Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Mulai Rindu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali bahkan saat matahari belum sama sekali terlihat, bahkan setitik cahayanya pun belum nampak tapi wanita dengan gamis serta rambut yang tertutup kerudung itupun sudah sibuk membuka pintu jendela lalu setelahnya bergegas ke dapur menyalakan kompor kemudian merebus air untuk mengisi termos.


Rumah sederhana tentunya dengan peralatan rumah tangga yang juga sederhana namun tidak mengurangi rasa syukur mereka pada yang maha berkuasa atas alam semesta.


"Belum subuh kan Deef?" wanita tua yang baru saja keluar dari kamar bertanya bingung, dia takut bangun kesiangan melewatkan shalat subuh begitu melihat anaknya sudah sibuk berbenah rumah bahkan pintu dan jendela sudah terbuka.


"Belum Mak," jawab Deefa santai disertai senyuman, "Emak nggak kesiangan kok, cuma Deefa yang kepagian aja bangunnya," tambah Deefa.


"Kamu kepagian bangun apa memang tidak tidur semalaman?" tanya sang Ibu curiga.


Ini baru pukul 4 pagi bahkan masih kurang beberapa menit lagi tapi anaknya itu sudah berkegiatan di dalam rumah, apa saja dilakukan.


Deefa yang tadi sedang merapikan taplak meja menghentikan gerakan tangannya lalu duduk di bangku kayu, "sebenarnya tidak bisa tidur," akunya dengan wajah yang masih sangat alami sebab hanya baru di basuh dengan air saja, air sumur yang memang terasa sangat amat dingin kala di pagi hari seperti ini, biasanya siang hari juga terasa dingin tapi ketika malam ataupun pagi hari dinginnya semakin menjadi, menyegarkan sekaligus membuat menggigil jika nekat mandi saat matahari belum menampakkan diri.


"Mulai kangen suami sepertinya," tutur Ibunya seraya mengulas senyum.


"Yang namanya sudah memiliki pasangan, sudah berumah tangga wajar saja kalau kamu itu kangen Deef, makanya Emak bilang kamu pulang aja ke Jakarta nggak usah mikirin Emak disini, toh kamu cepat atau lambat kan Emak bakalan sendirian di rumah, malah kalau kamu lama disini nantinya ketika kamu balik ke Jakarta Emak akan ngerasa kesepian karena sudah terbiasa ada kamu, lagian kasihan Raffan sendirian nggak ada yang urus dia," cakap wanita yang duduk di samping sang anak.


Perkataan Ibunya memang benar, tapi dia masih merasa bimbang dan ragu namun disatu sisi dia memang mulai merindu pada pria yang sejak kemarin tidak memberinya kabar, tidak menghubungi walau hanya sekedar berkirim pesan.


"Tapi Mak.."


"Nggak usah tapi-tapi, nanti kamu telepon suamimu dan minta jemput atau kalau perlu sekarang kamu telepon dia," perintah sang ibu dengan raut wajah yang serius.


"Sudah adzan, sebaiknya shalat dulu," katanya lagi ketika mendengar suara adzan subuh sudah berkumandang.


Deefa mengangguk tapi tetap tidak bergerak sebab dia menunggu Ibunya dulu yang mengambil wudhu baru kemudian dia, mereka harus bergantian sebab hanya ada satu kamar mandi saja di rumah itu dan tempat air untuk mengambil wudhu juga hanya satu tidak mungkin kalau mereka berbarengan mengambil wudhu.


Sambil menunggu Deefa memikirkan perkataan ibunya, dia memang merindukan suaminya setelah berhari-hari tidak melihat dan menyentuh wajah tampan suaminya, sangat rindu.


Deefa baru bangkit dari duduknya ketika mendengar suara ketel air yang tadi dia masak sudah berbunyi tanda air sudah matang, berjalan ke dapur mematikan kompor lalu mengisi termos dengan air yang mendidih dan mengeluarkan uap panas di pagi hari yang sedikit membantu Deefa menghangatkan tubuhnya.


****


Raffan yang baru pulang saat menjelang subuh menatap rumah yang terasa begitu sepi, hening karena tidak ada yang menyambutnya pulang sekejap dia menghela napas panjang dan berat baru kemudian mengeluarkan kunci yang dia bawa lalu membuka pintu.


