
Semuanya langsung berhamburan menuju Raffan yang sepertinya mulai bergerak, pertanda kalau pria itu masih dalam keadaan sadar.
"Mampus gue!" umpat Raffan seraya membuka menjauhkan diri dari body motor yang sedikit menimpa kakinya.
"Astaghfirullah Raf, bukannya malah umpatan yang Lo keluarin," Agam yang memang ikut menyaksikan balapan dan bagaimana Raffan jatuh pun mendekat seraya mengingatkan pada temannya yang dalam keadaan celaka seperti ini saja masih bisa mengeluarkan kata kasar untuk dirinya sendiri.
"Astaghfirullah ya ustad Agam, tolonglah anda membantu saya lebih dulu, daripada harus mengomel," celetuk Raffan merasakan kakinya yang sakit.
Celana serta jaket yang dia pakai pun tampak robek di bagian sisi yang lainnya selain robek di bagian lutut karena robekan itu memang ciri khas celana yang Raffan pakai.
Agam pun membantu Raffan sedangkan yang lainnya mendirikan motor yang lecet dibeberapa sisi bahkan ada yang sampai pecah dan lepas dari tempatnya.
"Motor gue rusak Raf, aduuuh," keluh Gerry menatap nanar motor kesayangannya yang tidak lagi utuh.
Sambil terpincang-pincang Raffan berdiri dengan bantuan Agam turut melihat pada motor temannya, "gue gantiin, nggak usah takut," cetus Raffan.
"Mana? gue harus pesan onderdil baru soalnya, nggak mau gue yang abal-abal," kata Gerry melebarkan telapak tangannya menadah.
"Tuh sama Marco, minta sana," jawab Raffan dengan langkah tertatih mencari tempat untuk duduk.
"Lo bisa jalan?" tanya Rio yang melihat Raffan berdiri saja kesulitan.
Yang di tanya pun mencoba untuk berjalan melepaskan tangan Agam, tapi jangankan untuk melangkah menapakkan kakinya saja sudah terasa sangat sakit hingga Raffan pun menjerit.
Semuanya lantas saling bertatapan lalu Agam gegas memeriksa kaki Raffan lalu membuka sepatu berwarna hitam.
"Aduh! Sakit Gamet! Lo sengaja ya, mau sekalian balas dendam sama gue!?" memanggil Agam seenaknya dengan tuduhan yang bahkan Agam pun tidak sempat memikirkannya, dan teriakan Raffan makin menjadi kala Agam tak sengaja menekan pergelangan kakinya yang sakit.
"Aduuuh!" begitu keras membuat teman-temannya menjadi khawatir.
"Bengkak," kata Agam melihat Raffan.
"Balik ke bengkel dulu deh," kata Rio kemudian.
Akhirnya dengan di bonceng motor oleh Gumay Raffan di bawa ke bengkel untuk memeriksa apa saja yang luka.
Agam masih dengan baiknya membantu Raffan turun dari motor, memapahnya menuju bengkel lalu mendudukkannya di bangku.
"Aduuuhhh." untuk sekian kalinya Raffan mengaduh kesakitan kala pinggang belakangnya tak sengaja membentur pegangan bangku yang terbuat dari kayu.
"Wah parah ini sih," celetuk Gumay sontak membuat Raffan mendelik.
"Nggak usah ngomong Lo!" omel Raffan memegangi pinggangnya yang tadi memang membentur aspal dengan sangat kencang motornya jatuh.
__ADS_1
"Buka dulu jaketnya Gam," Pinta Rio yang keluar dari dalam bengkel dengan kotak yang berisi obat-obatan termasuk obat untuk luka dan juga perbannya.
"Mau ngapain?" tanya Raffan seperti menolak untuk membuka jaketnya.
"Diobatin lah, Lo pikir mau diapain memangnya?" sungut Agam mulai tak sabar.
Akhirnya Raffan dengan pasrah menurut, membiarkan Agam membuka jaket serta celana panjangnya dan hanya menyisakan celana pendek juga kaos saja, di saat ini terlihat jelas luka-luka yang ada di tubuh Raffan.
Siku tangan, telapak tangan, lutut kaki juga betis bagian depan semuanya lecet, pinggang belakangnya juga membiru tapi tidak bengkak seperti di pergelangan kaki kanannya.
"Luka semua Raf, ke rumah sakit ajalah," Rio yang tadi berniat mengobati malah bingung sendiri karena banyaknya luka lecet yang tampak jelas bahkan ada yang dagingnya sampai terlihat.
"Selama bukan muka gue yang luka jangan ngomongin rumah sakit! nggak bakal gue mau, lagian kalau ke rumah sakit Lo semua ini pasti bakalan kasih tahu istri sama orang tua gue, Lo mau kita semua kena ceramah mendadak? paling yang kuat dengar ceramah cuma dia doang," cerocos Raffan menunjuk Agam dengan dagu.
