
Dengan langkah pasti dan tak sabar Raffan menuju teras rumah dimana pintunya sudah tertutup, langkahnya terhenti ketika samar-samar dia mendengar lantunan ayat suci Alquran, dia sangat yakin itu adalah suara istrinya membuat dia lantas mengulas senyum lalu memejamkan mata menghayati merdunya suara sang istri.
Mendengar itu dia yang sempat terlarut pun kembali tersadar dan makin tak sabar untuk bertemu sang istri lalu mendekap tubuhnya dengan erat lantas menghadiahi seluruh wajahnya dengan kecupan-kecupan penuh kerinduan.
"Terimakasih ya Allah," tutur Raffan bersyukur sebab sang penguasa semesta masih mau mempertemukan dia dengan wanita yang telah mengambil seluruh hatinya.
Sungguh dia benar-benar mencintai wanita bernama Adeefa Ranaya dengan segenap jiwa dan raganya, wanita itu telah masuk dan menguasai serta menjadi ratu dalam hatinya.
"Assalamualaikum," mengucap salam dengan raut wajah yang memancarkan binar kerinduan mendalam.
Deefa yang mendengar suara salam dari luar rumah pun menyudahi membaca lalu menutup kitab yang ada di tangannya.
Dia sangat kenal dengan suara seseorang yang mengucap salam barusan hingga dia tanpa pikir panjang langsung berlari menuju pintu.
"Wa'alaikumsalam," menjawab salam dari pria yang tengah berdiri di depan pintu menunggu untuk bertemu dengan wanita terkasihnya.
"Mas Raffan!" seru Deefa dengan ekspresi terkejut sekaligus bahagia yang terlihat begitu jelas.
Wanita itu bahkan langsung menghambur ke dalam pelukan sang suami yang sedari tadi sudah merentangkan kedua tangannya seakan memang sudah sangat siap untuk menyambut istrinya.
"Aku sudah pulang sayang," kata Raffan seraya mengecupi puncak kepala wanitanya yang terhalangi oleh kerudung yang senantiasa akan tertutup dan tidak ada yang bisa melihat bagian tubuhnya itu kecuali dirinya.
"Alhamdulillah ya Allah," puji syukur Deefa pada sang kuasa karena sudah mengabulkan doa-doanya selama ini.
"Masuk ke dalam saja yuk, nggak enak nanti di lihat orang, lagian biar kita lebih puas lampiaskan rasa rindu selama dua Minggu tidak bertemu," cetus Raffan mengajak sang istri untuk masuk ke dalam rumah.
Pria itu kembali menutup pintu lalu menguncinya berjalan bersamaan dengan Deefa yang senantiasa bergelayut manja pada pinggangnya.
"Kamu kangen banget ya sama aku?" goda Raffan ketika mereka sudah duduk di sofa ruang tamu dengan posisi duduk berhimpitan bahkan sepertinya saling melekat satu sama lain seolah ada lem tak kasat mata yang menjadi perekatnya.
"Kangen banget, apa Mas Raffan tidak kangen?" tanya Deefa mengangkat wajahnya menatap manik mata sang suami yang menatapnya dengan teduh.
Raffan mengangguk, "bahkan mungkin kangen aku itu jauh lebih banyak daripada kamu," tutur Raffan menjawil hidung mancung milik istrinya yang kerap kali dia gigit ketika sedang berbagi kasih.
Deefa mengulas senyum lalu kembali menatap pada suaminya dan kali ini dengan sorot mata yang serius, "jangan ulangi lagi ya, Deefa nggak mau Mas Raffan masuk penjara terus tinggalin Deefa," ucap Deefa lirih.
__ADS_1
"Kamu sayang banget ya sama aku?" Raffan malah mempertanyakan kadar sayang Deefa terhadap dirinya.
"Sesama makhluk ciptaan Allah harus saling menyayangi bukan?" jawab Deefa dengan senyum tapi air mata justru keluar dari sudut matanya.
Raffan memutar bola matanya mendengar jawaban dari istrinya.
"Iya, Deefa sayang banget sama Mas Raffan, maka dari itu jangan pernah mengulangi kesalahan yang akan membuat kita terpisah," kata Deefa akhirnya yang mengerti kalau sang suami tidak puas dengan jawaban yang dia berikan.
Dalam sekejap pun Raffan langsung mengumbar senyuman yang luar biasa dan mungkin akan bisa memikat wanita manapun yang melihatnya.
"Insya Allah, Mas Raffan Alawi juga sayang banget sama kamu istriku," tutur Raffan sarat akan rayuan yang membuat Deefa tersipu lalu menjatuhkan wajah di dadanya.
"Lucu banget sih kayak bayi koala kalau lagi malu gini," kelakar Raffan yang mendapat cubitan mesra dari sang istri dengan Raffan yang gegas mendekap tubuh istrinya itu lalu kembali memberikan kecupan penuh kasih sayang di seluruh wajah milik sang istri.
