kan Agam akan berada di pihaknya? tanpa harus jatuh cinta pada Deefa karena tahu wanita itu adalah istrinya, bukankah biasanya pertemanan antar lelaki akan selalu membantu satu sama lain?
Saling menutupi, bahkan itu pernah mereka lakukan saat Rio mempunyai dua orang kekasih di saat bersamaan, dan mereka semua kompak tutup mulut membuat perselingkuhan Rio tidak terbongkar.
__ADS_1
"Sialan Agam!" makinya dalam hati.
*****