Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Sudah Ada Tanda Belum?


__ADS_3

Hari ini Raffan dan Deefa berniat untuk pergi menginap di rumah Ayah dan Ibu, setelah keluar dari penjara Raffan memang belum menemui kedua orang tuanya bahkan masuk kampus pun dia seperti sangat enggan, jika dihitung hanya awal-awal kuliah saja pria berandal itu rajin ke kampus tapi semakin kesini semakin jarang dan sangat tidak berselera.


"Mas tidak pergi ke kampus lagi?" tanya Deefa untuk yang kedua kalinya di hari yang sama.


Tadi selepas sholat subuh diapun menanyakan hal itu tapi di jawab gelengan kepala oleh Raffan yang sedang tertelungkup di atas tempat tidur sambil memainkan game andalannya di handphone dari selesai sholat subuh.


Dan sekarang ketika jarum jam sudah sampai di angka 7 kurang Deefa kembali menanyakan hal yang tetap sama dan mendapatkan gelengan yang sama juga.


"Kalau Mas bolos terus kapan jadi sarjananya." sepertinya Deefa mulai gemas terhadap sang suami yang sangat santai menghadapi kuliah.


"Ya kapan-kapan kalau udah waktunya," sahut Raffan asal dan sangat cuek saat menjawab.


Sungguh itu jawaban yang pertama kalinya membuat Deefa gemas terhadap sang suami, selama ini sekalipun Raffan kerap kali berulah tapi rasanya baru hari ini Deefa gemas yang bukan kepalang terasa ingin menarik telinganya tapi masih berusaha dia tahan tidak ingin durhaka pada suaminya.


"Mas Raffan." Deefa masih tetap mempertahankan intonasi suaranya.


"Deefa." dan Raffan dengan konyolnya malah balik memanggil.


"Mas Raffan."


"Deefa."


"Mas Raffan."


"Deefa."


Deefa menghela napas kala Raffan malah membalas setiap panggilannya dengan raut wajah datar dan fokus pada layar handphone.


"Mas Raffaaaannnn!" seru Deefa yang telah kehilangan separuh kesabarannya.


Mendengar itu Raffan pun meletakkan handphone lalu berbalik guna menatap sang istri, "Iyaaaaa saayaaaaaang," katanya tak mau kalah dengan sang istri.


"Pergi ke kampus," kata Deefa dengan suara yang kembali berubah lembut dan tatapan mata yang teduh.


Raffan menarik napas lalu membangunkan tubuhnya menurunkan kedua kaki dari tempat tidur yang sejak sholat subuh tadi terus menempel pada tubuhnya.


"Pergi ke kampus doang kan? ya udah aku ke kampus sekarang," tutur Raffan.


Deefa mengernyit mendengar penuturan dari sang suami, sedikit curiga tapi tetap berusaha untuk berpikir positif.


Raffan menuju kamar mandi sedangkan Deefa beranjak ke arah lemari mengeluarkan pakaian untuk di pakai oleh suaminya.


Selesai berpakaian dengan membawa handphone serta kunci mobil, pria itu turun ke lantai bawah dan langsung menyusul istrinya yang sedang menata makanan di meja.


"Aku langsung berangkat aja," kata Raffan pada sang istri seolah mengisyaratkan bahwa dia tidak perlu sarapan lebih dulu.


Deefa menghentikan gerakan tangannya kemudian menatap pada pria yang benar-benar hanya berdiri di ambang pintu saja.


"Salim sini," kata Raffan mengulurkan tangannya kepada wanita yang perlahan melangkah.


Deefa pun meraih telapak tangan suaminya lalu mengecupnya sebagai tanda hormatnya terhadap pria yang menjadi suaminya, pria yang menjadi imam serta kepala keluarga dalam rumah tangga, meski lebih muda tapi kedudukannya tetap diatasnya.


"Assalamualaikum."



"Wa'alaikumsalam."


Deefa mengiringi kepergian sang suami dengan tatapan dan raut wajah tidak yakin.


******


"Ini kampus tempat orang belajar bukan tempat gosip!"


Obrolan dua gadis itu terhenti dalam sekejap ketika Gerry tiba-tiba berdiri di depan mereka, entah sejak kapan munculnya.


"Kayak setan Lo ah, tahu-tahu nongol," kata gadis berbaju hitam dengan nada sengit.


