Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Tangan Yang Bergetar


__ADS_3

"Lu ngapain sih?!" tanya Rio dengan nada yang kesal ketika melihat Gerry berjalan mondar-mandir tak jelas dengan handphone di tangannya.


Temannya itu memang begitu sibuk beberapa hari ini, bahkan kerap kali menghilang tanpa mengatakan apapun, seolah sedang melakukan sebuah misi rahasia yang tidak boleh diketahui oleh makhluk hidup manapun.


"Diam! gue lagi nggak bergairah untuk bercanda sama elo Rio Deriyansa!" peringat Gerry.


"Gue lagi nggak ngajak lu bercanda! gue mengajukan pertanyaan, otak lu itu di jegal Lionel Messi kayaknya terus di tendang sama Mesut Ozil jauh ke Antartika!" cerocos Rio dengan sengit.


"Lu pikir otak gue bola!" dengus Gerry tak terima dengan ucapan konyol tak masuk akal yang di paparkan oleh temannya itu.


"Gue ini lagi ada kerjaan," lanjut Gerry yang akhirnya memberitahu.


"Orang nggak waras mana yang sekurang kerjaan itu ngasih lu kerjaan?!" ini sindiran yang diselubungi oleh pertanyaan.


Gerry mencebikkan bibir, "yang jelas dari kerjaan ini gue dapet bayaran juga menyalurkan hobi secara bersamaan, dapat dua keuntungan kan gue," Gerry memainkan kedua alisnya dengan senyum kesombongan.


Rio memutar bola matanya, dia tahu benar hobi nya Gerry itu apa, merekam juga memfoto apapun yang dia lihat dan menurutnya menarik melalui kamera handphonenya.


Lalu pekerjaan apa yang temannya tengah jalani saat ini mengingat hobi yang Gerry gemari adalah merekam, jadi perekam video mesum kah? pengambil gambar setengah bugil kah? apa? Rio malah memicingkan mata penuh curiga.


"Lu jadi tukang rekam film biru ya?" Rio mengeluarkan pertanyaan yang berkutat di kepalanya.


"Bajingan! otak gue masih belum pindah sekalipun sudah di jegal Messi dan di tendang oleh Ozil!" omel Gerry tidak terima atas tudingan yang meluncur dengan sangat lancarnya dari mulut sang teman.


Rio mengedikkan bahunya, "siapa tahu aja kan lu tersesat," kata Rio tak acuh.


"Sialan, kalau gue sampai benar-benar tersesat lu orang pertama yang bakal gue bawa sesat!" oceh Gerry mendengus dongkol.


"Sekalian ajak Raffan sama Gumay," sahut Rio menyebutkan dua temannya yang nyatanya sudah tersesat lebih dulu.

__ADS_1


"Tuh dua orang udah tersesat dari lama, jadi nggak perlu di ajak."


"Tapi Raffan udah tobat kayaknya," timpal Rio yang seolah baru ingat banyak perubahan yang Raffan tunjukkan setelah menikah.


"Kalau gitu kita ajak Agam aja, dia kan alim banget tuh," kelakar Gerry.


"Nggak usah ajak si Agam, gue takut kalau dia tersesat malah lebih parah dari kita," papar Rio.


Dua orang itu tidak tahu kenapa malah membicarakan hal yang sangat dan teramat tidak penting untuk dibicarakan, siapapun yang mendengar mungkin akan dengan senang hati melemparkan barang apa saja agar dua teman itu bisa diam, menghentikan obrolan yang semakin tak karuan.


Geery berdecih lalu sudut bibirnya berkedut seperti ingin untuk mengeluarkan kembali cercaannya tapi harus gagal karena kedatangan teman mereka yang berjalan dengan kaki setengah pincang.


Gumay datang dengan wajah yang sumringah, terlihat berbeda sekali padahal luka di wajah dan bagian tubuhnya belum sembuh sempurna, ada apa gerangan?


Rio dan Gerry yang tadi sempat perang mulut pun saling pandang bahkan ketika Gumay sudah duduk di kursinya masih dengan bibir yang melengkung memamerkan senyuman yang luar biasa aneh.


