Si Berandal Menikah??

Si Berandal Menikah??
Serangan Fajar!


__ADS_3

"Bibirmu kenapa Deef?" tanya Salimah ketika memperhatikan bibir Deefa sangat berbeda dari biasanya, lebih tebal dan juga.. ada sedikit tanda kebiruan seperti terkena gigitan.


"Serangan fajar!" celetuk Raffan yang baru saja memasukkan koper milik Deefa ke dalam mobil.


Pagi ini pasangan suami istri itu akan kembali ke Jakarta tapi sebelumnya mereka akan terlebih dulu mampir ke rumah orang tua kandung Deefa yang jaraknya tidak terlalu jauh, namun mereka akan sekalian jalan jadi tidak perlu bolak-balik.


"Serangan fajar? udah macam kampanye aja," cetus Salimah.


"Iya, kampanye terselubung," sahut Raffan lagi seraya menyeringai pada istrinya.


Sedangkan Deefa menunduk sambil mengatupkan bibirnya yang menjadi bahan perbincangan antara Salimah dan Raffan, jawaban nyeleneh suaminya benar-benar ngelantur, padahal pria itulah sang pelaku penyerangan fajar di pagi buta saat adzan subuh berkumandang, meski hanya sekedar menyerang bagian atas saja tapi nyatanya perbuatan Raffan itu malah mengundang rasa ingin tahu Salimah.


Salimah menggeleng-gelengkan kepala dengan jawaban-jawaban asal yang Raffan lontarkan, sungguh ternyata Raffan memang pria yang terkadang di luar nalar.


Hingga akhirnya sekarang Deefa dan Raffan berangkat menuju rumah Emak dan Bapak Deefa yang memang sudah menunggu kedatangan keduanya, kedua orang tua itu sudah tahu kalau hari ini anaknya itu akan di bawa pulang kembali ke Jakarta oleh sang menantu.


Meski sebenarnya berat hati mengingat kejadian satu minggu yang lalu saat dimana kisruh rumah tangga anaknya itu terjadi, yah sudah teratasi memang tapi sebagai orang tua tidak memungkiri kalau ada rasa was-was yang masih menyisa dan mengusik.


"Nanti kita ke hotel dulu ya, nginep semalam," kata Raffan di tengah perjalanan menuju rumah sang mertua.


"Hotel?" tanya Deefa dengan mata yang membola lalu mengerjap.


"Iya hotel, istirahat sebentar badan rasanya pegal-pegal," celetuk Raffan tanpa menoleh.


"Mas mau di pijit?"


"Nah itu paham," sontak melebarkan senyuman dengan alis yang naik turun.


"Pegal banget memangnya?"


"Iyaa Deefa, pegal makanya minta pijit, ini udah nggak tahan sebenarnya." mulai gemas dengan pertanyaan tak penting dari sang istri.


Yang namanya pegal mau pegal bangat ataupun tidak kalau dirinya mau di pijit memangnya kenapa? tidak ada yang salah kan? toh dia minta pijit pada istrinya bukan pada orang lain apalagi jasa pijit plus-plus yang sering dia dengar dari teman-teman nongkrongnya.


Untung saja meskipun bangor badung berandalan dia tetap sadar diri dan tidak ikut-ikutan dengan yang dilakukan oleh teman-temannya itu, bisa mati dia di tombak oleh Ayahnya.


Dulu saja dia habis-habisan di pukuli oleh Ayahnya itu karena terlibat tawuran dan masuk penjara meski hanya tiga hari, untungnya Ayahnya masih mau mencarikan pengacara untuk membelanya.


"Kenapa tadi nggak ngomong kan biar Deefa pijit dulu sebelum berangkat," kata Deefa dengan wajah yang tulus dan khawatir, takut suaminya itu kecapean.


"Kalau pijit di rumah Abah malah nggak bisa bebas takutnya nanti mereka terganggu sama suara teriakan.." Raffan menghentikan perkataannya seperti memang sengaja tidak menyelesaikannya.

__ADS_1


"Kalau begitu nanti di rumah Bapak aja Deefa pijit."


Menurut Deefa, pijit ya pijit memangnya apa lagi? pikirannya tidak pernah memikirkan hal se negatif itu, apalagi dalam konotasi sensitif dan pribadi.


