
Pukul 5 sore Deefa dan Sinta baru saja menyelesaikan kewajibannya sebagai guru mengaji, mengajarkan anak-anak kecil lucu serta polos itu mengaji ada yang bisa menangkap dengan mudah tapi ada juga yang harus berkali-kali di ajarkan serta diingatkan bagaimana caranya membaca dengan benar.
"Kak!"
Tepukan di bahu Deefa membuatnya terperanjat, dia yang sedari tadi perhatiannya fokus pada gadis kecil bernama Kinara cucu dari pemilik TPA ini dan juga keponakan dari Agam pun menoleh guna melihat orang yang tadi menepuknya.
Senyum wanita bernama Sinta langsung diumbar begitu saja membuat Deefa membalas senyumnya.
"Gemas ya sama Nara," celoteh Sinta tahu siapa yang sejak tadi membuat Deefa begitu fokus sampai tidak menyadari kedatangannya.
"Iya, pipinya itu cubby banget pengen cubit-cubit terus," jawab Deefa mengangguk, memang sejak pertama kali melihat gadis kecil bernama Kinara hati Deefa sudah langsung kepincut dengan wajah cantiknya dengan tubuh yang sedikit lebih berisi dan semakin terlihat jelas akibat kerudung menghimpit kedua pipinya yang gadis kecil itu gunakan.
"Benar banget, aku juga suka banget sama pipinya itu suka jadi sasaran empuk guru-guru yang lain tuh pipi," jelas Sinta membenarkan kerudungnya yang tertiup angin sore.
Kedua wanita itu mengakui Kinara memiliki daya tarik tersendiri di banding teman-teman seumurannya, tapi bukan berarti yang lain tidak hanya saja mereka beranggapan Kinara sedikit berbeda dengan segala celotehannya yang sering membicarakan apa saja, bahkan tadi pun bocah itu langsung berlari menghampiri Deefa kala melihat guru yang sudah dua hari ini mengajarnya datang, dan dengan mulut polosnya bocah itu membicarakan tentang Om nya yang tak lain adalah Agam, mengatakan hal yang membuat Deefa terpaku beberapa detik karena tak yakin dengan apa yang dia dengar dari mulut sang gadis kecil.
Entahlah bagaimana bisa Kinara yang kemarin ikut mengantarkannya pulang setelah mengajar berkata bahwa Omnya..
Deefa menggelengkan kepalanya berusaha untuk menepis pikirannya sendiri tentang segala yang Kinara katakan lalu meyakinkan diri kalau Nara hanyalah anak kecil yang mungkin akan berkata apa yang mereka inginkan tanpa memikirkannya lebih dulu.
"Kamu kenapa Kak?" Sinta yang melihat perilaku Deefa mengernyit tak mengerti kenapa wanita di sampingnya ini menggelengkan kepala.
Deefa menyentak sedikit terkejut lupa kalau sekarang dia tidak sedang sendiri ada Sinta yang sejak tadi mengajaknya bicara.
"Oh aku kira sakit leher, hehe," tebak Sinta dengan suara tawa yang sesaat karena selepas tertawa dia kembali membuka mulutnya, "Hari ini di antar Kak Agam lagi gak?" tanya yang terkesan menggoda membuat Deefa menunduk.
Sungguh Deefa merasa hal seperti ini tidaklah normal mengingat dia yang sudah bersuami tapi dengan terpaksa harus menyembunyikan pernikahannya dan konyolnya atas permintaan sang suami.
Deefa meratapi akan dosa yang mungkin saja sudah dia dapatkan karena membiarkan pria lain mengantarnya pulang kemarin meskipun ada Kinara sehingga dia tak hanya berdua saja dengan pria itu.
"Padahal kalian baru kenal ya, tapi aku lihat Kak Agam sangat perhatian berbeda dengan yang lainnya, em apa ya?" Sinta berpikir seperti mencari gambaran yang tepat atas perhatian yang Agam tunjukkan padanya.
"Sudah ah kita tidak boleh membicarakan orang lain," kata Deefa mencoba untuk menghentikan segala pemikiran Sinta yang sifatnya menerka.
"Astaghfirullahaladzim." Sinta beristighfar menyadari kesalahannya yang sejak tadi seperti kebablasan dalam bicara, dia sudah berbicara sangat berlebihan tentang anak dari pemilik TPA tempatnya mengajar hanya karena melihat sikap Agam pada Deefa.
Bukankah dia tahu kalau ustad Sabar Ayah dari Agam mengenal kiyai Burhan pemilik pesantren yang Deefa tinggali, jadi rasanya wajar jika Agam dan Deefa menjadi dekat karena kedua hubungan kedua orang tua itu.
__ADS_1
"Ayo Kak."
Deefa hampir saja terjatuh karena kaget ada yang menarik tangannya dengan tiba-tiba dan itu adalah Kinara? gadis kecil itu tengah tersenyum memamerkan deretan giginya yang kecil tapi tersusun rapi dan berwarna putih bersih, sungguh sangat terawat.
