Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Bagaimana Dengan Ibu?


__ADS_3

"Kenapa harus seperti ini?"


Bola mata Deefa bergetar dengan kumpulan air yang sudah siap untuk kembali meluncur mengalir membasahi wajahnya yang memang sudah sejak tadi tak kuasa untuk menangguhkan keperihan hatinya yang sudah seharusnya sudah sangat terluka mengetahui takdirnya sebagai seorang wanita namun masih harus menerima kebohongan dari suaminya dengan dalih untuk melindungi dirinya.


"Kenapa harus seperti ini, Mas!?" Deefa kembali bersuara dengan intonasi yang sedikit meninggi bukan bermaksud membentak hanya saja dia ingin suaminya untuk segera memberi penjelasan padanya.


"Kamu berbohong," tambah wanita yang sekarang berdiri berhadapan dengan suaminya, wajahnya terangkat untuk bisa menatap netra suaminya yang sejak tadi memang berfokus pada kertas yang ada di tangan Deefa.


Pria itu tentu sudah hafal kertas apa yang sekarang dipegang oleh istri tercintanya, tanpa perlu diperjelas dia sudah tahu kalau istrinya sudah membaca hasil pemeriksaan dan mengetahui kebohongannya membuat mulutnya terkatup rapat seakan ada lem tak kasat mata yang membuatnya menempel kuat.


"Mas!" Deefa menyadarkan suaminya yang sedari tadi tidak juga merespon.


"Aku terpaksa Deef, memangnya menurut kamu aku harus melakukan apa selain berbohong? otakku buntu tidak bisa membayangkan jika kamu tahu dan akhirnya pergi dariku, aku bahkan tidak bisa percaya kalau kamu akan tetap disisi ku ketika tahu kamu yang bermasalah," jelas Raffan dengan suara yang lemah seolah dia itu tidak memiliki tenaga untuk berbicara mengatakan apa yang dia takutkan sungguh menjadi sebuah bayangan yang menyeramkan baginya.


Dengan sifat istrinya tentu dia tahu jalan apa yang akan istrinya itu ambil saat mengetahui kebenaran dirinyalah yang tidak sempurna sebagai seorang wanita, wanita mana yang akan tetap tenang saat tidak bisa menyempurnakan rumah tangganya dengan kehadiran anak? sekalipun ini memang takdir yang sudah digariskan oleh sang Khaliq tapi tetap saja istrinya itu manusia biasa yang akan menjadi rapuh tak berdaya ketika nantinya akan mendapat tekanan dari ibu mertuanya.


"Aku tidak peduli tentang keturunan, aku tidak peduli kalau nantinya kita hanya akan berdua saja sepanjang hidup aku tidak peduli dengan perkataan orang-orang, aku tidak peduli apapun Deef, tidak peduli!" suara Raffan sangat tinggi membuat kamar yang tadi diliputi oleh keheningan mendadak jadi terasa ramai dengan udara yang memanas sekalipun pendingin ruangan menyala.


"Lalu bagaimana dengan ibu? kamu berkata seperti itu apa tidak memikirkan perasaan ibu, apa tidak peduli pada keinginan ibu, jangan jadi egois yang hanya memikirkan dirimu saja tanpa memikirkan perasaan orang lain terutama ibu kandungmu," tekan Deefa, mendengar pengakuan suaminya sungguh dia merasa bingung harus bagaimana, di satu sisi hatinya merasa tersentuh dan ada secercah bahagia tapi disisi lain dia tidak sanggup membayangkan seperti apa kecewanya seorang Ibu ketika anak satu-satunya yang dia harap akan bisa memberikan penerus untuk keluarga mereka malah memilih bertahan dengan wanita yang tidak bisa mewujudkan impiannya.


Raffan berdecih lalu tersenyum miris mendengar pernyataan dari wanita yang ada di depannya, wanita yang bahkan tidak boleh terluka seujung kuku pun malah berpihak pada ibunya, menyangkal semua yang dia utarakan tentang rencana hidupnya yang sangat siap apabila sang Khaliq benar-benar tidak memberikannya keturunan.