"Elo berdua biang setan," balas Gerry lalu dengan tanpa bersalah melenggang pergi dari hadapan dua gadis yang menyorotnya dengan tajam laksana busur panah yang siap untuk meluncur menembus punggung belakangnya.


"Masih pagi udah sibuk gosip aja, nggak ada kegiatan yang lebih berguna apa!" sungut Gerry seraya menderapkan langkah menuju kelas dimana pasti sudah ada Agam di sana.


Agam memang selalu yang paling rajin diantara teman-temannya yang lain dan Raffan adalah yang paling malas akhir-akhir ini, entahlah dalam satu bulan ini Raffan banyak sekali tak masuknya.


Gumay baru saja memarkirkan motor besarnya berjejer rapi dengan kendaraan roda dua lainnya, membuka helm full face yang langsung memamerkan wajah tak bersahabat.


Kejadian kemarin malam membuat dia dongkol, jauh-jauh datang bahkan sampai bohong pada temannya eh yang mau didatangi malah sudah pergi dengan orang lain.

__ADS_1


Dia yang sedang tidak beruntung atau memang selalu dikelilingi oleh nasib sial.


Gumay berjalan lesu dengan rambut yang acak-acakan setelah memakai helm seolah hasrat untuk merapikan rambutnya itu tidak ada sama sekali, dia sungguh tidak ada gairah untuk melakukan apapun tapi kalau kewajibannya untuk datang ke kampus tidak akan dia lupakan.


Dia melangkah dengan lunglai seakan tulang kakinya berubah menjadi agar-agar empuk dan kenyal tapi tidak akan kuat jika untuk menyanggah, seperti itulah kakinya saat ini terlihat begitu susah payah hanya untuk menopang tubuhnya sendiri.


"Woi!"


"Sialan, kaget gue!" hardik Gumay ketika tidak menyadari keberadaan Raffan yang sudah ada di belakangnya, entah dari kapan yang jelas Gumay di buat terjengkit karena terguran sang teman yang baru terlihat setelah sekian purnama tak muncul di kampus.


Yang diomelin malah nyengir tanpa dosa, "lemas banget Lo, nyawa Lo ilang setengah?" tanya Raffan dengan alis yang naik turun layaknya ombak di lautan.


"Berisik ah," ketus Gumay yang sepertinya sedang tidak berselera untuk menanggapi celotehan dari si raja drama.


"Tumben nggak ada gairah hidup, bosan hidup kah?"


Jangan kira kalau Raffan akan langsung diam melihat respon dari temannya, sungguh dia tidak akan melakukan hal itu dan malah akan melakukan yang sebaliknya, segala perkataan apapun malah akan semakin lancar keluar dari mulutnya.


"Lo belum sarapan? ke kantin aja yuk gua traktir," ajak Raffan yang disambut gelengan kepala.


"Apa mau main basket aja? udah lama nggak basket nih," kata Raffan lagi seraya mengikuti langkah sang teman yang begitu lambat.


Gumay menghela napas menunjukkan kalau dia sudah mulai kesal dan akan marah kepada temannya itu.


Melihat itu Raffan pun menghentikan langkahnya lalu perlahan bergerak mundur seraya mengangkat kedua tangan.


"Gue pulang kalau gitu, bye!" tutur Raffan lalu bergegas lari secepat angin menjauh dari Gumay yang mendengus sesaat baru kemudian tersadar kalau Raffan pergi menjauh dari kelas.


"Dia bukannya mau kuliah?" Gumay menggumam sendiri kala melihat Raffan malah mengarah keluar kampus.


"Nggak waras emang tuh anak," katanya dengan kepala yang menggeleng melihat kelakuan anak dari seorang ustadz.


Raffan kembali menaiki mobilnya yang memang hanya dia parkir di depan gerbang kampus, sengaja tidak dimasukkan karena memang dia tidak ingin kuliah, lihat saja dia bahkan tidak membawa tas punggung yang biasa dia pakai untuk membawa peralatan kuliahnya.


Deefa menarik napas panjang begitu mendengar suara mobil suaminya yang kembali masuk ke dalam halaman rumah setelah pergi kurang dari satu jam.



Benar sudah apa yang sempat dia pikirkan tadi, kecurigaan yang sangat jelas tapi dia masih berusaha untuk berpikir positif namun pikiran positifnya itu malah dipatahkan oleh suaminya.




Dengan wajah sumringah serta senyum yang menghias di bibirnya Raffan masuk ke dalam rumah menghampiri sang istri.



