
"Raisya siapa?"
Seketika Raffan menatap heran kenapa istrinya bisa menyebut nama Raisya? ini Raisya yang sama dengan yang ada dipikirannya atau sang istri menanyakan Raisya lain? di dunia ini tentu banyak orang yang memiliki nama Raisya bukan? tapi dari tatapan mata dan ekspresi yang istrinya tunjukkan jelas kalau Raisya yang sang istri maksud adalah Raisya yang juga dia kenal.
Raisya si anak hukum yang saat bertindak sama sekali seperti orang yang tidak kenal hukum.
"Raisya yang mana sayang?" tanya Raffan, bertanya saja dulu memastikan kalau apa yang dia pikirkan itu benar.
"Teman kampus kamu," jawab Deefa.
Raffan pun menghela napas panjang, benar kan dugaannya, Raisya si pembuat onar yang di maksud oleh istrinya, tapi tunggu dulu bagaimana istrinya itu bisa mengenal Raisya? dia tahu benar istrinya sangat jarang keluar rumah bergaul dengan tetangga sekitar pun hanya untuk urusan yang penting saja, semisal ada pengajian yang diadakan di salah satu rumah tetangga, istrinya akan dengan senang hati datang ketika di undang, dengan teman Raffan saja Deefa hanya mengenal Agam dan mungkin Gumay juga Rio karena sempat datang ke rumah, sedangkan Gerry Raffan tidak tahu.
"Kenapa memangnya dia, kamu ketemu dimana?" akhirnya Raffan balik bertanya seraya menarik kursi di sebelah Deefa yang sedari tadi memberikan tatapan yang sulit dia mengerti.
Tatapannya tidak teduh seperti yang semalam juga seperti biasanya, apa yang terjadi selama dia di tahan, dan apa yang tidak dia ketahui?
"Beberapa hari lalu dia datang ke rumah," jawab Deefa dengan intonasi suara yang tetap sama, santai tenang tanpa adanya gelombang tapi Raffan patut berhati-hati karena sesuatu yang terlihat tenang menyimpan gelombang ombak yang tak terkira, meski dia tahu bagaimana sifat dan sikap istrinya yang akan dengan baik mengendalikan gejolak perasaan yang mengganggu tapi istrinya itu tetaplah seorang wanita yang akan terganggu jika sudah menyangkut wanita lain, yah walaupun Raffan tidak ada hubungan dengan Raisya tapi tetap yang namanya cemburu akan selalu hadir dalam diri setiap manusia bernyawa.
Raffan mengerutkan kening lalu sesaat kemudian menautkan kedua alis serta mata yang sedikit menyipit mendengar penuturan dari wanita di depannya, dia yang tadinya masih berusaha menunjukkan wajah biasa pun malah berubah menjadi sedikit tegang, dia tahu benar bagaimana Raisya itu, wanita itu akan selalu nekat dan bertingkah tanpa otak mengikuti apa yang dia inginkan.
Wanita itu tidak ada kepentingan maupun urusan terhadap Deefa lalu buat apa Raisya datang ke rumahnya dan menemui istrinya? dengannya saja yang satu kampus tidak ada urusan mengingat jurusan mereka yang berbeda.
"Mas belum jawab, Raisya itu siapa," ulang Deefa sebab Raffan seperti mengabaikan pertanyaannya yang pertama.
"Teman kampus, eh bisa di bilang teman nggak kalau kami itu nggak akrab dan nggak kenal-kenal banget?" cetus Raffan.
Deefa mengedikkan bahu, "satu kelas?"
Raffan menggeleng, "malah beda jurusan dia kuliah hukum soalnya, dia ngapain datang ke sini?" kali ini Raffan yang mengulang pertanyaan.
Deefa diam seperti ada yang sedang dia pikirkan membuat Raffan mencolek dagunya seraya menggoda, "hei sayang kenapa malah diam, kalau nggak jawab juga nanti aku mainin disini," tuturnya dengan sebelah alis yang terangkat dan dimainkan.
__ADS_1
Deefa menggeleng-gelengkan kepala lalu hendak mencubit lengan sang pria yang dengan cepat mengelak membuatnya mengerucutkan bibir yang terlihat lucu.
"Jangan mancing-mancing, aku lagi tanya dan kamu belum jawab." Raffan yang gemas menepuk bibir Deefa dengan sangat lembut.
Deefa menghela napas lalu memegang kedua tangan sang suami dan menatap ke dalam manik mata suaminya.
"Dia bilang dia pacarnya Mas Raffan," tutur Deefa mengatakan apa yang Raisya katakan padanya.
"Hah?" mata Raffan membelalak dengan begitu lebar hampir saja bola mata itu keluar dari tempatnya kalau dia tidak buru-buru mengedipkan kelopak matanya.
"Bohong sayang, beneran aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia, anak kampus yang sempat aku pacaran itu cuma Fara itu juga udah aku putusin kan yang waktu kita di pondok pesantrennya Abah Burhan," kata Raffan mulai panik, dia takut istrinya itu malah percaya dengan pengakuan Raisya yang ngaco dan ngelantur tak ada kebenarannya sama sekali.
"Kalau nggak percaya kamu bisa tanya Agam atau Fara nya langsung deh."