"Lalu bagaimana dengan aku? bagaimana dengan perasaan suamimu ini? tidak sadarkah kamu bahwa kamu pun egois, memikirkan perasaan ibu memikirkan tentang ibu tapi kamu sekalipun tidak memikirkan perasaan suamimu sendiri, apa itu adil? apa menurutmu itu sangat adil? bukankah kamu lebih dari egois? kamu sangat memikirkan orang lain sedangkan suamimu sendiri kamu tidak pedulikan!" Raffan menyentak hingga tidak lagi bisa mengontrol dirinya sendiri hingga merampas kertas yang ada di tangan Deefa dengan kasar lalu membentangkan dihadapan istrinya.


"Jadi kamu ingin aku memberitahu Ibu tentang ini kan? kamu ingin ibu tahu kalau dirimulah yang bermasalah, itu yang kamu inginkan?" Raffan menatap dengan matanya yang sudah memerah, tentu meskipun dia seorang laki-laki jika sudah berada dalam kondisi yang menyayat hati seperti inipun dia akan rapuh dia tidak mungkin bisa menyembunyikan kesedihan ketika wanita yang berusaha untuk dia lindungi malah seolah sengaja mendorongnya ke jurang nestapa.


"Aku akan memberitahu ibu dan kita lihat apa yang bisa dia lakukan ketika dia tahu semua ini, kamu pasti senang melihat aku menikah lagi kan?" Raffan menyindir Deefa yang sekarang jatuh duduk di tepi tempat tidur ketika kedua kakinya seakan tidak sanggup untuk menopang tubuhnya sendiri.


Sungguh Raffan tidak tega tapi sejak tadi istrinya seolah menuntut dan menyalahkan dirinya, menudingnya egois padahal dia hanya ingin menjadikan Deefa istri satu-satunya dan untuk selamanya, jika sudah seperti ini dia sebagai seorang pria merasa harga dirinya terluka merasa pengorbanannya ketika wanita yang dia pertahankan seolah tidak mau dipertahankan.


Sejak tadi istrinya banyak sekali bicara, membicarakan hal yang sangat tidak ingin dia dengar ataupun ketahui, sungguh kali ini dia sangat kecewa.

__ADS_1


"Sikapmu menunjukkan bahwa kamu tidak mau aku pertahankan," tutur Raffan menatap wanita yang menunduk tak lagi bersuara.


Samar-samar pria itu kini mendengar suara tangis dari istrinya, suara tangis yang sejak tadi tertahan dan hanya mengeluarkan air mata saja pun kini mengisi kamar mengalun menyedihkan di telinganya membuat dia menghela napas lalu berjongkok di depan sang istri.


"Ini rumah tangga kita, kita yang menjalani hanya kita berdua juga yang akan merasakan seperti apa rumah tangga kita nantinya, orang lain hanya akan ikut campur sesaat tanpa tahu bagaimana hidup kita yang sebenarnya, mereka tidak punya hak untuk masuk ke dalamnya." lontar Raffan menggenggam tangan wanita yang sungguh keras kepala.


Wanita yang tidak peduli dengan perasaannya sendiri, wanita yang malah lebih memikirkan perasaan ibu mertuanya ketimbang dirinya sebagai seorang suami yang jelas seharusnya dirinyalah yang mengambil semua keputusan dalam rumah tangga mereka, dia yang mengambil tanggung jawab atas istrinya lalu kenapa istrinya itu malah dengan seenaknya berbicara seolah tidak menganggap dia sebagai kepala keluarga, sebagai imam.


"Menyenangkan orang lain tapi menyakiti diri sendiri untuk apa Deef? kita terutama kamu aku yakin tidak akan bahagia, aku tahu kamu tidak akan mungkin bahagia ketika aku menikah lagi untuk memenuhi keinginan ibu, jadi aku mohon jangan menyiksa dirimu dan juga aku, aku tersiksa bahkan jauh lebih tersiksa di banding kamu." Raffan terus berbicara mencoba untuk mengingatkan istrinya tentang rasa sakit yang akan mereka rasakan nantinya apabila terus mempermasalahkan keturunan.