"Kok lu udah ngampus?" Gerry melihat pada Gumay yang sedang menempatkan tas di dekat kakinya.


"Lu abis dapet warisan ya? berapa miliar?" Rio mencondongkan kan tubuhnya hingga begitu dekat dengan pria yang dia tanya.


"Nyokap bokap gue masih komplit! siapa yang mau kasih gue warisan!" semprot Gumay menatap sadis pada teman yang anehnya malah selalu saja bingung ketika melihat dia sedang dalam keadaan luar biasa baik seperti saat ini.


"Kali aja bokap lu abis jual salah satu rumahnya, ya Ger?" mengajak serta Gerry untuk menyetujui apa yang dia tanyakan.


"Lah tau," Gerry malah kurang ajarnya masa bodo dengan ucapan Rio.


"Sialan emang Lo" Rio memaki temannya yang sekarang sibuk lagi dengan handphone, entah siapa sebenarnya yang sudah memberikan pekerjaan pada temannya itu.


Gumay mendengus lalu matanya terlihat mencari-cari, "Raffan mana?" mencari teman yang sama gilanya dengan dia.

__ADS_1


"Masih di kampungnya Deefa kali, apa udah di Jakarta, semalam sih gue tanya dia ke Jakarta pagi-pagi," ujar Gerry tak jelas, sebenarnya dia mau mengatakan Raffan masih di kampung apa sudah di Jakarta.


"Jawaban lu ribet, bikin gue pusing," omel Gumay lalu mengeluarkan handphonenya menghubungi seseorang.


"Halo sayang, kamu udah sampai belum?" tanyanya pada orang yang dia telepon.


"Sayang?" mulut Gerry dan Rio melafalkan kata yang sama tanpa suara, mereka bingung siapa yang sekarang sedang di telepon oleh temannya itu dan di panggil sayang, Gumay sudah punya pacar kah?


Tidak mungkin kan kalau Gumay memanggil Ibunya apalagi Ayahnya dengan panggilan sayang? lalu siapa?


*****


Raffan menggerakkan kakinya keluar dari rumah sakit tempat dia dan Deefa memeriksakan diri beberapa hari lalu untuk mengambil dan mengetahui hasil pemeriksaan mereka berdua.


Tidak ada yang salah saat dia membaca hasil pemeriksaan dirinya, dokter bahkan menyatakan kalau dia sangat sehat dan bisa mempunyai keturunan yang banyak.


Tapi kesenangan Raffan langsung berubah jatuh ke titik paling dasar setelah mengetahui hasil pemeriksaan istrinya, dokter menjelaskan beberapa hal yang sangat membuatnya tidak kuasa membendung rasa sedih saat mendengar setiap penjelasan yang dokter terangkan.


"Ya Allah," Raffan berhenti di sebelah mobilnya berjongkok dengan dua lembar amplop berlogo rumah sakit yang berisi hasil pemeriksaan dia dan Deefa.


Pria itu meremas kertas dengan kedua tangannya hingga kertas itu tampak tidak lagi sempurna seperti pertama kali dia dapatkan tadi.


Raffan menyandarkan punggungnya pada pintu mobil dengan kepala yang tertunduk menatap aspal yang sekarang dia pijak.


Matanya sudah memerah dengan genangan air mata yang mendadak memaksa untuk keluar, dia saja menjadi tak karuan seperti ini, lalu bagaimana dengan Deefa nantinya? rasanya Raffan tidak akan pernah sanggup untuk memberitahukan hasil pemeriksaan ini kepada istrinya.


Wanita yang dia nikahi dan wanita yang baru saja kehilangan Ayahnya lalu sekarang harus mendapatkan ujian lagi, tidakkah itu akan makin membuat Deefa terpuruk? tangan Raffan yang tengah memegang kertas itu menjadi begitu gemetar, tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada istrinya apabila mengetahui kalau kemungkinan dia tidak akan bisa mengandung anak yang sekarang tengah menjadi tuntutan ibunya.


Raffan mengusap air mata yang dengan cepat jatuh dari kelopak matanya, menghapusnya tapi kesedihan yang dia rasakan malah makin membuat air mata itu enggan untuk berhenti keluar.

__ADS_1


******


__ADS_2