Cup! cup! cup! cup!
Semua wajah Deefa habis dia kecup berulang kali melampiaskan semua kerinduan yang tertahan, Raffan mungkin tidak akan pernah berhenti jika Deefa tidak menghalaunya.
"Kenapa sayang? aku kangen banget loh," ujar Raffan tak senang ketika Deefa menghentikan apa yang tengah dia lakukan.
"Deefa mau telepon ibu dulu," jelas Deefa hendak berdiri.
"Kasih tahu Ayah sama ibu kalau Mas Raffan sudah pulang, mereka sudah tahu belum? oh iya tadi Mas Raffan diantar sama siapa?" tanya Deefa berturut-turut.
Raffan menggelengkan kepala lalu menarik Deefa untuk kembali duduk, "Ayah sama Ibu sudah tahu aku pulang, bahkan dari dua hari yang lalu," aku Raffan.
Deefa pun terkejut tak percaya mendengar pengakuan suaminya itu, "dua hari yang lalu? mas Raffan bebas dua hari yang lalu?"
"Bukan itu maksudnya sayang," tutur Raffan ketika istrinya itu malah salah paham dengan perkataannya.
"Apa?" Deefa tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Dua hari lalu Fara datang ke kantor polisi buat bantuin aku dia jadi saksi, disitu ada Ayah juga pengacara, dan akhirnya polisi bebasin aku hari ini," ungkap Raffan mengelus punggung Deefa.
"Teman-teman Mas Raffan tahu?" tanya Deefa.
__ADS_1
Raffan mengangguk, "mereka tahu."
"Jadi cuma Deefa yang nggak tahu?" Deefa malah jadi kecewa sebab hanya dirinya yang tidak tahu kalau suaminya itu bebas hari ini, dan itu membuat Deefa merasa sangat tidak penting.
"Deefa nggak penting ya?" suara Deefa terdengar sangat pelan menunjukkan kalau dia tengah kecewa.
"Maksudnya? nggak penting gimana?" Raffan yang kini tak mengerti kenapa istrinya malah beranggapan seperti itu.
"Hanya Deefa orang yang tidak tahu kalau Mas Raffan akan bebas, itu artinya Deefa tidak penting kan?"
"Astaghfirullahaladzim."
Raffan menepuk keningnya menyadari apa yang dipikirkan oleh sang istri.
"Bukan begitu maksudnya sayang, aku sengaja larang teman-teman juga Ayah dan Ibu kasih tahu kamu tentang kebebasan aku, karena aku mau kasih kejutan sama kamu, kasih surprise buat istri tercinta, benaran nggak pernah mikir kalau kamu itu nggak penting, kamu bahkan jauh lebih penting dari hidup aku sekarang ini," jelas Raffan mengeluarkan keahliannya dalam merayu, membujuk melancarkan semua kepiawaiannya agar istrinya itu tidak lagi merasa sedih serta kecewa karena yang dia lakukan.
"Udah ya bahas yang nggak penting nya, mendingan kita kangen-kangenan aja," bujuk Raffan seraya menggigit hidung sang istri dengan penuh perasaan sehingga tidak akan menyakiti istrinya itu.
"Mas Raffan sudah Mandi?" dan benar saja Deefa dengan mudahnya masuk dalam jaring cinta yang di pasang oleh suaminya.
"Sudah mandi tadi jam lima, tapi pasti mandi lagi dong biar bersih wangi segar dan tampan, biar kamu nya juga nyaman dan semangat," lontar Raffan sambil memamerkan cengiran nya.
Deefa pun menenggelamkan wajahnya di dada Raffan, merasa malu dengan setiap lontaran kata yang tersusun menjadi kalimat yang membuat jantungnya berdebar hebat tak karuan, malam ini setelah hampir dua Minggu tidur sendiri akhirnya dia akan kembali tidur bersama dengan pria yang dia cintai, suaminya, imamnya sudah kembali pulang ke rumah dan besok pagi saat bangun dia akan kembali melihat wajah tampan itu.
Dalam hati Deefa tak hentinya mengucap syukur pada sang pemilik semesta karena doanya untuk kebebasan sang suami telah dikabulkan.
__ADS_1
Keduanya bergandengan tangan meniti anak tangga menuju lantai atas dan masuk ke dalam kamar yang sudah Raffan rindukan, sungguh tidur di dalam sel sangat amat menyiksa, padahal dia sudah sering masuk sel tapi kenapa baru sekarang dia merasa begitu tersiksa? Raffan tersenyum melihat kamar serta tempat tidur yang biasa dia tiduri, sampai akhirnya Deefa memberikannya handuk dan memintanya untuk mandi.
*******