Di depannya hanya ada ruangan gelap tanpa penerangan, kemarin dia memang tidak sempat pulang untuk menyalakan lampu-lampu rumah karena begitu pulang dari kampus langsung menuju rumah orang tuanya.


Pria itu mencari tombol stop kontak untuk menyalakan lampu agar ruangan itu tidak seperti di dalam goa, gelap gulita.


Cetrek!


Ketika lampu menyala cahaya silaunya langsung menerpa kedua matanya yang membuat dia refleks memejamkan mata menghindari cahaya yang membuat penglihatannya jadi memudar dan pusing di bagian kepala.


Dia tidak tidur semalaman karena mengobrol dengan Agam, membicarakan masalah yang dia hadapi untunglah dia memiliki teman yang baik meski tidak bisa membantu tapi setidaknya dia menjadi sedikit lega dan mendapatkan pencerahan dari temannya itu.


Pria itu kembali menutup pintu lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum, tenggorokannya terasa sangat kering setelah berbicara semalaman.


Mengambil gelas lalu menuangkan air dari dalam botol yang dia ambil dari kulkas, air itu begitu dingin ketika sampai di tenggorokannya membuat dahaganya dalam sekejap terobati oleh air dingin itu.


Setelah selesai Raffan pun beranjak menuju kamar, samar-samar dia mendengar suara adzan yang memanggilnya untuk segera shalat, melakukan ibadah wajib sekaligus dia bisa kembali berdoa lalu mencurahkan segala perasaannya seperti yang sudah Agam katakan.


Terima yang sudah terjadi, ikhlaskan apa yang tidak bisa diubah lalu betulkan apa yang masih bisa diperbaiki.


Maksudnya adalah selain berpasrah tapi Raffan harus tetap berusaha untuk memperbaiki, berharap bahwa hasil pemeriksaan adalah kesalahan dari manusia dan kalaupun itu benar lalu sudah menjadi suratan takdirnya bersama Deefa dia hanya ingin memperbaiki dirinya sambil memohon kepada Allah agar mau membukakan pintu hati sang ibu agar ikhlas dan tidak memaksanya untuk menikah apalagi menceraikan Deefa.


Langsung mengambil wudhu dan menjalankan kewajibannya sebagai umat beragama, umat manusia tanda baktinya kepada sang pencipta yang sudah bermurah hati masih mau membiarkannya bernapas sampai hari ini.

__ADS_1


Selesai shalat Raffan langsung berdoa dan mengadu pada Tuhannya lalu selepas itu mengambil Al-Quran di atas meja, Al-Quran yang biasa Deefa baca lalu membacanya dengan sangat khusyuk.


Suaranya terdengar begitu merdu dan meneduhkan siapa saja yang mendengar untaian kalimat-kalimat suci dari bibirnya yang bergerak, Alhamdulillah Raffan Alawi sudah menjadi pribadi yang lebih baik lagi semakin harinya, Allah telah mengirimkan seorang wanita yang mampu mengubahnya.


****


Siang hari saat matahari bersinar terlalu terik dan membuat cuaca terasa sangat panas dari biasanya Deefa yang kegerahan keluar dari dalam rumah dan duduk di teras, menghirup udara dan menunggu angin yang menjadi sangat langka di hari itu.


Wanita itu mengibas-ngibaskan tangannya untuk membantunya mengusir rasa panas yang seperti melingkari seluruh tubuhnya.


"Kamu sudah telepon Raffan buat jemput?" tanya sang ibu yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah membawa sepiring kue dan segelas teh yang masih mengeluarkan asap.


"Belum Mak, itu kenapa panas-panas begini malah bikin teh panas Mak?" Deefa terlihat menatap segelas teh panas yang ibunya baru saja letakkan di depannya.


"Mau bikin pakai air es kan kita nggak punya kulkas," jawab sang ibu seraya tersenyum kecil.


Yah mereka memang tidak memiliki barang-barang seperti itu harganya tentu terbilang mahal untuknya yang hanya seorang petani saja, lagipula listrik mereka ini hanya 450 watt saja tentu tidak akan kuat kalau harus menambah kulkas lagi, bisa-bisa jepret setiap saat.


"Emak mau punya kulkas?" tiba-tiba Deefa menawarkan.



"Buat apa?" malah balik bertanya seiring dengan kerutan di dahinya yang makin berlipat-lipat.