"Obatin buru," tambah Raffan dan selanjutnya mengulurkan tangannya untuk diberi obat merah.
"Ini kaki Lo mesti di urut Raf," cetus Gumay yang sedari tadi berjongkok memeriksa pergelangan kaki Raffan yang makin bengkak disertai dengan warna kebiruan.
Raffan membetulkan duduknya mencari posisi yang nyaman di tengah pinggangnya yang terasa semakin sakit.
"Cariin tukang urut lah," ujar Raffan.
"Lo ada kenalan tukang urut?" Gumay bertanya pada Gerry yang segera menggeleng.
"Nggak, tukang urut plus-plus gue tahu," sahut Rio yang langsung di lempar jaket oleh Gerry.
"Orang gila!" maki Gumay.
"Gue ada." Agam memberitahu seraya melihat pada Raffan dan itu malah membuat Raffan memicingkan mata curiga.
"Mau langsung gue panggil kesini?" tanya Agam mengangkat handphonenya.
"Ya udah cepetan suruh kesini," kata Gumay semangat, karena dia juga kasihan dengan Raffan yang sedari tadi meringis kesakitan.
Meski sering berdebat mereka tetaplah teman yang akan senantiasa membantu temannya di saat sedang dalam kesulitan seperti ini.
"Gue nggak percaya sama dia nih," kata Raffan curiga menunjuk Agam.
"Curigaan Mulu Lo!" omel Rio.
"Mukanya mencurigakan tahu nggak," jawab Raffan membela diri.
Agam tak mendengarkan lalu dengan konyolnya malah menunjukkan layar handphonenya kepada Raffan sambil berucap, "gue telepon ya sekarang," ucap Agam yang dalam sekejap membuat bola mata Raffan membesar hampir meloncat keluar.
__ADS_1
"Bapak gua! ambil handphonenya May!" seru Raffan kala menyadari siapa yang akan Agam hubungi.
Gumay pun dengan panik mengambil alih handphone Agam lalu segera menyerahkannya pada Raffan yang langsung memutuskan panggilan yang untungnya belum di jawab.
"Ngapain Ayah gue yang Lo telepon!" mencerca tingkah Agam.
"Kan Ayah Lo juga bisa ngurut Raf," jawab Agam tanpa rasa bersalah.
Ya kenyataannya memang benar kalau Ayah dari temannya itu bisa memperbaiki tulang yang geser atau terkilir, tidak salah kan kalau Agam menghubunginya kan mereka juga memang mencari orang yang bisa urut.
"Lah iya juga," kata Rio mengiyakan.
"Ya jangan bapak gue juga Agam!" sentak Raffan kesal.
"Kalau gitu gue aja dah yang urut," Gerry mencoba memberi solusi.
"Bisa tambah bengkak segede gajah kaki gue kalau Lo yang urut mah!" ketus Raffan menjauhkan kakinya dari jangkauan Gerry.
"Ah tahu ah, pusing gue sama Lo Raf, pulang aja dah sana Lo, susah banget diurusin nya." Gumay menjadi frustasi.
"Ngapain malah garuk-garuk kepala begitu?!" tanya Rio melihat Raffan yang sibuk menggaruk kepalanya sampai rambutnya berantakan.
"Gue takut pulang," tutur Raffan disertai dengan cengiran konyol.
"Astagaa." serempak Gumay dan Rio berucap sambil menepuk kening.
"Kalau gue pulang dalam keadaan begini si Deefa bakal marah terus ceramah sampai pagi, Lo sih enak nggak bakal dengar, lah telinga gue bisa berdengung panas," celetuk Raffan.
"Si berandal raja drama yang jago balapan malah takut pulang karena nggak mau diomelin sama istrinya, ini kocak sih," cetus Gumay malah mempertontonkan ekspresi yang menyebalkan.
"Bentar lagi tukang urutnya datang," kata Agam tiba-tiba, rupanya sejak tadi dia masih mencari tukang urut untuk Raffan.
"Bukan Ayah gue kan?" tanya Raffan waspada.
"Bukan."
"Terimakasih," kata Raffan yang meskipun masih kesal dengan Agam tapi tidak lupa untuk mengucapkan terimakasih nya karena temannya itu masih mau mencarikan tukang urut untuknya.
Sampai akhirnya tukang urut yang di tunggu pun tiba, seroang pria setengah tua yang datang di antar oleh tukang ojek langsung bertanya siapa yang harus dia urut.
Dan setelah itu terdengarlah teriakan-teriakan kesakitan yang keluar dari mulut Raffan manakala sedang di urut, menggambarkan betapa menyakitkannya dia saat ini membuat teman-temannya yang menyaksikan malah jadi merinding ngeri.
********
__ADS_1