"Astaghfirullahaladzim," Raffan menghela napas lalu memijit pangkal hidungnya.


"Usia 25tahun tapi kenapa malah pinteran gue," batin Raffan bertanya-tanya tentang kepolosan istrinya yang nyatanya tidak paham dengan apa yang dia maksud sejak tadi.


*******


"Raffan nggak kuliah lagi?" tanya Rio pada Gumay yang begitu menikmati bakmie dengan saos yang begitu dominan.


Saat ini mereka tengah berada di kantin kampus menikmati makan siang mumpung dosen mereka belum datang.


Gumay menelan dulu mie yang sudah dia kunyah, "kan kemarin malam dia bilang mau jemput istrinya."


Brak!


Baru saja Gumay selesai bicara mejanya malah sudah di gebrak oleh wanita yang sejak tadi mendengarkan obrolan keduanya.


"Apaan sih Lo!" omel Gumay yang hampir saja tersedak karena perbuatan Fara, wanita kembang kampus yang juga mantan kekasih temannya.


"Lah kan Raffan juga udah ngomong sendiri sama Lo Far, masa Lo nggak paham," timpal Rio mengingatkan sang wanita kalau saja wanita itu lupa bahwa beberapa hari yang lalu Raffan sudah memutuskannya sekaligus mengakui tentang pernikahannya.


"Lagian Lo juga udah puas kan nyiram dia, ya udah sekarang move on," lontar Gumay yang memang acara menikmati bakmie jadi terganggu akibat kedatangan Fara.


"Lo pikir cowok cuma temen Lo itu doang, banyak yang mau sama gue!" hardik Fara tak terima Gumay menudingnya belum move on.



"Nah itu tahu, cowok bukan cuma Raffan doang, tapi tingkah Lo seakan masih aja ngejar-ngejar Raffan."



"Udah lah May, ngapain sih Lo malah ngeladenin," Rio yang tidak ingin ribut mencoba meminta temannya itu untuk diam, tidak usah meladeni wanita yang sedang emosi urusan akan sangat panjang nantinya.



"Tuh teman Lo aja tahu diri," kata Fara menunjuk Rio.


__ADS_1


"Wanita macam kuntilanak begini mana bisa di diemin Ri, mulutnya berisik tahu nggak!" sahut Gumay menggeser mangkok bakmie yang masih tersisa, rasanya dia sudah tidak berselera lagi untuk menghabiskannya.



"Sialan Lo ya, seenaknya aja ngatain gue kuntilanak!" Fara makin tersulut hingga membuat anak-anak kampus yang tadinya sedang menikmati makanan mereka malah jadi mengerubungi dan menonton keributan mereka.



Rio yang memang lebih kalem di bandingkan Gumay pun merasa sebal hingga akhirnya menarik Gumay pergi dari kantin itu.



"Ngapain sih Lo Ri, mulut gue masih gatel banget pengen ngatain sih nenek lampir satu itu," omel Gumay ketika Rio terus saja menyeretnya menjauh dari sekitaran kantin.



"Malu May, Lo ini cowok masa ribut sama cewek mau di kata apa Lo sama anak-anak, banci?" Rio menghentikan langkahnya menatap Gumay yang sekarang menggaruk tengkuknya.



Sepertinya dia baru menyadari kelakuan ngaconya barusan, sungguh dia memang sulit sekali mengontrol dirinya sendiri jika sudah kesal atau tidak senang dengan orang lain, langsung saja mulutnya itu dengan begitu cekatannya mengoceh tak mau berhenti.



"Dosen bentar lagi datang, kita ke kelas aja sekarang, kepala gue jadi pusing," desis Rio seraya melenggang meninggalkan Gumay yang buru-buru berlari mengejarnya mensejajarkan langkah menelusuri lorong menuju kelas mereka.



"Sialan!" umpat Fara, "ngapain Lo pada ngeliatin gue!" tudingnya tidak terima pada mahasiswa dan mahasiswi yang masih setia melihat ke arahnya.



"Huuuuuuu."



Sorakan pun terdengar serempak dan begitu menggema di dalam kantin itu, seolah semuanya sudah mendapat komando untuk menyoraki wanita yang kini mendengus sambil berjalan cepat keluar kantin.



\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2