"Wa'alaikumsalam," sahut Deefa mencium punggung tangan suaminya yang sedang bertingkah konyol.



"Mas tidak ke kampus?" tanya Deefa kepada sang suami yang melenggang ke arah meja makan.



"Ke kampus, aku nggak mungkin bohong Deef, dosa," celetuk Raffan yang sudah akan menyendok nasi tapi kemudian terhenti, dia harus mencuci tangan lebih dulu dan langsung bergegas menuju wastafel membuka keran lalu mencuci kedua tangannya.



"Tidak kuliah? kenapa cepat sekali?" tanya Deefa dengan nada menuntut penjelasan.



Raffan yang selesai mencuci tangan pun kembali ke meja makan lalu duduk dan sekarang menatap wanita yang berdiri di sampingnya.



"Kan aku bilang mau ke kampus bukan mau kuliah, lagian kamu juga tadi cuma suruh buat pergi ke kampus doang nggak nyuruh aku buat kuliah."



"Astaghfirullahaladzim."



Deefa beristighfar seraya mengelus dadanya mendengar jawaban dari pria yang kini sudah sibuk mengambil nasi serta lauk yang tadi sudah Deefa masak.

__ADS_1



Pantaslah kalau tadi Raffan menolak untuk sarapan rupanya memang sudah berniat pulang kembali.



"Makan sayang," kata Raffan menarik tangan sang istri yang sedang sangat gemas luar biasa dengan sikapnya.


******


Sore hari Raffan dan Deefa sudah dalam perjalan ke rumah Ustadz Imran dan istrinya, hari ini niatnya mereka akan menginap di sana karena semenjak menikah Deefa hanya menginap beberapa kali saja di ruang mertuanya itu, dan sekarang ada kesempatan juga Raffan tidak lagi banyak alasan seperti yang sudah-sudah.



Mobil menunggu pagar rumah di buka oleh penjaga rumah.



"Nanti jangan ngadu sama Ayah dan Ibu ya kalau aku nggak kuliah-kuliah," pinta Raffan pada sang istri.



Ternyata pria itu masih punya rasa takut juga kepada orang tuanya, Deefa pikir rasa takut itu sudah tergerus habis oleh segala tindak-tanduk nyeleneh suaminya.



Mendengar itu Deefa hanya mengangguk perlahan berbarengan dengan mobil yang langsung bergerak masuk ketika pagar di buka dengan lebar.



"Assalamualaikum." mengucap salam dengan kompak pada sang penghuni rumah.



"Wa'alaikumsalam."


Terdengar jawaban dari arah dalam yang Deefa kenal itu adalah suara dari ibu mertuanya.


Pintu pun terbuka dan Raffan serta Deefa bergantian mengecup punggung tangan sang ibu yang mengulas senyum bahagia menyambut kedatangan anak dan menantunya.


"Ini buat ibu dan Ayah," kata Deefa memberikan kantong berisi makanan yang tadi sempat mereka beli saat berangkat untuk buah tangan.



"Terimakasih nak, lain kali tidak usah bawa apa-apa takut merepotkan, cukup kalian saja yang datang sudah membuat Ayah dan ibu senang," tutur wanita yang tadi sedang memasak untuk makan malam.



"Tidak ada yang direpotkan Bu, ini salah satu adab ketika anak datang berkunjung ke rumah orang tua apalagi kami akan menginap."



"Nah rasakan itu, salah sendiri memilih menantu yang lulusan pesantren," gumam Raffan melihat interaksi ibu dan istrinya, diapun memilih untuk pergi menjauh daripada harus mendengarkan pembicaraan kedua wanita itu.



"Ayah mana Bu?" tanya Raffan ketika tidak mendapati sang Ayah di rumah.



"Pergi ke masjid mungkin sekalian sholat Maghrib nanti habis Maghrib baru pulang," jawab sang ibu ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, menandakan bahwa sebentar lagi pun akan adzan Maghrib.



"Raffan juga mau ke masjid deh," katanya lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya untuk mengganti celana dengan kain sarung sedangkan kaos dia ganti dengan baju Koko berwarna putih.



Pria itu pergi ke masjid sedangkan Deefa dan ibunya sholat Maghrib di rumah.



Kedua wanita yang baru saja selesai sholat pun duduk di ruang tengah menunggu para suami pulang dari masjid.



"Sudah ada tanda belum?"

__ADS_1



\*\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2