Loh apa ini? Sinta pun ikut kaget melihat tubuh Deefa yang limbung hingga dia segera menggapai tangan Deefa yang satunya agar tidak jatuh.
"Mau kemana Nara?" tanya Sinta pada cucu dari pemilik TPA yang sepertinya sedang sangat tergesa.
"Om Agam sudah nunggu aku Kak Sinta," jawab Kinara seraya mengangkat wajahnya guna melihat pada wanita yang jauh lebih tinggi darinya.
Abah nya bilang "panggilan ustad Sabar" jika di ajak bicara harus melihat wajah lawan bicaranya agar sopan dan menghargai si lawan bicara.
"Om Agam?" bingung Sinta.
Ah iya tentang Agam, Sinta pun tadi merasa heran kenapa Anak dari ustad Sabar itu hari ini mengajar, bukankah biasanya ini termasuk hari liburnya sebab pria itu seperti yang sudah dikatakan hanya akan mengajar dua kali dalam seminggu, lalu hari ini? sungguh membuat Sinta bertanya-tanya.
Kinara mengangguk cepat, "sudah ya Kak, Om Agam pasti sudah tunggu Nara dan Kak Deefa." Kinara kembali berkata seraya menarik tangan wanita yang sejak semalam menjadi bahan pembicaraan Abah serta Om nya.
Deefa yang tak mengerti bahkan tidak bisa melarang Kinara untuk menarik tangannya hingga dia mengucapkan salam saat sudah sedikit jauh dari Sinta.
"Wa'alaikumsalam," jawab Sinta.
"Kamu kenapa sih Raf?"
"Kenapa apanya?" jawab Raffan meletakkan handphone yang sejak tadi dia mainkan.
"Kamu tuh cuek banget nggak biasanya kayak gini, kita belum jadian aja sudah berubah," keluh Fara tak suka dengan sikap Raffan padanya.
"Aku lagi main game Fara, mabar sama Rio," terang Raffan.
"Lagi sama aku aja masih ngurusin game gimana kalau nggak ada aku? mungkin pesan serta telepon aku kamu abaikan."
"Ya udah deh nih aku matiin gamenya, biarin aja si Rio ngomel-ngomel," kata Raffan yang mengerti bahwa saat ini wanita di depannya sedang merajuk padanya.
Astaga ternyata wanita itu memang merepotkan, saat sudah bersamanya dia harus fokus padanya seorang mungkin tidak boleh melakukan hal lain selain tentang wanita itu.
Untuk kali kedua Deefa tidak bisa menolak tawaran Agam yang ingin mengantarkannya pulang apalagi pria itu sudah menggunakan keponakannya sendiri untuk membujuknya ah tidak lebih tepatnya merengek manja agar dia mau di antar oleh Om serta keponakannya itu.
__ADS_1
Deefa duduk di kursi belakang sedangkan Kinara berada di samping Omnya yang sedang mengemudi.
"Kak Deefa." panggilan Kinara membuat Deefa mengalihkan atensinya pada bocah itu.
"Iya," jawab Deefa dengan suara lembutnya dan suara itulah yang menjadi salah satu bagian dalam dirinya yang sukses menarik perhatian Agam.
Suara lembut nan pelan seperti tanpa tenaga yang Deefa miliki sudah menjadi patokan bagi Agam kalau wanita di belakangnya ini adalah sosok wanita istri idaman yang tidak akan berani berbicara keras kepada suaminya.
"Nanti Kak Deefa Nara kenalin sama Bundanya Nara ya, pasti bunda senang," celoteh Kinara membuat Agam melirik wanita yang di ajak bicara oleh sang keponakan.
Pria itu menunggu jawaban apa yang Deefa berikan atas permintaan keponakan bawelnya itu.
"Insya Allah ya," sahut Deefa sambil memasang senyum.
Jawaban yang paling tepat menurut wanita bergamis abu dengan aksen renda di bagian bawahnya.
Kinara serentak mengangguk dengan jawaban yang Deefa berikan dan Agam pun mengelus kepala sang keponakan seraya membatinkan ucapan terimakasih karena secara tidak sadar keponakannya itu tengah berusaha mendekatkan Deefa pada dirinya dan juga keluarga besarnya.
Oh bukankah hal ini yang tadi malam dia sampaikan pada Ayahnya, meminta ijin untuk mendekati wanita bernama Adeefa Ranaya yang sempat menjadi anak didik sekaligus anak angkat dari kiyai Burhan, kiyai pemilik pesantren di Jawa timur.
Semalam Ayahnya tidak melarang bahkan terkesan memberikan ijin, tapi Ayahnya juga mengatakan padanya untuk tidak terburu-buru sebab sang Ayah ingin lebih dulu membicarakan pada kiyai Burhan.
Agam pun setuju saja tapi sambil menunggu sang Ayah menemui kiyai Burhan tidak ada salahnya bukan jika dia mulai melakukan pendekatan pada Deefa toh selama dia dan Deefa tidak pergi berduaan karena Agam akan selalu mengajak Kinara bersamanya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*