"Ya buat bikin es, buat nyimpen-nyimpen sayuran biar lebih awet," kata Deefa memberitahu.



"Memang kamu punya uang? pakai nawarin kulkas segala."




"Ih dasar, dikirain Emak mah nawarin kulkas kamu tuh punya uang, lah tahunya uang Raffan," celetuk wanita yang mengunyah kue basah yang tadi Deefa beli di pasar.



"Ya kan uang Mas Raffan uang Deefa juga," sahut Deefa.



"Iya memang tapi uang itu untuk kebutuhan rumah tangga kalian, kebutuhan pribadi kamu kalaupun kamu ingin memberikannya kepada Emak atas seijin suami kamu dulu, jangan asal memberi tanpa sepengetahuan suami," papar sang ibu memberi nasihat.



"Iya Mak, Deefa ngerti," ucap Deefa.



"Nanti Deefa ijin sama Mas Raffan ya Mak," tambahnya lagi.



"Ah tidak perlu lah Deef, toh daya listriknya ini juga kecil banget, nanti malah jeprat-jepret terus gara-gara kulkas," tolak sang ibu beralasan.

__ADS_1



"Ya nanti sekalian buat tambah daya juga, udah deh Emak nggak usah mikirin yang gituan, biar Deefa ngomong sama Mas Raffan nanti," Deefa terus memaksakan apa yang dia inginkan, dia itu bermaksud untuk menyenangkan orang tua yang hanya tinggal seorang saja, jika bukan sekarang lalu kapan lagi? mengingat dia sejak kecil pun dia tinggal di pesantren jelas masa kecilnya dia tidak sempat membantu orang tuanya.



Sang ibu mengedikkan bahu, "terserah kamu aja deh, ibu tuh kadang pusing sama kamu, keras kepala banget," geleng-geleng kepala mengingat sifat anaknya yang kadang kalau sudah memiliki keinginan akan sangat sulit untuk di larang, tapi untungnya keinginannya itu tidak pernah berlawanan dengan agama, meski sejak kecil tidak tinggal dengannya tapi dia rutin mengunjungi sang anak di pesantren hingga diapun tahu sifat-sifat anaknya itu.



"Tapi Deefa sering ngalah sama Mas Raffan," katanya, entahlah wanita ini sedang mengadu pada ibunya atau hanya sekedar memberitahu.



"Usia kamu lebih matang darinya Deef, tidak mengapa kamu mengalah selama suami kamu tidak melakukan hal yang keterlaluan," jelas ibunya mengelus tangan anak satu-satunya.



"Oh iya, kamu kenapa belum kasih tahu Raffan? kan katanya kamu mau pulang besok? udah kangen berat kan." godaan lantas terucap dari bibir sang ibu yang membuat Deefa merunduk malu dengan pipi yang berubah semerah tomat.



"Deefa kayaknya mau kasih kejutan buat Mas Raffan," aku Deefa membuat sang ibu mengernyit.



"Kejutan apa?"



"Deefa mau berangkat sendiri aja besok nggak minta di jemput sama Mas Raffan," jelasnya yang serta-merta membuat wanita di sampingnya sedikit tersentak kaget.



"Kamu mau ke Jakarta sendiri? sendirian Deefa?" menanyakan hal yang sama berulang.



Anak yang dia tanya pun menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaannya.



"Ngeri Deefa, jangan ah Emak nggak ijinin," langsung menolak mentah-mentah perkataan sang anak.


Jawa timur ke Jakarta itu bukan jarak yang dekat, akan memakan waktu berjam-jam lamanya dan dia khawatir akan keselamatan Deefa nantinya.


Mendengar penolakan dari ibunya Deefa pun mencoba membujuk, meyakinkan wanita yang wajahnya berubah menjadi sedikit tegang kala mengetahui sang anak akan pulang ke Jakarta seorang diri saja.



"Suami kamu pasti marah kalau kamu pulang sendirian Deef, lagian diakan udah bilang kalau kamu mau pulang ya tinggal telepon nanti dia jemput," protes sang ibu kepada anaknya yang mulai menunjukkan keras kepalanya lagi.



"Mas Raffan sibuk Mak, tugas kampusnya lagi banyak soalnya kan waktu itu banyak libur."


Sang ibu menghela napas lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak tahu harus berkata apa lagi agar sang anak mendengarkan dan menuruti perkataannya.

__ADS_1


****


__ADS_2