Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Memangnya Kamu Serius?


__ADS_3

Malam hari kediaman ustad Sabar tampak sedang melakukan pembicaraan antar keluarga, ustad Sabar yang memang sudah tidak memiliki istri sebab istrinya yang sudah meninggal 2tahun meminta anak serta menantunya untuk tinggal bersamanya di rumah miliknya, tentu saja agar dia tidak merasa kesepian pasca sang istri tiada akibat penyakit paru-paru, meskipun dia masih memiliki seorang putra akan tetapi putranya itu memilih menyibukkan diri dengan bengkel juga kegiatan kampusnya, meski sesekali turut membantu mengajar di TPA miliknya.


Putranya itu benar-benar tidak betah ada di rumah hingga kadang pulang larut malam, yah meskipun Agam sangat bisa dipercaya tidak akan melakukan hal yang di larang tapi tetap saja sebagai seorang Ayah dia akan khawatir dengan sang anak.


Tapi sudah dua hari ini ustad Sabar merasakan sedikit ada yang berbeda pada putranya itu, pulang cepat dari kampus lalu akan pergi ke TPA untuk mengajar, padahal dia tahu benar kalau putranya itu mengajar di TPA hanya dua kali dalam seminggu dan hari ini semestinya bukan bagian putranya mengajar, tapi tadi cucunya Kinara pulang bersama Agam, bukankah itu artinya Agam mengajar di TPA, tapi kenapa bahkan dia tidak tahu kalau anaknya itu pulang? karena biasanya sebelum mengajar Agam akan pulang lebih dulu untuk mandi sebelum akhirnya pergi ke TPA.


"Kamu tadi pulang kampus langsung ke TPA?" tanya Ustad Sabar pada sang anak yang sedang duduk di lantai beralaskan karpet seraya mengerjakan tugas kampus.


"Enggak, Agam pulang ke rumah dulu," sahut Agam dengan gerakan kepala, "nggak mungkin lah Yah Agam ngajar dalam keadaan berkeringat dan pastinya tubuh Agam kotor karena Agam tidak tahu kan apa yang mengenai tubuh Agam saat berada di luar," sambung Agam membuat sang Ayah malah jadi mengerutkan keningnya.


"Kok Ayah nggak lihat kamu pulang?" kali ini ustad Sabar melepas kacamatanya yang selama ini membantunya untuk memperjelas penglihatannya yang sudah semakin mengabur di usianya yang ke 50tahunan.


Agam mendongak lalu menjawab tenang, "tadi kata Kak Dinar Ayah sedang tidur," jawabnya seraya mengangkat kedua alisnya.


Ustad Sabar pun mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui bahwa tadi siang dia memang tengah tidur hingga itulah yang membuatnya tidak mengetahui kalau sang anak sempat pulang ke rumah sebelum mengajar.


"Lagian tumben banget Ayah tidur siang," kata Agam merasa sedikit aneh karena setahunya sang Ayah itu sangat tidak suka tidur siang, ketimbang harus tidur siang pria tua itu lebih memilih untuk membaca kitab di ruang bacanya.


"Ayah habis minum obat, mungkin mengandung obat tidur," jawab Ayah menjelaskan kemungkinan dia tertidur karena obat pereda sakit kepala yang sebelumnya dia minum.


"Abah!"


Tiba-tiba dari dalam kamar suara keras Kinara menginterupsi obrolan antara Ayah dan anaknya.


"Jangan lari-lari Nara."


Kali ini terdengar suara Dinar yang mengingatkan sang anak untuk berlarian ketika menuruni tangga, ayolah itu sangat berbahaya bukan?


"Kenapa Nara?" tanya sang Kakek ketika cucunya begitu bersemangat menghampiri dirinya.

__ADS_1


"Tadi sore Nara dan Om Agam anterin Kak Deefa lagi, Nara mau main ke rumahnya tapi kata Om Agam nggak boleh."


Adu bocah kecil yang sontak membuat Agam mendelik padanya dengan bola mata yang lalu bergerak seperti tengah memberi kode, tapi yang namanya anak kecil mana mengerti kode-kode yang tengah Agam lakukan itu.


Hingga suara berat sang Ayah membuat Agam menunduk tak berdaya.


"Agam, Kan Ayah sudah bilang tahan diri dulu jangan terlalu mendekati Deefa sebelum Ayah meminta ijin pada kiyai Burhan," kata ustad Sabar tak senang dengan sikap sang anak yang padahal kemarin sudah dia peringatkan untuk bersabar karena dia akan membicarakan hal ini lebih dulu pada kiyai Burhan yang ada di Jawa timur.


"Takut keduluan orang Ayah," sahut Agam.


Ustad Sabar menggelengkan kepalanya mendengar jawaban sang anak.