Raffan akan pergi mengambil handphone yang dia tinggal di dalam kamar namun Deefa menghentikannya dengan cara menggenggam tangannya sangat erat.
"Apa menurut Mas Deefa ini percaya sama omongan wanita yang sama sekali tidak Deefa kenal?"
Deefa mengangguk, "karena itu artinya suami Deefa banyak yang suka, apa mulai sekarang Deefa harus menjaga suami Deefa? terlebih lagi penampilan wanita itu sangat seksi, setiap aurat yang seharusnya di tutup malah dengan sengaja dipamerkan, Deefa tidak mau suami Deefa melihatnya meski tanpa sengaja sekalipun," Deefa mengutarakan ketidaksukaan karena biar bagaimanapun dia tetaplah seorang manusia biasa yang juga punya rasa cemburu meskipun dia tidak akan menunjukkannya secara langsung, tapi dari setiap tutur katanya sudah jelas menggambarkan rasa cemburu yang dia miliki.
Raffan balik meremas jari-jemari sang istri lalu melayangkan tatapan dalam penuh makna, "sebisa mungkin aku akan menghindari sesuatu yang mendatangkan dosa, percaya sama aku ya," pinta Raffan dengan kesungguhan hati yang mendalam.
"Selama ini Deefa sudah sangat percaya sama Mas Raffan jadi tinggal Mas Raffan sendirilah yang akan menentukan untuk mau menjaga kepercayaan Deefa atau tidak," tukas Deefa membiarkan jemarinya berada di dalam tangan sang suami yang sekarang mengangguk lalu mengulas senyum.
"Insya Allah, aku akan selalu menjaga diriku dari hal-hal yang tidak baik, untuk kamu untuk Ayah dan ibu."
"Allah juga," Deefa menambahkan.
"Iya, juga untuk Allah pemilik segalanya," ucap Raffan lalu mengecup punggung tangan wanita yang perlahan membuatnya sadar bahwa hidup di dunia ini hanya sementara jadi janganlah berbuat yang sia-sia dan nantinya hanya akan membuat kerugian di akhirat kelak.
Raffan sungguh sangat bersyukur karena Allah begitu baik padanya, memberikan dia seorang istri yang sangat sabar dalam meladeni sikapnya yang kerap kali tidak beraturan, kerap kali membuat masalah, berbuat onar yang menyusahkan, mungkin jika bukan Deefa tidak akan ada wanita yang bisa mengendalikan dirinya meski kadang masih lepas kontrol juga tapi dengan Deefa dia tetap menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan dia berdoa semoga dia menjadi semakin baik lagi untuk segalanya.
__ADS_1
**********
"Lo mau kemana May?" tanya Gerry ketika melihat Gumay sedang memanaskan motor di depan bengkel.
Gumay terkesiap lalu bola matanya tampak bergerak-gerak tak jelas seperti sedang memikirkan jawaban.
"Jemput temen dulu," sahut Gumay akhirnya yang membuat Rio turut serta mengajukan pertanyaan.
"Temen? siapa? temen yang mana?" cerocos Rio dengan mata yang memicing tanda adanya kecurigaan yang terlihat, sampai hal itu membuat Gumay menggaruk belakang telinganya kebingungan mencari jawaban.
"Woi!" seru Rio tak sabar dan kesal.
"Ah udah lah gue udah terlambat," cetus Gumay yang langsung menaiki motornya dan melajukan kendaraan roda dua itu menjauh dari kedua temannya yang malah makin penasaran dengan tingkah lakunya.
Keduanya bisa melihat dengan jelas jika Gumay tengah menghindar karena bingung harus menjawab apa.
"Gumay mau kemana?" tanya Agam yang baru saja muncul dari dalam bengkel.
Rio dan Gerry kompak mengedikkan bahu sebab mereka juga tidak tahu temannya itu mau pergi kemana.
"Cuma bilang mau jemput temen katanya, tapi nggak tahu jemput darimana terus mau kemana, di tanya langsung kabur," terang Gerry lalu berjalan menuju motor yang terparkir di depan bengkel lalu mendorongnya untuk masuk ke area bengkel karena motor itu milik salah satu pelanggan bengkel dan akan dia service.
Sedangkan Rio mencebikkan bibir lalu menjauh dari Agam yang masih menatap kepergian Gumay.
Akhirnya Agam pun turut membantu Gerry membongkar motor, "Raffan nggak kesini?" tanya Agam tiba-tiba saat dia sedang menyerahkan kunci pada sang teman.
"Jangan tanyain Raffan sekarang mah Gam," celetuk Gerry.
"Iya, dua Minggu di tahan dan nggak ketemu sama istrinya Lo pikir setelah ketemu apa dia bisa keluar rumah? rasanya keluar dari kamar saja mustahil," kelakar Rio dengan cengiran yang di sambut timpukan oleh Gerry.
Rio pun mengatupkan mulutnya dan tidak lagi berani mengeluarkan suara, pria itu mendadak sangat sibuk dengan entah apa yang dia lakukan dengan sesekali melirik pada Agam yang tanpa ekspresi setelah mendengar apa yang dia lontarkan barusan, menurut Raffan, Deefa adalah istri tersabar yang melengkapi hidupnya.
__ADS_1
*******