"Ibu pasti akan sangat kecewa Mas, aku tidak tega." suara Deefa terdengar lirih.


Raffan melepaskan tangan wanita yang masih saja keras kepala mengungkit tentang ibunya, masih tetap memikirkan ibunya seperti tidak mendengarkan apa yang dia katakan sejak tadi, apa istrinya itu tuli atau memang tidak memikirkan dirinya?


"Astaghfirullahaladzim, Deefa!" berseru frustasi merasa perkataannya sia-sia belaka.


Pria itu berdiri menatap tajam dengan mata yang sekarang menunjukkan ketidaksukaan ketika telinganya masih terus disuguhkan oleh kalimat-kalimat yang bertentangan dengan dirinya.


Raffan mengangguk sekalipun Deefa tidak memberikan jawaban dia sudah mengerti, "aku turuti kemauan kamu, aku akan benar-benar memberitahu ibu!" seru Raffan lalu beranjak meninggalkan wanita yang sudah tidak bisa lagi menahan isak tangis.


Raffan melangkah menuruni anak tangga, bukan dia tidak peduli pada tangisan istrinya tapi dia sudah sangat hilang kesabaran dengan sikap wanita yang dia cintai itu, sungguh tidak mengerti bagaimana bisa istrinya itu malah bersikap begini padanya, padahal dia tahu wanita itu juga sangat mencintai dirinya, mereka saling mencintai tapi kenapa jalan pikiran mereka berbeda.


Dia ingin mempertahankan wanita itu akan tetapi wanita yang ingin dia pertahankan mendorong dirinya menjauh, bukankah itu sangat berlawanan, dia berjuang tapi perjuangannya dipatahkan dengan cara yang dramatis.


Keluar dari rumah tapi tidak lupa mengunci pintu meski bagaimanapun dia tidak ingin ada orang jahat yang masuk ke rumah karena keteledoran dirinya, masih sangat mengkhawatirkan istrinya tapi dia juga harus menenangkan diri agar bisa berpikir jernih dan tidak makin terpancing emosi kala harus mendengarkan perkataan demi perkataan dari istrinya yang tidak ingin dia dengar.


Di dalam kamar Deefa bisa mendengar suara mobil suaminya yang pergi meninggalkan rumah, suaminya benar-benar meninggalkan dirinya sendiri dengan perasaan campur aduk menghantui dirinya.


Dia menangis tersedu hingga tatapannya menjadi tak jelas akibat luberan air mata yang tidak terkendali, "maafkan aku Mas, aku memang egois aku jahat tidak memikirkan perasaan kamu," ratapnya disela tangis yang membuat tubuhnya bergetar.


Dirinya pun sadar bahwa dia egois serta jahat, tapi sungguh keadaan lah yang menjadikan dia seperti ini, dia akui sangat menyayangi suaminya tapi dia juga tidak mau suaminya itu tidak memiliki keturunan jika terus bersamanya, sekarang pria boleh menikah lagi dan Deefa akan mengijinkan suaminya melakukan itu meskipun berat, sangat berat tapi dia bisa apa? dia yang bermasalah mau tidak mau harus siap menerima kondisi apapun nantinya.

__ADS_1


Di tengah tangisnya Deefa mata Deefa tak sengaja melihat piring di atas meja, piring putih dengan corak bunga yang diatasnya terdapat martabak cokelat kesukaannya yang dibawakan oleh suaminya.


Martabak yang disusun rapi di atas piring itu sudah cukup membuktikan bahwa Raffan ingin menyenangkan istrinya meski hanya makanan dan itu terkesan sangat sederhana tentunya Deefa akan sangat senang andai dia belum tahu tentang hasil pemeriksaan mereka.


Raffan menepikan mobilnya di jalanan yang mengarah ke bengkel, tujuannya saat ini bukan ke rumah orang tuanya sekalipun tadi dia mengatakan pada Deefa akan memberitahu ibunya tentang mereka, dia hanya ingin mengancam ingin membuat Deefa berpikir bahwa keputusannya itu tidak benar, keputusan itu hanya akan menyakiti mereka.


