
Pagi hari suara ketukan di pintu rumah membuat Deefa yang sedang sibuk memasak di dapur harus meninggalkan sejenak kegiatannya untuk membukakan pintu pada tamu yang Deefa dengar tidak mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam," ucap Deefa pada dua pria yang berdiri di depan pintu dengan sedikit canggung.
"Assalamualaikum," kata dua pria itu berbarengan merasa tersindir dengan jawaban salam yang Deefa ucapkan padahal mereka tidak mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam," sahut Deefa dengan suara yang lembut.
Di depannya sudah ada dua orang pria yang wajahnya tidak asing baginya, wajah ini pernah dia lihat di saat dia menyusul suaminya ke bengkel.
"Siapa sayang?" tanya Raffan yang baru saja turun dari anak tangga terakhir dengan rambut yang basah, sepertinya panggilan sayang sudah melekat erat di lidah Raffan hingga selalu mengeluarkan panggilan itu hampir setiap saat.
Deefa menyingkir memperlihatkan dua orang pria yang sedang menunjukkan cengiran tanpa dosa, cengiran yang seperti sedang memikirkan hal-hal tidak berguna begitu melihat penampilan Raffan yang begitu segar.
"Ngapain lo berdua kesini?" tanyanya ketus, seakan tidak suka kedua temannya itu datang.
"Lah kan Lo semalam yang suruh kita datang Raf," celetuk Gumay tidak terima dengan pertanyaan Raffan.
Mereka tidak akan datang ke rumah Raffan jika memang tidak di suruh, apalagi sekarang Raffan sudah mempunyai istri, mereka tidak bisa sembarangan muncul tiba-tiba tanpa tahu waktu.
Sebagai teman mereka juga cukup tahu diri untuk tidak mengganggu privasi temannya itu.
"Ya jangan jam segini juga, kan bisa nanti siangan atau nggak sore," jawab Raffan seenaknya dan sesuka hati.
"Lah terus ini gimana sekarang?" tanya Rio saling berpandangan dengan Gumay yang juga menunjukkan pertanyaan lewat raut wajahnya.
"Ya udah pulang saja sana, nanti sore baru balik lagi." mengusir dua temannya itu yang langsung mendelik.
"Mas!"
Sepertinya Raffan lupa kalau di sampingnya saat ini ada sang istri yang tentunya tidak akan senang dengan sikap keterlaluan nya itu sekalipun dia dan teman-temannya itu sudah sangat terbiasa dengan sikap mereka masing-masing.
Raffan lalu mengumbar cengiran pada sang istri yang menggeleng kepala tanda tidak suka dengan apa yang suaminya tadi lakukan.
"Ada tamu sebaiknya suruh masuk, bukan malah mengusirnya lalu memintanya balik lagi, memuliakan tamu dan melayani tamu maka.."
"Iya iya Deefa, mereka aku suruh masuk kalau begitu." langsung menyela pernyataan istrinya karena dia tahu yang akan keluar dari mulut Deefa tentu akan panjang sepanjang biasanya saat sedang menceramahi dirinya.
__ADS_1
"Silahkan masuk," kata Deefa lalu menyingkir dari pintu.
"Masuk lo berdua, ngapain masih bengong disitu!" cerocos Raffan kala Rio dan Gumay malah bagaikan dua patung selamat datang yang berdiri di kiri kanan pintu.
Gumay dan Rio pun lantas segara masuk dengan tampang songong nya yang memiliki makna kalau mereka akhirnya bisa menang dari Raffan dan bisa membuat Raffan tidak berkutik.
Sungguh mereka puas kala ada seseorang yang akhirnya bisa mengendalikan Raffan.
Dulu, bahkan orang tua Raffan pun seperti tidak bisa mengendalikan Raffan, tapi sekarang wanita berpenampilan tertutup itu sangat dengan mudah menundukkan Raffan bahkan hanya dengan kata-katanya saja.
"Nggak usah sok menang Lo ya berdua, gue nurut karena nggak mau sarapan cemarah!" sungut Raffan memperingatkan dua temannya yang melenggang dengan santai menuju ruang tamu.