"Rejeki jodoh maut semua sudah Allah tetapkan, tidak perlu memikirkan takut keduluan orang sehingga kita harus bergerak cepat sampai tidak memikirkan apa yang akan terjadi akibat kita yang tergesa-gesa, lagipula meski kamu bergerak cepat tapi Allah tidak menjodohkan kamu dengan Deefa kamu bisa apa? tunggulah sampai Ayah berbicara dengan kiyai Burhan."


"Maaf Ayah," kata Agam menyesal dengan sikapnya yang tidak mau mendengarkan nasihat sang Ayah kemarin.


Dinar mengelus rambut sang anak yang sudah semakin pandai berbicara, anaknya itu terlihat sangat bawel ketika sudah menyuarakan isi hatinya sangat berbeda jauh dengan Ayahnya yang bernama Restu juga dirinya.


"Lalu kapan Ayah akan berbicara dengan kiyai Burhan, lebih cepat harusnya lebih baik Yah," jelas Agam benar-benar tidak sabaran.


"Ya nanti, Ayah masih belum punya waktu untuk menemui Kiyai Burhan."


"Kenapa tidak melalui telepon saja?" Agam mencoba memberi solusi.


"Tidak bisa, ini termasuk hal yang penting akan menjadi tidak sopan apabila membicarakannya melalui telepon, berbicara langsung dengannya akan sangat menghargainya, terlebih lagi kiyai Burhan itu teman Ayah yang meskipun tidak terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh, saling mengenal dan tak jarang saling berbagi makanan saat kami berada di pesantren yang sama, kiyai Burhan meskipun anak pemilik pesantren tempat Ayah mondok dulu tapi dia sangat ramah pada siapapun," jelas sang Ayah menceritakan tentang hubungannya dengan sang Kiyai.


"Ayah harap kamu mengerti, untuk di hargai ada baiknya kita juga menghargai orang lain," lanjut ustad Sabar seraya mengambil segelas kopi yang tadi dibuatkan oleh anak tertuanya lalu menyeruputnya dengan nikmat.


"Baik Ayah, Agam mengerti," sahut Agam tak ingin membantah lagi.

__ADS_1


"Oh iya kemarin kamu bilang Deefa sepupu dari Raffan?" tanya Ustad Sabar setelah mengembalikan gelas ke atas meja.


"Iya Ayah, Raffan yang bilang sendiri."


Agam menatap pada Ayahnya yang nampak berpikir.


"Rasanya Ayah tidak pernah dengar kalau ustad Imran punya saudara di Jawa timur, setahu Ayah saudara ustad Imran itu ada di Bandung dan juga Padang," ujar pria yang mengenal baik ustad Imran.


"Entahlah Agam juga kan tahunya Ayahnya Raffan itu orang Bandung, sedangkan Ibunya orang Padang, mungkin keluarganya ada yang tinggal di Jawa timur," tutur Agam mengedikkan bahunya.


Dinar yang sejak tadi setia menjadi pendengar yang baik pun mulai ikut angkat bicara, sejak tadi lidahnya terasa gatal ingin menanyakan tentang wanita bernama Deefa itu.


"Memang usia Deefa berapa?" tanyanya, sebab yang dia dengar dari Ayahnya, wanita itu sempat menjadi seorang guru selama lebih dari 5tahun di pesantren, tentunya sudah cukup berpengalaman bukan?


"25 tahun," sahut ustad Sabar.


"Hah? kamu berapa Gam?" tanya Dinar kini pada sang Adik.


"19 tahun Kak, beberapa bulan lagi 20," Sahut Agam tanpa merasa terganggu sedikitpun dengan ekspresi kaget yang Kakaknya tunjukkan.


"Memangnya kamu serius? Deefa lebih tua loh dari kamu hanya beda satu tahun dari Kakak," jawab Dinar.


Sebenarnya dia pun tidak masalah dengan usia Deefa yang lebih tua dari sang Adik, hanya saja dia sedang memastikan kalau Adiknya itu memang tidak masalah dengan perbedaan usia mereka, jaman sekarang kan itu memang sudah tidak aneh lagi.


"Serius lah Kak, usia itu tidak jadi masalah asal suka dan nyaman, lagian yang menjalani hubungan kan manusianya bukan usianya. Dari dulu Kakak tahu sendiri Agam itu tidak pernah bermasalah dengan usia seseorang teman-temannya Agam saja banyak kok yang pacaran bahkan sampai nikah dengan wanita yang lebih tua toh mereka tetap bahagia kok," terang Agam yakin.


Benar, dia sudah yakin dan tidak ambil pusing dengan usia Deefa, dari awal Ayahnya memang sudah mengatakan itu padanya, jadi tadi saat Ayahnya menjawab pertanyaan sang Kakak dia terlihat santai saja.


*******

__ADS_1


__ADS_2