Ini sudah jam setengah satu tentu bengkel pun sudah tutup dan teman-temannya juga pasti sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, tapi Raffan memegang kunci bengkel dan tentunya dia akan bisa masuk sekalipun tidak ada teman-temannya, lagipula bengkel itulah satu-satunya tempat yang bisa dia tuju sebab dia tidak mungkin ke rumah orang tuanya, tidak mungkin juga ke rumah teman-temannya.


Pria itu kembali menyalakan mesin mobilnya dan menginjak gas agar mobil berjalan meninggalkan jalanan yang sudah mulai sepi itu.


Sudah hampir pagi ketika Deefa masih terjaga menantikan suaminya yang pergi sejak beberapa jam lalu namun tak juga kembali, membuat dia yang keras kepala itu menjadi khawatir mempertanyakan tentang suaminya.


"Mungkin menginap di rumah Ayah dan Ibu," ucap Deefa karena semalam suaminya berulang kali mengatakan akan memberitahu pada ibunya tentang hasil pemeriksaan yang sebenarnya.


Sebenarnya Deefa tidak bisa menampik rasa sakit yang melanda tapi dia sungguh tidak tega melihat suaminya tidak memiliki keturunan, salahkan sifatnya yang terlalu baik hingga membuatnya tidak memikirkan dirinya sendiri, lebih mementingkan kebahagian orang lain ketimbang kebahagiaannya.


Raffan merasakan hal yang sama dengan Deefa, sepanjang malam dia tidak tidur terus terjaga di dalam bengkel yang untungnya menyediakan satu kamar yang memang biasa dijadikan tempat mereka beristirahat di bengkel itu.


Tubuh pria itu terlentang di atas kasur lantai dengan kedua mata yang menerawang menatap langit-langit kamar, otaknya sungguh kalut membuat dia sebenarnya sangat ingin mengamuk melampiaskan amarah namun dia masih berusaha menahannya masih berusaha mengendalikan emosi agar tidak meluap tak terkendali.


Dia ini bukan Raffan yang dulu, bukan lagi Raffan yang akan melakukan tindakan konyol saat sedang emosi, dia laki-laki beristri yang ingin berubah menjadi lebih baik tapi ketika dia merasa kecewa apa dia masih akan tetap menjadi Raffan yang baik? apa dia bisa menjamin dirinya sendiri kalau dia tidak akan larut dalam emosi yang tidak stabil.


"Astaghfirullahaladzim," Raffan beristighfar di tengah pikiran yang berkecamuk lalu merubah posisi tidurnya menjadi menyamping menahan kepala dengan sebelah tangannya lalu berusaha untuk memejamkan mata tapi nyatanya dia tetap tidak bisa.


Setelah selesai melaksanakan shalat subuh Raffan berdoa meminta pada sang Khaliq untuk kebaikan rumah tangganya, memohon agar dia tidak dipisahkan dengan wanita yang sudah merubah dirinya, menjadikan dia jauh lebih baik, berharap Tuhannya mau berbaik hati mengabulkan doa-doanya yang sangat banyak.


Tanpa terasa buliran bening jatuh membasahi sajadah yang dia duduki, air mata yang dia tumpahkan menandakan kesedihan yang dalam dan tengah dia rasakan sebagai seorang lelaki dan suami, air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya tumpah tak terkendali, biarlah dia menjadi cengeng untuk saat ini, biarlah dia memuaskan diri mengadu pada Tuhannya yang pasti mendengar setiap kata yang terucap maupun tidak.


Selesai dengan doa serta tangisan yang sudah sedikit membuatnya lega, sedikit menghilangkan rasa sesak di dadanya, Raffan pun beranjak dari duduknya lalu melipat sajadah dengan rapi lalu menyimpannya di tempat semula.


Hari ini dia sama sekali tidak ingin melakukan kegiatan apapun, raganya seakan tidak memiliki semangat dan jiwanya pun seolah mendukung untuk dia tidak melakukan beranjak dari tempatnya berada sekarang.

__ADS_1


****


__ADS_2