Keduanya lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa empuk yang terlihat masih sangat baru.
"Sofa baru nih?" tanya Gumay.
Dulu dia memang sering main ke rumah lama Raffan sampai akhirnya memilih pindah, dan sekarang rumah ini kembali di huni oleh Raffan tapi tidak lagi dengan orang tuanya melainkan dengan istrinya.
"Ya iyalah, pengantin baru semua harus serba baru," timpal Rio menatap sekeliling ruangan tempatnya berada saat ini.
"Oh iya, Lo ngapain suruh kita ke sini?" Gumay menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar, melihat penuh tanya pada Raffan.
"Bantuin gue pindahin lemari," sahut Raffan menaikkan kedua alisnya dengan lengkungan di dua bibirnya yang rapat, senyum menyebalkan yang terpampang nyata.
"Sialan, tahu gitu gue ogah datang!" sentak Gumay mengetahui kalau sebentar lagi tenaganya akan terpakai.
"Kata istri gue membantu sesama itu.."
"Nggak usah ceramah!" hardik Rio dan Gumay bersamaan.
Bisa-bisanya Raffan yang tidak suka diceramahi malah akan menceramahi mereka berdua.
Raffan mengedikkan bahu dan bibir yang mencebikkan lalu bertepuk tangan, "ayo sekarang kita mulai angkat-angkat nya," putus Raffan tidak menghiraukan protesan yang Rio dan Gumay lontarkan.
Memaksa kedua temannya untuk segera membantunya mengangkat lemari yang ada di kamar Deefa, memindahkannya ke kamar miliknya yang ada di lantai atas.
Rio dan Gumay dengan sangat malas terpaksa untuk menurut, dengan mulut yang terus menggerutu keduanya pun beranjak tadi duduknya.
__ADS_1
"Loh mau kemana Mas?" tanya Deefa yang datang membawa minuman untuk teman serta suaminya.
Melihat kedatangan Deefa Gumay dan juga Rio seolah mendapatkan penyelamat yang akan menyelamatkan mereka dari perbudakan yang akan Raffan lakukan.
Raffan gegas merangsek pada sang istri, memeluk tubuhnya dari belakang saat Deefa tengah menurunkan gelas-gelas berisi minuman.
"Mereka mau bantu aku pindahin lemari sayang, kan tadi malam sudah bilang sama kamu," kata Raffan dengan intonasi di sangat manja, tak peduli kalau saat ini dua temannya akan mencibir jijik melihat tingkahnya itu.
"Harus sekarang?" tanya Deefa mencoba melepaskan pelukan sang suami.
Merasa risih dengan sikap suaminya itu, meskipun mereka suami istri, akan tetapi sangat tidak baik dengan sengaja mempertontonkan kemesraan mereka di depan orang lain, apalagi ini adalah teman-teman suaminya.
"Ya sekarang, kalau nggak sekarang malah nggak di kerjain nantinya," kata Raffan melihat sinis pada Gumay dan Rio yang membalas tatapannya.
"Mereka baru saja datang belum juga minum masa udah langsung di suruh bantuin kamu, tidak baik seperti itu Mas," tutur Deefa yang sontak membuat dua teman suaminya itu menyunggingkan senyum.
Sebentar lagi mereka yakin Raffan akan kalah dan menurut pada istrinya itu, membiarkan mereka bersantai lebih dulu dan yang mereka nantikan akhirnya pun menjadi nyata.
Raffan dengan raut wajah kesal dan sedikit tidak terima akhirnya memilih mengikuti perkataan sang istri, menyuruh kedua temannya itu untuk kembali duduk dan menikmati minuman yang sudah Deefa buatkan, bahkan sekarang Deefa meminta mereka untuk makan bersama karena memang kebetulan dia baru saja selesai masak.
Bisa di bayangkan seperti apa ekspresi wajah Raffan saat ini kala dua temannya malah dengan lahap makan di rumahnya sepuas hati memakan masakan istrinya yang sedari tadi menjadi penyelamat mereka.
*********
__ADS_1